Monday, February 19, 2018

Apa Kabar, Timor Leste?

“Siapakah pemilik sejarah? 
Siapa yang menentukan siapa yang jadi pahlawan dan siapa yang menjadi penjahat? 
Siapa pula yang menentukan akurasi setiap peristiwa?"
(Leila S. Chudori)

----------------------------------------------------

15 Januari 2017

Waktu menunjukkan pukul nyaris 14.00 siang saat aku, Kakak Dame dan Kakak Jane berjalan memasuki gerbang negara Timor Leste yang berbatasan dengan PLBN (Pos Lintas Batas Negara) Motaain di Atambua Nusa Tenggara Timur. Sebuah gerbang bertuliskan “Bem Vindo A Timor Leste”. Ya, Selamat Datang di Timor Leste!

Pose dulu di depan PLBN Motaain Indonesia yang megah sekali
Gerbang menuju Timor Leste

Sebuah tugu bertuliskan Timor Leste beserta batu prasasti peresmian Posto Fronteirico Integrado alias Pos Perbatasan Terpadu di Batugade Timor Leste yang ditandatangani oleh Xanana Gusmao (Presiden Timor Leste, waktu itu), menyambut kedatangan kami. Tugu dan bangunan serupa juga kami dapati di perbatasan PLBN Wini dengan wilayah Oecussi Timor Leste yang juga sempat kami kunjungi kemarin.  Sepertinya Timor Leste memiliki pakem bentuk bangunan dan pelengkapnya pada pos-pos perbatasannya.


Gedung Pos Perbatasan Timor Leste


Apa yang membawaku ke Timor Leste?

Negara ini pernah memiliki ikatan sejarah dengan Republik Indonesia. Pada tahun 1976, Timor Leste (dulunya dikenal dengan nama Timor Timur) berintegrasi dengan Indonesia selepas menjadi koloni Portugis selama 450 tahun. Timor Timur kemudian menjadi propinsi ke-27. Konflik dan aksi penolakan terhadap integrasi terus terjadi sepanjang bergabungnya Timor Timur ke NKRI.  Beberapa pihak bahkan menyatakan bahwa itu bukan integrasi melainkan “pendudukan Indonesia atas Timor Leste”.

Pada tahun 1999, Referendum atau Jajak Pendapat bagi rakyat Timor Timur disetujui oleh Presiden BJ Habibie dan disponsori oleh PBB. Referendum yang berisi pilihan apakah rakyat Timor Leste memilih untuk mendapatkan otonomi khusus dalam bingkai NKRI atau menolak otonomi khusus yang berakibat kemerdekaan Timor Timur. Tanggal 30 Agustus 1999, 78% lebih rakyat Timor Leste menyatakan menolak otonomi khusus yang berarti mayoritas warga memilih melepaskan diri dari Republik Indonesia. Pada akhir 1999, administrasi Timor Timur diambil alih oleh PBB melalui Pemerintahan Transisi Perserikatan Bangsa-Bangsa di Timor Leste. Akhirnya, pada tanggal 20 Mei 2002, negara Timor Leste atau Republica Democratica de Timor Leste resmi terbentuk. Melalui Pilpres, Xanana Gusmao terpilih menjadi Presiden Timor Leste pertama setelah lepas dari Indonesia.

Keinginanku berkunjung ke sini bermula dari rasa penasaran. Seperti apa keadaan Timor Leste sekarang setelah lepas dari bumi pertiwi. Apakah negara ini telah mandiri? Semakin maju? Bukannya ingin membanding-bandingkan dulu dan sekarang. Toh aku juga belum pernah berkunjung ke Timor Leste pada saat negara itu masih menjadi bagian dari NKRI. Lagipula keputusan rakyat Timor Timur untuk memisahkan diri merupakan pilihan mayoritas. Semuanya sudah selesai. Walaupun kini kita berbeda negara, tapi kita pernah menjadi warga sebangsa dan tetaplah menjadi saudara.

Secara pribadi, aku menganggap keputusan pemerintahan BJ Habibie untuk melaksanakan Referendum dan berujung pada lepasnya Timor Timur pada saat itu, bukanlah sebuah kekeliruan. Meskipun berat dan telah banyak nyawa berguguran (simpati dan doaku untuk para korban, baik TNI maupun rakyat sipil), tetapi diakui atau tidak, keberadaan Timor Timur ibarat duri dalam daging yang selalu merongrong kewibawaan RI di mata dunia internasional. Ali Alatas, Menteri Luar Negeri pada zaman Orde Baru bahkan pernah menyebut Timor Timur seperti “kerikil dalam sepatu”. Maka biarlah lepas…

Okay, cukuplah berbicara tentang sejarah. Sekarang kami masuk ke dalam gedung imigrasi dan langsung menuju loket VOA (Visa On Arrival). Sebagai WNI, kita butuh VOA untuk masuk ke Timor Leste. Pemberlakukan VOA ini tampaknya tidak resiprokal karena bagi warga negara Timor Leste mereka mendapatkan fasilitas bebas visa untuk berkunjung ke Indonesia. 

“Tiga puluh Dollar” kata petugas Imigrasi Timor Leste dengan bahasa Indonesia yang fasih, setelah menempelkan sticker visa. Visa yang berlaku selama 30 hari ke depan.

Dollar? Yeah, Dollar Amerika bok! Dollar Amerika adalah mata uang kertas yang dipakai oleh Timor Leste. Untuk uang koin, negara ini menggunakan mata uang yang namanya Centavos.

Selesai mendapatkan VOA, kami menuju loket pemeriksaan selanjutnya. Seorang petugas perempuan menyapa kami.

“Dari Indonesia ya? Mau pergi ke mana?” tanya petugas loket dengan sangat ramah.

“Ke Dili, Bu” jawab kami

“Berapa lama di Dili? Nanti tinggal di mana di sana?” lanjutnya.

“Hanya dua hari saja. Kami menginap di Dili Central Backpackers” jawabku. 

Aku menyebutkan sebuah hostel backpacker di Dili, sekenanya saja, yang aku ingat dan pernah kubaca-baca di internet. Karena terus terang kami belum booking tempat menginap manapun di Dili sana.  

Ibu petugas loket tersenyum sambil menyerahkan paspor hijau kami. Selesai dari loket pemeriksaan paspor dan visa, kami menuju pemeriksaan X-Ray. Semua aman terkendali. Next, menuju satu meja lagi. Ups, kami lupa untuk menulis Kartu Custom. Haha, maap! Untung petugasnya baik hati. Kakak Jane segera menuju ke meja di dekat loket pemeriksaan paspor untuk mengambil kartu itu.

“Cukup tulis satu kartu saja untuk kalian bertiga” kata si petugas.

 “Terima kasih. E..apa Bahasa Portugal untuk Terima Kasih?” tanya kami

“Obrigado, jika yang memgucapkan laki-laki. Jika perempuan, Obrigada.” Terangnya.

“Oke, Obrigada!” kata kami kepada beberapa petugas imigrasi Timor Leste yang sangat ramah dan masih fasih ber Bahasa Indonesia itu.

Lega rasanya saat kami keluar dari gedung imigrasi dan merasakan udara Timor Leste siang itu. Kami menuju luar pagar gedung dan menuju sebuah antrian lagi. Ada pemeriksaan paspor lagi sebelum naik ke mobil Timor Travel yang akan memberangkatkan kami ke Dili. Mobilnya berbeda dengan mobil Timor Travel yang membawa kami dari Soe ke PLBN Motaain. Sekarang ini berplat nomor Timor Leste. Masih dalam satu naungan perusahaan, jadi kami tinggal transfer mobil saja.

Mobil masih menunggu penumpang. List daftar nama penumpang telah dipegang oleh Om Bere, driver mobil travel yang juga fasih berbahasa Indonesia. Kami dipersilahkan menunggu dulu.

Sebuah gerobak bakso beserta kursi-kursinya tampak berjajar tak jauh dari tempat parkiran mobil. Rasa lapar tiba-tiba meradang. Bakso Timor Leste! Bukan ding, yang jualan orang Indonesia, orang Surabaya tepatnya, haha! 

Tiga mangkuk bakso kami pesan beserta teh botol yang ternyata brand ternama teh botol produksi Indonesia.

“Bisa bayar pakai Rupiah atau Dollar kok, Mbak” sang Ibu penjual bakso menyebutkan angka 25 ribu rupiah per mangkok atau 2 Dollar AS jika kita membayar dengan Dollar.

Berawal dari obrolan tentang Krisdayanti yang bersuamikan Raul Lemos, pengusaha asal Dili, obrolanku dengan Ibu penjual bakso kemudian mengalir hingga ke Maria Vitoria. Bagi kalian yang nggak tahu siapa itu Maria Vitoria, dia adalah penyanyi asal Timor Leste yang mengikuti kontes Dangdut Academy Asia di Stasiun TV Indosiar. Dia sempat melaju hingga masuk 4 besar kalau nggak salah. Haha, ternyata aku update juga ya dengan dunia perdangdutan ;p

“Maria nyanyinya bagus sekali. Sekarang jadi penyanyi paling terkenal di Timor Leste” kata si Ibu, yang meskipun sudah bersuamikan orang Timor Leste tetapi logat jawanya masih sangat kental.

Setelah kurang lebih 30 menit kami menunggu, akhirnya Om Bere menghidupkan mesin dan siap berangkat ke Dili. Kami bertiga dapat tempat duduk tepat di belakang sopir. Pelan, mobil Timor Travel ini meninggalkan areal Pos Perbatasan Terpadu Timor Leste.

Sejak pagi hingga siang tadi kami hanya duduk saja di mobil dalam perjalanan dari Kota Soe NTT ke PLBN Motaain di Atambua. Dan sekarang, kami juga harus duduk manis lagi untuk sekitar 120 Kilometer lagi menuju Dili. Hmm, pergi ke Dili via darat ternyata perlu waktu seharian di jalan.

Rute dari PLBN Motaain ke Dili

Rute menuju Dili adalah melintasi pesisir barat daratan Pulau Timor yaitu pesisir laut Selat Ombai hingga sedikit Selat Wetar. Jalan raya cukup bagus, kemudian berganti dengan jalan yang bisa dibilang rusak. Debu berterbangan. Tanah dan perbukitan gersang. Pemukiman penduduk tampak di kanan kiri jalan. Rumah-rumahnya tak begitu banyak berbeda dengan rumah warga NTT yang sebagian masih berdinding papan dan beratapkan daun gewang atau lontar.

Aku nggak mau tertidur, ini perjalanan spesial menurutku. Aku yang tak punya ikatan emosi dengan Timor Leste merasa agak-agak sendu saat melewati daratan Timor yang kini bukan lagi wilayah NKRI. Ah, apalagi mereka, orang-orang Timor (baik NTT ataupun Timor Leste) yang pernah secara langsung merasakan apa yang terjadi. Keluarga yang terpisah karena konflik masa lalu atau terpisah karena perbedaan keputusan.

Tiba-tiba aku ingat Mama Yulia, seorang perempuan yang kami jumpai di kaki Gunung Mutis Desa Fatumnasi NTT. Beliau adalah warga Dili yang melarikan diri mengikuti suaminya ke wilayah NTT pada saat pecah konflik di Dili pada waktu awal integrasi. Sudah 40 tahun katanya beliau pergi dari Dili. Sampai sekarang beliau belum pernah sekalipun menjejakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya.  Semoga beliau sehat-sehat selalu dan suatu hari punya kesempatan untuk menengok keluarganya di Timor Leste dan melepas kerinduannya akan Dili.

Cuaca cenderung mendung, laut yang ada di sebelah kiri jalan raya tampak tak seberapa biru. Kakak Jane tampaknya tertidur, sementara Kakak Dame sibuk mengabadikan pemandangan di sebelah kanan jalan dengan kameranya. Aku tak tahu sudah berada di wilayah mana saat jalan raya mendadak menjadi sangat bagus sekali. Aspalnya masih kinyis-kinyis lengkap dengan marka jalan dan rambu-rambu yang masih tampak baru. Jalan raya itu menembus perbukitan dengan pemandangan laut di sebelah kiri.

Sesekali kuperhatikan papan reklame, spanduk atau iklan di jalan. Produk-produk yang ditampilkan sangat kukenal karena itu semua produk Indonesia semisal makanan, rokok dan lain-lain tapi bahasa iklannya menggunakan Bahasa Portugal. Asing sekali. Serasa di Lisbon tetapi dengan citarasa Timor!

Yup, Bahasa Portugal atau Porto merupakan Bahasa resmi negara ini. Tetapi masyarakat Timor Leste juga menggunakan Bahasa Tetun dalam kesehariannya. Tetun adalah bahasa asli setempat. Sesekali kudengar Om Bere ngobrol dengan beberapa penunpang menggunakan bahasa itu.

Add caption
Bakso & Mie Ayam! Yeah, di Dili!

Makin mendekati Dili, kondisi jalan raya semakin ramai, dipenuhi kendaraan roda empat maupun dua. Pertokoan tampak di kanan kiri. Dari dalam mobil, kulihat gedung-gedung bank yang namanya tidak asing lagi seperti Bank BNI dan Bank Mandiri. Truk BBM yang melintas dan berlogo perusahaan migas plat merah Indonesia. Proyek-proyek pembangunan infrastruktur dengan nama kontraktor-kontraktor Indonesia. Warung Padang, Warteg, Warung Bakso dan Mie Ayam. Urusan sinyal juga ternyata masih Indonesia banget (sinyal HP Telkomselku berubah menjadi Telkomcel. Telkomcel merupakan operator seluler Telkom Indonesia yang beroperasi di Timor Leste). Aku masih merasakan atmosfer Indonesia di sini. Indonesia “masih ada” di Timor Leste. 

Suasana lalu lintas menuju Dili

Mobil mengarah ke sebuah bundaran besar. Kulihat sebuah patung yang berdiri dengan gagah tepat di tengah bundaran. Patung Nicolau Lobato yang tangan kanannya memegang bendera Timor Leste. Nicolau Lobato adalah tokoh pejuang pergerakan dan kemerdekaan Timor Leste sekaligus pendiri Fretilin (Gerakan perjuangan kemerdekaan Timor Leste dari Portugis, kemudian dari Indonesia). Nama beliau juga diabadikan sebagai nama bandara interanasional di Dili yaitu Bandara Presidente Nicolau Lobato. Lokasi bandara tersebut tak jauh dari bundaran besar, kita tinggal belok kiri saja. 

Satu demi persatu penumpang travel ini turun. Menyisakan kami bertiga.

“Mbak turun di mana?” tanya Om Bere.

“Di Hotel Dili Central Backpackers, Pak. Kalau tulisannya sih ada di Jalan de Nu Laran”

“Oh iya, saya tahu”

Cuaca di Dili panas dan cukup gerah. Secara geografis, Dili memang berada di pinggiran pantai, pesisir Selat Wetar. Om Bere terus mengemudikan mobilnya, menembus jalanan Dili yang ramai sore itu.  Yang paling kuingat, kami melewati sebuah bangunan yang sangat megah dan berpagar tinggi. Gedung Perdana Menteri Timor Leste katanya. 

Sebuah angkot melintas di depan Gedung Perdana Menteri

Akhirnya kami sampai di penginapan yang dituju. Dili Central Backpackers, demikian tertulis di pagar tembok bangunan ini. Penginapan yang terletak di pojok jalan Rua de Nu Laran itu. Sekilas terasnya tampak asri dan hommy.

Dili Central Backpackers, penginapan yang kami tuju
Tampak depannya yak

Penampakan dalam penginapan

Masuk ke Resepsionis, kami disambut pemiliknya, seorang wanita bule bernama Kim dan satu pegawainya bernama Jacko. Juga kawan-kawannya yang sedang nongkrong di situ yaitu Robert dan Rob. Mereka ramah sekali. Sempat ngobrol dengan mereka sebelum kami masuk kamar. Mereka bahkan mengatakan bahwa kami bertiga adalah backpacker pertama dari Indonesia yang menginap di situ. Oh ya, serius? Wiih, jadi tersanjung! Haha!

Check in sekaligus untuk 2 malam ke depan karena males pindah-pindah lagi. Kamar dorms dengan 4 tempat tidur, fasilitas kipas angin dan kamar mandi di luar kami pilih. Paling murah, meskipun jika di-kurs-kan ke rupiah ya cukup mahal juga, maklum harga Dollar Paman Sam euy! Kami bertiga sekamar dengan seorang backpacker asal Australia. 

Boa tarde, hau haksolok mau iha Dili! *)

Okay, tarik nafas dulu, meluruskan punggung dan kaki dulu setelah seharian nggak produktif karena duduk doang di dalam travel. Sekarang kami sudah di sini, Dili. Mau jalan-jalan ke mana? Ah, lihat saja nanti. Kami bahkan nggak punya itinerary sama sekali! Wkwk!

*) Bahasa Tetun yang artinya "Selamat sore, senang rasanya berada di Dili"

------------------------------------------------------

Budget:

1. Travel dari Soe ke Dili = Rp. 190.000,-/orang
2. Penginapan Dili Central Backpackers = 10 U$/orang/malam (include sarapan) 


Friday, January 26, 2018

Wini dan Motaain, Satu Lagi Perbatasan Negeri

"Jikalau aku melihat wajah anak-anak di desa-desa dengan mata yang bersinar-sinar, 
"Pak Merdeka, Pak Merdeka, Pak Merdeka!" 
Maka aku bukan lagi melihat mata manusia, tapi aku melihat Indonesia"
(Ir. Soekarno)


13 Januari 2017

Mobil Om Demus terlihat dari kejauhan. Mobil APV dengan kaca depannya yang retak itu. Segera kami berkemas, mengeluarkan gembolan-gembolan dari kamar homestay Lopo Mutis. Pamit kepada Pak Mateos Anin, Mama Yuli dan Kak Wasti, mengucap terima kasih atas segala bantuannya selama kami di Fatumnasi. Sekaligus menyerahkan sedikit buku dan alat tulis yang bisa dibagi untuk anak-anak di sekitar sini. Kami  harus mengucap sampai jumpa pada Fatumnasi. Satu desa di kaki Gunung Mutis yang cantik sekali.

Kami masih punya waktu seharian ini di NTT sebelum menjejak Timor Leste esok hari. Maka kami sewa mobil Om Demus lagi agar bisa bebas pergi ke mana saja tanpa terkendala transportasi. Hari ini Om Demus menawarkan untuk melihat Air Terjun Oehala dan juga PLBN (Pos Lintas Batas Negara) Wini di Kabupaten Timor Tengah Utara yang berbatasan dengan Oecusi Timor Leste.

Tentu saja aku tak menolak untuk diajak melihat PLBN Wini. Bahagia malah. Kukira dalam trip kali ini aku hanya akan melintas PLBN Motaain di Atambua Kabupaten Belu saja yang Insya Allah akan kami lintasi besok saat menuju ke Timor Leste. Tapi ternyata malah dapat tambahan satu PLBN lagi!


Wilayah Timor Leste, negara tetangga kita ini bisa dibilang cukup unik, karena ia tak hanya berada di bagian timur Pulau Timor saja tapi juga ada sempalan kecil atau daerah kantung (enclave) di daratan sebelah barat Kabupaten Timor Tengah Utara NTT yaitu wilayah Oecussi atau Ambeno. Ada satu pos perbatasan Indonesia sebelum memasuki Oecussi Timor Leste yaitu PLBN Wini yang rencananya akan kami kunjungi hari ini. 

Wednesday, December 27, 2017

Menjejak Timor Tengah Selatan (Bag.2): Nyanyi Sunyi Fatumnasi

"Kuda-kuda bercengkerama di padang savana hijau
Sementara angin pagi menghantar kembali ingatan lampau
Kata orang, rindu adalah kesengsaraan yang syahdu
Dan aku sedang menikmati itu..."

-------------------------------------------------------------

11 Januari 2017

Selamat pagi, Kota Soe! Kamu tak sedingin yang kukira. Soe, Ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan Propinsi Nusa Tenggara Timur ini dikenal dengan sebutan Kota Dingin karena hawanya terkenal dingin dan cukup kontras jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Pulau Timor yang identik memiliki cuaca panas dan kering. Sekitar jam 7 pagi, selesai sarapan, Om Demus (driver mobil yang kami sewa) datang menjemputku, Kakak Dame dan Kakak Jane ke hotel tempat kami menginap di  Kota Soe. Masih dengan mobil APV yang kaca depannya retak setelah kena lemparan batu dalam perjalanan ke Bandara El Tari Kupang kemarin. Oke, sekarang kami bersiap menuju Fatumnasi, sebuah desa di Kaki Gunung Mutis, masih di Kabupaten Timor Tengah Selatan alias TTS.

Jarak dari Kota Soe menuju Desa Fatumnasi sekitar 40-an kilometer. Kami melintasi kota yang pagi itu telah memulai geliatnya. Perkampungan demi perkampungan, tentu saja dengan pemandangan khas Timor, yaitu rumah-rumah bulat atau Uma Bubu. Uma Bubu adalah rumah khas Timor yang terbangun dari papan dan beratapkan daun gewang. Seperti dalam perjalanan kemarin, Om Demus ini juga  serasa tak ada habisnya bercerita tentang tanah  timor.

Tuesday, August 08, 2017

Menjejak Timor Tengah Selatan (Bag.1): Pantai Oetune, Kolbano dan Suku Boti

"Well, hello there restless wind
It's been a long time since you've blown through these streets
I really don't mind
If you pick me up of my feet
Just one last time
And take me where you've gotta go..."

(Restless Wind by Passenger)

----------------------------------------------

Tahun berganti dan saatnya "berjalan" lagi. Kembali ke Nusa Tenggara Timur, propinsi dengan bentang alam dan budaya yang eksotis sekali. Kali ini aku mbolang bertiga bareng Kakak Dame dan Kakak Jane menuju Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) di Pulau Timor.


Mari kita terbang, ke Kupang!


10 Januari 2017

Hai, Kupang! Aku dan Dame datang lagi setelah tiga tahun berlalu. Dan Kupang, tentu saja masih panas. Jane yang sudah sampai di Kupang sejak kemarin, menjemput kami di Bandara Eltari bersama Om Demus, driver mobil yang kami sewa. Tujuan utama kami sebenarnya menuju Desa Fatumnasi, desa di kaki Gunung Mutis. Mengingat lagi males ribet dan bakal memakan waktu lama jika naik transportasi umum, maka kami sepakat untuk rental mobil saja dengan share cost dibagi bertiga. Yeah, kami lagi pengen traveling dengan cara sedikit santai, tinggal duduk manis di dalam mobil.

Sebelum "mendapatkan" Om Demus sebenarnya kami sudah mengkontak beberapa rental mobil di Kupang. Harganya cukup fantastis apalagi hampir semuanya bilang bahwa jalan ke Fatumnasi rusak parah dan hanya bisa dilalui dengan mobil jenis 4WD. Tahu sendiri harga sewa mobil tipe gituan mehongnya minta ampun. Big no no deh! Untungnya Jane dapat info dari temennya di Kupang untuk menggunakan rental Om Demus saja. Harganya miring. Bukan mobil 4WD sih, melainkan mobil APV. Om Demus memang belum pernah ke Fatumnasi, tapi we'll see! Yang penting kan the man behind the wheel-nya, haha! Walaupun ketika kami lihat mobil APV Om Demus, sempet berdecak kagum sebentar karena kaca depan bagian passenger retak. Kaca depan mobil tersebut kena lemparan batu di dekat hutan saat perjalanan ke bandara katanya.  Waduh! Heuheu, semoga aman perjalanan ini, dan kacanya kagak rontok di tengah jalan ;p


Begini nih kondisi kaca mobilnya Om Demus :-(

Kami tak langsung menuju Fatumnasi, tapi mampir ke tempat wisata lain yang bisa didatangi seharian ini. Om Demus yang sudah biasa membawa tamu di seputaran Kupang dan Timor Tengah Selatan (TTS), menyebutkan beberapa nama-nama tempat yang bisa kami singgahi.

"Kita menyisir bagian timur dulu. Ke Pantai Oetune"

Monday, August 07, 2017

Ibukota, Malam Ini




Ada Jakarta hari ini
Ada bulan penuh malam ini
Kunyalakan lagi kenangan tentangmu
Tentu saja atas nama rindu

Rindu yang sederhana
Rasa yang tersisa di ujung senjakala
Tapi kadang rinduku memang terlalu
Seperti si pungguk yang tak tahu malu

Apa kabarmu, rembulanku?
Kau yang tak terjangkau
Kau yang semakin jauh,
dan tak tersentuh...

(Jakarta, 5 Agustus 2017)

Tuesday, July 11, 2017

"Pembangunan" Ini Punya Siapa?

Sejatinya, saya ingin tulisan-tulisan dalam blog ini "jauh-jauh" dari urusan politik walaupun tentu saja saya punya preferensi dalam hal pilihan politik. Lebih enak nulis tentang puisi galau atau cerita perjalanan ala-ala saya. Tapi terus terang ngilu tangan saya untuk, tidak menuliskannya. Sejak Pilpres 2014 lalu, negeri ini memang "terkubu" menjadi dua bagian. Hingga sekarang, rasanya susah untuk kembali "normal" seperti dulu baik di dunia nyata apalagi dunia maya. Dampaknya ternyata kronis sekali. 

Kali ini aku cukup "tersentil" dengan sebuah tulisan panjang kali lebar yang muncul di timeline media sosial yang membahas tentang "pembangunan". Sejak Jokowi menjabat, berita hingar-bingarnya pembangunan memang marak dilakukan terutama di luar Jawa. Klaim tentang siapa sebenarnya "pemilik pembangunan" itu tiba-tiba membahana seantero jagad raya. Kemudian muncul komentar miring bahwa sebenarnya pembangunan tersebut sudah digagas dan direncanakan sejak era-era sebelumnya, komentar bahwa proyek di era sebelumnya yang mangkrak ataupun pendapat bahwa jika cuma menggagas semuanya pasti bisa tapi yang sulit adalah mengeksekusi rencana tersebut.

Wednesday, July 05, 2017

Tentangku dan mu




Di luar sedang sedang hujan
Kupandang derasnya dari balik jendela kaca
di sebuah kedai tua

Kau nyalakan rokok
batang yang kedua
Kugambar wajahmu
diantara kepulan asapnya
Lalu kulukis tanda cinta
di atas kopi tanpa gula

Bermimpi tentang masa depan
kita yang bahagia
Mungkin...

(Jakarta, 1 Juli 2017)