Tuesday, August 08, 2017

Menjejak Timor Tengah Selatan (Bag.1): Pantai Oetune, Kolbano dan Suku Boti

"Well, hello there restless wind
It's been a long time since you've blown through these streets
I really don't mind
If you pick me up of my feet
Just one last time
And take me where you've gotta go..."

(Restless Wind by Passenger)

----------------------------------------------

Tahun berganti dan saatnya "berjalan" lagi. Kembali ke Nusa Tenggara Timur, propinsi dengan bentang alam dan budaya yang eksotis sekali. Kali ini aku mbolang bertiga bareng Kakak Dame dan Kakak Jane menuju Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) di Pulau Timor.


Mari kita terbang, ke Kupang!


10 Januari 2017

Hai, Kupang! Aku dan Dame datang lagi setelah tiga tahun berlalu. Dan Kupang, tentu saja masih panas. Jane yang sudah sampai di Kupang sejak kemarin, menjemput kami di Bandara Eltari bersama Om Demus, driver mobil yang kami sewa. Tujuan utama kami sebenarnya menuju Desa Fatumnasi, desa di kaki Gunung Mutis. Mengingat lagi males ribet dan bakal memakan waktu lama jika naik transportasi umum, maka kami sepakat untuk rental mobil saja dengan share cost dibagi bertiga. Yeah, kami lagi pengen traveling dengan cara sedikit santai, tinggal duduk manis di dalam mobil.

Sebelum "mendapatkan" Om Demus sebenarnya kami sudah mengkontak beberapa rental mobil di Kupang. Harganya cukup fantastis apalagi hampir semuanya bilang bahwa jalan ke Fatumnasi rusak parah dan hanya bisa dilalui dengan mobil jenis 4WD. Tahu sendiri harga sewa mobil tipe gituan mehongnya minta ampun. Big no no deh! Untungnya Jane dapat info dari temennya di Kupang untuk menggunakan rental Om Demus saja. Harganya miring. Bukan mobil 4WD sih, melainkan mobil APV. Om Demus memang belum pernah ke Fatumnasi, tapi we'll see! Yang penting kan the man behind the wheel-nya, haha! Walaupun ketika kami lihat mobil APV Om Demus, sempet berdecak kagum sebentar karena kaca depan bagian passenger retak. Kaca depan mobil tersebut kena lemparan batu di dekat hutan saat perjalanan ke bandara katanya.  Waduh! Heuheu, semoga aman perjalanan ini, dan kacanya kagak rontok di tengah jalan ;p


Begini nih kondisi kaca mobilnya Om Demus :-(

Kami tak langsung menuju Fatumnasi, tapi mampir ke tempat wisata lain yang bisa didatangi seharian ini. Om Demus yang sudah biasa membawa tamu di seputaran Kupang dan Timor Tengah Selatan (TTS), menyebutkan beberapa nama-nama tempat yang bisa kami singgahi.

"Kita menyisir bagian timur dulu. Ke Pantai Oetune"

Terserah Om Demus sajalah, kami ngikut. Kami memang tidak menyiapkan destinasi lain. Sekitar 3 jam perjalanan darat menuju pantai itu. Dimulai dari menyusur jalanan Kota Kupang yang cukup bagus, lebar dan tak begitu ramai hingga kemudian memasuki sisi sebelah timur wilayah Kabupaten TTS. Cuaca cerah dan panas. Sesekali kami melewati jembatan di atas sungai yang kering. Rumah-rumah khas NTT yaitu Rumah Bulat (Uma Bubu) juga pohon lontar (masyarakat menyebutnya pohon Gewang) menjadi pemandangan khas sepanjang perjalanan menuju Pantai Oetune.

Dari Kupang, menuju Pantai Oetune

Kami disambut dengan sebuah kawasan objek wisata yang sudah dikelola. Tampak loket tiket, bangunan tempat istirahat serta toilet. Deburan ombak dan bau khas angin laut sudah terasa. Inilah Pantai Oetune. Pantai dengan garis memanjang dan cukup bersih. Karena bukan weekend, maka bisa dibilang tak ada pengunjung di pantai ini selain kami. Kami hanya bertemu dengan Nelson dan Vicky, bocah kakak beradik yang menjual kelapa muda yang kemudian menjadi teman kami menikmati tempat ini.

Air laut tampak surut, menyisakan pantai yang cukup luas. Ombak bergulung-gulung di kejauhan sana.

"Adik, gunung pasirnya di mana?" tanyaku pada salah satu anak itu. Gunung pasir atau entah apalah sebutannya, adalah satu keunikan yang bisa ditemukan di pantai ini berdasarkan guglingan di dunia maya.

"Oh, ada di sana Kakak!" kata bocah kecil itu sambil menunjuk arah ke utara.

Aku, Kakak Dame, Kakak Jane dan Pak Demus kemudian mengikuti Nelson dan Vicky menyisir pantai, terus ke utara menuju gundukan atau gunung pasir di Pantai Oetune, di tengah panas yang cukup menggantang.

Cukup jauh juga letak gundukan atau gunung pasir itu dari pintu gerbang. Tapi keren. Gunungan yang sepertinya terbentuk dari hempasan pasir-pasir lembut yang kemudian membentuk semacam corak saat diterpa angin. Gunungan itu membentang, membentuk bukit-bukit. Eit, hati-hati pasirnya bisa mengenai mata, perhatikan benar arah angin ya!


Gunungan pasir bercorak di Pantai Oetune (1)

Gunungan pasir bercorak di Pantai Oetune (2)
Pasir, pantai, dan teman-teman



Siang menggantang di Pantai Oetune

Kami tinggalkan Pantai Oetune siang itu setelah kenyang menenggak air kelapa dan daging kelapanya yang sudah tidak muda lagi.

Mari cuss lagi. Om Demus menawarkan untuk menuju Pantai Kolbano. Hajar aja, Om! Kami juga nggak tahu arah. Kaca depan mobil yang retak sepertinya bukan penghalang untuk terus melanjutkan perjalanan. Om Demus terus menyisir sisi pantai selatan Pulau Timor, sambil bercerita dan mengisahkan tentang apa saja yang membuat kami terpingkal sepanjang jalan.

Pantai Oetune ke Pantai Kolbano


Jarak dari Pantai Oetune ke Pantai Kolbano sekitar 36 KM. Jalan raya dan akses ke sana juga sudah cukup bagus.

Pantai Kolbano, bagaimana mendeskripsikan tempat ini? Aksesnya tepat di pinggir jalan raya dan dengan langit biru seperti saat ini, maka warna biru pada lautnya menjadi sedemikian cakepnya. Dan pasirnya, tak ada pasir selayaknya "pasir" di pantai ini melainkan bebatuan kecil alias kerikil. Di Pantai Kolbano juga terdapat sebuah bongkahan batu besar berbentuk seperti kepala singa yang disebut masyarakat sekitar sebagai Fatu Un. Sayangnya, sang Fatu Un itu ternoda oleh coretan-coretan nggak jelas yang terpampang nyata.


Pantai Kolbano, siang itu

Masih di Kolbano

Bebatuan kecil di Pantai Kolbano
Perahu kayu di pinggiran Pantai Kolbano

Pose bersama si Fatu Un

Tak ada retribusi resmi untuk berwisata di sini. Serius, sejatinya pantai ini keren sekali, mana sepi pula! Tapi ada satu hal yang bikin males berlama-lama di sana, yaitu banyaknya anak kecil yang ngintilin lalu ujung-ujungnya adalah minta uang. Permintaan anak-anak berupa "uang" tersebut lalu kami ganti dengan buku tulis dan alat tulis (yang memang sengaja kami bawa), tetapi tampaknya mereka kurang suka. Hmm, entahlah. Sepertinya ada yang harus dibenahi dalam pengelolaan wisata di sini.

"Begitulah, mbak. Anak-anak di sini memang suka begitu" kata Om Demus, dengan nada dan raut muka yang agak kecewa.
"Jadi sekarang kita kemana?" tanya Om Demus
"Terserah Om Demus sajaaa..."

Om Demus tampak berpikir, sambil menggeber APV-nya. Ya, dari Pantai Kolbano, kami ambil arah kiri dengan lalu menanjak terus hingga tampak Pantai Kolbano dan sekitarnya dari ketinggian, cantik sekali.

"O ya sudah, kita ke Boti saja. Bisa tembus dari sini, lalu baru ke Soe" 

Bisa mengunjungi Suku Boti yang berada di Kecamatan Kie dalam trip ini, tentu saja membuatku surprise karena ini sunguh di luar ekspektasi. Boti adalah salah satu dari sekian banyak destinasi impian di NTT. Satu suku di Pulau Timor yang masih menjunjung tinggi adat istiadat dan budayanya di tengah arus modernisasi di sekelilingnya.

Mobil terus bergerak. Jalanan aspal yang tadinya lumayan bagus, kemudian pelan-pelan berganti dengan jalanan yang rusak, dan tetap menanjak serta berkelok. Sempat beberapa kali bertanya pada orang di jalan untuk memastikan bahwa jalan ini bisa nembus sampai Boti.

Jalanan tambah lama semakin hancur parah. Bahkan kami yang duduk manis di dalam mobilpun ikut terguncang-guncang. Ini bukan jalan, melainkan batu-batu. Sempet khawatir kaca depan bagian depan yang sudah retak bakalan lepas, haha! Pemandangan di luar memang cakep, kami melintas perbukitan dengan pemandangan yang eksotis. Tapi lama-lama, lanskap mulai berganti dengan dataran yang gersang. Jalanan yang kami lewati ini susah dituliskan dengan kata-kata, ini kalau musim hujan bagaimana coba bentuknya? Jika saja mobil bisa bicara, mungkin dia memang tidak akan bicara, melainkan menangis dengan raungan paling menghiba. Aku melihat ironi yang sedemikian hebatnya, betapa pembangunan itu belum merata. Nyaris 72 tahun Indonesia merdeka. Beruntunglah kita yang hidup dengan segala kemudahan yang telah disediakan negara...

Dan perjalanan ini benar-benar jauh sekali. Gila, kenapa ada masyarakat yang mau tinggal di tempat yang terpencil dan jauh begini? Hanya sesekali kami temui kendaraan bermotor lewat ataupun rumah penduduk.  Secara peta, jarak antara Pantai Kolbano ke Boti hanya sekitar 35 KM saja. Tetapi dengan medan seperti ini, jangan harap bisa terlampaui ala-ala jalan lurus berkondisi bagus. Sore dan nyaris senja terlewati, namun kami masih "bertempur dan terguncang" di dalam mobil. Kami harus acung empat jempol untuk Om Demus. Medan begini, idealnya pasti menggunakan mobil jenis double gardan, tapi dengan mobil APV (bahkan dengan kaca depan retak) mampu dia hajar dan terkendalikan dengan baik. Bahkan sambil nyetir, masih sempat-sempatnya dia mengisahkan cerita yang lagi-lagi membuat kami tertawa.

Akhirnya kami bisa bernafas lega setelah menemukan gerbang bertuliskan "Selamat Datang di Desa Boti". Alhamdulillah! Puji Tuhan! Dari gerbang Desa Boti, maka tinggal sedikit lagi menuju pemukiman Suku Boti Dalam. Wilayah Boti memang terbagi menjadi dua yaitu Boti Luar dan Boti Dalam. Jika kita pernah ke Badui di Banten, hampir sama, daerahnya terbagi menjadi dua. 

Oh tidak, kami lupa membawa sirih pinang! Barang yang seharusnya kami bawa sebagai bentuk penghormatan bagi tuan rumah saat berkunjung ke Boti. Tapi ya sudahlah, kami sudah sampai di sini. Semua akan baik-baik saja, demikian mengutip Om Demus.

Welcome to Boti

Hari beranjak petang saat kami memasuki pemukiman Suku Boti Dalam yang tertutup pagar. Om Demus yang sudah beberapa kali membawa tamu ke sini, sudah tahu ke mana kami harus menuju yaitu ke rumah atau kediaman Raja Boti. Bukan mewah selayaknya "istana", tapi sebuah rumah biasa.

Boti...permisi!

Kami disambut oleh dua anak kecil. Mereka berbicara dengan bahasa setempat dengan Om Demus. Tak lama kemudian datanglah seorang Ibu, dia adalah adik Raja Boti sekarang.

"Raja belum pulang dari ladang" kata Om Demus, menerjemahkan apa yang dikatakan adik Raja Boti.

Kami dipersilahkan duduk-duduk di teras rumah. Saat hari semakin petang, lampu yang bersumber dari energi surya dinyalakan. Aku tersenyum, ternyata mereka tak menolak kehadiran teknologi berupa energi surya masuk ke desanya. Sebuah buku tamu serta buku-buku tentang Boti (tulisan dan foto-foto hasil jepretan para penulis, peneliti dan fotografer) juga dipersilahkan untuk dibaca.  Kami juga diperkenankan melihat-lihat rumah raja tersebut. Banyak foto terpajang di dinding rumah termasuk foto almarhum Raja Boti sebelumnya yaitu Raja Nune Benu yang sangat disegani.

Kompleks Boti Dalam terdiri dari beberapa rumah bulat, rumah "sehat" (rumah "sehat" sering disebut oleh Om Demus, diartikan sebagai rumah tempat tinggal dan bukan rumah bulat yang beratap daun gewang) serta semacam "lopo" tempat pertemuan. Sayang hari sudah gelap dan penerangan terbatas. Tapi aku merasakan atmosfer sebuah kehidupan yang damai dan bersahaja. Seandainya saja kami berkesempatan untuk bermalam dan tinggal di sini beberapa hari, pasti akan menjadi pengalaman yang seru sekali.

Jika ada sesuatu yang ingin kami tanyakan, adik Raja Boti selalu berkata "Nanti tunggu sampai Raja pulang", demikianlah kira-kira jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Baik, Ibu.


Buku tamu di teras Boti

Kediaman Raja Boti

Bersama adik Raja Boti dan keluarga

Akhirnya Raja datang dari ladang. Teh hangat serta pisang goreng dan ubi goreng turut terhidang di atas meja. Maka di teras "istana", kini ada Raja Boti, adik Raja Boti yang kami panggil sebagai Ibu Ratu, serta beberapa anggota keluarga yang lain. Kami ngobrol dengan Om Demus sebagai "penerjemah" meskipun sesekali adik perempuan Raja Boti juga berbicara dengan Bahasa Indonesia dengan kami.

"Suku Boti ini hidup bersama alam. Untuk kehidupan sehari-hari, mereka berladang dan menenun. Mereka juga memiliki kepercayaan dan hukum adat sendiri." terang Om Demus


Bersama Raja Boti (Raja memakai kaos kuning)
Silahkan dinikmati, Kakak

Rasa haru membuncah saat kami pamit, dan mereka memberikan kain tenun Boti pada kami. Kain tenun berbentuk selendang itu dikalungkan satu demi satu oleh adik perempuan Raja Boti. Terima kasih banyak. Padahal kami berkunjung ke Boti tanpa membawa sirih pinang yang seharusnya menjadi kewajiban kami.

"Mereka sangat menghormati tamu. Jika kita bermalam atau tinggal di sini, mereka juga tidak pernah menetapkan tarif, dikasih berapa saja mau, bahkan tidak dikasih juga tidak apa-apa. Mereka orang-orang jujur dan menerima" kata Om Demus

Sebelum benar-benar meninggalkan pemukiman Suku Boti Dalam, kami singgah sebentar ke sebuah rumah yang dijadikan sebagai showroom tempat souvenir khas Boti yang bisa kita beli. Kain-kain tenun serta aneka kerajinan tersedia di sana. Aku terkesima, di dalam rumah itu terpajang tak foto Pak Harto (Presiden RI ke-2) serta sebuah bendera Golkar!

"Dulu orang-orang dari luar yang membawa foto Pak Harto dan bendera Golkar itu. Penduduk Boti  sendiri tidak peduli soal politik."  jawab Om Demus, setelah keluar dari rumah showroom souvenir  itu.

Ya, lebih baik memang tidak peduli politik. Hidup tenang dan nyaman di desa ini pasti lebih menyenangkan. Politik kerap digunakan untuk mengejar kekuasaan dan kekayaan pribadi, bukannya demi kemakmuran rakyat. Mengikuti berita politik di negeri ini, lama-lama bikin pusing kepala.



Bendera Golkar di Showroon Souvenir Boti

Pak Harto diantara kain tenun Boti


Warga Suku Boti Dalam

Malam itu, kami tinggalkan pemukiman Desa Boti Dalam. Melewati lagi gerbang yang bertuliskan "Koe nok tem ahoit, teu pah Boti". Seorang anak kecil kemudian menutup kembali pagar itu. Kutatap Boti Dalam sekali lagi, sebelum benar-benar beranjak pergi. Kami banyak belajar darimu, Boti...

Kami melewati jalan yang sama, jalan yang rusak parah itu. Tapi kini perjuangan itu rasanya semakin berat karena mobil ini harus melaju di jalanan gelap, tanpa penerangan dan hanya bermodal lampu mobil serta cahaya bulan yang remang tertutup awan. Sambil nyetir, Om Demus tetap saja bercerita. Biar nggak ngantuk katanya. Maka cerita tentang Boti, tetap menjadi topik yang menarik untuk diperbincangkan.

"Raja Boti yang sekarang itu sebenarnya masih punya kakak laki-laki. Dialah putra mahkota. Tapi kakaknya memilih keluar dari Desa Boti dan tidak menjadi Raja."  demikian Om Demus menjelaskan.

Boti dan segenap ceritanya. Akankah ia tergerus zaman? Aku tak bisa berkomentar apa-apa. Hanya doa yang terbaik untuk mereka, semoga masyarakat Boti semakin sejahtera.

Sejatinya, perut kami juga kelaparan. Sejak pagi belum makan nasi. Seharian ini, perut ini hanya terisi Jagung Bose dan daging kelapa muda. Tapi sekarang ini mau nyari makan di mana? Kami masih di jalanan antah berantah. Masih jauh jarak ke Kota Soe. Tapi yang penting, kaca depan mobil Om Demus, masih baik-baik saja ;p

Dari Boti ke Soe
Om Demus, senyum dulu Om!

Sekitar jam 9 malam, akhirnya kami sampai di Kota Soe, ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan. Menyelonjorkan kaki dan punggung di sebuah hotel kecil tapi cukup nyaman di tengah kota. Terima kasih untuk perjalanan seru hari ini khususnya untuk Om Demus, driver kami yang luar biasa ini. Mari beristirahat, esok hari masih ada Fatumnasi. Desa cantik di Kaki Gunung Mutis, yang siap kami sambangi.


--------------------------------------------------------------------------

Budget:
1. Tiket Pantai Oetune = Rp. 14.000,-
2. Hotel Bahagia Soe = Rp. 220.000,-
3. Rental mobil (termasuk Driver & BBM - dihitung sampai ke Fatumnasi) = Rp. 850.000,-

Monday, August 07, 2017

Ibukota, Malam Ini




Ada Jakarta hari ini
Ada bulan penuh malam ini
Kunyalakan lagi kenangan tentangmu
Tentu saja atas nama rindu

Rindu yang sederhana
Rasa yang tersisa di ujung senjakala
Tapi kadang rinduku memang terlalu
Seperti si pungguk yang tak tahu malu

Apa kabarmu, rembulanku?
Kau yang tak terjangkau
Kau yang semakin jauh,
dan tak tersentuh...

(Jakarta, 5 Agustus 2017)

Saturday, July 15, 2017

Setelah Oktober...

Meskipun saya demen jalan-jalan tetapi bisa dibilang saya nggak pernah membeli buku tentang traveling. Buku-buku semacam itu tak pernah menarik di mata saya jika mampir ke toko buku. Tentu saja rak novel dan kumpulan puisilah yang kerap saya tuju.

Entah mengapa, mungkin karena rata-rata buku traveling yang nangkring di toko buku, destinasinya "biasa". Biasa dalam artian "mudah" karena informasi yang terdapat di dalamnya akan dengan sangat gampang kita dapatkan lewat googling. Bukan hanya "mudah" sih tapi kebanyakan destinasinya luar  negeri yang hingga saat ini masih agak malas saya sambangi. 

Tapi siang ini, akhirnya saya membeli buku traveling pertama sepanjang hidup. Buku terbitan lama sebenarnya, sebuah buku yang dibuat based on sebuah acara di Kompas TV beberapa tahun silam yang sempat kutonton secara random dan kini sepertinya re-run kembali. Buku tersebut berjudul "100 Hari Keliling Indonesia". Yups, saya tergolong sangat telat membelinya.




Belum katam terbaca, masih saya buka-buka secara acak saja. Banyak destinasi tak biasa karena tak sekedar menyasar objek wisata melainkan juga "melihat keseharian Indonesia dengan sejujurnya". Perjalanan tersebut juga penuh inspirasi karena benar-benar "keliling" dan menginjak tanah serta laut Indonesia alias sebisa mungkin nggak pake transportasi udara. Tentu saja, waktu perjalanan akan menjadi sangat panjang. Tapi di situlah serunya. Pantas saja sang host acara tersebut menyebutkan bahwa "Hidup sekali saja tidak cukup untuk bisa mengenali dan memahami Indonesia". Setuja, Mas! 

Seratus hari keliling Indonesia? Hmm...

Di depan masih gelap, umur manusia juga siapa tahu, tapi selepas Oktober 2018 sepertinya saya punya banyak waktu. Selesai dengan pekerjaan, lalu mari bertualang! Benar-benar bertualang! Rezekipun semoga lapang, karena jalan-jalan di negeri sendiri jatuhnya sangat mahal. Ah, bermimpi bolehkan? 

"Di sinilah rumah kita yang terindah di dunia. Tanah yang merdeka, negeri Indonesia"

Tuesday, July 11, 2017

"Pembangunan" Ini Punya Siapa?

Sejatinya, saya ingin tulisan-tulisan dalam blog ini "jauh-jauh" dari urusan politik walaupun tentu saja saya punya preferensi dalam hal pilihan politik. Lebih enak nulis tentang puisi galau atau cerita perjalanan ala-ala saya. Tapi terus terang ngilu tangan saya untuk, tidak menuliskannya. Sejak Pilpres 2014 lalu, negeri ini memang "terkubu" menjadi dua bagian. Hingga sekarang, rasanya susah untuk kembali "normal" seperti dulu baik di dunia nyata apalagi dunia maya. Dampaknya ternyata kronis sekali. 

Kali ini aku cukup "tersentil" dengan sebuah tulisan panjang kali lebar yang muncul di timeline media sosial yang membahas tentang "pembangunan". Sejak Jokowi menjabat, berita hingar-bingarnya pembangunan memang marak dilakukan terutama di luar Jawa. Klaim tentang siapa sebenarnya "pemilik pembangunan" itu tiba-tiba membahana seantero jagad raya. Kemudian muncul komentar miring bahwa sebenarnya pembangunan tersebut sudah digagas dan direncanakan sejak era-era sebelumnya, komentar bahwa proyek di era sebelumnya yang mangkrak ataupun pendapat bahwa jika cuma menggagas semuanya pasti bisa tapi yang sulit adalah mengeksekusi rencana tersebut.

Apa sih tujuan pembangunan? Bagi-bagi proyek? Atau untuk kesejahteraan masyarakat? Siapapun presidennya, jika ada yang namanya "pembangunan berkelanjutan" ya harusnya semuanya fine-fine saja. Sayangnya tidak begitu. Jika ganti presiden maka dipastikan bakal ganti semua arah kebijakannya. Sayangnya lagi, perbedaan pembangunan (terutama infrastruktur) antara Jawa dan luar Jawa sudah semakin signifikan.

Indonesia sudah nyaris 72 tahun merdeka, dan sila ke-5 Pancasila yaitu "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia" masih berlaku...

Saya bersyukur lahir dan tumbuh besar di Jawa. Pulau dengan tingkat pembangunan dan "kemudahan" paling joss se-Indonesia Raya. Dulu, pekerjaan menuntut saya sering pergi ke luar Jawa. Tapi hingga sekarang, saat punya rezeki dan waktu untuk halan-halan, saya lebih suka piknik ke pelosok Indonesia. Eropa atau Afrika cukup menggoda, tapi sudut-sudut Indonesia lebih seksi di mata saya. Bukan karena saya kebanyakan uang, saya piknik juga dengan cara yang semurah mungkin kok. Negeri saya indah, negeri saya perlu diperhatikan. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Oke, kembali ke laptop. Tentang "pembangunan" ini milik siapa? Mungkin cerita saya tidak runut, tapi tenang saja, semua saya tulis berdasarkan fakta, bukan cuma hasil guglingan apalagi bersumber portalpuyengan ataupun posmetro, ups!

Februari 2015, saya menjejak Papua. Bukan piknik ke Raja Ampat tapi ke Wamena Kabupaten Jayawijaya. Kota yang menjadi semacam "hub" bagi daerah pegunungan tengah Papua. Melihat Bandara Wamena? Sumpah mirip kandang ayam (maaf, tapi demikianlah adanya). Itu bandara sementara sebenarnya (karena bandaranya kebakaran beberapa tahun silam) tapi kemudian menjadi sementahun. Bandara pengganti sedang dalam proses pengerjaan. Ngono mbok ngono tapi yo ojo ngono. Bandara daruratnya parah sekali. 

Wamena dan pegunungan tengah Papua adalah daerah dengan kondisi geografis bergunung-gunung dan hanya bisa dijangkau oleh transportasi udara. Semua kebutuhan logistik, mulai dari BBM, bahan makanan, bahan bangunan dll (intinya kebutuhan primer, sekunder, hingga tersier) harus diangkut menggunakan pesawat. Tak heran jika harga kebutuhan di sana menjadi luar biasa mahalnya. Waktu saya ke sana, harga bensin sekitar 50 ribu per liter. Sementara itu di Jawa? Yaelah, naik 200 perak aja demonya kek udah mau mau menduduki istana negara saja.

Masih di Wamena, gas untuk masak juga tidak tersedia (karena gas elpiji tidak dapat diangkut oleh pesawat), semua masak pakai kayu dan minyak tanah (dengan harga minyak tanah sekitar 25 ribu per liter). Harga semen 1 juta per sak, harga Aqua 600 ml bisa mencapai 25 ribu. Ini baru kebutuhan sehari-hari loh dan ini di Wamena. Bagaimana dengan harga di Kabupaten sekitarnya dimana semua kebutuhan logistik tersbeut harsu diangkut lagi dengan jalan darat yang jalan dan tingkat keamanan juga masih rawan. Kasihan, miris. Dan sampai kapan ini akan terjadi? Jika jalan tembus dari Jayapura atau Merauke, pokoknya terhubung dengan pelabuhan, tetap tak dibangun maka selamanya daerah Pegunungan Tengah Papua akan menjadi daerah dengan harga-harga yang parah tak terhingga. Dan saya yakin Pak SBY (atau presiden-presiden sebelumnya) telah memikirkan ini. Nyatanya saat saya ke sana, jalan transpapua dari Wamena hingga ke Danau Habema sudah ada, pun ke beberapa Kabupaten sekitarnya sudah ada meskipun dalam kondisi apa adanya. Tugas Pak Jokowi ya meneruskan pembangunan itu hingga seluruh wilayah Papua terhubung oleh jalan darat. Kalau bisa dikebut sekarang, ya hajar! Demikian pula kebijakan  "BBM 1 harga" yang mencoba dilakukan meski banyak aral melintang. Eh, cerita tentang Papua di atas masih soal ekonomi lho ya, belum ke segi pendidikan dan lain sebagainya. 

Mei 2016, saya menjejak Pulau Miangas, pulau yang terletak di ujung paling utara Nusantara yang bahkan lebih dekat ke Filipina dibanding ke ibukota Kabupatennya sendiri. Transportasi ke sana sungguh Masya Allah susahnya karena hanya bisa dijangkau dengan kapal-kapal perintis dengan jadwal yang tak menentu. Pulau itu kecil saja dan penghuninya hanya sekitar 700 orang. Tapi apa kemudian dicuekin begitu saja? Mereka masih Indonesia loh! Saat saya ke sana, senyum saya bisa lebar sedikit karena bandara Miangas sedang dibangun. Miangas tak lagi "terisolasi" oleh negerinya sendiri. Sejak awal tahun 2017, penerbangan komersil sudah beroperasi di sana, meskipun jadwalnya baru seminggu sekali. 

November 2016, saya ke Long Apari desa di Kabupaten Mahakam Ulu Kaltim. Ini adalah desa terujung di hulu Sungai Mahakam yang wilayahnya nyaris berbatasan dengan Malaysia. Tak mudah menuju tempat ini karena bisa dibilang bertaruh nyawa dan biayanya mahal pula. Satu-satunya cara adalah menggunakan kapal dan harus melewati jeram-jeram yang mengerikan. Entah berapa kali telah terjadi kecelakaan di sana. Harga kebutuhan masyarakat juga otomatis menjadi mahal. Sama dengan saat menginjak Wamena, maka saya merasakan perasaan miris yang sama.

Saat perjalanan pulang, ternyata saya satu kapal dengan rombongan Kementrian Pekerjaan Umum. Mereka sedang melakukan survei pembangunan jalan. Akan dibangun jalan tembus bahkan hingga Kalimantan Utara dan pembangunan kembali jalan-jalan yang putus. Membangun dari pinggiran, begitulah intinya. Pak Bosnya bahkan sempat "mewawancarai dan memvideokan" saya dan teman ngetrip saya waktu itu, mengenai kesan dan harapan tentang Mahakam Ulu. Aneh katanya, ada orang niat halan-halan sampai sana. Halah, biasa aja kali Pak, hehe! Tapi ada satu cerita yang bikin saya terharu, sebuah cerita dari salah satu rombongan itu. Bapak itu cerita ia bertemu dengan seorang nenek yang menangis karena untuk pertama kali dalam hidupnya ia melihat mobil masuk ke desanya. Mobil cuy, iya mobil. Mobil biasa yang kita lihat hambur-hambur di jalan itu. Maafkan negara ini ya, Nek...

Januari 2017, dengan mata kepala sendiri saya menyaksikan PLBN (Pos Batas Lintas Negara) di Motaain Atambua NTT yang berbatasan dengan Batugade Timor Leste. Gila, edan megahnya! Demikian pula dengan PLBN Wini di Insana Utara yang berbatasan dengan Oecussi Timor Leste yang saat saya ke sana sedang dalam proses finishing sebelum diresmikan. Yang ini juga megah sekali! Kontras dengan bangunan lama (yang pernah saya lihat di internet) yang cukup mengenaskan. Kenyataanya PLBN bisa dibilang sebagai "representasi" negara. Kini Indonesia patut bangga, serius!

Itu sekilas perjalanan saya ke beberapa tempat di Indonesia yang bikin saya makjleb bahwa tak mudah mengejar ketertinggalan pembangunan (antara Jawa dan Luar Jawa), tapi bukan berarti tidak bisa. Mau siapapun presidennya, saya nggak peduli, yang penting tidak korupsi dan kebijakannya mampu mensejahterakan rakyat Indonesia yang memberikan keadilan bagi warganya, bukan hanya di Jawa tapi dari Sabang Merauke, Miangas hingga Rote serta memberikan rasa "pride" menjadi WNI.

Ngapain banyak membangun kalau modalnya dari hutang? Hutang akan ditanggung oleh seluruh rakyat kabarnya. Ada yang salah dengan hutangkah? Emangnya era-era sebelumnya nggak hutang? Mending hutang tapi hasilnya jelas daripada hutang tapi dikorupsi untuk kepentingan sendiri. Ibarat orang tua yang lagi butuh duit untuk nyekolahin anak-anaknya dengan cara hutang, dimana pendidikan adalah investasi masa depan. Ibaratnya lagi saya adalah anak tertua yang sudah sukses, maka sayapun diminta tolong oleh orang tua untuk membantu adik-adik saya dengan cara membayar pajak. Mau Indonesia cuma tinggal nama karena hanya tersisa Jawa, sedangkan pulau-pulau lainnya minta merdeka karena tak diperhatikan dan disejahterakan? Simpel saja pemikiran saya, ngapain riweh mikirin utang negara. Toh udah ada menteri-menteri yang ngurusin soal hutang dan jajarannya, yang udah digaji tinggi untuk ngurusin itu.

Jangan nyinyir, mari piknik! Kalau sudah piknik tapi masih nyinyir, maka mungkin piknikmu kurang jauh. Kalau sudah piknik jauh tapi masih nyinyir juga, mungkin kamu salah gaul dan salah milih bahan bacaan. Kalau gaulnya dan bahan bacaannya bener tapi nyinyirnya nggak ilang-ilang juga, maka itulah "jahatnya politik" karena mampu membutakan mata dan jiwa.

Saya bukan siapa-siapa, saya hanya warga negara biasa yang prihatin dengan keadaan bangsa. Salam lemper, eh...

Wednesday, July 05, 2017

Tentangku dan mu




Di luar sedang sedang hujan
Kupandang derasnya dari balik jendela kaca
di sebuah kedai tua

Kau nyalakan rokok
batang yang kedua
Kugambar wajahmu
diantara kepulan asapnya
Lalu kulukis tanda cinta
di atas kopi tanpa gula

Bermimpi tentang masa depan
kita yang bahagia
Mungkin...

(Jakarta, 1 Juli 2017)

Monday, July 03, 2017

Bersua Lembah Besoa

"Rinduku sedang bertandang ke masa lalu
Mengais remah-remah kenangan tentangmu
Apakah kamu masih semegah dulu?
Saksi bisu kejayaan negeriku..."

-----------------------------------------

11 Desember 2016

Pak Ronald, driver mobil yang kami sewa, menjemput kami berlima (aku, Kakak Dame, Rifki, Kirey dan Yuji) di Hotel Buana Palu Sulawesi Tengah, tempat kami menginap. Mobil langsung diarahkan ke Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie untuk menjemput Kakak Ester yang baru tiba pagi ini dari Jakarta. 

Okay, kini formasi lengkap sudah. Cuss meluncur ke Lembah Besoa yang merupakan kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Seharusnya peserta trip ini ada tujuh orang. Tetapi Rudi mengundurkan diri di menit-menit terakhir. Atit dia, wkwk! Cepet sembuh ya, Rud. Tapi beruntung juga sih Rudi nggak ikut sehingga satu seat di dalam mobil ini bisa menjadi tempat carrier-carrier kami yang numpuk. Eh, sebenarnya carrier Rifki dan Kirey doang sih yang bikin penuh. Entah apa yang dijejalkan ke dalamnya. Mungkin segepok cita-cita bahwa sehabis dari Taman Nasional Lore Lindu mereka berdua akan lanjut backpackeran ke Sulawesi Selatan. Tapi sekali lagi, ini baru cita-cita lho ya.

By the way, areal Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) itu sebenarnya luas sekali, mencakup dua kabupaten di Propinsi Sulawesi Tengah, yaitu Kabupaten Sigi dan Poso. Kawasan ini dipenuhi hutan warisan alam dengan keanekaragaman flora dan fauna endemiknya. Tak hanya itu, TNLL juga menawarkan wisata budaya adat istiadat masyarakat lokal serta situs-situs megalitik yang berserak di Lembah Bada, Lembah Napu dan Lembah Besoa.


Tujuan kami: Desa Doda, Lore Tengah, Kab. Poso (ditandai dengan pin merah)

Yup, kami hendak "berburu" situs-situs megalitik di Lembah Besoa. Tempat itu terletak di Kecamatan Lore Tengah Kabupaten Poso. Berjarak sekitar 150 KM lebih dari Palu dan diperkirakan akan memakan waktu tempuh sekitar 3-4 jam. Mendengar tentang Poso, mungkin ingatan kita langsung terbawa pada kisah kerusuhan dan konflik berkepanjangan yang pernah terjadi di sana beberapa tahun silam. Demikian pula belantara Poso yang hingga kini masih terus menjadi tempat persembunyian teroris Santoso Cs. Terus terang, agak bergidik bulu roma juga sih sebenarnya. Bahkan karena masih berlangsungnya Operasi Tinombala oleh TNI (dalam rangka pemberantasan teroris) membuat jalan tembus dari Lembah Besoa ke Lembah Bada ditutup sementara. Kami harus balik ke Palu lagi jika ingin melanjutkan perjalanan ke Lembah Bada. Ya sudah, karena keterbatasan waktu yang kami punya, kami putuskan kali ini hanya akan ke Lembah Besoa saja (plus Lembah Napu) karena arahnya sejalan. 

Rute baru selalu menyenangkan bagiku. Sangat sayang jika harus dilewatkan dalam lelap. Kami lewati kota hingga belantara di kanan kiri dengan jalan yang berkelak-kelok ditemani playlist dari Hpnya Kirey yang sudah kami wanti-wanti sebelumnya agar men-skip lagu-lagu Korea. Sungguh, telinga kami nggak bisa menerima musik K-Pop sambil membayangkan Boyband Korea tersebut berjoget-joget ria nggak jelas. 

Awal perjalanan kami berenam masih ngobrol hahahihi, lama-lama satu demi satu diem, tertidur, lelap...

Harapan kami sepanjang jalan... ;p

Setelah kurang lebih dua jam jalan, kami berhenti sebentar di Danau Tambing yang terletak di poros Palu - Lembah Napu. Danau Tambing ini masuk kawasan TNLL yang tampaknya sudah terkelola dengan baik. Ramai juga di sana, banyak yang camping ternyata. Kalau danaunya sendiri sih so-so saja menurutku. Selain camping, aktivitas yang bisa dilakukan di sana adalah bird watching. Tapi kami memang nggak punya niat berkegiatan semacam itu. Maka selesai muterin area, kami cao saja.

Sejenak di Danau Tambing

Perjalanan dilanjutkan kembali. Medannya makin seru. Jalan berkelak-kelok dengan hutan di kanan-kiri serta kondisi aspal jalan yang nggak begitu bagus. Bahkan di beberapa tempat terdapat jalan yang longsor separuhnya, ngeri. Mungkin hanya driver yang sudah biasa lewat saja yang mengerti celah bagaimana melalui medan ini dengan aman. Bisa dibilang kami jarang berpapasan dengan kendaraan-kendaraan lain. Sepi. Ah, pantas saja para teroris bersembunyi di belantara Poso sini, aksesnya jauh dari mana-mana dan hutannya masih rapat bener.

Di satu titik, tampak jalan yang diberi portal dan sebuah Pos TNI dipinggir jalan dengan rambu di dekatnya bertuliskan "Ada Pemeriksaan". Penjagaan di beberapa titik oleh tentara ini mungkin bagian dari operasi pemberantasan terorisme itu. Mobil kami berhasil lewat tanpa halangan yang berarti dan satu senyuman dari Bapak TNI, halah!

Setelah lama disuguhi jalanan yang sepi, akhirnya kami sampai di areal pemukiman penduduk. Satu hal yang bikin aku takjub. Hampir di tiap desa yang kami lewati, selalu ada gereja kemudian disusul masjid yang letaknya bisa dibilang sangat berdekatan. Kelihatan harmonis sekali. Poso pernah punya pengalaman berdarah-darah yang sedikit banyak bersinggungan dengan masalah SARA, tapi sungguh pemandangan damai yang kulihat ini membuatku optimis bahwa kini Indonesia baik-baik saja.

Selepas jalan berkelak-kelok, kami disuguhi areal persawahan yang kemudian disusul savana berlatar pegunungan yang cantik sekali. Serius!

Semua sudah bangun, kami hahahihi lagi meski lapar mendera dan Pak Ronald bilang bahwa sulit menemukan warung makan di sekitar sini. Walah!

Ups! Sekilas kami melihat sebuah tulisan di sebelah kiri jalan. Pak Ronald bilang di situ memang ada patung-patung megalitik tapi beliau memang sengaja jalan terus karena dikiranya kami akan langsung ke penginapan di Desa Doda. Aih. lupakan tentang penginapan dan perut yang lapar, kita cus langsung cari patung! "Cagar Budaya Megalitik Tadulako", demikian tulisan plang di tepi jalan itu.

Kami melewati jalan dengan areal persawahan di kanan kiri. Awalnya cukup lebar tapi makin lama makin menyempit sehingga mobil nggak bisa lewat lagi. Yo wis, kita lanjut jalan kaki. Pak Ronald memarkir mobilnya di tempat yang aman lalu ikut berjalan bersama kami. Tempat ini berlokasi di Desa Bariri.

Di tengah sawah yang sepi, kami disambut penampakan Rumah Adat Tambi, kondisinya masih cukup bagus. Rumah Adat Tambi adalah rumah adat tradisional yang berada di daerah Lore. Arsitektur bangunannya unik karena dinding rumah juga berfungsi sebagai atap. Kerangka bagian atas rumah juga hanya menumpang di atas balok bundar yang tersusun sebagai belandar sekaligus berfungsi sebagai pondasi dan tiang. Rumah adat ini dimiliki dan ditinggali oleh semua kalangan, baik rakyat baisa ataupun keturunan raja. Tetapi jika bagian bumbungan atapnya memiliki tanduk kerbau, maka berarti rumah tersebut ditinggali oleh para bangsawan. Demikian sekilas cerita.

Persawahan Desa Bariri

Rumah Adat Tambi di tengah persawahan Desa Bariri

Mari jalan lagi. Tak begitu jauh dari sana, kami melihat sebuah patung di tengah hamparan padang rumput berlatar perbukitan hijau dan langit biru. Itulah Patung Tadulako. Tadulako menurut legenda masyarakat sekitar, artinya adalah panglima perang. Arca ini tingginya sekitar 2 meteran dengan gambaran wajah dan mata yang agak miring.

Selamat Datang di Cagar Budaya Megalitik Tadulako

Tadulako, Sang Panglima Perang

Jangan tinggi-tinggi, Ki. Kasian Kirey, baunya asem katanya ;p

Jangan merasa puas dulu, berkelilinglah lebih jauh. Pak Ronald kemudian menunjukkan peninggalan-peninggalan lainnya yang berserak di sekitar situs ini. Kami melihat Kalamba, tutup kalamba dan batu-batu lainnya dengan aneka macam bentuk.

"Di sebelah sana masih ada lagi!" kata Pak Ronald, yang sepertinya sangat mengenal tempat ini karena sering bawa tamu.
"Batu apa yang di sana, Pak?" tanya kami
"Kalamba juga. Sebelah sana juga ada kalamba lagi." lanjut Pak Ronald sambil menunjuk sebuah titik nun jauh di sana

Batu Dakon (??) di kompleks Tadulako

Kalamba (dengan sekat di dalamnya)

Kalamba lagi, kalamba lagi. Siang ini hidup kami penuh dengan kalamba. Kalamba adalah sebutan untuk batu berbentuk wadah semacam tong/drum. Tapi pada akhirnya nanti kami tahu bahwa kalamba itu ada dua jenis. Kalamba yang bagian dalamnya kosong serta kalamba yang punya sekat-sekat di dalamnya. Dahulu kala, kalamba yang punya sekat-sekat di dalamnya merupakan tempat untuk mandi, sedangkan kalamba yang dalamnya kosong/tanpa sekat adalah tempat mengubur tulang-tulang orang yang sudah meninggal. O..o...tiba-tiba hening...dan ngeri! Haha!

Kalamba lagi 

Sedang mengukur diameter kalamba, halah!

Menembus ilalang mencari jejak masa lalu

Kami bahkan blusukan di antara rumput dan ilalang yang kadang tingginya melebihi tinggi tubuhku yang mungil ini. Seru, lalu tertawa bahagia saat menemukan batu-batu purbakala. Tapi kaki-kaki kami jadi korban khususnya bagi yang tidak mengunakan celana panjang dan sepatu. Perih semua kegaruk-garuk ilalang yang tajam. Berkorban untuk melihat keindahan, mengapa tidak? (*sambil meringis menahan nyeri, wkwk!).

Seperti apa tempat ini pada zaman dulunya? Entahlah....

Puas dengan Situs Megalitik Tadulako kami lanjutkan perjalanan ke Situs Padang Masora yang terletak berseberangan jalan dengan Situs Tadulako. Pak Ronald menunggu di mobil yang diparkir di tepi jalan raya. Well, kalau di lihat tulisan di plangnya sih hanya 200 meter dari jalan raya. Tapi aslinya? Lebih! Bahkan pada akhirnya kami dibuat kebingungan karena jalan tanah tersebut kemudian bercabang banyak dan tak ada papan petunjuk lagi. Akhirnya kami temukan situs tersebut setelah melewati sawah yang becek serta menyeberangi sebuah sungai kecil.

Plang Cagar Budaya Megalitik Padang Masora di tepi jalan


Di Situs Padang Masora, kita akan menemukan dua buah batu dengan bentuk menyerupai wajah kera/monyet. Entahlah, kemungkinan seperti itu. Karena kami lebih tertarik dengan pohon jambu biji yang ada di sekitar batu-batu itu. Yeah, mungkin kami terlalu lapar. Permisi, kami ijin makan buah jambunya ya....

Sepi, nggak ada yang mau difoto. Semua lagi sibuk makan jambu ;p

Foto keluarga setelah kenyang makan jambu ;p

Hari telah beranjak sore saat kami sampai di Desa Doda. Kami memutuskan menginap di Penginapan Rizky yang letaknya tak begitu jauh dari gerbang desa.

Di ruang makan penginapan itu terpasang banyak foto-foto situs di Taman Nasional Lore Lindu. Ada foto patung Tadulako dan patung-patung lain yang belum kami lihat. Bentuknya aneh-aneh dan lucu-lucu. Sempet sedikit shock dan kecewa saat Pak Ronald bilang bahwa hampir 90% patung-patung di foto itu adanya di Lembah Bada bukan di Besoa. Hah? Kok? Yach...! Untungnya rasa kecewa itu sirna saat Kak Ika (pemilik penginapan Rizky) menghubungkan kami dengan Pak Karman, seorang guide lokal di Desa Doda yang sudah biasa membawa tamu keliling situs-situs di Lembah Besoa.

"Katanya ada patung-patung temuan baru di sini" kata Kak Ika.
"Sekalian foto-foto di Situs Pokekea pakai baju adat Poso saja. Nanti saya carikan baju-bajunya, kalian bisa sewa" lanjut Kak Ika

Yess! Kami jadi tambah semangat! Nggak sabar nunggu esok. Siap meng-explore apapun yang bisa di-eksplore di sini! Iyess...Iyess...Iyess (kalimat semangat ala Yuji) tiba-tiba menggema seantero nusantara...


Children of Doda

Langit Senja di Desa Doda

12 Desember 2016

Pagi yang sempurna. Pagi di Desa Doda, Kecamatan Lore Tengah Kabupaten Poso. Pemandangan kabut lembut yang merayap di perbukitan serta sawah nan hijau menghampar.

Sekitar jam 7 pagi lebih, kami berenam, Pak Ronald serta Pak Karman, berangkat mencari apa yang dicari. Kami akan blusukan lagi mencari patung, kalamba dan apapun itu. Rencananya kami akan pergi ke Situs Lempe dan sekitarnya terlebih dahulu, kemudian ke situs temuan baru, lalu lanjut ke Situs Pokekea.

Kabut pagi di Desa Doda

Kapan kita kemana?

Pak Ronald memarkir mobilnya di kampung terakhir sebelum masuk ke hutan. Situs Lempe (dan sekitarnya) yang akan kami kunjungi ini lokasinya beneran masuk-masuk ke dalam hutan yang tanpa rambu petunjuk sama sekali. Memang harus pakai guide kalau ke sini. Dijamin nyasar, tak tahu arah pulang dan aku tanpamu budiran debu jika nekad jalan sendirian menurutku.

Patung berperut besar adalah patung yang pertama kami jumpai di awal perjalanan. Penduduk lokal memberinya nama Patung Tokalaya yang artinya adalah Ibu Hamil. Ia berdiri di tengah rimbun tanaman yang tumbuh di hutan. Iya sih, perut patung itu gendut banget, mirip orang hamil.


Patung "Ibu Hamil"

Foto keluarga bersama "Ibu Hamil"

Terus masuk ke dalam hutan mengikuti Pak Karman. Sesekali beliau membabat jalan semak-semak di jalan setapak yang kami lalui dengan parangnya.  Lagi dan lagi, kami temukan Kalamba di mana-mana. Ada yang kondisinya masih utuh, hancur sebagian, terguling dan sebagainya.

Kalamba yang terbelah

Kalamba lagi (tanpa sekat-sekat)

Kumpulan Kalamba

Selain kalamba, akhirnya kami jumpai juga beberapa patung setelah trekking sedikit mendaki. Ada yang berbentuk pendek sekilas mirip burung hantu, ada juga yang berdiri, serta patung dalam kondisi rebah/terbaring. Pak Karman bilang, sekarang kami sudah berada di areal Situs Padang Lalo.

Ketemu patung lagi

Foto keluarga bersama patung lagi

Kalamba lagi, untuk kesekian kali

Patung "Terbanting"

Pak Karman berjalan di depan, sesekali menengok ke belakang untuk memastikan tak ada yang tertinggal. Di satu titik, Pak Karman mengingatkan kami untuk berjalan beriringan dan jangan ramai/ribut. Yup, bagaimanapun kami memang berada di tengah hutan antah-berantah. Segala kearifan lokal pasti ada dan dijaga.

Okay, kini hutan semakin lebat dan trekking semakin menanjak. Aku nggak tahu sekarang kami ada di mana, lha wong jalan setapak saja nggak ada. Tapi Pak Karman sepertinya bener-bener tahu tempat ini, krusak-krusuk, babat sana babat sini, nyebrang sungai antah berantah dalan lain-lain untuk menuju Situs Halutawe.

"Belum banyak yang tahu tentang Situs Halutawe ini. Baru ditemukan sekitar dua bulan lalu" kata Pak Karman.

Terus terang aku langsung tercengang menyaksikan batu-batu yang berserak di Situs Halutawe ini. Batu-batu yang telah berkeping di tanah, ada pula yang tertimbun, dipenuhi tanaman, tapi sebagian "motif/bentuk" nya masih bisa dikenali. Batu yang berbentuk wajah, patung besar yang berkeping-keping dan lain sebagainya. Serius, jika direkonstruksi pasti keren sekali. Bisa-bisa kalah dah itu situs megalitik di Pulau Paskah!

"Informasi dari para peneliti yang menemukan situs ini, kemungkinan tinggi patung-patung di Situs Halutawe ini lebih tinggi dari Palindo" kata Pak Karman

Wow! Jika patung Palindo saja sudah setinggi itu, bagaimana dengan yang ini? Palindo adalah patung terbesar dan tertinggi sejauh ini yang ditemukan di kawasan Taman Nasional Lore Lindu, letaknya di Lembah Bada. 

Patung di Situs Halutawe

Bebatuan tertimbun di Situs Halutawe

Bentuk "wajah" pada bebatuan

Batunya tersungkur, tapi ada bentuk "wajah" di batu itu

Para "arkeolog abal-abal" ;p

Sekitar jam 11 siang, kami  keluar dari hutan. Jalan turun menuju kampung. Masih ditemukan beberapa kalamba di tengah perjalanan.

Perjalanan dua hari ini semakin membuatku kagum akan Indonesia. Tapi satu sisi, aku merasa miris karena warisan nenek moyang berupa megalith-megalith megah yang diperkirakan berasal dari tahun 3000 hingga 1300 Sebelum Masehi ini terbengkalai tak terawat, tersebar dan terserak begitu saja di tengah sawah, padang rumput, hutan, kebun, bahkan pekarangan rumah penduduk. Peninggalan-peninggalan purbakala tersebut juga rawan dicuri oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.


Kepala patung serta batu-batu umpak hasil curian, yang kini telah diamankan di depan Balai Adat

Kepala patung yang pernah dicuri, kini diamankan di depan Balai Adat

Destinasi selanjutnya adalah Situs Pokekea. Berbeda dengan situs yang telah kami datangi sebelumnya yang lokasinya berada di dalam hutan dan teronggok begitu saja, keberadaan Situs Pokekea tak jauh dari jalan raya dan kondisinya cukup terawat. Pokekea bisa dijangkau dengan mobil hingga pintu gerbangnya. Tinggal jalan kaki tak begitu jauh untuk sampai ke situs tersebut. Dalam kompleks Situs Pokekea, didominasi oleh kalamba, arca batu juga ada, dan entah batu-batu lain yang aku nggak tahu apa sebutannya.

Selamat datang di Situs Pokekea

Peninggalan purbakala di Situs Pokekea

Peninggalan purbakala di Situs Pokekea

Peninggalan purbakala di Situs Pokekea

Peninggalan purbakala di Situs Pokekea

Karena mudah dijangkau maka wajar saja Situs Pokekea banyak dikunjungi wisatawan. Tempat ini cukup ramai saat kami datang. Baiklah, kami akan menunggu hingga sepi. Kami kan mau photo session di sini menggunakan baju adat Poso. Ide dari Kak Ika semalam memang luar biasa! Kapan lagi bisa berfoto ria, berbaju adat setempat di situs warisan nenek moyang ini. Mendadak model! Model alay!

Cekrek! Pose satu


Cekrek! Pose dua

Cekrek! Pose tiga

Cekrek! Pose empat

Oke, cekrak-cekrek masih berlanjut lagi, lagi dan lagi! Beberapa pengunjung yang datang kemudian akhirnya malah ngeliatin kami, haha! Well, tunggu saja penampilan kami di Majalah Trubus edisi bulan depan ;p


Cekrek! Pose lima

Cekrek! Pose enam

Cekrek! Pose tujuh

Melompat lebih tinggi!

Kami kembali ke penginapan sebentar hanya untuk makan siang, sorenya lanjut kembali memburu patung. Ada satu patung, yang disebut sebagai patung terbanting yang berada di areal persawahan belakang Desa Doda yang letaknya cukup jauh dari pusat desa.




Patung "Orang Terbanting" di tengah sawah

Desember masih pertengahan, tapi Desa Doda telah mulai menyambut Natal. Umbul-umbul dipasang di sepanjang jalan desa. Sebuah "pohon natal" juga ditempatkan di pertigaan desa.



Ceritanya lagi nonton bola

Rumah Adat Tambi di Desa Doda

Desa Doda menyambut Natal

Seharian ini kami menjelma laksana arkeolog dan ahli sejarah yang sedang mengungkap peninggalan-peninggalan masa lalu, meskipun sejatinya kami hanyalah pejalan abal-abal. Sedikit melelahkan, tapi terbayar dengan serunya pengalaman. 

Ini malam terakhir kami di Desa Doda. Desa yang tenang dan sepi. Ngobrol di teras kamar penginapan sambil mengenang lagi segenap kelucuan sepanjang hari yang kami lalui. Termasuk kisah tentang Gorontalo-nya Kirey hingga kacang kulit yang tak sengaja termakan sekulit-kulitnya. Udah, nggak perlu dibahas, itu "aib". Dilarang protes kenapa nggak ditulis. Wkwk!

13 Desember 2016

Sekali lagi, pagi yang indah di Doda. Tapi kami harus pamit pada tempat yang vibe-nya adem ini.


Foto keluarga di depan penginapan

Kabel listriknya agak ngganggu :(

Perjalanan kami di Lembah Besoa, Kecamatan Lore Tengah ini akan ditutup dengan memgunjungi satu situs lagi yang berada sejalur dengan arah pulang yaitu Situs Bangkeluho di Desa Bariri. Tenang, hanya 500 meter saja letaknya dari pinggir jalan. Begitu tulisan di plangnya. Pak Karman juga masih menemani kami. 

Namun tulisan plang Bangkeluho itu memang bangke beneran, wkwk! Ternyata bukan 500 meter, tapi entah berapa kilo, sungguh! Jalurnya parah pula. Awalnya masih dapat jalan setapak, berganti lewat pematang sawah, lalu blusak-blusuk nggak jelas di antara ilalang. Sesekali kejeblos ke parit yang ketutup rumput tinggi. Kaki dan lenganku yang masih penuh luka akibat blusukan di hari pertama, kini ditimpa lagi dengan baretan luka baru. Heuheu! Terakhir kami  harus nyebrang sebuah jembatan bambu di atas sungai, jalan lagi di hutan, menjumpai savana lalu baru ketemu kompleks situsnya. 

Di lokasi Situs Bangkeluho kami jumpai sebuah patung yang tak begitu tinggi. Tak jauh dari situ, kalamba-kalamba juga berserak di mana-mana.

Selamat Datang di Cagar Budaya Megalitik Bangkeluho

Patung di Situs Bangkeluho


Kalamba terbelah di Situs Bangkeluho


Akhirnya kami beneran mengucapkan sampai jumpa kepada Lembah Besoa. Terima kasih banyak, Pak Karman. Tanpa diguide-in Bapak, kami pasti bakal muter-muter nggak karuan di sini. Sebelum pergi, Pak Karman  ngasih informasi tentang adanya situs megalitik di Desa Wanga dan Maholo di Kecamatan Lore Timur (masuk Lembah Napu). Sekalian pulang ke Palu, mungkin kami bisa mampir ke sana. Oke, sip! Well noted! 

Jalan yang sama saat berangkat kembali kami lalui. Terjal, berliku-liku seperti hidup ini (halah!), sebagian besar jalan rusak bahkan longsor serta hamparan hutan sepanjang jalan. Ah, untung saja, Pak Ronald (driver kami) ini nyimpen CD lagu-lagu yang lumayan enak didengarkan. Daripada playlist di Hpnya Kirey, tentu saja selera musik Pak Ronald lebih keren di telinga ;p

Singkat cerita, setelah melewati Pos Pemeriksaan TNI di pinggir jalan, kami memasuki Desa Wanga. Tinggal mencari keberadaan situsnya aja. Kudu tanya orang nih. 

Pak Ronald memarkir mobilnya di tepi jalan. Kakak Ester yang kebetulan duduknya di dekat pintu, turun lalu bertanya pada seorang pemuda yang sedang duduk-duduk di depan rumah.

"Mari saya antar saja" kata pemuda itu, yang kemudian mengenalkan diri bernama Forman. Dia bahkan mengeluarkan motornya. Wuih, boleh juga nih rayuannya Kakak Ester ;p
"Satu patung letaknya dekat saja dari sini, satu lagi cukup jauh" terang Kak Forman

Yoi, satu patung memang letaknya hanya berjarak beberapa rumah saja dari rumah Kak Forman. Berada di pekarangan sebuah rumah di pinggir jalan raya. Patung peninggalan purbakala ini serasa jadi penghias halaman rumahnya, teronggok begitu saja. Aku hanya geleng-geleng kepala. Sebuah papan nama usang tertera di sana "Patung Megalit Mpolenda". 




Patung Mpolenda, dengan parabola dan jemuran di belakangnya

Papan nama di depan rumah

Patung satunya lagi cukup jauh lokasinya dari jalan raya. Kami melewati areal persawahan, mblusak-mblusuk dan kejeblos parit, masuk ke kebun baru deh ketemu. Patungnya dalam kondisi rebah dan terbelah banyak, tak terurus.  



Add caption

Add caption

Oke, kita selesai dengan Desa Wanga. Sempet mampir lagi ke rumah Kak Forman yang ternyata punya pohon jambu biji banyak sekali di pekarangannya. Makasih Kak, sudah nge-guide-in kami serta buah jambunya yang manis-manis ini. 

Belum lelah memburu peninggalan purbakala, kamipun melanjutkan perjalanan menuju Desa Maholo di Kecamatan Lore Timur. 

Hari sudah sore saat kami tiba di Desa Maholo. Pak Karman sempet ngasih nomor telp rekannya yang ada di sini yang bisa menjadi guide, tapi ternyata ketika coba dihubungi agak susah. Walhasil, awalnya kami mencoba mencari situs megalitik tersebut secara mandiri alias nanya-nanya penduduk.

Kirey turun dari mobil, bertanya pada sekumpulan anak-anak yang sedang bermain di tanah kosong di pinggir jalan. Anak-anak yang entah sedang bermain apa karena pada bawa parang semua. Jadi saat Kirey bertanya, dan dijawab nggak tahu, maka seolah-olah dia diacung-cungi parang oleh anak-anak itu. Wkwkw!

Oke, sekali lagi bertanya pada penduduk lokal di sebuah rumah. Kirey lagi yang nyamperin dan kali ini tampaknya lebih parah, karena di samping mereka nggak tahu dimana letak situs megalitik, salah satu orang itu juga bawa senapan berburu. Wkwk! 

Kirey...Kirey...tadi diacungi parang, sekarang senapan. Beda nasib sama Kakak Ester. Hahaha! Sabar ya! Ayo pulang ke Gorontalo saja sudah ;p

Pak Ronald mengisi bensin dulu di sebuah SPBU, satu-satunya SPBU sepertinya di daerah situ. Di dekat pintu kantornya, kami melihat sebuah patung megalitik! Sontak kami turun mobil dan langsung cekrak-cekrek. Lucu, imut, mungil gitu penampakannya. Beda dengan patung-patung yang sempat kita jumpai sebelumnya. Jangan-jangan ini semacam bonekanya anak-anak jaman dulu kali ya. Nggak ngebayangin gimana mainnya. Kalau anak-anak lagi marah-marahan terus digapruk sama boneka batu. Selidik punya selidik, ternyata itu bukan peninggalan megalitikum, itu patung pahatan yang dibikin orang sekarang. Whoaa, tertipu!

Patung megalitik KW di SPBU Maholo

Kantor Kecamatan Lore Timur Kab. Poso

Bingung mau nanya ke siapa lagi karena kebanyakan pada nggak tahu keberadaan situs megalitik yang kami maksud, kami memilih berhenti dan menunggu di dekat Kantor Kecamatan Lore Timur. Guide di Maholo terus kami hubungi. Masih susah, tapi akhirnya terangkat juga. Ada guide yang bernama Kak Frans yang akan ke sini sebentar lagi. Yeay!

Hari sudah sore dan mendung menggantung saat Kak Frans datang lalu membawa kami ke Situs Pekasele. Lokasinya lumayan juga sih dari jalan raya, perlu jalan kaki masuk ke areal persawahan dan perkebunan. Kak Frans bilang dulunya ini adalah lokasi Kerajaan Pekasele.

Sebuah patung yang disebut sebagai Patung Pekatalinga terletak di depan jalan setapak menuju kompleks yang disebut "Kerajaan Pekasele". Pekatalinga ini adalah perwujudan dari permasiuri kerajaan ini. Berjalan sedikit lagi ke depan maka kita akan menjumpai sebuah tempat dengan batu-batu yang terhampar, rata-rata berbentuk batu umpak. Patung perwujudan juga Raja Pekasele terletak tak jauh dari sana.

Patung Pekatalinga
Kompleks "Kerajaan Pekasele"
Kami bersama patung perwujudan Raja Pekasele
"Masih ada kompleks megalitik lagi. Lokasinya cukup jauh dari sini. Sayang kalian datangnya sudah sore sekali. Jika agak siang, kita bisa ke sana" kata Kak Frans

Yach, tapi sudahlah. Kapan-kapan lagi jika ada kesempatan, kami masih mau kok berburu patung dan situs megalitik lagi. Tapi sebelum benar-benar pergi meninggalkan Desa Maholo, kami sempat mengunjungi satu patung lagi yang searah dengan jalan pulang. Patung Dayang-Dayang mereka sebut, berada di halaman sebuah rumah.

Para dayang bersama Patung Dayang-Dayang

Langit dengan semburat merah di arah barat. Sudah maghrib kurasa. Akhirnya selesai sudah trip kami di Lembah Besoa (dan secuil Lembah Napu) di Taman Nasional Lore Lindu Kabupaten Poso Sulawesi Tengah ini. Satu sudut Indonesia yang menyimpan banyak pesona. Tempat yang berpotensi mendunia jika saja dikelola dengan baik. 

Kami kembali menyusuri lagi jalanan Lembah Napu- Palu. Menembus malam. Pulang...

Terima kasih banyak untuk Pak Ronald (driver kami yang ketjeh banget), Kak Ika (Penginapan Rizky), Pak Karman (guide Desa Doda), Kak Forman (guide dadakan di Desa Wanga) serta Kak Frans (guide Desa Maholo) dan semua pihak yang telah membuat perjalanan kami dimudahkan dan dilancarkan.

Eh iya, video rangkuman perjalanan ini dapat disimak di link youtube berikut ini! Jangan lupa subscribe ya, halah!




------------------------------

Budget:
1. Sewa mobil = Rp. 1.350.000,- (3 hari, tidak termasuk BBM dan Tips Driver)
2. Penginapan Rizky di Desa Doda = Rp. 1.130.000,- (3 kamar, termasuk makan 3x untuk 7 orang)
3. Tips Guide (Desa Doda & Maholo) = Rp. 200.000,-
4. Sewa Kostum Baju Adat Poso = Rp. 210.000,- (untuk 6 orang)