Friday, June 22, 2018

Mempertanyakan Keselamatan Transportasi Perairan

Berita tenggelamnya Kapal Motor (KM) Sinar Bangun yang terjadi di Danau Toba Sumatra Utara pada tanggal 18 Juni 2018 menorehkan duka di tengah kegembiraan seusai merayakan Idul Fitri. Diperkirakan ratusan penumpang menjadi korban dan masih dalam proses pencarian. Tak jelas berapa jumlahnya secara pasti mengingat tidak ada manifest atau daftar nama penumpang kapal. Diduga, kapal tersebut tenggelam karena kelebihan muatan serta cuaca buruk.

Sebelumnya, tanggal 13 Juni 2018, KM Arista yang memuat 43 orang, tenggelam di perairan Makassar Sulawesi Selatan juga tenggelam dan mengakibatkan 15 penumpang meninggal dunia. Penyalahgunaan peruntukan kapal yang seharusnya bukan untuk penumpang disebut oleh Ketua KNKT sebagai salah satu penyebab kecelakaan. 

Masih di tanggal 13 Juni 2018, KM Albert berpenumpang 30 orang karam di Sungai Kong Sumatra Selatan, 2 orang ditemukan meninggal. Penyebab kecelakaan ini ditengarai karena faktor kondisi cuaca buruk serta gelombang tinggi.

Tiga kecelakaan kapal terjadi dalam kurun waktu kurang dari seminggu. Al Fatihah untuk seluruh korban dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. 

Tuesday, June 12, 2018

Offshore Life: Ramadhan dan Idul Fitri Spesialku

"I look to the sea, 
reflections in the waves spark my memory. 
Some happy, some sad...'
(STYX - Come Sail Away) 

----------------------

Kutulis postingan ini saat santai di kampung halaman di Pekalongan. Yoi, aku sudah mudik sejak beberapa hari lalu, pastinya untuk merayakan Idul Fitri yang tinggal hitungan hari. Leyeh-leyeh sambil scrolling akun medsos, membuatku terantuk pada foto-foto jadul saat masih kerja di lapangan dulu. Nggak penting sih sebenarnya, haha! Tapi mendadak jadi pengen bernostalgia tentang Ramadhan dan Idul Fitri spesialku beberapa tahun lalu. Betapa merayakan dua moment itu bersama keluarga pernah menjadi moment langka buatku.

Barge Tirta Rajawali, berlatar senja

Di atas menara Rig Randolph Yost

Saturday, May 12, 2018

Ada Riang di Gunung Kembang

"Sini, kuredakan lelahmu dengan kopi hitam buatanku.
Kesukaaanmu.
Lalu mari bertukar kabar,
Tentang mimpimu dan rinduku..."

-----------------------------------

6 Mei 2017

Sekitar jam 06.30 pagi, kami sampai di Taman Plaza Wonosobo. Turun dari bis Dieng Indah yang membawaku dan TJ dari Jakarta ke kota yang terkenal akan keindahan negeri di atas awannya. Desi, seorang sahabat yang  tinggal di kota ini,  menjemput kami berdua ke rumahnya di daerah Mangli. 

Terakhir kali ke rumah Desi mungkin sekitar setahun lalu, saat naik ke Gunung Bisma. Setelah berulang kali re-schedule karena alasan cuaca, sekarang kami bakal reunian lagi. Kali ini giliran Gunung Kembang yang akan didaki. 

Yup, Gunung Kembang. Meskipun keberadaan Gunung Kembang sebenarnya berdekatan dengan Gunung Sindoro dan Sumbing (bahkan disebut sebagai anak dari kedua gunung tersebut), tetapi nama Gunung Kembang masih cukup asing terdengar di telinga, nggak tahu kenapa. Satu hal yang cukup unik dari gunung ini adalah karena kabarnya ia terus "bertumbuh kembang" alias bertambah tinggi. Tercatat  ketinggian Gunung Kembang sekarang adalah 2370 mdpl alias dua kali lipat bila dibandingkan dengan tingginya pada satu dekade silam. Aktivitas vulkanik dari gunung di sebelahnya, diperkirakan menjadi penyebab bertambahnya ketinggian gunung ini. 

Setelah puas sarapan Sate Kertek yang rasanya endes sekali, sekitar jam 10 pagi kami siap berangkat. Oh ya, selain kami bertiga, Desi juga mengajak Herni dan Salim, dua pemuda perkasa harapan bangsa yang siap membawa carrier dengan beban sebanyak-banyaknya. Peace, bro! 

Friday, May 11, 2018

Kota Dili, di Januari

"I like the dreams of the future, better than the history of the past"
(Thomas Jefferson)
------------------------------

16 Januari 2017

Selamat sore, Dili!

Ternyata rasa lelah yang membuncah setelah seharian melalui perjalanan darat dari Soe NTT, melewati PLBN (Pos Lintas Batas Negara) Motaain di Atambua hingga sampai ke Dili Timor Leste, tak membuatku, Kakak Dame dan Kakak Jane tepar sesampainya di hostel Dili Central Backpackers, tempat kami menginap. Maka selesai memasukkan carrier ke dalam kamar dan bebenah sebentar, kami bertigapun segera cus ke luar. Tujuan utamanya sih buat nyari makan. Jangan pernah diet kalau lagi traveling yak, karena piknik juga butuh energi biar nggak mudah panik!

"Transportasi umum di Dili cukup mudah. Ada infonya di papan itu" kurang lebih begitulah kata-kata Mbak Kim, bule pemilik hostel ini, saat kami bertanya tentang angkutan umum atau biasa disebut Mikrolet oleh warga Dili. 

Hal itu juga diamini Jacko dan Rob. Jacko adalah pegawai di penginapan, sedangkan Rob adalah teman Kim yang suka main ke tempat ini. Keduanya warga negara Timor Leste. Jacko yang berwajah Timor, agak terbata-bata jika berbicara dengan Bahasa Indonesia. Sedangkan Rob yang blas nggak ada wajah Timor sama sekali, malah sangat lancar berbahasa Inggris. Oke, baiklah, kami berkomunikasi campur-campur saja. Yang penting jangan pakai Bahasa Portugis (bahasa resmi Timor Leste) atau Bahasa Tetun (bahasa lokal keseharian warga Timor Leste), karena dijamin kami bakal plonga-plongo! Hehe!

Selesai membaca info mikrolet di papan pengumuman, mataku tertuju pada satu gambar yang terlukis di sisi samping meja resepsionis. Gambar anak laki-laki yang menaiki buaya di tengah lautan. Hmm, apakah gerangan artinya?

Monday, February 19, 2018

Apa Kabar, Timor Leste?

“Siapakah pemilik sejarah? 
Siapa yang menentukan siapa yang jadi pahlawan dan siapa yang menjadi penjahat? 
Siapa pula yang menentukan akurasi setiap peristiwa?"
(Leila S. Chudori)

----------------------------------------------------

14 Januari 2017

Hampir pukul 14.00 siang saat aku, Kakak Dame dan Kakak Jane berjalan memasuki gerbang negara Timor Leste yang berbatasan dengan PLBN (Pos Lintas Batas Negara) Motaain di Atambua Nusa Tenggara Timur. Sebuah gerbang bertuliskan “Bem Vindo A Timor Leste”. Ya, Selamat Datang di Timor Leste!

Pose dulu di depan PLBN Motaain Indonesia yang megah sekali
Gerbang menuju Timor Leste

Batu prasasti peresmian Posto Fronteirico Integrado alias Pos Perbatasan Terpadu di Batugade Timor Leste yang ditandatangani oleh Xanana Gusmao (Presiden Timor Leste, waktu itu) serta sebuah tugu Timor Leste yang ada di sampingnya, menyambut kedatangan kami. Tugu, prasasti dan bangunan serupa juga kami dapati di PLBN Wini, yang berbatasan dengan wilayah Oecussi Timor Leste yang sempat kami kunjungi kemarin.  Sepertinya Timor Leste memiliki pakem bentuk bangunan dan pelengkapnya pada pos-pos perbatasannya.


Gedung Pos Perbatasan Timor Leste
Apa yang membawaku ke Timor Leste?


Friday, January 26, 2018

Wini dan Motaain, Satu Lagi Perbatasan Negeri

"Jikalau aku melihat wajah anak-anak di desa-desa dengan mata yang bersinar-sinar, 
"Pak Merdeka, Pak Merdeka, Pak Merdeka!" 
Maka aku bukan lagi melihat mata manusia, tapi aku melihat Indonesia"
(Ir. Soekarno)


13 Januari 2017

Mobil Om Demus terlihat dari kejauhan. Mobil APV dengan kaca depannya yang retak itu. Segera kami berkemas, mengeluarkan gembolan-gembolan dari kamar homestay Lopo Mutis. Pamit kepada Pak Mateos Anin, Mama Yuli dan Kak Wasti, mengucap terima kasih atas segala bantuannya selama kami di Fatumnasi. Sekaligus menyerahkan sedikit buku dan alat tulis yang bisa dibagi untuk anak-anak di sekitar sini. Kami  harus mengucap sampai jumpa pada Fatumnasi. Satu desa di kaki Gunung Mutis yang cantik sekali.

Kami masih punya waktu seharian ini di NTT sebelum menjejak Timor Leste esok hari. Maka kami sewa mobil Om Demus lagi agar bisa bebas pergi ke mana saja tanpa terkendala transportasi. Hari ini Om Demus menawarkan untuk melihat Air Terjun Oehala dan juga PLBN (Pos Lintas Batas Negara) Wini di Kabupaten Timor Tengah Utara yang berbatasan dengan Oecusi Timor Leste.

Tentu saja aku tak menolak untuk diajak melihat PLBN Wini. Bahagia malah. Kukira dalam trip kali ini aku hanya akan melintas PLBN Motaain di Atambua Kabupaten Belu saja yang Insya Allah akan kami lintasi besok saat menuju ke Timor Leste. Tapi ternyata malah dapat tambahan satu PLBN lagi!


Wilayah Timor Leste, negara tetangga kita ini bisa dibilang cukup unik, karena ia tak hanya berada di bagian timur Pulau Timor saja tapi juga ada sempalan kecil atau daerah kantung (enclave) di daratan sebelah barat Kabupaten Timor Tengah Utara NTT yaitu wilayah Oecussi atau Ambeno. Ada satu pos perbatasan Indonesia sebelum memasuki Oecussi Timor Leste yaitu PLBN Wini yang rencananya akan kami kunjungi hari ini. 

Wednesday, December 27, 2017

Menjejak Timor Tengah Selatan (Bag.2): Nyanyi Sunyi Fatumnasi

"Kuda-kuda bercengkerama di padang savana hijau
Sementara angin pagi menghantar kembali ingatan lampau
Kata orang, rindu adalah kesengsaraan yang syahdu
Dan aku sedang menikmati itu..."

-------------------------------------------------------------

11 Januari 2017

Selamat pagi, Kota Soe! Kamu tak sedingin yang kukira. Soe, Ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan Propinsi Nusa Tenggara Timur ini dikenal dengan sebutan Kota Dingin karena hawanya terkenal dingin dan cukup kontras jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Pulau Timor yang identik memiliki cuaca panas dan kering. Sekitar jam 7 pagi, selesai sarapan, Om Demus (driver mobil yang kami sewa) datang menjemputku, Kakak Dame dan Kakak Jane ke hotel tempat kami menginap di  Kota Soe. Masih dengan mobil APV yang kaca depannya retak setelah kena lemparan batu dalam perjalanan ke Bandara El Tari Kupang kemarin. Oke, sekarang kami bersiap menuju Fatumnasi, sebuah desa di Kaki Gunung Mutis, masih di Kabupaten Timor Tengah Selatan alias TTS.

Jarak dari Kota Soe menuju Desa Fatumnasi sekitar 40-an kilometer. Kami melintasi kota yang pagi itu telah memulai geliatnya. Perkampungan demi perkampungan, tentu saja dengan pemandangan khas Timor, yaitu rumah-rumah bulat atau Uma Bubu. Uma Bubu adalah rumah khas Timor yang terbangun dari papan dan beratapkan daun gewang. Seperti dalam perjalanan kemarin, Om Demus ini juga  serasa tak ada habisnya bercerita tentang tanah  timor.