Thursday, November 01, 2018

Merhaba Turkiye (Bag. 2): Mengenang Ottoman dan Lezatnya Sandwich Ikan

"For me, it has always been a city of ruins and of end-of empire melancholy. I've spent my life either battling with this melancholy, or (like all Istanbullus) making it my own..."
(Orhan Pamuk) 

----------------------------------


14 September 2018

Gunaydin, Istanbul! Selamat pagi, Istanbul!

Dibanding Jakarta, kota ini serasa terlambat memulai harinya. Adzan subuh di Istanbul berkumandang sekitar jam 6-an, sarapan di hotel juga baru tersedia jam 08.30. Oh nikmatnya hidup, tak perlu bangun pagi (lalu mengejar TransJakarta sepagi mungkin agar tidak terjebak kemacetan ibukota).

Sekitar jam 7-an lebih, aku dan Mbak Andari sengaja keluar hotel untuk sekedar jalan-jalan di seputar Blue Mosque dan Hagia Sophia yang letaknya hanya sepelemparan batu saja dari tempat kami menginap. Merasakan paginya kawasan yang "turis banget" ini. Sementara Adit dan Mas Reza, haqqul yaqin masih molor di kamarnya.

Sepagi ini di kawasan Sultanahmet adalah sebuah pagi yang sepi. Jalanan basah sisa hujan semalam. Bangku-bangku panjang di dekat Blue Mosque yang biasanya menjadi spot foto para turis tampak kosong. Jalanan di dekat air mancur serta Hagia Sophia masih lengang. Pertokoan di sekitarnya juga masih banyak yang tutup. Geliat kehidupan di jantung Sultanahmet belum dimulai.


Satu Pagi di Sultanahmet
Lengang di Depan Blue Mosque

Setelah cukup puas berfoto ria tanpa adanya "keriuhan" yang menjadi latarnya, kami kembali ke hotel dan langsung menuju rooftop untuk sarapan. Menu sarapannya tentu saja ala Turki. Roti-rotian, telur, salad dan segambreng buah zaitun (yang aku tidak doyan sama sekali). Makanan sehat, tapi kurang nendang untuk ukuran perut Indonesia yang biasa makan nasi. Tak berapa lama kemudian, Mas Reza dan Adit bergabung dengan mata yang masih kriyep-kriyep setengah sadar.




Ini adalah hari terakhir kami berempat bisa jalan bareng di Istanbul. Nanti malam aku dan Mbak Andari akan menuju Kota Goreme, sedangkan besok Mas Reza dan Adit akan pulang ke Jakarta. Beginilah akibatnya kalau ngetrip dadakan dan penuh drama sebelum berangkat. Sebagai teman sekantor dan bahkan satu tim, seharusnya kalau pergi piknik itu waktunya bareng, selalu kompak dan bersama dalam suka dan duka, apalagi di negeri orang seperti ini. Gimana sih? Wkwk! 

Dari rooftop Big Apple Hostel, tampak Laut Marmara. Laut ini terhubung dengan Selat Bosphorus dan turut memisahkan Turki bagian Eropa dan Asia. Meskipun terhalang kaca dan bukan view 360, tapi lumayanlah. Langit tampak cerah di atas Marmara. Kuharap cerahnya bertahan setelah kemarin Istanbul diguyur hujan seharian.

Jam 10 pagi kami berempat jalan kaki ke Hagia Sophia, salah satu bangunan bersejarah di kota ini yang meskipun mainstream sekali tapi wajib dikunjungi. 

Di depan Hagia Sophia

Tapi kini langit malah mendung, mendungnya parah! Hujan sudah menetes rintik. Istanbul oh Istanbul! Tentu aku lebih menyukai pemandangan sinar matahari di atas kota ini.

Dan beneran, hujan turun deras sekali. Kami berteduh di bawah payung besar tempat para pedagang makanan dan minuman membuka lapaknya. Sedih kalau pas piknik tapi hujan begini. Hanya bisa manyun (sambil nyanyi lagunya Sheila On 7: "Waktu hujan turun, di sudut gelap mataku, begitu derasnya, kan kucoba bertahan...")

Kami mulai ikut ngantri tiket masuk ke Hagia Sophia saat hujan mulai mereda. Cukup panjang antriannya, pengunjung dari berbagai penjuru dunia.

Jika kita punya waktu cukup lama di Istanbul dan tertarik untuk mengunjungi museum-museumnya, membeli Museum Pass adalah salah satu cara menghemat budget. Dengan 85 Lira saja, kita bebas masuk ke hampir semua museum di kota ini selama 5 hari. Kami sendiri nggak ada yang beli, karena memang nggak lama di Istanbulnya dan palingan hanya 2-3 museum saja yang bakal dikunjungi.

Terlihat beberapa orang menawarkan diri menjadi guide dan menyediakan jasanya dalam berbagai bahasa. Selain itu, kita bisa juga bisa menyewa audio guide di counternya. Kami tentu saja tak perlu guide karena selepas dari museum toh bisa membuka Wikipedia. Haha! Atau tinggal nanya saja ke Mas Reza yang ibaratnya seperti ensiklopedia berjalan, wkwk!

Hagia Sophia ini kelihatan megah sekali. Terdapat sebuah kubah besar dengan lambang bulan sabit di atasnya. Kubah-kubah kecil turut menghiasi beberapa bagiannya. Ada empat menara yang menjulang tinggi  di empat sudutnya. Warna bangunannya serupa warna batu-bata.

Informasi mengenai sejarah Hagia Sophia secara lengkap sangat mudah didapatkan di internet, jadi sepertinya nggak perlu aku copy-paste dalam tulisan ini. Yang jelas sejak didirikan pada tahun 537 oleh Kekaisaran Konstantius, tempat ini awalnya adalah sebuah Gereja Katedral atau Basilika, hingga tahun 1453. Selanjutnya, setelah Konstantinopel berhasil ditaklukkan oleh Kesultanan Ottoman di bawah kepemimpinan Sultan Mehmet II, Hagia Sophia (atau Aya Sofia dalam ejaan Turki) beralih fungsi menjadi masjid tepatnya sejak tahun 1453 sampai tahun1931. Setelah Turki menjadi Republik dan menyatakan sebagai negara sekuler, bangunan ini sempat ditutup untuk umum kemudian dijadikan museum sejak tahun 1935 hingga sekarang.

Menengok perjalanan Hagia Sophia selama berabad-abad dan sempat menjadi simbol kekuasaan negara serta agama, terus terang aku penasaran akan isi dan interiornya.

Kami masuk dan memulai dari semacam terasnya. Di pojok teras tampak orang berkumpul di depan sebuah layar TV yang sedang memutar sejarah tentang Hagia Sophia. Beberapa pintu besar menghubungkan teras dengan aula utama. 

Lantai dasar, sebuah ruangan yang luas sekali dengan pilar-pilar yang megah, langit-langit yang berhias lukisan indah serta dindingnya dipenuhi ornamen dan mozaik yang cantik. Jendela-jendelanya anggun. Arsitekturnya agung. Sayangnya di sisi kiri dipenuhi oleh scaffolding yang tegak berdiri. Tampaknya tempat ini sedang direnovasi.

Sebuah mimbar tempat imam memimpin sholat tepat berada bawah kubah. Kubah yang langit-langitnya terdapat lukisan Bunda Maria yang sedang memangku Yesus. Lukisan itu "diapit" oleh dua kaligrafi besar yang terletak di puncak pilarnya yang tinggi. Kaligrafi bertuliskan lafadz Allah dan Muhammad. Ada perasaan aneh seketika. 

Selain kaligrafi dengan lafadz Allah dan Muhammad, ada enam kaligrafi lain yang terpasang, bertuliskan empat sahabat Rasulullah yaitu Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali serta dua cucu Rasulullah yaitu Hasan dan Hussein. 

Kaligrafi Allah, Muhammad dan Lukisan Bunda Maria
Di dalam Hagia Sophia
Pemandangan dari Lantai 2

Kami terus berkeliling mengagumi museum ini lalu naik ke lantai dua melalui lorong-lorong berkelok yang terbuat dari batu alam. Di lantai dua, banyak kita temukan mozaik di dindingnya. Mozaik-mozaik berupa kisah kristiani yang sebagian telah mengelupas. Setelah Hagia Sophia dijadikan museum maka mozaik itu ditampilkan kembali setelah sempat ditutup saat tempat ini difungsikan sebagai masjid.


Lorong Menuju Lantai 2
Mozaik kisah Kristiani  di Dinding Hagia Sophia

Sempat terbersit sesuatu saat aku menikmati Hagia Sophia di dalamnya. Bangunan megah, bekas "rampasan perang" yang pernah "terpaksa" beralih fungsi. Apapun yang pernah terjadi di masa lalu, kini museum Hagia Sophia bisa menjadi simbol berdampingannya dua agama Samawi yaitu Kristen dan Islam. Di dua periode waktu yang berbeda, simbol-simbol keagamaan yang berbeda tapi di bangunan yang sama. Tempat ini pernah menjadi tempat umat kristen mendekatkan diri kepada Tuhan-Nya. Begitupula dengan umat Islam yang pernah menjalankan sholat lima waktu di tempat yang sama. Agama kita berbeda tapi aku percaya bahwa Tuhan berada di dekat hamba-hamba-Nya yang selalu mengingat-Nya.

Iya, aku jadi agak melo, sedikit.

Hari sudah siang saat kami keluar dari Hagia Sophia. Cuaca cukup cerah. Kami duduk-duduk sebentar di taman yang berada di antara Hagia Sophia dan Blue Mosque. Di antara keramaian pengunjung, pedagang Simit serta Es Krim. Kucing-kucing di jalanan yang gemuk dan jinak, tampak sesekali lewat dan mengeong. Adzan Dhuhur berkumandang.

Di dekat sini ada Istana Topkapi yang rencananya akan kami kunjungi juga hari ini. Tapi perut tampaknya harus diisi dulu. Maksi dulu yes? Kemana kita?

Rafi, teman kami yang pernah ke Istanbul, sempat merekomendasikan satu street food yang harus kami cicipi yaitu Sandwich Ikan alias Balik Ekmek (dalam Bahasa Turki). Adit sudah gugling mengenai tempat paling maknyus di mana bisa menemukannya. Kuy-lah! Kami naik Tram dari Sultanahmet ke arah Karakoy di dekat Galata Bridge.

Langit Galata tak begitu mendung. Istanbul tak murung. Dari dalam Tram, bisa kulihat keramaian orang yang sedang memancing di bagian atas jembatan serta kapal-kapal di muara Golden Horn saat Tram ini melintas Galata Bridge.

Turun di halte Karakoy, kami berjalan ke sebuah gang. Gang yang tidak begitu lebar namun sangat padat dan hanya bisa dilewati oleh satu mobil saja. Gang yang dipenuhi oleh pertokoan yang menjual berbagai perlengkapan perkapalan. Bau ikan tercium di beberapa tempat.

Satu Sudut Karakoy

Kami mengikuti Adit yang terus memperhatikan toko-toko di sebelah kanan, mencari sebuah kedai makan yang menjual Sandwich Ikan. Tapi hingga ke ujung gang, kami tak juga menemukan kedai yang dimaksud.

"Harusnya di situ, tapi sepertinya sudah tutup" kata Adit, sebagai satu-satuya orang yang sudah gugling mengenai tempat bahkan penjualnya yang terkenal dari generasi ke generasi.

Sebenarnya di sepanjang gang ini juga banyak penjual Balik Ekmek. Tapi Adit tetep keukeuh mencari yang konon katanya yang paling enak yang dijual oleh Bapak Emin dan penerusnya.

Bapak Emin, dikau di mana? Laper naa...

Seorang pria dengan topi dan apron merah tiba-tiba menghampiri. Sambil menanyakan apakah kami sedang mencari Balik Ekmek.

Ternyata kami dibawa ke lapaknya yang berada di pinggir jalan. Tampak dagangannya belum siap, dia masih menata meja, memajang salad dan lain sebagainya. Adit tampak ragu. Sekali lagi Adit mengingat-ingat kisah tentang Bapak Emin, penjual Balik Ekmek yang terkenal dengan asesoris khasnya berupa apron dan topi merah, asesoris yang kemudian banyak ditiru oleh penjual lainnya.

Setelah melihat dan menimbang segala aspek (warna sayuran yang tampak sudah tidak segar serta ikan yang tidak dibersihin durinya) kami memutuskan meng-cancel orderan dan berpindah ke lain hati, maksudnya ke lapak sebelah yang letaknya hanya beberapa meter dari pria ber-apron dan bertopi merah itu. Di lapak ini, sayurannya masih segar serta si bapak penjual yang dengan rajinnya membuang duri-duri ikan mackarel pada saat proses pembakarannya. Meskipun si bapak ini mungkin bukan generasi Bapak Emin, tapi ya sudahlah, kami pilih ini saja. Sudah keburu lapar.

Dan...Ya Tuhan! Satu gigitan saja serasa surga! Yummy sekali, lezatnya sampe ubun-ubun. Serius! Jika saja ada saos atau sambal, pasti lebih parah enaknya. Tapi tanpa saos dan sambalpun, ini sudah sangat lezat. Maka kami berempat, di siang hari yang cerah ini, berdiri di emperan jalan sebuah gang sempit di kawasan Karakoy, sambil menikmati makanan terenak se-Turki! 

Hmm, sudah nggak sabar
This is it, Balik Ekmek ala Chef Turkiye

Selesai menuntaskan Balik Ekmek, kami makan lagi. Iya, makan lagi. Ada pasar ikan di dekat sini dan sebuah rumah makan yang menu makanannya berupa olahan ikan semua. Sepiring ikan goreng (entah ikan apa, kecil-kecil mirip ikan wader tapi besaran dikit) dipesan Adit. Dan mereka menyajikannya dengan sekeranjang roti! Roti keras tapinya, eh tapi gratis rotinya! Haha!

Kami beranjak, tentu saja setelah kenyang dan kembali ke kawasan Sultanahmet. Saatnya mengunjungi Istana Topkapi. Sebuah istana megah di tepi Laut Marmara. Tempat kediaman Sultan sekaligus pusat pemerintahan. Saksi sejarah kejayaan islam di masa Dinasti Ustmaniyah atau Ottoman selama hampir 4 abad lamanya di mana kekuasannya meliputi Eropa Tenggara, Asia Barat hingga ke Afrika Utara.

Kompleks Istana Topkapi ini luas sekali dan terdiri dari banyak bangunan. Luasnya mencapai 70 hektar. Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengelilinginya. Sejak tahun 1924, tempat ini resmi menjadi museum.

Di loket, kita bisa memilih akan mengunjungi kompleks mana. Harga tiketnya pun berbeda. Kami memilih masuk ke Istana saja, dengan alasan bahwa di sana kita bisa melihat peninggalan-peninggalan para Nabi. Sebenarnya Adit dan Mas Reza lebih tertarik mengunjungi Hareem, alias tempat tinggal istri dan para selir sultan. Wkwk! Apa ekspektasi kalian di Hareem, hah?

"Gimana kalau kita sewa audio guide Hareem saja, nggak usah masuk. Kira-kira isi suaranya apa ya? Evet...evet...gitu ya? (Evet adalah Bahasa Turki yang artinya ya atau yes)" canda Adit, disambut ketawanya Mas Reza dan Mbak Andari. Dasar ya kamu, Dit! 

Saking banyaknya bangunan dan luasnya tempat ini yang bikin bingung dan kaki gempor, maka kami langsung menuju ruangan tempat menyimpan peninggalan-peninggalan (relikui) Nabi. Antriannya panjang. Dilarang mengambil gambar di area ini. Maka kudokumentasikan saja segenap kenangan itu dalam ingatan. Halah!

Seluruh relikui terpajang dalam kaca sehingga kita tak dapat menyentuhnya. Akhirnya aku bisa melihat dengan mata kepala Tongkat Nabi Musa yang digunakan untuk membelah Laut Merah, Pedang Rasulullah beserta para sahabatnya, cetakan kaki kanan Nabi Muhammad saat Mi'raj dari Masjidil Aqsa serta peninggalan-peninggalan penting lainnya. Terus terang aku hanyalah muslim yang biasa saja, tapi melihat relikui yang selama ini hanya kuketahui lewat cerita atau buku-buku saja ternyata bisa menghadirkan rasa haru juga.

Hari semakin sore. Kami tinggalkan satu lagi bangunan bersejarah yang pada zamannya mungkin tak bisa sembarang orang masuk ke dalamnya. Istana para raja, penguasa Turki, sebagian Eropa, Asia dan Afrika. Kami kembali melewati taman di depan Hagia Sophia dan Blue Mosque yang ramai oleh pengunjung. Sebuah bis wisata berwarna merah tampak parkir menunggu penumpangnya. 

Inilah Istanbul di masa sekarang. Orang-orang datang ke Turki (termasuk kami) untuk salah satunya berwisata sejarah. Sejarah masa lalu negeri ini. Mungkin benar apa yang dikatakan Orhan Pamuk, penulis asal Turki yang pernah menuliskan memoarnya tentang Istanbul. Bahwa sisa-sisa masa lalu itu menjadi pengingat bahwa keadaan kota ini sekarang mungkin tak seperti dulu dan membingungkan, bahwa kita tak pernah lagi bermimpi untuk mencapai tingkat yang sama dalam hal kesejahteraan, kekuasaan serta kebudayaan seperti dulu. Entahlah...

Oke, ngapain lagi kita? Ayo nongkrong saja di dekat Blue Mosque sambil main kartu. Hah, main kartu kok di depan masjid? Astaghfirullahaladzim. Untung nggak tercyduk, haha! Ingatlah bahwa judi hanya menjanjikan kemenangan dan menjanjikan kekayaan, begitu kata Bang Haji Rhoma Irama. Tapi tenang, kami bukan judi, kami hanya makan kuaci. 

Kami hanya makan kuaci ;p

Sekitar pukul 5 sore lebih, kami kembali ke Big Apple Hostel. Aku dan Mbak Andari segera re-packing tas bawaan. Malam ini kami berdua harus berangkat ke Goreme dengan bus malam, meninggalkan Adit dan Mas Reza yang besok akan kembali ke tanah air.

Jujur, tiba-tiba aku sedih. Turki ini seperti trip "perpisahan" kami. Adit akan mutasi ke kantor di Riau dalam waktu dekat. Bulan depan, aku juga pindah kerja ke Balikpapan dan nggak bakal satu perusahaan lagi dengan mereka bertiga. 

Sore ini agak melo, semelo langit Turki yang mendadak  mendung lagi. Tapi perjalananku di Turki bersama Mbak Andari masih panjang. Masih akan ada banyak cerita di depan.

"Kalian yang akan ke Goreme ya?" seorang pria Turki menghampiri kami dan bertanya, dia petugas dari transport yang menjemput kami menuju terminal. 

Kuangkat ransel. Menyalami Adit dan Mas Reza lalu melangkah keluar hostel. 

"Sampai jumpa lagi ya! Safe flight besok ke Jakartanya." kataku pada mereka berdua

Istanbul, aku dan Mbak Andari pamit duluan. Kami main sebentar ke Goreme, Pamukkale dan Selcuk.

Kami berempat di depan Big Apple Hostel

------------------------------



Budget:
1. Tiket masuk ke Hagia Sophia: 40 Lira
2. Tiket Masuk ke Istana Topkapi : 30Lira
3. Metro/Tram : Tergantung jarak, tapi sebagian besar > 2 Lira sekali jalan


Saturday, October 20, 2018

Merhaba Turkiye (Bag.1): Welcome to The City, Istanbul!

"Life can't be all that bad, I'd think from time to time. Whatever happens, I can always take a long walk along the Bosphorus..."
(Orhan Pamuk)

---------------------------------

13 September 2018

Setelah menempuh perjalanan cukup panjang dari Jakarta, pesawat Saudi Airlines yang sempat transit di Jeddah Arab Saudi ini mendarat mulus di Bandara International Ataturk Turki sekitar pukul 10.30 waktu setempat. Selamat datang di Istanbul. Kota yang pernah disebut sebagai Konstantinopel atau Bizantium. Kota terpadat di Turki, pusat ekonomi, budaya dan tentu saja sejarah.

Teman jalanku kali ini adalah Mbak Andari. Teman kerja yang cubiclenya persis di sebelah. Akhirnya sampai juga kita di sini ya, Mbak? Padahal rencana pergi ke Turki bisa dibilang cukup dadakan. Hari cuti memang sudah kami block sejak lama, tapi terus terang kami belum menentukan hendak jalan ke mana. Tiket baru kita beli sekitar seminggu sebelum berangkat (untung harga tiketnya miring cuy). Maka Turki seolah menjadi sebuah wacana saja, karena kami malah sibuk nyiapin acara gathering kantor saat itu lalu dilanjut keseringan nonton pertandingan Asian Games hampir setiap hari di GBK, haha! Belum lagi berita tentang krisis ekonomi yang sedang melanda Turki (lalu timbul kekhawatiran dari segi keamanan) juga nilai tukar rupiah yang sedang turun melawan Dolar Amerika, cukup membuat kami ragu untuk bepergian ke sana. Tapi tekad kami bulat, pokoknya harus piknik, meskipun ngirit! Wkwk!

Kami langsung menuju loket pemeriksaan paspor. Antriannya mengular panjang. Lira (mata uang Turki) yang sedang anjlok terhadap Dollar, tampaknya malah membawa dampak meningkatnya wisatawan barat yang berkunjung ke negeri ini. Bagi WNI, kita hanya butuh Visa On Arrival (VOA) yang bisa diapply online sebelum keberangkatan dengan biaya sekitar $26. Oke, satu cap mengisi pasporku yang nyaris kosong ini.

Keluar dari pintu kedatangan, kami ke money changer sebentar, menukar Dollar Amerika ke Lira. Lira susah banget didapatkan di Jakarta, maka membawa Dollar Amerika dan ditukar sesampainya di Turki adalah salah satu alternatifnya. Kami nggak nukar banyak, setidaknya cukup untuk membeli IstanbulKart dari mesinnya. Oh ya, 1 lira jika dikurs-kan ke Rupiah saat itu sekitar Rp. 2300 - 2400. Sementara untuk 1 Dollar Amerika rate-nya sekitar 5,8 - 7,2 Lira, fluktuatif sekali pergerakan Dollar versus Lira ini. 

IstanbulKart adalah semacam kartu pembayaran untuk semua moda transportasi umum (Metro, Tram, Bis) di Istanbul. Bandara Ataturk ini sudah terintegrasi dengan Metro (subway), kami akan menggunakan itu untuk menuju kawasan Sultanahmet, tempat kami menginap nanti. 

Metro terisi penuh. Meskipun kami nggak dapat tempat duduk, tapi cukup nyamanlah. Apalagi, harus kuakui bahwa Istanbul penuh dengan ciptaan Tuhan yang indah dipandang mata (halah!). Kanan kiri, depan belakang, indah semua. Mereka ini pasti bisa jadi artis jikasaja tinggal di Indonesia. Subhanallah!

Sesampai di Stasiun Zeytinburnu, kami harus berganti moda transportasi lain yaitu Tram yang kebetulan jalurnya tepat berada di sebelah Metro. Oke, kita nikmati yang indah-indah lagi (apaan sih!). 

Dari kaca jendela, kulihat Istanbul yang sibuk. Gedung-gedung tinggi, pusat-pusat keramaian, pertokoan, serta cuaca yang cukup panas siang itu.

Turun dari Tram di kawasan Sultanahmet, kami berjalan mengikuti petunjuk yang diberikan Maps menuju penginapan. Area ini bisa dibilang sebagai pusatnya tempat-tempat menarik di Istanbul. Kami melewati Blue Mosque, masjid kenamaan di Istanbul, juga Hagia Sophia (atau Aya Sofia). Ramai sekali. Turis banget. Setelah melewati jalan yang isinya deretan cafe, penginapan dan toko souvenir, maka sampailah di Big Apple Hostel, tempat kami menginap

Aku dan Mbak Andari langsung menuju meja resepsionis untuk check in. Eh, aku nggak memperhatikan dua orang yang sedang duduk di kursi lobby. Ternyata mereka adalah... Oke, nggak perlu pakai acara kaget sih karena keberadaan mereka di Istanbul sudah terdeteksi sebelumnya. Dua orang itu adalah Mas Reza dan Adit, teman sekantor bahkan satu tim yang sudah berangkat duluan ke Turki sejak 5 hari lalu. Lha kok perginya nggak barengan aja? Itulah. Mereka berdua itu kebanyakan drama. Drama yang nggak jelas. Adit bahkan baru beli tiket pesawat ke Turki sehari sebelum keberangkatan. Gila memang. Tapi lumayanlah, mereka berdua bisa survey duluan tempat-tempat yang akan aku dan Mbak Andari datangi karena itinerary mereka nyaris copy-paste dengan itinku. Walaupun sehabis itu mereka membully-ku karena itin tersebut seperti ngikutin sopir bis dari satu kota ke kota lainnya dan tampaknya kurang cucok dengan kehidupan metropolis keduanya. Wkwk!

Beberes sebentar di kamar, untuk kemudian turun kembali ke lobby. Sudah janjian dengan Mas Reza dan Adit untuk langsung jalan-jalan di Istanbul, pastinya ke tempat yang belum mereka datangi.

"Kami baru sampe Terminal Istanbul pagi tadi. Sengaja nggak nginep di Selcuk, demi bisa menyambut kalian!" kata mereka

Halah, mbeell! Bilang aja kalian sudah nggak betah berada di pelosok Turki semacam Selcuk, Pamukkale atau Goreme dan pengen segera balik ke keramaian Kota Istanbul!

Kami berempat, di depan Hagia Sophia. Di depan doang yak, masuknya besok ajah
(Photo Courtesy of Adit)

Oke, kemana kita? Makan siang dululah. Adit dan Mas Reza membawaku dan Mbak Andari ke sebuah rumah makan tak jauh dari Halte Sultanahmet. Dari kaca etalasenya, tampak berbagai makanan khas Turki yang cukup menggoda dari penampakannya. Makanan yang sungguh aku tak tahu namanya. Oke bro, kita coba. Urusan lidah bisa menerima atau enggak, itu nanti saja.

Kami memilih makanan yang berbeda, sehingga bisa saling icip-icip. Pilihanku berupa nasi yang dicampur dengan daging sapi dan rempah-rempah  lalu dimasukkan ke dalam balutan kol rebus berkuah. Rasanya, hmm....masih masuk di lidah sih, tapi hmm ya gitu deh. Clingak-clinguk nyari sambal atau saos, nggak ada pula. Serius, makanan Turki ini sejatinya enak. Kalau masak daging-dagingan empuk bener, tapi rasa keseluruhan cenderung hambar meskipun presentasinya sangat menggiurkan. Seandainya saja ada sambal atau saos, pasti semua terselamatkan bagi lidah asli Indonesia ini.

Selesai makan siang, kami naik Tram ke Grand Bazaar yang hanya berjarak dua halte saja dari Sultanahmet. Grand Bazaar adalah sebuah pasar tertutup tertua di dunia yang ditengarai telah berusia lebih dari 500 tahun sejak zaman Ottoman. Pasarnya besar sekali, kabarnya memiliki 21 pintu masuk dan 61 ruas jalan di dalamnya. Pasar ini menjual berbagai macam souvernir maupun oleh-oleh khas Turki. Pengunjung cukup padat terutama di jalan utama. Aku sempat berpikir, kalau melihat keramaian seperti ini dan transaksi yang pastinya luar biasa, aku tak melihat sebuah negara yang sedang mengalami krisis ekonomi.

Suasana dalam Grand Bazaar 

Kami nggak belanja. Aku dan Mbak Andari cuma nuker duit di sana karena ratenya lebih bagus dibanding di bandara. Untuk belanja sih ntar-ntar aja, lha wong kami baru sampe. Adit dan Mas Reza yang bakal balik ke Indonesia dua hari lagi juga tampaknya hanya survey harga dan tempat dulu. Beneran, ini pasar besar sekali. Aku bisa nyasar jika keliling-keliling tanpa mengingat-ingat jalannya. Selain besar, pasar ini juga dipenuhi makhluk Tuhan yang cakep-cakep. Bahkan penjaga toko saja sudah mirip bintang film. Aliando, Rio Dewanto, Chico Jericho, Adipati Dolken, ayo sebutin bintang sinetron, model atau bintang film terkenal Indonesia, semua lewat! Wkwk! Godaannya besar sekali ya, Mbak Andari. Kalau untuk cewek Turki mah aku nggak ngeliatin. Itu urusan Adit dan Mas Reza saja, haha! 

Hari sudah sore dan gerimis menyambut saat kami keluar dari Grand Bazaar. Oh ya, sebelumnya kami nyobain satu street food yang banyak bertebaran di mana-mana yaitu chessnut bakar. Lumayan enak sih. 

Destinasi yang kami tuju selanjutnya adalah Selat Bosphorus. Selat yang memisahkan bagian Turki di benua Asia dan Eropa, sekaligus selat yang menghubungkan Laut Marmara dan Laut Hitam. Kami naik Tram ke arah Eminonu.

Sebenarnya ada trip khusus mengarungi Selat Bosphorus. Crusingnya mengunakan kapal mirip kapal pesiar, lengkap dengan makanan dan hiburan pula di atasnya. Harganya cukup mahal dan kami memang tidak membudgetkannya (maklum, kami pejalan ngirit walau sebentar lagi dapat tab*l besar, wkwk). Putar otak sejenak, gugling dan akhirnya nemu cara untuk bisa melipir ke Bosphorus dengan cara yang murah meriah. Ada kapal ferry umum dari Pelabuhan Eminonu menuju ke kawasan Uskudar dan melintasi sepenggal Selat Bosphorus hanya dengan 2 Lira lebih sedikit saja! Oke, berangkat!

Kami segera menuju deck atas ferry. Terdapat kursi-kursi untuk penumpang dan bisa menikmati pemandangan sepanjang perjalanan dengan lebih leluasa. Ferry ini perlahan bergerak, Masjid Suleymaniye terlihat semakin jauh, saat ferry ini bergerak meninggalkan pelabuhan. Melaju dari Golden Horn, muara yang memisahkan Istanbul Lama dan Istanbul Baru, melintas sebentar  di Marmara dan Selat Bosphorus untuk kemudian menyeberang ke sisi Turki bagian Asia.


Mendung di langit Galata 
Camar berarak di Bosphorus
Di atas ferry, membelah Bosphorus
(Photo Courtesy of Adit)

Burung Camar beterbangan, serasa mengikuti perjalanan kapal ini. Tepian Bosphorus tampak padat oleh bangunan-bangunan. Pucuk Galata Tower menyembul. Kapal-kapal berlalu lalang. Indah. Eropa di kananku, Asia ada di sebelah kiriku. Sayang, mendung menggantung. Bosphorus tampak sedikit murung.

Rasanya aku masih betah berlama-lama di atas ferry dan mengagumi Bosphorus, tetapi Pelabuhan Uskudar tampaknya sudah tak jauh lagi. Kami disambut gerimis saat kapal ini hendak merapat.


Kapal merapat di Pelabuhan Uskudar

Tak banyak yang kami lakukan di Uskudar. Selain sholat di masjid depan pelabuhan (ehm, kami pejalan yang shalih dan shalihah ya ternyata, wkwk) serta mencicipi Simit. Simit adalah roti khas Turki yang teksturnya keras minta ampun, bentuknya seperti donat berkepang dan ditaburi wijen. Sekali lhep, langsung kenyang! Lalu kami balik lagi ke Eminonu. Yup, tujuan kami ke Uskudar memang hanya demi melintasi Selat Bosphorus. Bolak-balik, agak nggak jelas. 

Simit, harus dicoba saat lapar. Sangat mengenyangkan!


Hujan turun saat kami memasuki kapal. Sempat ke deck atas sebentar, tapi hujan ternyata cukup deras. Padahal panoramanya ingin sekali lagi aku nikmati seperti perjalanan berangkat tadi. Akhirnya kami memutuskan duduk di dalam kabin. Cuaca tak cukup bersahabat di hari pertamaku di Istanbul. 

Hujan masih mengguyur saat kami sampai kembali di Eminonu. Langit tampak semakin gelap. 

Adit dan Mas Reza mengajak kami melewati Jembatan Galata tak jauh dari Pelabuhan Eminonu. Sebuah jembatan yang melintasi Golden Horn yang terdiri dari dua tingkat. Lantai dasar dipenuhi oleh cafe-cafe dan rumah makan. Sementara di atasnya adalah jalan raya, jalur Tram serta trotoar pinggir jembatan yang biasanya dipenuhi oleh orang-orang yang memancing ikan jika saja hari tak hujan.

Masjid Suleyman, tampak dari kejauhan

View di kawasan Karakoy

Tapi hujan tampaknya semakin deras. Kami berlarian menuju jembatan. Berjalan di antara cafe-cafe yang ramai. Asap menu makanan grill tampak mengepul di beberapa tempat, bercampur dengan aroma Shisa. Kami berjalan hingga kawasan Karakoy yang terletak di ujung jembatan. Galata Tower, itulah tujuan kami

Rintik masih menemani saat kami melalui jalanan sesuai petunjuk arah. Sebatas rintik kecil yang lalu tiba-tiba menjadi deras sehingga memaksa kami meneduh di emperan sebuah toko. Eh, bukan toko ding ternyata. Tapi sebuah gallery yang entah sedang mengadakan pameran apa. Dari dinding dan jendela kacanya, kami bisa melihat banyak orang dengan dandanan berkelas sedang berbincang-bincang di antara karya-karya seni yang terpajang. Beberapa orang tampak keluar untuk merokok, tak jauh dari tempat kami berteduh. Satu lagi sudut Istanbul yang secara tak sengaja kami temukan. 

"Gimana kalau kita iseng masuk saja. Pura-pura jadi pengunjung atau jadi wartawan sambil bawa kamera. Lumayan bisa numpang berteduh."  Mas Reza mulai mengungkapkan ide abstraknya. 

Ide abstrak yang langsung gugur setelah menyadari penampakan kami yang jelas berbeda dengan para pengunjung gallery yang tampak glamour ala sosialita Istanbul.

Maka kami hanya bisa memandang "kehidupan" mereka dari balik jendela kaca sambil menggigil dan mengutuki hujan yang tak kunjung berhenti ini. 

Kami memutuskan untuk pergi dari emperan gallery saat hujan mulai reda. Jalanan agak menanjak serta bangunan-bangunan cukup tinggi berada di kanan kiri. Tapi belum jauh kami berjalan, hujan kembali turun. Untungnya kami menemukan tempat berteduh yang cukup representatif, sebuah pintu masuk  rumah dengan beberapa tangga di depannya dan beratap. 

Berempat, kami duduk di tangga. Menunggu hujan kembali reda. Memandang jalanan berpaving dan pencahayaan yang cukup remang. Seekor kucing tampak berteduh di seberang, di antara tumpukan barang. Kucing yang sesekali melihat keberadaan kami lalu ngumpet lagi. Santai aja, puss!

Empat WNI ngemper di Istanbul
(Photo Courtesy of Adit)

Rasanya pengen tertawa, kok bisanya kita menggelandang begini di negara orang? Ngemper di depan sebuah rumah antah berantah (dan bisa saja diusir jika si pemilik rumah mengetahuinya). Lalu muncullah sebuah keisengan. Iseng buka  aplikasi google translate di hp, lalu kami belajar bahasa Turki! Iya, bahasa Turki! 

Tesekkur ederim (terima kasih), Dekatli ol (hati-hati), Gule gule (sampai jumpa), Merhaba (halo), Evet (ya), Kedi (kucing) dan entah apalagi. Entah apa cita-cita kami, tapi begitulah. Sesekali Bahasa Turki yang baru saja dipelajari secara instan itu bahkan dicoba oleh Mas Reza dan Adit saat ada orang lewat di depan kami. Reaksi mereka? Kebanyakan reaksi bingung sih. Orang gila, mungkin itu pikiran mereka, wkwk! Sumpah, itulah hal yang paling absurd yang kami lakukan di Istanbul malam itu. 

Akhirnya hujan mulai mereda lagi. Kembali kami susuri jalanan menuju Galata Tower yang basah dan menanjak itu. 

Galata Tower (Galata Kulesi dalam Bahasa Turki) adalah sebuah menara batu dengan tinggi sekitar 66 meter, didirikan pada abad pertengahan di Distrik Galata Kota Lama Istanbul. Saat malam begini, menara itu dihiasi dengan cahaya biru dan merah. Cantik sekali.

Di depan Galata Tower

Oke, kita mau naik tower ka tidak, kakak? Adit dan Mas Reza tampaknya kurang tertarik. Aku dan Mbak Andari kemudian bertanya berapa harga tiket untuk naik ke atas menara. Ah, ternyata 35 Lira! Hmm, sampai di atas kukira pemandangannya nggak begitu bagus karena cuaca hujan dan hari sudah malam. Oke, kami skip saja! Yang penting sudah menginjakkan kaki di Galata Tower. 

Kamipun beranjak dari Galata Tower, menyusuri jalan paving basah yang berbias lampu pencahayaan menara. Hujan masih rintik. Cuaca masih tak jua bersahabat bahkan hingga malam seperti ini.

Kemana lagi kita habiskan malam ini? Jangan kasih kendorlah bro!

Oke, kami ke Taksim Square. Satu lagi tengara terkenal di kota ini. Setengah berlari kami menuju ke Stasiun Metro Sishane di ujung jalan.

Taksim Square atau Alun-Alun Taksim berada di Istanbul sisi Eropa. Ditandai dengan sebuah monumen yaitu Monumen Republik yang dibangun pada tahun 1928 untuk memperingati terbentuknya Republik Turki yang ke-5. Tingginya sekitar 11 meter. Ke-empat sisi monumen dihiasi oleh patung, salah satunya adalah patung Mustafa Kemal Attaturk, pendiri sekaligus presiden pertama Republik Turki.

Di depan Monumen Republik - Taksim Square. Sorry, gelap bro! 

Hujan masih rintik saat kami keluar dari Stasiun Metro Taksim dan berjalan ke monumen itu. Lampu-lampu penerangan tampak berada di beberapa sudut. Tampak beberapa orang duduk-duduk ataupun berfoto. Kesan pertamaku, ya cuman tempat nongkrong biasa saja. Tapi hey, tengoklah keramaian di jalan sebelah sana!

Melangkah tak jauh dari monumen, terdapatlah Istiklal Street dengan jejeran pertokoan mewah mulai dari cafe, restoran, toko pakaian, sepatu, souvenir dan segala macam. Ratusan orang berlalu-lalang memenuhi jalan. Di beberapa tempat tampak pengamen jalanan yang menyajikan lagu dan beradu dengan musik hingar yang terdengar dari beberapa bar dan klub malam di pinggiran jalan. Sebuah Tram kuno berwarna merah tampak melintas sesekali di jalurnya yang berada di tengah jalan. Tempat ini begitu "hidup". Denyut malam Istanbul berada di sini, Jalan Istiklal! Yeah!

Istiklal Street, malam itu

Setelah mencicipi satu kotak Turkish Delight alias manisan Turki di sebuah toko kue ternama (serius ini endez banget rasanya, apalagi yang pistachio lokum!), kami beranjak ke sebuah rumah makan. Suara dentuman musik dengan nyanyian lagu berbahasa Turki (yang sepintas terdengar mirip bahasa Arab) masih terus menggema di beberapa titik jalan. By the way, aku nggak bisa membayangkan jika kita "ajib-ajib" sementara lagunya pakai Bahasa Arab! Sumpah, bisa-bisa gue inget neraka! 

Jam sudah menunjukkan hampir pukul 10 malam. Istiklal masih hidup, bahkan bertambah hidup.

Kami berempat sama-sama memilih paha ayam kalkun. Paha segede gaban plus nasi (nasi pera berempah) sepiring penuh. Hadeuh, baru ngeliatnya aja rasanya sudah kenyang bego. Dan lagi-lagi, aku menyesal nggak bawa saos! Makan makanan begini tanpa saos atau sambal rasanya plain banget.

Laper apa doyan kamu, Dit? Masya Allah, paha kanan & kiri sekaligus! 

Setelah kenyang dan beranjak keluar dari restoran, ternyata di luar hujan. Kami berniat menunggu hingga sedikit reda di dekat pintu keluar. 

Adit iseng membeli minuman dalam kemasan bertuliskan Ayran yang terlihat banyak dikonsumsi orang saat makan tadi. Dia membawa 4 sedotan.

"Enak nih" kata Adit

Mendengar kata enak, maka tanganku langsung refleks bekerja dan tanpa ba-bi-bu mengambil sedotan dari tangan Adit lalu menusukkanya ke lid Ayran. Dan... Waladalalahhh!

Aku tak sanggup memasukkan Ayran ke dalam tenggorokanku. Rasanya aneh sekali, antara asin, asem dan entahlah, absurd sekali! Dengan Ayran yg masih memenuhi mulutku, aku berlari ke luar restoran dan memuntahkannya. Kurang ajaaar! Teman-temanku malah tertawa ngakak. Sokooor! Nggragasss!

The one and only, Ayran! (Photo Courtesy of Adit)

Ternyata oh ternyata Ayran adalah minuman yang terbuat dari yoghurt, air dan garam. Bayangkan, kombinasi yang aneh bukan? Minuman ini populer di Turki, Irak, Iran dan negara Timur Tengah. Aduh, kalau saya sih no! Tidak akan lagi!

Hujan masih terus mengguyur Istiklal, petugas restoran menyuruh kami kembali ke tempat duduk saja sambil disuguhi teh hangat, menunggu hujan berhenti. Restoran masih ramai, mereka bilang baru akan tutup pada jam 1 malam.

Akhirnya kami keluar saat hujan agak mendingan. Menyusuri lagi jalanan Istiklal yang tetap hingar. Bahkan hujanpun tak juga meredupkan keramaiannya. Pertokoan masih buka, orang masih hilir mudik, dan musik masih terdengar kencang. Istiklal tetap gemerlap bahkan hingga nyaris jam 12 malam begini.

Dan hujan tiba-tiba deras lagi, memaksa kami membeli payung yang dijual di pinggiran jalan, agar setidaknya tak begitu basah hingga sampai di Stasiun Metro nanti.

Hujan agak redaan saat mendekati Taksim Square. Dua orang perempuan dengan gaya kekinian, berjalan melewati kami. Salah satunya sepertinya sedang mabuk dan nyerocos sendiri dengan bahasa yang aku tidak tahu. Mas Reza tampak keki setelah perempuan mabuk itu mendorong bahunya sambil ngelantur nggak jelas. Untung mereka segera berlalu, huahaha! Istighfar ya, Mas.

Kami bergegas masuk ke Stasiun Metro Taksim yang terletak di bawah tanah. Turun melalui eskalator yang turut basah diguyur hujan. Mas Reza dan Adit berdiri di depanku dan Mbak Andari. Entah apa yang terjadi, ketika seorang bule berjalan turun dan melewati Mas Reza dan Adit, tiba-tiba Adit dan Mas Reza jatuh tersungkur di eskalator. Dan bule itu cuma melenggang kangkung tanpa dosa, wkwk!  Kenapa bro? Kena "senggol" ya, bro? Kirain karena eskalatornya licin, haha! Oke-oke, kita memang perlu membiasakan diri terhadap aturan di sini, bahwa nggak boleh berdiri berjejer saat di eskalator baik saat naik ataupun turun, harus ada satu sisi kosong untuk tempat orang yang hendak bergegas atau berjalan. Eh, sakit nggak bro? Nggak perlu bikin incident report kan? Halah!

Kereta membawa kami ke Stasiun Kabatas yang merupakan stasiun paling ujung dari metro jurusan ini. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam lebih. Saat kami turun, petugas stasiun telah menutup semua akses pintu. Tak ada kereta, tak ada lagi tram atau bis yang beroperasi setelah lewat jam 12. Tak ada pilihan lain, kami harus naik taksi untuk pulang ke penginapan di kawasan Sultanahmet.

Jalan raya masih cukup padat di sepanjang taksi yang kami tumpangi ini melaju.

Setelah beberapa jam berada di Istanbul, terus terang aku belum menemukan gambaran Turki yang "islami" yang selama ini sering dikagumi oleh banyak orang di negeriku. Turki dengan partai penguasa yang berbasiskan agama dan Presiden Erdogannya. Aku bisa bilang bahwa suasana Istanbul yang kulihat ini tak ada bedanya dengan tempat-tempat di Indonesia. Aku masih mendengar suara adzan dari masjid-masjid megah di kota ini, pun sempat kulihat masjid yang penuh saat Jum'atan siang tadi, tapi kota ini terus berdenyut dengan modernitas. Banyak kujumpai wanita berhijab, tapi tak kalah banyak dibanding perempuan bergaya trendy tanpa penutup kepala. Public display of affection yang mudah terlihat di beberapa sudut kota, hedonisme yang tersaji di kawasan Istiklal malam ini, entahlah. Mungkin ini baru secuil Istanbul dan tentu saja hanya secuil Turki, masih banyak yang harus kulihat, aku masih perlu banyak membaca dan memahami...

"Oke, kita sudah sampai" kata Adit yang duduk di samping driver taksi, menyentak diamku.

Pintu Big Apple Hostel masih terbuka. Cafe-cafe di sekitarnya telah sepi. Kawasan Sultanahmet sudah terlelap.

Selamat beristirahat, teman-teman! Sampai jumpa besok di rooftop penginapan, kita memandang Laut Marmara sambil sarapan.

Good night, sweet dreams! Iyi geceler, tatli ruyalar! Tsaaah, tetiba pinter Bahasa Turkiye!

Kisah selanjutnya di Merhaba Turkiye (Bag.2): Mengenang Ottoman dan Lezatnya Sandwich Ikan

-----------------------------------------------

Budget:
1. IstanbulKart = 10 Lira
2. Naik Metro/Tram/Ferry = Harga tergantung jarak, sebagian besar > 2 Lira sekali jalan
3. Penginapan Big Apple Hostel = 100 Lira/orang (Kamar Dormitory) 

Friday, June 22, 2018

Mempertanyakan Keselamatan Transportasi Perairan

Berita tenggelamnya Kapal Motor (KM) Sinar Bangun yang terjadi di Danau Toba Sumatra Utara pada tanggal 18 Juni 2018 menorehkan duka di tengah kegembiraan seusai merayakan Idul Fitri. Diperkirakan ratusan penumpang menjadi korban dan masih dalam proses pencarian. Tak jelas berapa jumlahnya secara pasti mengingat tidak ada manifest atau daftar nama penumpang kapal. Diduga, kapal tersebut tenggelam karena kelebihan muatan serta cuaca buruk.

Sebelumnya, tanggal 13 Juni 2018, KM Arista yang memuat 43 orang, tenggelam di perairan Makassar Sulawesi Selatan juga tenggelam dan mengakibatkan 15 penumpang meninggal dunia. Penyalahgunaan peruntukan kapal yang seharusnya bukan untuk penumpang disebut oleh Ketua KNKT sebagai salah satu penyebab kecelakaan. 

Masih di tanggal 13 Juni 2018, KM Albert berpenumpang 30 orang karam di Sungai Kong Sumatra Selatan, 2 orang ditemukan meninggal. Penyebab kecelakaan ini ditengarai karena faktor kondisi cuaca buruk serta gelombang tinggi.

Tiga kecelakaan kapal terjadi dalam kurun waktu kurang dari seminggu. Al Fatihah untuk seluruh korban dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. 

Tuesday, June 12, 2018

Offshore Life: Ramadhan dan Idul Fitri Spesialku

"I look to the sea, 
reflections in the waves spark my memory. 
Some happy, some sad...'
(STYX - Come Sail Away) 

----------------------

Kutulis postingan ini saat santai di kampung halaman di Pekalongan. Yoi, aku sudah mudik sejak beberapa hari lalu, pastinya untuk merayakan Idul Fitri yang tinggal hitungan hari. Leyeh-leyeh sambil scrolling akun medsos, membuatku terantuk pada foto-foto jadul saat masih kerja di lapangan dulu. Nggak penting sih sebenarnya, haha! Tapi mendadak jadi pengen bernostalgia tentang Ramadhan dan Idul Fitri spesialku beberapa tahun lalu. Betapa merayakan dua moment itu bersama keluarga pernah menjadi moment langka buatku.

Barge Tirta Rajawali, berlatar senja

Di atas menara Rig Randolph Yost

Sejak akhir tahun 2009 hingga pertengahan 2016 aku sempat bekerja di lapangan migas lepas pantai di perairan Selat Makassar yang terletak di antara Pulau Kalimantan dan Sulawesi. Kadang berada di Offshore Rig alias anjungan pemboran lepas pantai ataupun barge untuk kegiatan perawatan sumur migas. Rata-rata jadwal kerja kami adalah dua minggu kerja dan dua minggu off. Dengan jadwal kerja yang sudah paten itu, maka dimanakah aku berada saat Ramadhan atau Idul Fitri tentu nggak bisa dinego lagi. Paling ngenes kalau lihat kalender dan mendapati jadwalku sedang on/bekerja saat Idul Fitri nanti. Ah, alamat kampul-kampul di laut saat takbiran deh. Rasanya langsung lunglai seketika. Yah, risiko tugas, mau gimana lagi?  Nasib kuli dan kroco mumet. Tapi sedikit terhibur pas gajian masuk ke rekening sih.


Barge Tirta Rajawali, saat towing

Rig Randolph Yost
Senja di Rig MTR2

Sepanjang tujuh tahun bekerja di lepas pantai, aku selalu mendapati jadwal kerja pas Ramadhan. Tapi kalau Idul Fitri, seingatku sih sudah tiga kali merayakan lebaran di tengah laut. 

Bagaimana rasanya melewati Ramadhan di lepas pantai antah berantah bersama kurang lebih seratusan orang di atas anjungan pemboran ataupun barge? 

Well, yang jelas lepas pantai itu teriknya ampun-ampunan, matahari tanpa tedeng aling-aling berada di atas kita (makanya kulit saya lumayan eksotis, wkwk). Sebagian pekerja harus panas-panasan di atas dek ataupun lantai bor, berpeluh keringat untuk handling pipa-pipa besi, naik ke ketinggian, kegiatan pengangkatan material dan lain sebagainya. Banyak kegiatan yang membutuhkan aktivitas fisik. Ya namanya juga ngebor nyari minyak dan gas ya gaes, di tengah laut pula serta berisiko tinggi. Pekerjaan di sana itu 24/7 non stop serta dibagi 2 shift.  Yang  menjadi konsen dan prioritas adalah Fit for Duty selama Ramadhan (terutama bagi yang menjalankan ibadah puasa), memastikan agar seluruh pekerja tetap dalam kondisi fit dan bekerja dengan selamat. 

Apakah kami tetap menjalankan ibadah puasa? Ada yang tetap puasa, ada juga yang tidak. Pilihan masing-masing individulah. Tapi nuansa Ramadhan tetap terasa  kok meskipun kami jauh dari mana-mana. 

Suasana di galley (sebutan untuk area makan di rig/barge) saat buka puasa selalu seru. Camp Boss (sebutan untuk bossnya dapur dan akomodasi) sudah menyiapkan menu spesialnya dengan asupan gizi yang memadai untuk kami-kami yang berpuasa dan bekerja keras seharian, lengkap dengan takjil seperti kurma, kolak ataupun es buah.  Saat waktu berbuka puasa tiba, PA (public announcement) diberikan lewat speaker umum seantero rig/barge. 

Lalu bagaimana dengan Sholat Tarawih, apakah ada? Ada dong! Alhamdulillah di beberapa barge punya mushala yang cukup representative loh. Di beberapa rig juga kadang menggunakan recreation room yang lebih luas untuk disulap sejenak menjadi tempat sholat Tarawih. Walaupun tentu saja tak bisa semua pekerja bisa ikut berjamaah karena operations harus tetap berjalan. Yang jelas, gema Ramadhan tetap terasa meskipun kami kampul-kampul di tengah samudra. 

Jamaah Tarawih Rig MTR2, tahun 2011

Wajah-wajah kelaparan menunggu buka

Moment Idul Fitri, nah ini yang paling bikin sedih. Merayakan lebaran jauh dari keluarga (dan bagiku) nggak bisa sungkem kepada kedua orang tua. 

Dimulai dari malam takbiran di sana yang dilakukan selepas maghrib. Malam menjelang Idul Fitri ini kerap membuatku terharu campur sedih. Sebagai kadang satu-satunya perempuan di atas Rig/Barge, aku harus tetap tegar, halah! Biasanya aku naik ke helideck, memandang lampu-lampu kapal dari kejauhan, ataupun crane yang naik turun swing kanan dan kiri mengangkat dan menurunkan barang. Lalu telepon rumah, minta maaf kepada kedua orang tua. Memohon maaf atas semua kesalahan selama ini juga minta maaf karena nggak bisa pulang. Untungnya, sinyal komunikasi antara laut dan darat cukup bisa diandalkan. Meskipun kadang di beberapa platform, kami bisa mati gaya lantaran susah sinyal, haha! 

"Ora opo-opo, Nduk. Sing penting sehat lan kerjo selamet neng kono (Tidak apa-apa, Nak. Yang penting sehat dan selamat di sana)" demikian jawaban orang tuaku, tiap kali kutelpon di malam takbiran. Aku malah tambah mewek kalau gini. 

Bagi yang merayakan Idul Fitri dan pekerjaannya bisa digantikan sebentar, Company Man (sebutan untuk orang nomor satu di sini) memberikan keleluasaan untuk menunaikan Sholat Idul Fitri di pagi hari. Jika cuaca bagus, kami menunaikan sholat Idul Fitri berjamaah di helideck (tempat landing helikopter di rig/barge). Sajadah digelar juga sound system dinaikkan. Imam dan Khatib bersiap. Takbir berkumandang. Mewek moment kembali terulang. Apalagi sejauh mata memandang, hanyalah lautan. Kami tak menjejak daratan. 


Sholat Idul Fitri, Rig MTR2, tahun 2011

Shola Idul Fitri, Rig Hibiscus, tahun 2010

Suasana saling bermaafan, Idul Ftri tahun 2015, Rig Randolph Yost

Selepas sholat dan khutbah, kami semua berdiri dan berkeliling saling bermaaf-maafan sesama rekan kerja. Kebersamaan yang kami rasakan sejenak bisa menyamarkan rasa rindu jauh dari keluarga tercinta  saat hari raya. Kami senasib sepenanggungan. Selesai bermaafan kami segera turun ke Galley untuk menikmati hidangan spesial Idul Fitri. Ada ketupat juga opor ayam, meskipun tak selezat masakan Ibuku. Beberapa orang pekerja, kadang juga membawa nastar ataupun kue-kue lebaran lainnya yang sengaja dibawa dari rumah sebelum naik ke rig untuk kami nikmati bersama.

Setelah sarapan? Ya kerja lagi, ngebor lagi! Pekerjaan kembali berjalan normal seperti sediakala. 

Kini aku sejenak absen dari pekerjaan di lapangan. Birunya lautan sudah tergantikan oleh macetnya ibukota. Terus terang, kadang aku rindu. Kangen sunrise dan sunset paling indah di sana, teman-teman yang seru dan pastinya segenap cerita.

Selamat merayakan Idul Fitri untuk seluruh pekerja di lapangan migas lepas pantai di  blok manapun berada, yang tetap harus bekerja di saat lebaran guna terus merawat energi dan menggerakkan ekonomi negeri. Pasti kangen kumpul dengan keluarga. I feel you gaes. Tetap semangat dan utamakan keselamatan :-)

Foto Keluarga, Idul Fitri tahun 2015, Rig Randolph Yost

Foto Keluarga, Idul Fitri tahun 2010, Rig Hibiscus


Saturday, May 12, 2018

Ada Riang di Gunung Kembang

"Sini, kuredakan lelahmu dengan kopi hitam buatanku.
Kesukaaanmu.
Lalu mari bertukar kabar,
Tentang mimpimu dan rinduku..."

-----------------------------------

6 Mei 2017

Sekitar jam 06.30 pagi, kami sampai di Taman Plaza Wonosobo. Turun dari bis Dieng Indah yang membawaku dan TJ dari Jakarta ke kota yang terkenal akan keindahan negeri di atas awannya. Desi, seorang sahabat yang  tinggal di kota ini,  menjemput kami berdua ke rumahnya di daerah Mangli. 

Terakhir kali ke rumah Desi mungkin sekitar setahun lalu, saat naik ke Gunung Bisma. Setelah berulang kali re-schedule karena alasan cuaca, sekarang kami bakal reunian lagi. Kali ini giliran Gunung Kembang yang akan didaki. 

Yup, Gunung Kembang. Meskipun keberadaan Gunung Kembang sebenarnya berdekatan dengan Gunung Sindoro dan Sumbing (bahkan disebut sebagai anak dari kedua gunung tersebut), tetapi nama Gunung Kembang masih cukup asing terdengar di telinga, nggak tahu kenapa. Satu hal yang cukup unik dari gunung ini adalah karena kabarnya ia terus "bertumbuh kembang" alias bertambah tinggi. Tercatat  ketinggian Gunung Kembang sekarang adalah 2370 mdpl alias dua kali lipat bila dibandingkan dengan tingginya pada satu dekade silam. Aktivitas vulkanik dari gunung di sebelahnya, diperkirakan menjadi penyebab bertambahnya ketinggian gunung ini. 

Setelah puas sarapan Sate Kertek yang rasanya endes sekali, sekitar jam 10 pagi kami siap berangkat. Oh ya, selain kami bertiga, Desi juga mengajak Herni dan Salim, dua pemuda perkasa harapan bangsa yang siap membawa carrier dengan beban sebanyak-banyaknya. Peace, bro! 

Friday, May 11, 2018

Kota Dili, di Januari

"I like the dreams of the future, better than the history of the past"
(Thomas Jefferson)
------------------------------

16 Januari 2017

Selamat sore, Dili!

Ternyata rasa lelah yang membuncah setelah seharian melalui perjalanan darat dari Soe NTT, melewati PLBN (Pos Lintas Batas Negara) Motaain di Atambua hingga sampai ke Dili Timor Leste, tak membuatku, Kakak Dame dan Kakak Jane tepar sesampainya di hostel Dili Central Backpackers, tempat kami menginap. Maka selesai memasukkan carrier ke dalam kamar dan bebenah sebentar, kami bertigapun segera cus ke luar. Tujuan utamanya sih buat nyari makan. Jangan pernah diet kalau lagi traveling yak, karena piknik juga butuh energi biar nggak mudah panik!

"Transportasi umum di Dili cukup mudah. Ada infonya di papan itu" kurang lebih begitulah kata-kata Mbak Kim, bule pemilik hostel ini, saat kami bertanya tentang angkutan umum atau biasa disebut Mikrolet oleh warga Dili. 

Hal itu juga diamini Jacko dan Rob. Jacko adalah pegawai di penginapan, sedangkan Rob adalah teman Kim yang suka main ke tempat ini. Keduanya warga negara Timor Leste. Jacko yang berwajah Timor, agak terbata-bata jika berbicara dengan Bahasa Indonesia. Sedangkan Rob yang blas nggak ada wajah Timor sama sekali, malah sangat lancar berbahasa Inggris. Oke, baiklah, kami berkomunikasi campur-campur saja. Yang penting jangan pakai Bahasa Portugis (bahasa resmi Timor Leste) atau Bahasa Tetun (bahasa lokal keseharian warga Timor Leste), karena dijamin kami bakal plonga-plongo! Hehe!

Selesai membaca info mikrolet di papan pengumuman, mataku tertuju pada satu gambar yang terlukis di sisi samping meja resepsionis. Gambar anak laki-laki yang menaiki buaya di tengah lautan. Hmm, apakah gerangan artinya?

Monday, February 19, 2018

Apa Kabar, Timor Leste?

“Siapakah pemilik sejarah? 
Siapa yang menentukan siapa yang jadi pahlawan dan siapa yang menjadi penjahat? 
Siapa pula yang menentukan akurasi setiap peristiwa?"
(Leila S. Chudori)

----------------------------------------------------

14 Januari 2017

Hampir pukul 14.00 siang saat aku, Kakak Dame dan Kakak Jane berjalan memasuki gerbang negara Timor Leste yang berbatasan dengan PLBN (Pos Lintas Batas Negara) Motaain di Atambua Nusa Tenggara Timur. Sebuah gerbang bertuliskan “Bem Vindo A Timor Leste”. Ya, Selamat Datang di Timor Leste!

Pose dulu di depan PLBN Motaain Indonesia yang megah sekali
Gerbang menuju Timor Leste

Batu prasasti peresmian Posto Fronteirico Integrado alias Pos Perbatasan Terpadu di Batugade Timor Leste yang ditandatangani oleh Xanana Gusmao (Presiden Timor Leste, waktu itu) serta sebuah tugu Timor Leste yang ada di sampingnya, menyambut kedatangan kami. Tugu, prasasti dan bangunan serupa juga kami dapati di PLBN Wini, yang berbatasan dengan wilayah Oecussi Timor Leste yang sempat kami kunjungi kemarin.  Sepertinya Timor Leste memiliki pakem bentuk bangunan dan pelengkapnya pada pos-pos perbatasannya.


Gedung Pos Perbatasan Timor Leste
Apa yang membawaku ke Timor Leste?