Thursday, November 01, 2018

Merhaba Turkiye (Bag. 2): Mengenang Ottoman dan Lezatnya Sandwich Ikan

"For me, it has always been a city of ruins and of end-of empire melancholy. I've spent my life either battling with this melancholy, or (like all Istanbullus) making it my own..."
(Orhan Pamuk) 

----------------------------------


14 September 2018

Gunaydin, Istanbul! Selamat pagi, Istanbul!

Dibanding Jakarta, kota ini serasa terlambat memulai harinya. Adzan subuh di Istanbul berkumandang sekitar jam 6-an, sarapan di hotel juga baru tersedia jam 08.30. Oh nikmatnya hidup, tak perlu bangun pagi (lalu mengejar TransJakarta sepagi mungkin agar tidak terjebak kemacetan ibukota).

Sekitar jam 7-an lebih, aku dan Mbak Andari sengaja keluar hotel untuk sekedar jalan-jalan di seputar Blue Mosque dan Hagia Sophia yang letaknya hanya sepelemparan batu saja dari tempat kami menginap. Merasakan paginya kawasan yang "turis banget" ini. Sementara Adit dan Mas Reza, haqqul yaqin masih molor di kamarnya.

Sepagi ini di kawasan Sultanahmet adalah sebuah pagi yang sepi. Jalanan basah sisa hujan semalam. Bangku-bangku panjang di dekat Blue Mosque yang biasanya menjadi spot foto para turis tampak kosong. Jalanan di dekat air mancur serta Hagia Sophia masih lengang. Pertokoan di sekitarnya juga masih banyak yang tutup. Geliat kehidupan di jantung Sultanahmet belum dimulai.


Satu Pagi di Sultanahmet
Lengang di Depan Blue Mosque



Setelah cukup puas berfoto ria tanpa adanya "keriuhan" yang menjadi latarnya, kami kembali ke hotel dan langsung menuju rooftop untuk sarapan. Menu sarapannya tentu saja ala Turki. Roti-rotian, telur, salad dan segambreng buah zaitun (yang aku tidak doyan sama sekali). Makanan sehat, tapi kurang nendang untuk ukuran perut Indonesia yang biasa makan nasi. Tak berapa lama kemudian, Mas Reza dan Adit bergabung dengan mata yang masih kriyep-kriyep setengah sadar.




Ini adalah hari terakhir kami berempat bisa jalan bareng di Istanbul. Nanti malam aku dan Mbak Andari akan menuju Kota Goreme, sedangkan besok Mas Reza dan Adit akan pulang ke Jakarta. Beginilah akibatnya kalau ngetrip dadakan dan penuh drama sebelum berangkat. Sebagai teman sekantor dan bahkan satu tim, seharusnya kalau pergi piknik itu waktunya bareng, selalu kompak dan bersama dalam suka dan duka, apalagi di negeri orang seperti ini. Gimana sih? Wkwk!

Dari rooftop Big Apple Hostel, tampak Laut Marmara. Laut ini terhubung dengan Selat Bosphorus dan turut memisahkan Turki bagian Eropa dan Asia. Meskipun terhalang kaca dan bukan view 360, tapi lumayanlah. Langit tampak cerah di atas Marmara. Kuharap cerahnya bertahan setelah kemarin Istanbul diguyur hujan seharian.

Jam 10 pagi kami berempat jalan kaki ke Hagia Sophia, salah satu bangunan bersejarah di kota ini yang meskipun mainstream sekali tapi wajib dikunjungi. 

Di depan Hagia Sophia

Tapi kini langit malah mendung, mendungnya parah! Hujan sudah menetes rintik. Istanbul oh Istanbul! Tentu aku lebih menyukai pemandangan sinar matahari di atas kota ini.

Dan beneran, hujan turun deras sekali. Kami berteduh di bawah payung besar tempat para pedagang makanan dan minuman membuka lapaknya. Sedih kalau pas piknik tapi hujan begini. Hanya bisa manyun (sambil nyanyi lagunya Sheila On 7: "Waktu hujan turun, di sudut gelap mataku, begitu derasnya, kan kucoba bertahan...")

Kami mulai ikut ngantri tiket masuk ke Hagia Sophia saat hujan mulai mereda. Cukup panjang antriannya, pengunjung dari berbagai penjuru dunia.

Jika kita punya waktu cukup lama di Istanbul dan tertarik untuk mengunjungi museum-museumnya, membeli Museum Pass adalah salah satu cara menghemat budget. Dengan 85 Lira saja, kita bebas masuk ke hampir semua museum di kota ini selama 5 hari. Kami sendiri nggak ada yang beli, karena memang nggak lama di Istanbulnya dan palingan hanya 2-3 museum saja yang bakal dikunjungi.

Terlihat beberapa orang menawarkan diri menjadi guide dan menyediakan jasanya dalam berbagai bahasa. Selain itu, kita bisa juga bisa menyewa audio guide di counternya. Kami tentu saja tak perlu guide karena selepas dari museum toh bisa membuka Wikipedia. Haha! Atau tinggal nanya saja ke Mas Reza yang ibaratnya seperti ensiklopedia berjalan, wkwk!

Hagia Sophia ini kelihatan megah sekali. Terdapat sebuah kubah besar dengan lambang bulan sabit di atasnya. Kubah-kubah kecil turut menghiasi beberapa bagiannya. Ada empat menara yang menjulang tinggi  di empat sudutnya. Warna bangunannya serupa warna batu-bata.

Informasi mengenai sejarah Hagia Sophia secara lengkap sangat mudah didapatkan di internet, jadi sepertinya nggak perlu aku copy-paste dalam tulisan ini. Yang jelas sejak didirikan pada tahun 537 oleh Kekaisaran Konstantius, tempat ini awalnya adalah sebuah Gereja Katedral atau Basilika, hingga tahun 1453. Selanjutnya, setelah Konstantinopel berhasil ditaklukkan oleh Kesultanan Ottoman di bawah kepemimpinan Sultan Mehmet II, Hagia Sophia (atau Aya Sofia dalam ejaan Turki) beralih fungsi menjadi masjid tepatnya sejak tahun 1453 sampai tahun1931. Setelah Turki menjadi Republik dan menyatakan sebagai negara sekuler, bangunan ini sempat ditutup untuk umum kemudian dijadikan museum sejak tahun 1935 hingga sekarang.

Menengok perjalanan Hagia Sophia selama berabad-abad dan sempat menjadi simbol kekuasaan negara serta agama, terus terang aku penasaran akan isi dan interiornya.

Kami masuk dan memulai dari semacam terasnya. Di pojok teras tampak orang berkumpul di depan sebuah layar TV yang sedang memutar sejarah tentang Hagia Sophia. Beberapa pintu besar menghubungkan teras dengan aula utama. 

Lantai dasar, sebuah ruangan yang luas sekali dengan pilar-pilar yang megah, langit-langit yang berhias lukisan indah serta dindingnya dipenuhi ornamen dan mozaik yang cantik. Jendela-jendelanya anggun. Arsitekturnya agung. Sayangnya di sisi kiri dipenuhi oleh scaffolding yang tegak berdiri. Tampaknya tempat ini sedang direnovasi.

Sebuah mimbar tempat imam memimpin sholat tepat berada bawah kubah. Kubah yang langit-langitnya terdapat lukisan Bunda Maria yang sedang memangku Yesus. Lukisan itu "diapit" oleh dua kaligrafi besar yang terletak di puncak pilarnya yang tinggi. Kaligrafi bertuliskan lafadz Allah dan Muhammad. Ada perasaan aneh seketika. 

Selain kaligrafi dengan lafadz Allah dan Muhammad, ada enam kaligrafi lain yang terpasang, bertuliskan empat sahabat Rasulullah yaitu Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali serta dua cucu Rasulullah yaitu Hasan dan Hussein. 

Kaligrafi Allah, Muhammad dan Lukisan Bunda Maria
Di dalam Hagia Sophia
Pemandangan dari Lantai 2

Kami terus berkeliling mengagumi museum ini lalu naik ke lantai dua melalui lorong-lorong berkelok yang terbuat dari batu alam. Di lantai dua, banyak kita temukan mozaik di dindingnya. Mozaik-mozaik berupa kisah kristiani yang sebagian telah mengelupas. Setelah Hagia Sophia dijadikan museum maka mozaik itu ditampilkan kembali setelah sempat ditutup saat tempat ini difungsikan sebagai masjid.


Lorong Menuju Lantai 2
Mozaik kisah Kristiani  di Dinding Hagia Sophia

Sempat terbersit sesuatu saat aku menikmati Hagia Sophia di dalamnya. Bangunan megah, bekas "rampasan perang" yang pernah "terpaksa" beralih fungsi. Apapun yang pernah terjadi di masa lalu, kini museum Hagia Sophia bisa menjadi simbol berdampingannya dua agama Samawi yaitu Kristen dan Islam. Di dua periode waktu yang berbeda, simbol-simbol keagamaan yang berbeda tapi di bangunan yang sama. Tempat ini pernah menjadi tempat umat kristen mendekatkan diri kepada Tuhan-Nya. Begitupula dengan umat Islam yang pernah menjalankan sholat lima waktu di tempat yang sama. Agama kita berbeda tapi aku percaya bahwa Tuhan berada di dekat hamba-hamba-Nya yang selalu mengingat-Nya.

Iya, aku jadi agak melo, sedikit.

Hari sudah siang saat kami keluar dari Hagia Sophia. Cuaca cukup cerah. Kami duduk-duduk sebentar di taman yang berada di antara Hagia Sophia dan Blue Mosque. Di antara keramaian pengunjung, pedagang Simit serta Es Krim. Kucing-kucing di jalanan yang gemuk dan jinak, tampak sesekali lewat dan mengeong. Adzan Dhuhur berkumandang.

Di dekat sini ada Istana Topkapi yang rencananya akan kami kunjungi juga hari ini. Tapi perut tampaknya harus diisi dulu. Maksi dulu yes? Kemana kita?

Rafi, teman kami yang pernah ke Istanbul, sempat merekomendasikan satu street food yang harus kami cicipi yaitu Sandwich Ikan alias Balik Ekmek (dalam Bahasa Turki). Adit sudah gugling mengenai tempat paling maknyus di mana bisa menemukannya. Kuy-lah! Kami naik Tram dari Sultanahmet ke arah Karakoy di dekat Galata Bridge.

Langit Galata tak begitu mendung. Istanbul tak murung. Dari dalam Tram, bisa kulihat keramaian orang yang sedang memancing di bagian atas jembatan serta kapal-kapal di muara Golden Horn saat Tram ini melintas Galata Bridge.

Turun di halte Karakoy, kami berjalan ke sebuah gang. Gang yang tidak begitu lebar namun sangat padat dan hanya bisa dilewati oleh satu mobil saja. Gang yang dipenuhi oleh pertokoan yang menjual berbagai perlengkapan perkapalan. Bau ikan tercium di beberapa tempat.

Satu Sudut Karakoy

Kami mengikuti Adit yang terus memperhatikan toko-toko di sebelah kanan, mencari sebuah kedai makan yang menjual Sandwich Ikan. Tapi hingga ke ujung gang, kami tak juga menemukan kedai yang dimaksud.

"Harusnya di situ, tapi sepertinya sudah tutup" kata Adit, sebagai satu-satuya orang yang sudah gugling mengenai tempat bahkan penjualnya yang terkenal dari generasi ke generasi.

Sebenarnya di sepanjang gang ini juga banyak penjual Balik Ekmek. Tapi Adit tetep keukeuh mencari yang konon katanya yang paling enak yang dijual oleh Bapak Emin dan penerusnya.

Bapak Emin, dikau di mana? Laper naa...

Seorang pria dengan topi dan apron merah tiba-tiba menghampiri. Sambil menanyakan apakah kami sedang mencari Balik Ekmek.

Ternyata kami dibawa ke lapaknya yang berada di pinggir jalan. Tampak dagangannya belum siap, dia masih menata meja, memajang salad dan lain sebagainya. Adit tampak ragu. Sekali lagi Adit mengingat-ingat kisah tentang Bapak Emin, penjual Balik Ekmek yang terkenal dengan asesoris khasnya berupa apron dan topi merah, asesoris yang kemudian banyak ditiru oleh penjual lainnya.

Setelah melihat dan menimbang segala aspek (warna sayuran yang tampak sudah tidak segar serta ikan yang tidak dibersihin durinya) kami memutuskan meng-cancel orderan dan berpindah ke lain hati, maksudnya ke lapak sebelah yang letaknya hanya beberapa meter dari pria ber-apron dan bertopi merah itu. Di lapak ini, sayurannya masih segar serta si bapak penjual yang dengan rajinnya membuang duri-duri ikan mackarel pada saat proses pembakarannya. Meskipun si bapak ini mungkin bukan generasi Bapak Emin, tapi ya sudahlah, kami pilih ini saja. Sudah keburu lapar.

Dan...Ya Tuhan! Satu gigitan saja serasa surga! Yummy sekali, lezatnya sampe ubun-ubun. Serius! Jika saja ada saos atau sambal, pasti lebih parah enaknya. Tapi tanpa saos dan sambalpun, ini sudah sangat lezat. Maka kami berempat, di siang hari yang cerah ini, berdiri di emperan jalan sebuah gang sempit di kawasan Karakoy, sambil menikmati makanan terenak se-Turki!

Hmm, sudah nggak sabar
This is it, Balik Ekmek ala Chef Turkiye

Selesai menuntaskan Balik Ekmek, kami makan lagi. Iya, makan lagi. Ada pasar ikan di dekat sini dan sebuah rumah makan yang menu makanannya berupa olahan ikan semua. Sepiring ikan goreng (entah ikan apa, kecil-kecil mirip ikan wader tapi besaran dikit) dipesan Adit. Dan mereka menyajikannya dengan sekeranjang roti! Roti keras tapinya, eh tapi gratis rotinya! Haha!

Kami beranjak, tentu saja setelah kenyang dan kembali ke kawasan Sultanahmet. Saatnya mengunjungi Istana Topkapi. Sebuah istana megah di tepi Laut Marmara. Tempat kediaman Sultan sekaligus pusat pemerintahan. Saksi sejarah kejayaan islam di masa Dinasti Ustmaniyah atau Ottoman selama hampir 4 abad lamanya di mana kekuasannya meliputi Eropa Tenggara, Asia Barat hingga ke Afrika Utara.

Kompleks Istana Topkapi ini luas sekali dan terdiri dari banyak bangunan. Luasnya mencapai 70 hektar. Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengelilinginya. Sejak tahun 1924, tempat ini resmi menjadi museum.

Di loket, kita bisa memilih akan mengunjungi kompleks mana. Harga tiketnya pun berbeda. Kami memilih masuk ke Istana saja, dengan alasan bahwa di sana kita bisa melihat peninggalan-peninggalan para Nabi. Sebenarnya Adit dan Mas Reza lebih tertarik mengunjungi Hareem, alias tempat tinggal istri dan para selir sultan. Wkwk! Apa ekspektasi kalian di Hareem, hah?

"Gimana kalau kita sewa audio guide Hareem saja, nggak usah masuk. Kira-kira isi suaranya apa ya? Evet...evet...evet...gitu ya? (Evet adalah Bahasa Turki untuk kata ya atau yes)" canda Adit, disambut ketawanya Mas Reza dan Mbak Andari. Dasar ya kamu, Dit!

Saking banyaknya bangunan dan luasnya tempat ini yang bikin bingung dan kaki gempor, maka kami langsung menuju ruangan tempat menyimpan peninggalan-peninggalan (relikui) Nabi. Antriannya panjang. Dilarang mengambil gambar di area ini. Maka kudokumentasikan saja segenap kenangan itu dalam ingatan. Halah!

Seluruh relikui terpajang dalam kaca sehingga kita tak dapat menyentuhnya. Akhirnya aku bisa melihat dengan mata kepala Tongkat Nabi Musa yang digunakan untuk membelah Laut Merah, Pedang Rasulullah beserta para sahabatnya, cetakan kaki kanan Nabi Muhammad saat Mi'raj dari Masjidil Aqsa serta peninggalan-peninggalan penting lainnya. Terus terang aku hanyalah muslim yang biasa saja, tapi melihat relikui yang selama ini hanya kuketahui lewat cerita atau buku-buku saja ternyata bisa menghadirkan rasa haru juga.

Hari semakin sore. Kami tinggalkan satu lagi bangunan bersejarah yang pada zamannya mungkin tak bisa sembarang orang masuk ke dalamnya. Istana para raja, penguasa Turki, sebagian Eropa, Asia dan Afrika. Kami kembali melewati taman di depan Hagia Sophia dan Blue Mosque yang ramai oleh pengunjung. Sebuah bis wisata berwarna merah tampak parkir menunggu penumpangnya. 

Inilah Istanbul di masa sekarang. Orang-orang datang ke Turki (termasuk kami) untuk salah satunya berwisata sejarah. Sejarah masa lalu negeri ini. Mungkin benar apa yang dikatakan Orhan Pamuk, penulis asal Turki yang pernah menuliskan memoarnya tentang Istanbul. Bahwa sisa-sisa masa lalu itu menjadi pengingat bahwa keadaan kota ini sekarang mungkin tak seperti dulu dan membingungkan, bahwa kita tak pernah lagi bermimpi untuk mencapai tingkat yang sama dalam hal kesejahteraan, kekuasaan serta kebudayaan seperti dulu. Entahlah...

Oke, ngapain lagi kita? Ayo nongkrong saja di dekat Blue Mosque sambil main kartu. Hah, main kartu kok di depan masjid? Astaghfirullahaladzim. Untung nggak tercyduk, haha! Ingatlah bahwa judi hanya menjanjikan kemenangan dan menjanjikan kekayaan, begitu kata Bang Haji Rhoma Irama. Tapi tenang, kami bukan judi, kami hanya makan kuaci.

Kami hanya makan kuaci ;p

Sekitar pukul 5 sore lebih, kami kembali ke Big Apple Hostel. Aku dan Mbak Andari segera re-packing tas bawaan. Malam ini kami berdua harus berangkat ke Goreme dengan bus malam, meninggalkan Adit dan Mas Reza yang besok akan kembali ke tanah air.

Jujur, tiba-tiba aku sedih. Turki ini seperti trip "perpisahan" kami. Adit akan mutasi ke kantor di Riau dalam waktu dekat. Bulan depan, aku juga pindah kerja ke Balikpapan dan nggak bakal satu perusahaan lagi dengan mereka bertiga. 

Sore ini agak melo, semelo langit Turki yang mendadak  mendung lagi. Tapi perjalananku di Turki bersama Mbak Andari masih panjang. Masih akan ada banyak cerita di depan.

"Kalian yang akan ke Goreme ya?" seorang pria Turki menghampiri kami dan bertanya, dia petugas dari transport yang menjemput kami menuju terminal. 

Kuangkat ransel. Menyalami Adit dan Mas Reza lalu melangkah keluar hostel. 

"Sampai jumpa lagi ya! Safe flight besok ke Jakartanya." kataku pada mereka berdua

Istanbul, aku dan Mbak Andari pamit duluan. Kami main sebentar ke Goreme, Pamukkale dan Selcuk.

Kami berempat di depan Big Apple Hostel

------------------------------



Budget:
1. Tiket masuk ke Hagia Sophia: 40 Lira
2. Tiket Masuk ke Istana Topkapi : 30Lira
3. Metro/Tram : Tergantung jarak, tapi sebagian besar > 2 Lira sekali jalan


Saturday, October 20, 2018

Merhaba Turkiye (Bag.1): Welcome to The City, Istanbul!

"Life can't be all that bad, I'd think from time to time. Whatever happens, I can always take a long walk along the Bosphorus..."
(Orhan Pamuk)

---------------------------------

13 September 2018

Setelah menempuh perjalanan cukup panjang dari Jakarta, pesawat Saudi Airlines yang sempat transit di Jeddah Arab Saudi ini mendarat mulus di Bandara International Ataturk Turki sekitar pukul 10.30 waktu setempat. Selamat datang di Istanbul. Kota yang pernah disebut sebagai Konstantinopel atau Bizantium. Kota terpadat di Turki, pusat ekonomi, budaya dan tentu saja sejarah.

Teman jalanku kali ini adalah Mbak Andari. Teman kerja yang cubiclenya persis di sebelah. Akhirnya sampai juga kita di sini ya, Mbak? Padahal rencana pergi ke Turki bisa dibilang cukup dadakan. Hari cuti memang sudah kami block sejak lama, tapi terus terang kami belum menentukan hendak jalan ke mana. Tiket baru kita beli sekitar seminggu sebelum berangkat (untung harga tiketnya miring cuy). Maka Turki seolah menjadi sebuah wacana saja, karena kami malah sibuk nyiapin acara gathering kantor saat itu lalu dilanjut keseringan nonton pertandingan Asian Games hampir setiap hari di GBK, haha! Belum lagi berita tentang krisis ekonomi yang sedang melanda Turki (lalu timbul kekhawatiran dari segi keamanan) juga nilai tukar rupiah yang sedang turun melawan Dolar Amerika, cukup membuat kami ragu untuk bepergian ke sana. Tapi tekad kami bulat, pokoknya harus piknik, meskipun ngirit! Wkwk!

Kami langsung menuju loket pemeriksaan paspor. Antriannya mengular panjang. Lira (mata uang Turki) yang sedang anjlok terhadap Dollar, tampaknya malah membawa dampak meningkatnya wisatawan barat yang berkunjung ke negeri ini. Bagi WNI, kita hanya butuh Visa On Arrival (VOA) yang bisa diapply online sebelum keberangkatan dengan biaya sekitar $26. Oke, satu cap mengisi pasporku yang nyaris kosong ini.

Keluar dari pintu kedatangan, kami ke money changer sebentar, menukar Dollar Amerika ke Lira. Lira susah banget didapatkan di Jakarta, maka membawa Dollar Amerika dan ditukar sesampainya di Turki adalah salah satu alternatifnya. Kami nggak nukar banyak, setidaknya cukup untuk membeli IstanbulKart dari mesinnya. Oh ya, 1 lira jika dikurs-kan ke Rupiah saat itu sekitar Rp. 2300 - 2400. Sementara untuk 1 Dollar Amerika rate-nya sekitar 5,8 - 7,2 Lira, fluktuatif sekali pergerakan Dollar versus Lira ini. 

Friday, June 22, 2018

Mempertanyakan Keselamatan Transportasi Perairan

Berita tenggelamnya Kapal Motor (KM) Sinar Bangun yang terjadi di Danau Toba Sumatra Utara pada tanggal 18 Juni 2018 menorehkan duka di tengah kegembiraan seusai merayakan Idul Fitri. Diperkirakan ratusan penumpang menjadi korban dan masih dalam proses pencarian. Tak jelas berapa jumlahnya secara pasti mengingat tidak ada manifest atau daftar nama penumpang kapal. Diduga, kapal tersebut tenggelam karena kelebihan muatan serta cuaca buruk.

Sebelumnya, tanggal 13 Juni 2018, KM Arista yang memuat 43 orang, tenggelam di perairan Makassar Sulawesi Selatan juga tenggelam dan mengakibatkan 15 penumpang meninggal dunia. Penyalahgunaan peruntukan kapal yang seharusnya bukan untuk penumpang disebut oleh Ketua KNKT sebagai salah satu penyebab kecelakaan. 

Masih di tanggal 13 Juni 2018, KM Albert berpenumpang 30 orang karam di Sungai Kong Sumatra Selatan, 2 orang ditemukan meninggal. Penyebab kecelakaan ini ditengarai karena faktor kondisi cuaca buruk serta gelombang tinggi.

Tiga kecelakaan kapal terjadi dalam kurun waktu kurang dari seminggu. Al Fatihah untuk seluruh korban dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. 

Tuesday, June 12, 2018

Offshore Life: Ramadhan dan Idul Fitri Spesialku

"I look to the sea, 
reflections in the waves spark my memory. 
Some happy, some sad...'
(STYX - Come Sail Away) 

----------------------

Kutulis postingan ini saat santai di kampung halaman di Pekalongan. Yoi, aku sudah mudik sejak beberapa hari lalu, pastinya untuk merayakan Idul Fitri yang tinggal hitungan hari. Leyeh-leyeh sambil scrolling akun medsos, membuatku terantuk pada foto-foto jadul saat masih kerja di lapangan dulu. Nggak penting sih sebenarnya, haha! Tapi mendadak jadi pengen bernostalgia tentang Ramadhan dan Idul Fitri spesialku beberapa tahun lalu. Betapa merayakan dua moment itu bersama keluarga pernah menjadi moment langka buatku.

Barge Tirta Rajawali, berlatar senja

Di atas menara Rig Randolph Yost

Saturday, May 12, 2018

Ada Riang di Gunung Kembang

"Sini, kuredakan lelahmu dengan kopi hitam buatanku.
Kesukaaanmu.
Lalu mari bertukar kabar,
Tentang mimpimu dan rinduku..."

-----------------------------------

6 Mei 2017

Sekitar jam 06.30 pagi, kami sampai di Taman Plaza Wonosobo. Turun dari bis Dieng Indah yang membawaku dan TJ dari Jakarta ke kota yang terkenal akan keindahan negeri di atas awannya. Desi, seorang sahabat yang  tinggal di kota ini,  menjemput kami berdua ke rumahnya di daerah Mangli. 

Terakhir kali ke rumah Desi mungkin sekitar setahun lalu, saat naik ke Gunung Bisma. Setelah berulang kali re-schedule karena alasan cuaca, sekarang kami bakal reunian lagi. Kali ini giliran Gunung Kembang yang akan didaki. 

Yup, Gunung Kembang. Meskipun keberadaan Gunung Kembang sebenarnya berdekatan dengan Gunung Sindoro dan Sumbing (bahkan disebut sebagai anak dari kedua gunung tersebut), tetapi nama Gunung Kembang masih cukup asing terdengar di telinga, nggak tahu kenapa. Satu hal yang cukup unik dari gunung ini adalah karena kabarnya ia terus "bertumbuh kembang" alias bertambah tinggi. Tercatat  ketinggian Gunung Kembang sekarang adalah 2370 mdpl alias dua kali lipat bila dibandingkan dengan tingginya pada satu dekade silam. Aktivitas vulkanik dari gunung di sebelahnya, diperkirakan menjadi penyebab bertambahnya ketinggian gunung ini. 

Setelah puas sarapan Sate Kertek yang rasanya endes sekali, sekitar jam 10 pagi kami siap berangkat. Oh ya, selain kami bertiga, Desi juga mengajak Herni dan Salim, dua pemuda perkasa harapan bangsa yang siap membawa carrier dengan beban sebanyak-banyaknya. Peace, bro! 

Friday, May 11, 2018

Kota Dili, di Januari

"I like the dreams of the future, better than the history of the past"
(Thomas Jefferson)
------------------------------

16 Januari 2017

Selamat sore, Dili!

Ternyata rasa lelah yang membuncah setelah seharian melalui perjalanan darat dari Soe NTT, melewati PLBN (Pos Lintas Batas Negara) Motaain di Atambua hingga sampai ke Dili Timor Leste, tak membuatku, Kakak Dame dan Kakak Jane tepar sesampainya di hostel Dili Central Backpackers, tempat kami menginap. Maka selesai memasukkan carrier ke dalam kamar dan bebenah sebentar, kami bertigapun segera cus ke luar. Tujuan utamanya sih buat nyari makan. Jangan pernah diet kalau lagi traveling yak, karena piknik juga butuh energi biar nggak mudah panik!

"Transportasi umum di Dili cukup mudah. Ada infonya di papan itu" kurang lebih begitulah kata-kata Mbak Kim, bule pemilik hostel ini, saat kami bertanya tentang angkutan umum atau biasa disebut Mikrolet oleh warga Dili. 

Hal itu juga diamini Jacko dan Rob. Jacko adalah pegawai di penginapan, sedangkan Rob adalah teman Kim yang suka main ke tempat ini. Keduanya warga negara Timor Leste. Jacko yang berwajah Timor, agak terbata-bata jika berbicara dengan Bahasa Indonesia. Sedangkan Rob yang blas nggak ada wajah Timor sama sekali, malah sangat lancar berbahasa Inggris. Oke, baiklah, kami berkomunikasi campur-campur saja. Yang penting jangan pakai Bahasa Portugis (bahasa resmi Timor Leste) atau Bahasa Tetun (bahasa lokal keseharian warga Timor Leste), karena dijamin kami bakal plonga-plongo! Hehe!

Selesai membaca info mikrolet di papan pengumuman, mataku tertuju pada satu gambar yang terlukis di sisi samping meja resepsionis. Gambar anak laki-laki yang menaiki buaya di tengah lautan. Hmm, apakah gerangan artinya?

Monday, February 19, 2018

Apa Kabar, Timor Leste?

“Siapakah pemilik sejarah? 
Siapa yang menentukan siapa yang jadi pahlawan dan siapa yang menjadi penjahat? 
Siapa pula yang menentukan akurasi setiap peristiwa?"
(Leila S. Chudori)

----------------------------------------------------

14 Januari 2017

Hampir pukul 14.00 siang saat aku, Kakak Dame dan Kakak Jane berjalan memasuki gerbang negara Timor Leste yang berbatasan dengan PLBN (Pos Lintas Batas Negara) Motaain di Atambua Nusa Tenggara Timur. Sebuah gerbang bertuliskan “Bem Vindo A Timor Leste”. Ya, Selamat Datang di Timor Leste!

Pose dulu di depan PLBN Motaain Indonesia yang megah sekali
Gerbang menuju Timor Leste

Batu prasasti peresmian Posto Fronteirico Integrado alias Pos Perbatasan Terpadu di Batugade Timor Leste yang ditandatangani oleh Xanana Gusmao (Presiden Timor Leste, waktu itu) serta sebuah tugu Timor Leste yang ada di sampingnya, menyambut kedatangan kami. Tugu, prasasti dan bangunan serupa juga kami dapati di PLBN Wini, yang berbatasan dengan wilayah Oecussi Timor Leste yang sempat kami kunjungi kemarin.  Sepertinya Timor Leste memiliki pakem bentuk bangunan dan pelengkapnya pada pos-pos perbatasannya.


Gedung Pos Perbatasan Timor Leste
Apa yang membawaku ke Timor Leste?