Saturday, October 20, 2018

Merhaba Turkiye (Bag.1): Welcome to The City, Istanbul!

"Life can't be all that bad, I'd think from time to time. Whatever happens, I can always take a long walk along the Bosphorus..."
(Orhan Pamuk)

---------------------------------

Pesawat Saudi Airlines yang kami naiki dari Jeddah, mendarat mulus di Bandara International Ataturk Turki sekitar pukul 10.30 waktu setempat. Selamat datang di Istanbul. Kota yang pernah disebut sebagai Konstantinopel atau Bizantium. Kota terpadat di Turki, pusat ekonomi, budaya dan tentu saja sejarah.

Teman jalanku kali ini adalah Mbak Andari. Teman kerja yang cubiclenya persis di sebelah. Sampai juga kita di sini ya, Mbak? Padahal, rencana pergi ke Turki bisa dibilang cukup dadakan. Hari cuti memang sudah kami block sejak lama, tapi terus terang kami bingung mau jalan ke mana. Tiket baru kita beli sekitar seminggu sebelum berangkat. Maka Turki seolah menjadi sebuah wacana saja, karena kami malah sibuk nyiapin acara gathering kantor saat itu lalu dilanjut keseringan nonton pertandingan Asian Games, haha! Belum lagi berita tentang krisis ekonomi yang sedang terjadi di Turki (dan timbul kekhawatiran dari segi keamanan) juga nilai tukar rupiah yang sedang turun melawan Dolar Amerika, cukup membuat kami ragu untuk bepergian ke sana.

Kami langsung menuju loket pemeriksaan paspor. Antriannya mengular panjang. Lira (mata uang Turki) yang sedang anjlok terhadap Dollar, tampaknya malah membawa dampak kepada banyaknya wisatawan barat yang berkunjung ke negeri ini. Bagi WNI, kita hanya butuh Visa On Arrival (VOA) yang bisa diapply online sebelum keberangkatan dengan biaya sekitar $26. Oke, satu cap mengisi pasporku yang nyaris kosong ini.

Keluar dari pintu kedatangan, kami ke money changer sebentar, menukar Dollar Amerika ke Lira. Lira susah banget didapatkan di Jakarta, maka membawa Dollar Amerika dan ditukar sesampainya di Turki adalah satu-satunya jalan. Kami nggak nukar banyak, setidaknya cukup untuk membeli IstanbulKart seharga 10 Lira dari mesinnya.

IstanbulKart adalah semacam kartu pembayaran untuk semua moda transportasi umum (Metro, Tram, Bis) di Istanbul. Bandara Ataturk ini sudah terintegrasi dengan Metro (subway), kami akan menggunakan itu untuk menuju kawasan Sultanahmet, tempat kami menginap nanti. Oh ya, 1 lira jika dikurs-kan ke Rupiah saat itu sekitar Rp. 2300 - 2400. Sementara untuk 1 Dollar Amerika rate-nya sekitar 5,8 - 7,2 Lira, fluktuatif sekali pergerakan Dollar versus Lira ini!  

Metro terisi penuh. Meskipun kami nggak dapat tempat duduk, tapi cukup nyaman. Apalagi, harus kuakui bahwa Turki penuh dengan ciptaan Tuhan yang indah dipandang mata (halah!). Kanan kiri, depan belakang, indah semua. Ini kalau di Indonesia, mereka bisa jadi artis cuy! Subhanallah.

Sesampai di Stasiun Zeytinburnu, kami harus berganti moda transportasi lain yaitu Tram yang kebetulan jalaurnya tepat berada di sebelah Metro. Oke, kita nikmati yang indah-indah lagi (apaan sih!). 

Dari kaca jendela, kulihat Istanbul yang sibuk. Gedung-gedung tinggi, pusat-pusat keramaian, pertokoan, serta cuaca yang cukup panas siang itu.

Turun dari Tram di kawasan Sultanahmet, kami berjalan kaki mengikuti petunjuk yang diberikan Maps menuju penginapan. Area ini bisa dibilang sebagai pusatnya tempat-tempat menarik di Istanbul. Kami melewati Blue Mosque, masjid kenamaan di Istanbul, juga Hagia Sophia (atau Aya Sofia). Ramai sekali. Turis banget. Setelah melewati jalan yang isinya deretan cafe, penginapan dan toko souvenir, maka sampailah kami di Big Apple Hostel

Aku dan Mbak Andari langsung menuju meja resepsionis untuk check in. Ada sedikit drama soal Term & Condition dari kamar dormitory yang sudah kami booking sebelumnya, tapi semua bisa terselesaikan dengan baik. 

Eh, aku nggak memperhatikan dua orang yang sedang duduk di kursi lobby. Ternyata mereka adalah... Oke, nggak perlu pakai acara kaget sih. Karena keberadaan mereka di Istanbul sudah terdeteksi sebelumnya. Dua orang itu adalah Mas Reza dan Adit, teman sekantor kami yang sudah duluan berangkat ke Turki sejak 5 hari lalu. Lha kok perginya nggak barengan aja? Itulah. Mereka berdua itu kebanyakan drama, haha! Drama yang nggak jelas. Adit bahkan baru beli tiket pesawat ke Turki sehari sebelum keberangkatan. Gila memang. Tapi lumayanlah, mereka berdua bisa survey duluan tempat-tempat yang akan aku dan Mbak Andari datangi karena itinerary mereka nyaris copy-paste dengan itinku. Walaupun habis itu mereka membullyku karena itin tersebut tampaknya kurang cucok dengan kehidupan metropolisnya. Wkwk!

Beberes sebentar di kamar, untuk kemudian turun kembali ke lobby. Sudah janjian dengan Mas Reza dan Adit untuk langsung jalan-jalan di Istanbul, pastinya ke tempat yang belum mereka datangi.

"Kami baru sampe Terminal Istanbul pagi tadi. Sengaja nggak nginep di Selcuk, demi bisa menyambut kalian!"

Halah, mbeell! Bilang aja kalian sudah nggak betah berada di pelosok Turki dan pengen segera balik ke keramaian kota!

Kami berempat, di depan Hagia Sophia. Di depan doang yak, masuknya besok ajah

Oke, kemana kita? Makan siang dululah. Adit dan Mas Reza membawaku dan Mbak Andari ke sebuah rumah makan tak jauh dari Halte Sultanahmet. Dari kaca etalasenya, tampak berbagai makanan khas Turki yang cukup menggoda dari penampakannya. Makanan yang sungguh aku tak tahu namanya. Oke bro, kita coba. Urusan lidah bisa menerima atau enggak, itu urusan nanti.

Kami memilih makanan yang berbeda. Pilihanku berupa nasi yang dicampur dengan daging sapi dan rempah-rempah  lalu dimasukkan ke dalam balutan kol rebus berkuah-kuah gitu. Rasanya, hmm....masih masuk di lidah sih, tapi hmm ya gitu deh. Clingak-clinguk nyari sambal atau saos, nggak ada pula. Serius, makanan Turki ini sejatinya enak. Kalau masak daging-dagingan empuk bener, tapi rasa keseluruhan cenderung hambar. Seandainya saja ada sambal atau saos, pasti semua terselamatkan!  

Selesai makan siang, kami naik Tram ke Grand Bazaar yang hanya berjarak dua halte saja dari Sultanahmet. Grand Bazaar adalah sebuah pasar tertutup tertua di dunia yang ditengarai telah berusia lebih dari 500 tahun sejak zaman Ottoman. Pasarnya besar sekali, kabarnya memiliki 21 pintu masuk dan 61 ruas jalan di dalamnya. Pasar ini menjual berbagai macam souvernir maupun oleh-oleh khas Turki. Pengunjung cukup padat terutama di jalan utama. Aku sempat berpikir, kalau melihat keramaian seperti ini dan transaksi yang pastinya luar biasa, aku tak melihat sebuah negara yang sedang mengalami krisis ekonomi.

Suasana dalam Grand Bazaar 

Kami nggak belanja. Aku dan Mbak Andari cuma nuker duit di sana, karena ratenya lebih bagus dibanding di bandara. Untuk belanja sih ntar-ntar aja, lha wong kami baru sampe. Adit dan Mas Reza yang bakal balik ke Indonesia dua hari lagi juga tampaknya hanya survey harga dan tempat dulu. Beneran, ini pasar besaar sekali. Aku bisa nyasar kalau keliling-keliling tanpa mengingat-ingat jalannya. Selain besar, pasar ini juga dipenuhi makhluk Tuhan yang cakep-cakep. Bahkan penjaga toko saja sudah mirip bintang film. Aliando, Rio Dewanto, Chico Jericho, Adipati Dolken, ayo sebutin bintang sinetron, model atau bintang film terkenal Indonesia, semua lewat! Wkwk! Godaannya besar sekali ya, Mbak Andari ya. Kalau untuk cewek Turki mah aku nggak ngeliatin. Itu urusan Adit dan Mas Reza saja, haha! 

Hari sudah sore saat kami keluar dari Grand Bazaar. Gerimis turun saat kami kembali menuju halte Tram. Oh ya, sebelumnya kami nyobain satu street food yang banyak bertebaran di mana-mana yaitu Chessnut Bakar. Lumayan enak sih. 

Destinasi yang kami tuju selanjutnya adalah Selat Bosphorus. Selat yang memisahkan bagian Turki di benua Asia dan Eropa, sekaligus selat yang menghubungkan Laut Marmara dan laut Hitam. Kami naik Tram ke arah Eminonu.

Sebenarnya ada trip khusus mengarungi Selat Bosphorus. Crusingnya mengunakan kapal mirip kapal pesiar, lengkap dengan makanan dan hiburan pula di atasnya. Harganya cukup mahal dan kami memang tidak membudgetkannya. Oke, gugling dan akhirnya nemu cara untuk bisa melipir ke Bosphorus dengan cara yang murah meriah. Ada kapal ferry umum dari Pelabuhan Eminonu menuju ke kawasan Uskudar dan melintasi sepenggal Selat Bosphorus hanya dengan 2 Lira lebih sedikit saja! Oke, berangkat!

Kami segera menuju deck atas ferry. Terdapat kursi-kursi untuk penumpang dan bisa menikmati pemandangan sepanjang perjalanan dengan lebih leluasa. Ferry ini perlahan bergerak, Masjid Suleymaniye terlihat semakin jauh, saat ferry ini bergerak meninggalkan Pelabuhan Eminonu. Melaju dari Golden Horn, muara yang memisahkan Istanbul Lama dan Istanbul Baru, melintas sebentar  di Marmara dan Selat Bosphorus untuk menyeberang ke sisi Turki bagian Asia.


Mendung di langit Galata 
Camar berarak di Bosphorus
Di atas ferry, membelah Bosphorus

Burung Camar beterbangan, serasa mengikuti perjalanan kapal ini. Tepian Bosphorus tampak padat oleh bangunan-bangunan. Pucuk Galata Tower menyembul. Kapal-kapal berlalu lalang. Indah. Eropa di kananku, Asia ada di sebelah kiriku. Sayang, mendung menggantung. Bosphorus tampak sedikit murung.

Rasanya aku masih betah berlama-lama di atas ferry dan mengagumi Bosphorus, tetapi Pelabuhan Uskudar tampaknya sudah tak jauh lagi. Kami disambut gerimis saat kapal ini hendak merapat.


Kapal merapat di Pelabuhan Uskudar

Tak banyak yang kami lakukan di Uskudar. Selain sholat di masjid depan pelabuhan (ehm, kami pejalan yang sholih ya ternyata, wkwk) serta mencicipi Simit, roti khas Turki yang sangat mengenyangkan karena kerasnya minta ampun! Lalu kami balik lagi ke Eminonu. Yup, tujuan kami ke Uskudar memang hanya demi melintasi Selat Bosphorus. Bolak-balik. 

Simit, harus dicoba saat lapar. Mengenyangkan sangat!


Hujan turun saat kami memasuki kapal. Sempat ke deck atas, tapi hujan ternyata cukup deras. Padahal panoramanya ingin sekali lagi aku nikmati seperti perjalanan berangkat tadi. Akhirnya kami memutuskan duduk di dalam kabin. Cuaca tak cukup bersahabat di hari pertamaku di Istanbul. 

Hujan masih mengguyur saat kami sampai kembali di Eminonu. Langit tampak semakin gelap. 

Adit dan Mas Reza mengajak kami melewati Jembatan Galata tak jauh dari Pelabuhan Eminonu. Sebuah jembatan yang melintasi Golden Horn yang terdiri dari dua tingkat. Tingkat dasar dipenuhi oleh cafe-cafe dan rumah makan. Sementara di atasnya adalah jalan raya, jalur Tram serta trotoar pinggir jembatan yang biasanya dipenuhi oleh orang-orang memancing jika saja hari tak hujan.

Masjid Suleyman, tampak dari kejauhan

View di kawasan Karakoy

Tapi hujan tampaknya semakin deras. Kami berlarian menuju jembatan. Berjalan di antara cafe-cafe yang ramai. Asap menu makanan grill tampak mengepul di beberapa tempat, bercampur dengan aroma Shisa. Kami berjalan hingga kawasan Karakoy yang terletak di ujung jembatan. Galata Tower, itulah tujuan kami

Rintik masih menemani saat kami melalui jalanan sesuai petunjuk arah. Sebatas rintik kecil yang lalu tiba-tiba menjadi deras sehingga memaksa kami meneduh di emperan sebuah toko. Eh, bukan toko ding ternyata. Tapi sebuah gallery yang entah sedang mengadakan pameran apa. Dari dinding dan jendela kacanya, kami bisa melihat banyak orang dengan dandanan berkelas sedang berbincang-bincang di antara karya-karya seni yang terpajang. Beberapa orang tampak keluar untuk merokok, tak jauh dari tempat kami berteduh. Satu lagi sudut Istanbul yang secara tak sengaja kami temukan. 

Kami memutuskan untuk pergi dari emperan gallery saat hujan mulai reda. Jalanan agak menanjak serta bangunan-bangunan cukup tinggi berada di kanan kiri. Tapi belum jauh kami berjalan, hujan kembali turun. Untungnya kami menemukan tempat berteduh yang cukup representatif, sebuah pintu masuk  sebuah rumah dengan beberapa tangga di depannya dan beratap. 

Berempat, kami duduk di tangga. Menunggu hujan kembali reda. Memandang jalanan berpaving dan pencahayaan yang cukup remang. Seekor kucing tampak berteduh di seberang kami, di antara tumpukan barang.

Empat WNI ngemper di Istanbul
Rasanya pengen tertawa, kok bisanya kita menggelandang begini di negara orang? Ngemper di depan sebuah rumah. Lalu muncullah keisengan, buka google translate di hp, lalu belajar bahasa Turki! Iya, bahasa Turki! 

Tesekkur ederim (terima kasih), Dekatli ol (hati-hati), merhaba (halo/apa kabar), evet (ya) dan entah apalagi. Entah apa cita-cita kami, tapi begitulah. Sesekali bahkan dicoba oleh Mas Reza dan Adit saat ada orang lewat di depan kami. Orang gila, mungkin itu pikiran mereka, wkwk! Tapi sumpah, itulah hal yang paling absurd yang kami lakukan di Istanbul malam itu.

Akhirnya hujan mulai mereda lagi. Kembali kami susuri jalanan menuju Galata Tower yang basah dan menanjak itu. 

Galata Tower (Galata Kulesi dalam Bahasa Turki) adalah sebuah menara batu dengan tinggi sekitar 66 meter, didirikan pada abad pertengahan di Distrik Galata Kota Lama Istanbul kini berada tak jauh dari kami. Saat malam begini, menara ini dihiasi dengan cahaya biru dan merah. Cantik sekali.

Di depan Galata Tower

Oke, kita mau naik tower ka tidak? Adit dan Mas Reza tampaknya kurang tertarik. Aku dan Mbak Andari kemudian bertanya berapa harga tiket untuk naik ke atas menara. Ah, ternyata 35 Lira! Hmm, sampai di atas juga kukira pemandangannya nggak begitu bagus saat cuaca hujan dan hari sudah malam. Oke, kami skip saja! Yang penting sudah menginjakkan kaki di Galata Tower. 

Kamipun beranjak dari Galata Tower, menyusuri jalan paving basah yang berbias lampu pencahayaan menara. Hujan masih rintik. Cuaca masih tak jua bersahabat bahkan hingga malam seperti ini.

Kemana lagi kita habiskan malam ini? Jangan kasih kendorlah bro!

Oke, kami ke Taksim Square! Satu lagi tengara terkenal di kota ini. Setengah berlari kami menuju ke Stasiun Metro Sishane di ujung jalan.

Taksim Square atau Alun-Alun Taksim berada di Istanbul sisi Eropa. Ditandai dengan sebuah monumen yaitu Monumen Republik yang dibangun pada tahun 1928 untuk memperingati terbentuknya Republik Turki yang ke-5. Tingginya sekitar 11 meter. Ke-empat sisi monumen dihiasi oleh patung, salah satunya adalah patung Mustafa Kemal Attaturk, pendiri sekaligus presiden pertama Republik Turki.

Di depan Monumen Republik - Taksim Square. Sorry, gelap bro! 

Hujan masih rintik saat kami keluar dari Stasiun Metro Taksim dan berjalan ke monumen itu. Lampu-lampu penerangan tampak berada di beberapa sudut. Tampak beberapa orang duduk-duduk ataupun berfoto. Kesan pertamaku, ya cuman tempat nongkrong biasa saja. Tapi hey, tengoklah keramaian di jalan sana!

Melangkah sedikit tak jauh dari monumen, terdapatlah Istiklal Street dengan jejeran pertokoan mewah mulai dari cafe, restoran, toko pakaian, sepatu, souvenir dan segala macam. Ratusan orang berlalu-lalang memenuhi jalan. Di beberapa tempat tampak pengamen jalanan yang menyajikan lagu dan beradu dengan musik hingar yang terdengar dari beberapa bar dan club malam di pinggiran jalan. Sebuah Tram kuno berwarna merah tampak melintas sesekali di jalurnya yang berada di tengah jalan. Tempat ini begitu "hidup". Denyut malam Istanbul berada di sini, Jalan Istiklal!

Istiklal Stree, malam itu

Setelah mencicipi satu kotak Turkish Delight di sebuah toko kue ternama (serius ini endez banget rasanya, apalagi yang pistachio lokum!), kami beranjak ke sebuah restoran untuk makan malam. Suara musik dengan nyanyian lagu berbahasa Turki (yang sepintas terdengar mirip bahasa Arab) masih terus menggema di beberapa titik jalan. 

Jam sudah menunjukkan hampir pukul 10 malam. Istiklal masih hidup, bahkan bertambah hidup.

Kami berempat sama-sama memilih paha ayam kalkun. Paha segede gaban plus nasi (pera berempah) sepiring penuh. Hadeuh, baru ngeliatnya aja rasanya sudah kenyang. Dan lagi-lagi, aku menyesal nggak bawa saos! Makan makanan begini tanpa saos atau sambal rasanya plain banget. 

Setelah kenyang dan beranjak keluar dari restoran, ternyata di luar hujan. Kami berniat menunggu hingga sedikit reda di dekat pintu keluar. 

Adit iseng membeli minuman dalam kemasan bertuliskan Ayran yang terlihat banyak dikonsumsi orang saat makan tadi. Dia membawa 4 sedotan.

"Enak ih" kata Adit

Mendengar kata enak, maka tanganku langsung refleks bekerja dan tanpa ba-bi-bu mengambil sedotan dari tangan Adit lalu menusukkanya ke lid Ayran. Dan... Waladalalahhh!

Aku tak sanggup memasukkan Ayran ke dalam tenggorokanku. Rasanya aneh sekali, antara asin, asem dan entahlah, absurd sekali! Dengan Ayran yg masih memenuhi mulutku, aku berlari ke luar restoran dan membuangnya. Kurang ajaaar! Teman-temanku malah tertawa ngakak. Hadeuh! Ngragasss!


The one and only, Ayran! 

Ternyata oh ternyata Ayran adalah minuman yang terbuat dari yoghurt, air dan garam. Bayangkan, kombinasi yang aneh bukan? Minuman ini populer di Turki, Irak, Iran dan negara Timur Tengah. Aduh, kalau saya sih no!

Hujan masih terus mengguyur Istiklal, petugas restoran menyuruh kami kembali ke tempat duduk saja sambil disuguhi teh hangat, menunggu hujan reda. Restoran masih ramai, mereka bilang baru akan tutup jam 1 malam.

Akhirnya kami keluar saat hujan agak mendingan. Menyusuri lagi jalanan Istiklal yang tetap hingar. Bahkan hujanpun tak jua meredupkan keramaianya. Pertokoan masih buka, orang masih hilir mudik, dan musik masih terdengar kencang. Istiklal tetap hidup bahkan hingga nyaris jam 12 malam begini.

Dan hujan tiba-tiba deras lagi, memaksa kami membeli payung yang dijual di pinggiran jalan, agar setidaknya tak begitu basah hingga sampai di Stasiun Metro nanti.

Hujan reda lagi saat mendekati Taksim Square. Dua orang perempuan dengan gaya kekinian, berjalan melewati kami. Salah satunya sepertinya sedang mabuk dan nyerocos sendiri dengan bahasa yang aku tidak tahu. Mas Reza tampak keki setelah perempuan mabuk itu mendorong bahunya sambil ngelantur nggak jelas. Untung mereka segera berlalu, huahaha! Istighfar ya, Mas.

Kami bergegas masuk ke Stasiun Metro Taksim. Kereta membawa kami ke Stasiun Kabatas. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam lebih. Petugas stasiun telah menutup semua akses pintu. Tak ada lagi kereta, tak ada lagi tram lewat jam 12. Tak ada pilihan lain, kami harus naik taksi untuk pulang ke penginapan di kawasan Sultanahmet.

Jalan raya masih cukup padat sepanjang taksi yang kami tumpangi ini melaju.

Setelah beberapa jam berada di Istanbul, terus terang aku belum menemukan gambaran Turki yang islami yang selama ini sering disebut oleh para pengagum Erdogan di negeriku Indonesia. Aku bisa bilang bahwa suasana kota ini tak ubahnya dengan tempat-tempat di Indonesia. Aku masih mendengar suara adzan dari masjid-masjid megah di kota ini, pun sempat kulihat masjid yang penuh saat Jum'atan siang tadi, tapi kota terus berdenyut dengan modernitas. Banyak kujumpai wanita berhijab, tapi tak kalah banyak dibanding perempuan bergaya trendy tanpa penutup kepala. Public Display of Affection yang mudah terlihat di beberapa sudut kota, hedonisme yang tersaji di kawasan Istiklal malam ini, entahlah. Mungkin ini baru secuil Turki, masih banyak yang harus kulihat, perlu banyak untuk dibaca dan dipahami...

"Oke, kita sudah sampai" kata Adit yang duduk di samping driver taksi, menyentak diamku.

Pintu Big Apple Hostel masih terbuka. Cafe-cafe di sekitarnya sudah sepi. Kawasan Sultanahmet sudah tidur ternyata.

Oke, selamat beristirahat teman-teman! Sampai jumpa besok di rooftop penginapan, kita memandang Laut Marmara sambil sarapan.

-----------------------------------------------

Budget:
1. IstanbulKart = 10 Lira
2. Naik Metro/Tram/Ferry = Harga tergantung jarak, sebagian besar > 2 Lira sekali jalan
3. Penginapan Big Apple Hostel = 100 Lira/orang (Kamar Dormitory) 

Friday, June 22, 2018

Mempertanyakan Keselamatan Transportasi Perairan

Berita tenggelamnya Kapal Motor (KM) Sinar Bangun yang terjadi di Danau Toba Sumatra Utara pada tanggal 18 Juni 2018 menorehkan duka di tengah kegembiraan seusai merayakan Idul Fitri. Diperkirakan ratusan penumpang menjadi korban dan masih dalam proses pencarian. Tak jelas berapa jumlahnya secara pasti mengingat tidak ada manifest atau daftar nama penumpang kapal. Diduga, kapal tersebut tenggelam karena kelebihan muatan serta cuaca buruk.

Sebelumnya, tanggal 13 Juni 2018, KM Arista yang memuat 43 orang, tenggelam di perairan Makassar Sulawesi Selatan juga tenggelam dan mengakibatkan 15 penumpang meninggal dunia. Penyalahgunaan peruntukan kapal yang seharusnya bukan untuk penumpang disebut oleh Ketua KNKT sebagai salah satu penyebab kecelakaan. 

Masih di tanggal 13 Juni 2018, KM Albert berpenumpang 30 orang karam di Sungai Kong Sumatra Selatan, 2 orang ditemukan meninggal. Penyebab kecelakaan ini ditengarai karena faktor kondisi cuaca buruk serta gelombang tinggi.

Tiga kecelakaan kapal terjadi dalam kurun waktu kurang dari seminggu. Al Fatihah untuk seluruh korban dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. 

Tuesday, June 12, 2018

Offshore Life: Ramadhan dan Idul Fitri Spesialku

"I look to the sea, 
reflections in the waves spark my memory. 
Some happy, some sad...'
(STYX - Come Sail Away) 

----------------------

Kutulis postingan ini saat santai di kampung halaman di Pekalongan. Yoi, aku sudah mudik sejak beberapa hari lalu, pastinya untuk merayakan Idul Fitri yang tinggal hitungan hari. Leyeh-leyeh sambil scrolling akun medsos, membuatku terantuk pada foto-foto jadul saat masih kerja di lapangan dulu. Nggak penting sih sebenarnya, haha! Tapi mendadak jadi pengen bernostalgia tentang Ramadhan dan Idul Fitri spesialku beberapa tahun lalu. Betapa merayakan dua moment itu bersama keluarga pernah menjadi moment langka buatku.

Barge Tirta Rajawali, berlatar senja

Di atas menara Rig Randolph Yost

Saturday, May 12, 2018

Ada Riang di Gunung Kembang

"Sini, kuredakan lelahmu dengan kopi hitam buatanku.
Kesukaaanmu.
Lalu mari bertukar kabar,
Tentang mimpimu dan rinduku..."

-----------------------------------

6 Mei 2017

Sekitar jam 06.30 pagi, kami sampai di Taman Plaza Wonosobo. Turun dari bis Dieng Indah yang membawaku dan TJ dari Jakarta ke kota yang terkenal akan keindahan negeri di atas awannya. Desi, seorang sahabat yang  tinggal di kota ini,  menjemput kami berdua ke rumahnya di daerah Mangli. 

Terakhir kali ke rumah Desi mungkin sekitar setahun lalu, saat naik ke Gunung Bisma. Setelah berulang kali re-schedule karena alasan cuaca, sekarang kami bakal reunian lagi. Kali ini giliran Gunung Kembang yang akan didaki. 

Yup, Gunung Kembang. Meskipun keberadaan Gunung Kembang sebenarnya berdekatan dengan Gunung Sindoro dan Sumbing (bahkan disebut sebagai anak dari kedua gunung tersebut), tetapi nama Gunung Kembang masih cukup asing terdengar di telinga, nggak tahu kenapa. Satu hal yang cukup unik dari gunung ini adalah karena kabarnya ia terus "bertumbuh kembang" alias bertambah tinggi. Tercatat  ketinggian Gunung Kembang sekarang adalah 2370 mdpl alias dua kali lipat bila dibandingkan dengan tingginya pada satu dekade silam. Aktivitas vulkanik dari gunung di sebelahnya, diperkirakan menjadi penyebab bertambahnya ketinggian gunung ini. 

Setelah puas sarapan Sate Kertek yang rasanya endes sekali, sekitar jam 10 pagi kami siap berangkat. Oh ya, selain kami bertiga, Desi juga mengajak Herni dan Salim, dua pemuda perkasa harapan bangsa yang siap membawa carrier dengan beban sebanyak-banyaknya. Peace, bro! 

Friday, May 11, 2018

Kota Dili, di Januari

"I like the dreams of the future, better than the history of the past"
(Thomas Jefferson)
------------------------------

16 Januari 2017

Selamat sore, Dili!

Ternyata rasa lelah yang membuncah setelah seharian melalui perjalanan darat dari Soe NTT, melewati PLBN (Pos Lintas Batas Negara) Motaain di Atambua hingga sampai ke Dili Timor Leste, tak membuatku, Kakak Dame dan Kakak Jane tepar sesampainya di hostel Dili Central Backpackers, tempat kami menginap. Maka selesai memasukkan carrier ke dalam kamar dan bebenah sebentar, kami bertigapun segera cus ke luar. Tujuan utamanya sih buat nyari makan. Jangan pernah diet kalau lagi traveling yak, karena piknik juga butuh energi biar nggak mudah panik!

"Transportasi umum di Dili cukup mudah. Ada infonya di papan itu" kurang lebih begitulah kata-kata Mbak Kim, bule pemilik hostel ini, saat kami bertanya tentang angkutan umum atau biasa disebut Mikrolet oleh warga Dili. 

Hal itu juga diamini Jacko dan Rob. Jacko adalah pegawai di penginapan, sedangkan Rob adalah teman Kim yang suka main ke tempat ini. Keduanya warga negara Timor Leste. Jacko yang berwajah Timor, agak terbata-bata jika berbicara dengan Bahasa Indonesia. Sedangkan Rob yang blas nggak ada wajah Timor sama sekali, malah sangat lancar berbahasa Inggris. Oke, baiklah, kami berkomunikasi campur-campur saja. Yang penting jangan pakai Bahasa Portugis (bahasa resmi Timor Leste) atau Bahasa Tetun (bahasa lokal keseharian warga Timor Leste), karena dijamin kami bakal plonga-plongo! Hehe!

Selesai membaca info mikrolet di papan pengumuman, mataku tertuju pada satu gambar yang terlukis di sisi samping meja resepsionis. Gambar anak laki-laki yang menaiki buaya di tengah lautan. Hmm, apakah gerangan artinya?

Monday, February 19, 2018

Apa Kabar, Timor Leste?

“Siapakah pemilik sejarah? 
Siapa yang menentukan siapa yang jadi pahlawan dan siapa yang menjadi penjahat? 
Siapa pula yang menentukan akurasi setiap peristiwa?"
(Leila S. Chudori)

----------------------------------------------------

14 Januari 2017

Hampir pukul 14.00 siang saat aku, Kakak Dame dan Kakak Jane berjalan memasuki gerbang negara Timor Leste yang berbatasan dengan PLBN (Pos Lintas Batas Negara) Motaain di Atambua Nusa Tenggara Timur. Sebuah gerbang bertuliskan “Bem Vindo A Timor Leste”. Ya, Selamat Datang di Timor Leste!

Pose dulu di depan PLBN Motaain Indonesia yang megah sekali
Gerbang menuju Timor Leste

Batu prasasti peresmian Posto Fronteirico Integrado alias Pos Perbatasan Terpadu di Batugade Timor Leste yang ditandatangani oleh Xanana Gusmao (Presiden Timor Leste, waktu itu) serta sebuah tugu Timor Leste yang ada di sampingnya, menyambut kedatangan kami. Tugu, prasasti dan bangunan serupa juga kami dapati di PLBN Wini, yang berbatasan dengan wilayah Oecussi Timor Leste yang sempat kami kunjungi kemarin.  Sepertinya Timor Leste memiliki pakem bentuk bangunan dan pelengkapnya pada pos-pos perbatasannya.


Gedung Pos Perbatasan Timor Leste
Apa yang membawaku ke Timor Leste?


Friday, January 26, 2018

Wini dan Motaain, Satu Lagi Perbatasan Negeri

"Jikalau aku melihat wajah anak-anak di desa-desa dengan mata yang bersinar-sinar, 
"Pak Merdeka, Pak Merdeka, Pak Merdeka!" 
Maka aku bukan lagi melihat mata manusia, tapi aku melihat Indonesia"
(Ir. Soekarno)


13 Januari 2017

Mobil Om Demus terlihat dari kejauhan. Mobil APV dengan kaca depannya yang retak itu. Segera kami berkemas, mengeluarkan gembolan-gembolan dari kamar homestay Lopo Mutis. Pamit kepada Pak Mateos Anin, Mama Yuli dan Kak Wasti, mengucap terima kasih atas segala bantuannya selama kami di Fatumnasi. Sekaligus menyerahkan sedikit buku dan alat tulis yang bisa dibagi untuk anak-anak di sekitar sini. Kami  harus mengucap sampai jumpa pada Fatumnasi. Satu desa di kaki Gunung Mutis yang cantik sekali.

Kami masih punya waktu seharian ini di NTT sebelum menjejak Timor Leste esok hari. Maka kami sewa mobil Om Demus lagi agar bisa bebas pergi ke mana saja tanpa terkendala transportasi. Hari ini Om Demus menawarkan untuk melihat Air Terjun Oehala dan juga PLBN (Pos Lintas Batas Negara) Wini di Kabupaten Timor Tengah Utara yang berbatasan dengan Oecusi Timor Leste.

Tentu saja aku tak menolak untuk diajak melihat PLBN Wini. Bahagia malah. Kukira dalam trip kali ini aku hanya akan melintas PLBN Motaain di Atambua Kabupaten Belu saja yang Insya Allah akan kami lintasi besok saat menuju ke Timor Leste. Tapi ternyata malah dapat tambahan satu PLBN lagi!


Wilayah Timor Leste, negara tetangga kita ini bisa dibilang cukup unik, karena ia tak hanya berada di bagian timur Pulau Timor saja tapi juga ada sempalan kecil atau daerah kantung (enclave) di daratan sebelah barat Kabupaten Timor Tengah Utara NTT yaitu wilayah Oecussi atau Ambeno. Ada satu pos perbatasan Indonesia sebelum memasuki Oecussi Timor Leste yaitu PLBN Wini yang rencananya akan kami kunjungi hari ini.