Saturday, December 13, 2014

Menyusur Flores (Bag. 6) - Bajawa (Gunung Inerie)

"So, so you think you can tell
Heaven from Hell, blue skies from pain.
Can you tell a green field from a cold steel rail?
A smile from a veil?
Do you think you can tell...?"

(Pink Floyd - Wish You Were Here)


---------------------------------------------------------------------------------

18 November 2014 


Bis dari Riung ke Bajawa nggak jalan siang itu, sedang rusak, demikian informasi yang kami dapatkan dari beberapa pihak. Tak ada pilihan lain selain harus sewa mobil menuju Bajawa. Waduh, bengkak dong budget kita, mana BBM barusan naik pula sehingga sang empunya mobil tentu saja menaikkan harga sewanya. Tapi kita tidak mungkin stuck di Riung karena waktu tak hanya berjalan tapi juga mengejar. Akhirnya dengan berat hati dan mengelus ATM, kami sepakat untuk nyewa mobil dengan driver bernama Kak Anto. 

Perjalanan dari Riung ke Bajawa akan menghabiskan waktu sekitar 3 jam-an. Nyaman sih naik mobil Avanza yang hanya diisi kami bertiga, tapi serasa ada sesuatu yang hilang, hahaha! 


 Gunung Ebulobo tampak dari kejauhan. Kakak Ardyan, ayo dilap dulu ingusnya... ;p
Bonus mampir di Wisata Air Panas Manggeruda Soa


Kami sapa Bajawa, ibukota Kabupaten Ngada sore itu. Untuk driver kami Kak Anto, makasih, titi dj balik ke Riung-nya. Langsung check in di Hotel Jhony, bukan Hotel Happy-Happy apalagi Holiday-Holiday lho ya ;p

Destinasi di Bajawa? Dalam itinerary awal,  kami hanya memasukkan Kampung Bena. Tapi demi mengakomodir kebutuhan batin seorang pendaki di tim ini (ehm, sambil melirik Ardyan), maka disusupkanlah Gunung Inerie di itinerary edisi revisi. Ya, Ardyan menyebarkan virus berupa foto-foto breathtaking Gunung Inerie dengan bentuk piramida sempurna dan landscape sekelilingnya yang mempesona, hasil jepretan Valentino Luis, seorang travel writer asal NTT. Ah, bagaimana kami bisa menolak untuk menyambanginya?


Gunung Inerie (Courtesy of  Valentino Luis)

Berhubung ada dua cewek sosialita yang biasanya nge-mall (hahaha!) mau ikutan nanjak, maka kami berniat menggunakan guide untuk nanjak ke Inerie. Dengan bantuan pihak hotel, maka datanglah guide yang bernama Pak Joseph untuk nego harga dengan kami. Dan jreng...jreng...Pak Joseph menyatakan bahwa harga guide ke Inerie adalah 1 juta rupiah! Hah, serius? Belum nanjak Inerie saja sudah bikin lemes dengkul mendengarnya. 

"Masih bisa dinego", kata Pak Joseph. Tapi mau dinego berapa jika harga pertamanya saja sudah setinggi langit seperti itu. 

Baiklah, kami nanjak sendiri saja, tanpa guide. Harga guide untuk kelas pribumi gembel seperti kami terlalu tinggi. Kami hanya akan menyewa motornya Pak Joseph dan satu motor lagi dari hotel. Jangan khawatirkan kami, Pak Joseph. Mungkin melihat wajah-wajah yang memelas ala-ku dan Dame, maka Pak Josephpun berbaik hati, ia buatkan peta petunjuk menuju jalur pendakian Gunung Inerie via desa Tiwuriwu biar kami nggak nyasar. Ancer-ancernya adalah jika sudah nemu hutan bambu, terus saja jalan nanti ada Kantor Kepala Desa Tiwuriwu, beloklah ke kanan, jalan terus sampai ketemu dua rumah di situ. Parkir atau titip saja motornya ke pemilik rumah itu karena dari situlah rute pendakiannya dimulai. Okelah, Pak Joseph. Doakan kami! 

Ini peta menuju rute pendakian Gunung Inerie, hasil kreasi Pak Joseph :-) 

Sambil menghabiskan menu makan malam berupa pecel ayam di sebuah warung di depan hotel, sepertinya Ardyan mulai agak ragu membawa aku dan Dame nanjak ke Inerie tanpa guide esok. Sempat terpikir dia akan nanjak sendiri saja sementara aku dan Dame bisa jalan-jalan di Bajawa. Ah kakak Ardyan, kami memang cewek sosialita yang suka nge-mall (sosialita dari hongkong???), tapi bukan berarti kami cengeng dan akan nyusahin kakak. Ijinkan kami ikut ya, biarkan kami sampai di puncak kami sendiri, sekuatnya dengkul kami, please! 

Horee, Kakak Ardyan akhirnya setuju! Yeah, langsung capcus shopping untuk bekal pendakian besok :-)

Tentang Gunung Inerie. Gunung ini terletak 19 km dari kota Bajawa dan memiliki ketinggian 2245 mdpl dan merupakan gunung api strato. Inerie adalah puncak tertinggi nomor tiga di Propinsi NTT, setelah Gunung Mutis dan Ranakah. Dari atas puncak gunung, pendaki bisa melihat pemandangan kota Bajawa di barat laut. Di bagian selatan, pendaki bisa melihat birunya Laut Sawu yang menempel dengan kaki Gunung Inerie. 

Malam ini kita packing. Tunggu kami esok, wahai Inerie...

19 November 2014,

Jam 4 subuh kami meluncur ke arah Gunung Inerie dengan dua motor sewaan, mengikuti peta petunjuk yang sudah dikasih Pak Joseph kemarin. Ardyan mboncengin Dame, aku bersolo motor. Masih cukup gelap, kehidupan di Bajawa belum dimulai. Di beberapa jalan yang kami lewati, nyaris hanya lampu motor ini yang menerangi.

Setelah cukup jauh melaju, sepertinya kami sudah dekat dengan daerah yang dituju. Kami sampai di Kantor Kepala Desa Tiwuriwu. Belok kanan lalu mengikuti jalan tikus dan mencari dua rumah yang disebut-sebut sebagai jalur awal pendakian. Sempat agak kebablasan sedikit, karena ternyata banyak cabang di jalan tikus tersebut namun akhirnya kami berhasil menemukan dua rumah itu.

Kami disambut oleh suara gonggongan anjing di rumah itu, tak lama setelah memarkir motor di depan sebuah rumah. Suara gonggongannya bahkan tak putus-putus dan mungkin mengganggu pemilik rumah. Sebuah suara dari rumah satunya cukup mengagetkan kami "Cepat jalan sudah kalau mau nanjak!" Oh, maafkan kami Pak. Kami hanya re-packing sebentar saja.

Kami melewati jalan yang berada di antara dua rumah itu. Sangat jelas jalurnya pada awalnya. Tapi kemudian kami malah berputar-putar nggak karuan, diantara ilalang dan kebun singkong. Gunung Inerie berdiri tegak di depan kami, tapi kami tak kunjung menemukan jalur ke kakinya. Suasana masih cukup gelap, senter yang kami punya juga sepertinya tak cukup membantu menemukan jalan yang benar.  

Sekitar jam 5 pagi, saat kami memutuskan untuk memulai memperhatikan lagi jalan dengan ancer-ancer dua rumah itu, kami bertemu dengan seorang anak laki-laki. Kita tanya ke anak itu tentang jalur pendakian ke atas. Anak itu malah bilang akan mengantarkan kami sampai puncak. Hah? Kamu kan sekolah dik, cukup antarkan kami ke kaki Inerie saja, atau hingga kami sampai di jalur pendakian yang jelas. Anak laki-laki itu bernama Aldus, usia sekitar SMP. 

"Di sekolah akan ada ujian, jadi kegiatan di sekolah hari ini hanya menghias kelas saja", jelas Aldus. Iya, tapi meskipun demikian, kamu harus tetap pergi ke sekolah!  

Dengan hanya menggunakan sandal jepit, Aldus berjalan menemani kami sampai menemukan jalan yang jelas ke kaki Gunung Inerie. Terima kasih ya, Aldus. Sekolah yang rajin ya sayang, biar kelak bisa menjadi dokter seperti Kakak Ardyan dan Kakak Dame :-)


Dame, Aldus & Lena
Ardyan & Aldus 


Inerie tampak tak terlalu tinggi lewat jalur ini. Tapi benarkah demikian? Hei, kenapa pemandangan di sini tidak seindah foto-fotonya Om Valentino? Pemandangannya cenderung biasa banget. Banyak pertanyaan di kepala, tapi mari fokus dengan dengkul dan nafas saja. Karena bagaimanapun gunung tetaplah gunung, dan gunung tetaplah nanjak, hahaha!



Ale empat, beta sebelas. Dame kasih pantat, Ardyan balas! 
Tempo e...tempo...!
Yang di sebelah kok cantik banget sih pemandangannya, lewat mana ya ke sananya? 
Nyalain dulu mesin jetnya kakak, biar wuzzz....!
Ah, udah Posisi Wuenak nih...

Tak kulihat pendaki lain selain kami bertiga. Sepertinya gunung ini tidak atau belum terkena imbas film 5 cm. Di sini masih sepi.

Kami sapa mentari di perjalanan awal pendakian. Berkali aku minta istirahat, kaki ini belum beradaptasi terhadap ketinggian. Mari kita nikmati dulu oreo dan roti gope'annya ;p

Sepertiga jalan masih dibilang baik-baik saja trek-nya, tapi ketika makin naik lagi...halah-halah, nanjaknya curam sekali, dipenuhi longsoran batu dan pasir serta nyaris tak ada pegangan tangan. Bebatuan rontok semua! Harus pinter milih batu yang cukup kokoh untuk dipegang ataupun dipijak. Bahaya, jatuh dan terperosok adalah risikonya. Mengerikan! Serius, saking kemiringannya parah, aku bahkan nggak bisa nanjak dengan berjalan normal. Jalan satu-satunya adalah merayap pelan-pelan, nyaris ala-ala panjat tebing. Aduh, tolong lancarkan perjalanan hamba-hamba-Mu ya Tuhan. 

Kakak Dame, apakah kakak sudah lelah? 


Kakak Dame akhirnya memutuskan berhenti dan tidak meneruskan pendakian. Dia mau menunggu di situ saja, di dekat gaiter yang dipasang Ardyan di sebuah pohon cantigi kecil sebagai penunjuk jalan.  Ardyan tentu saja terus mendaki, dia kan yang punya project ini. Aku? Modal nekad saja! Aku sudah kadung mendaki begini. Lanjut sajalah kakak! Bismillah lagi...

Dan jalur dengan inklinasi parah serta longsoran batu ini semakin menjadi. Aku merayap, pelan. Kakiku nyaris menyerah. Tanganku juga, pegal minta ampun. Nafas ini semakin tersengal. Keringat bercucuran. Nggak tahu, pokoknya nekad naik terus saja. Sementara Ardyan sudah jauh melangkah di depan. Woi, tungguin woi....! 

Akhirnya aku melihat pandangan agak lapang di depan. Apakah itu sudah puncak! Tapi ternyata belum, kawan! Kami baru sampai kawahnya saja, puncak masih jauh di sebelah sana! Hufft! Kawah Inerie yang kering. 


Hah, istirahat lumayan panjang di sekitaran kawah. Mataku memandang lagi ke sana, puncak Inerie sudah terlihat tapi tampaknya masih berat jalannya ke sana. Tapi sekali lagi, sayang kalau harus menyerah kalau sudah sampai sini. Huhuhu, mari merayap lagi....!


Kawah Inerie yang kering
Aduh, kok belum dapat sinyal ya, padahal sudah setinggi ini ...
Alhamdulillah, celanaku belum sobek ;p
Om Valen, apakah pernah sampai atas sini? Kamu ambil fotonya dari mana sih Om? 
Woi, prosotannya nanti saja!

Kami merayap lagi, dengan residu tenaga. Ah, longsoran batu dan pasir...tolong jinaklah sedikit! 

Dan akhirnya, setelah hampir 4 jam lebih mendaki...hah...itu puncaknya! Yihaa...! Puncak triangulasi Gunung Inerie ditandai dengan salib! Beberapa buah salib berada di sana. Ah, Inerie...! Kami sampai juga! Gila! Akupun tepar dengan sempurna di puncak sang Piramida Flores ini. 

Di puncak, awan serasa berlalu lalang di depan mata. Pemandangan Laut Sawu terlihat elok dari sini. Kabut mulai naik...


Salib ke tiga, di puncak Inerie. That's Ardyan!
Poto dulu, langsung upload, ihir...!
Tepar dulu ah di puncak, capek manggul kamera dan lensa...
Manisan mangga yang kita nikmati di Puncak Inerie. Asli, asem bingits!

Cukup istirahat di puncak dan mengabadikan sebuah pencapaian (halah!), aku dan Ardyan turun lagi. Kasihan juga Dame nungguin terlalu lama di bawah.

Tapi bahkan untuk turunpun lebih susah dibanding naik, saudara-saudara! Dengan kemiringan gunung yang sempurna, maka batu-batu yang longsor itu sudah mirip arena prosotan anak TK. Ya sudahlah, aku sekalian main prosotan saja. Pantat ini beradu dengan kerikil-kerikil tajam. Trekking pole yang jadi tukang rem-nya juga nggak begitu membantu. Sempat jatuh bergulingan beberapa kali, untung ada pepohonan kecil yang menghentikanku alias stopper dari keterperosokan. Hah!

Wah, Dame dimana? Perasaan tadi dia berhenti di dekat gaiter, tapi kok nggak kelihatan? Clingak-clinguk aku dan Ardyan mencarinya. Ah itu dia! Hai Kakak Dame! Kami tertawa ketika Dame bilang tadi sempet kirim email ke Ardyan dan nanyain sudah sampe puncak belum? Dame tahu hape-ku rusak dan diapun nggak punya nomornya Ardyan, maka kirim email adalah jalan-jalan satu-satunya mengetahui kabar. Tapi Ardyan itu doyannya update status keleus, bukan buka email, hahaha!

Yuk ah, kita turun. Main prosotan di antara longsoran batu lagi, dan jatuh bergulingan lagi. Huhuhu!

Sial, celana bagian pantatku sobek nggak karuan karena dipake prosotan! Ancur-ancuran pokoknya. Untung ada jaket yang bisa kulingkarkan di pinggang sehingga menutupi bagian pantat yang robek tak bersisa, wkwk! Mana jari-jari kakiku sakit semua, tenaga juga tinggal remah-remahnya saja. Tertatih dan terseok jadinya.  

Dame dan Ardyan telah berjalan jauh di depan. Serius aku parah sekali, berjalan saja rasanya sudah nggak sanggup. Hah, Inerie! Kamu sukses menjadikanku lemah tak berdaya.

Tapi akhirnya kami sampai di bawah, di rumah tempat kami markirin motor. Ketemu Aldus, Bapak serta Ibunya. 

Yaelah, motor sewaan ini pake acara ngadat pula dan lagi-lagi karena businya. Untung saja, Ayah Aldus cukup membantu dan motor yang kupakai ini bisa kembali berjalan normal. Motor tersebut kutukar dengan motor matic yang dikendarai Ardyan, takut mogok lagi di jalan. Dame mbonceng aku, tapi...baru beberapa meter jalan, kami terjatuh. Hehe, maap Kakak Dame, mungkin aku sudah lelah. 

Meski lelah, kami sudah sampai di sini, dan sayang jika melewatkan Kampung Bena yang lokasinya tinggal sepelemparan batu saja dari desa Tiwuriwu. Kampung adat itu juga sempat kami lihat dari kejauhan saat nanjak di Inerie tadi. Kampung adat Bena memang terletak di kaki Gunung Inerie.

Kampung Adat Bena di Kaki Gunung Inerie
Kampung Adat Bena lagi

Menikmati sejenak eksotisnya kampung adat ini, serasa kembali entah ke zaman apa. Mataku menengok ke atas, betapa gagahnya Inerie yang serasa menjadi atap desa ini. Setengah tak percaya bahwa aku dan Ardyan baru saja mendaki sampai puncaknya. Aku teringat ucapan Kak Dusratu, seorang guide yang kami kenal di lobby hotel tempat kami menginap saat di Maumere, dia tampak sangat surprise ketika kami bercerita akan mendaki Inerie. Sangat jarang yang mendaki gunung itu, katanya.

Selesai dengan Kampung Bena, maka selesai pula kami di Bajawa. Kami sudah ketinggalan bis dan travel ke Ruteng. Entah bagaimana nanti move on ke kota sebelah. Yang penting kita balik ke hotel dulu.

Sampai di hotel Jhony, ternyata kami tepar semua! Tektok ke Inerie membuat letih raga, meski memuaskan jiwa, halah! Atas kesepakatan bersama, maka kami langgar aturan move on setiap siang. Eksepsi spesial untuk hari ini. Besok pagi saja ke Ruteng-nya.

Kami istirahat dulu. Selamat tidur, para pendaki Inerie...! Dan celana robekku? Ah,mari kita jadikan keset di depan kamar mandi saja, wkwk!


----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Budget :
a. Sewa mobil Riung - Bajawa = Rp. 500.000
b. Hotel Jhony Bajawa = Rp. 170.000/kamar/malam
c. Sewa motor = Rp. 100.000/motor

2 comments:

  1. Alesha11:26 PM

    Wow, Gunung Inerie! Piramida Flores. Ingin banget bisa mendaki ke sana!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Alesha. Ayo nanjak sudah, gak se-ekstrim ceritanya kok medannya, hehe

      Delete