Sunday, November 06, 2016

A Weekend Getaway: Melinjo Island

"Everybody's got a place they go
When the old battery gets running low
I'm a sucker for the sand and sea
If I had my way, hey I'd always be

Way up high in a coconut tree
Laying how, just my baby and me
Sunny sky as far as I can see
High up in a coconut tree.."

(Coconut Tree - Kenny Chesney)

------------------------------------------------------

Karena naik gunung itu capek, maka mari ke pantai saja. Pantai di pulau yang dekat dengan Jakarta, Kepulauan Seribu tentunya. Tapi bukan kami namanya kalau nyari pulaunya yang mainstream saja, haha!

Genk Miangas reunian lagi, tapi minus Dian dan Kusuma. Kini pesertanya aku, Dame, Yuni dan Ester. Tapi ketambahan Rifki temen satu kampungku di Pekalongan serta Kirey, temennya Rifki dari Balikpapan. 

Kami berencana camping di Pulau Melinjo. Salah satu pulau di Kepulauan Seribu yang kabarnya masih jarang dikunjungi dan tidak berpenghuni (tapi ada penjaganya ding). Setidaknya pulau ini tidak sepadat pulau-pulau lain di Kepulauan Seribu yang sering disambangi para pejalan. Melinjo bisa menjadi tempat mencari sepi. Kami tak banyak googling mengenai pulau itu, selama sepi dan tak berpenghuni... tampaknya akan menjadi tempat camping yang cozy. Itu saja! 

Monday, June 06, 2016

Miangas, Adakah Kapal yang Bersandar Hari ini?

"Tampak ombak 
kejar-mengejar menuju karang
Menampar tubuh pencari ikan.
Semilir angin berhembus
Bawa dendang unggas laut
Seperti restui jala nelayan.

Gurau mereka
Oh memang akrab dengan alam
Kudengar dari kejauhan
Dan batu-batu karang,
tertawa ramah bersahabat
Memaksa aku tuk bernyanyi...

(Iwan Fals)

-----------------------------------------

Jika aku diminta menyebutkan daftar perjalanan impian, maka pergi ke Pulau Miangas adalah salah satunya. Bukan karena destinasi wisatanya melainkan letak geografisnya. Miangas adalah pulau terdepan Indonesia di ujung paling utara. Letaknya bahkan lebih dekat dengan negara Filipina dibandingkan dengan jarak ke ibukota kabupatennya sendiri. Filipina menyebut pulau ini sebagai Pulau La Palmas dan pernah diklaim menjadi bagian dari wilayahnya sebelum akhirnya kalah dalam Mahkamah Arbirtrase Internasional.

Letak Miangas (ditandai dengan "pin merah") dalam peta Indonesia

Menginjakkan kaki di Miangas ternyata bukan hanya mimpiku saja, tapi itu juga mimpi Dian, Dame, Yuni, Ester dan Kusuma. Namun tak mudah menuju Miangas. Satu-satunya transportasi menuju ke sana hanyalah menggunakan kapal laut, itupun dengan jadwal yang tidak pasti karena seringkali terkendala kondisi kapal serta cuaca. Satu lagi masalah muncul, apakah hari yang kami jadwalkan pergi ke sana akan sesuai dengan jadwal kapal? Bukan hanya pergi, melainkan juga jadwal pulangnya. 

Saturday, May 21, 2016

Kisah Dari Sangihe

"Pergi ke laut lepas, anakku sayang
Pergi ke alam bebas!
Selama hari belum petang
dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau
................
Kembali pulang, anakku sayang
Kembali ke balik malam!
Jika kapalmu telah rapat ke tepi
Kita akan bercerita
Tentang cinta dan hidupmu pagi hari"
(Surat Dari Ibu - Asrul Sani)

------------------------------------------------

30 April 2016


Aku masih berada di sebuah homestay di Kota Tomohon Sulawesi Utara. Jam 3 pagi aku terbangun. Terpaksa bangun tepatnya. Masih dalam kondisi mata 5 watt dan capek setengah mampus setelah mendaki Gunung Soputan kemarin. Aku baru balik dari gunung jam 9 malam tapi sekarang harus packing dan check out. Pakaian dan sepatu basah sisa pendakian kumasukkan sekenanya saja ke dalam carrier. Taksi akan menjemputku jam 4 pagi nanti menuju Manado. 

"Nggak usah ngebut-ngebut, Pak. Pesawat saya masih jam 7 pagi kok. Saya sengaja berangkat pagi biar nggak terburu-buru." kataku pada Pak Alvin, sang pengemudi taksi. 

Jalanan dari Tomohon ke Manado yang berkelak-kelok serta naik turun tampak sudah sangat diakrabi oleh driver ini. Aku bahkan ketiduran di dalam taksi dan baru terbangun ketika dari jauh kulihat Patung Yesus Memberkati di sebuah bukit di dekat gerbang sebuah perumahan mewah. Ah, sudah sampai Manado kita rupanya. 

Pagi buta, Bandara Sam Ratulangi Manado sudah sedemikian ramainya. Aku langsung check in ke counter Wings Air tujuan Naha. Meski namanya mirip bahasa Jepang, sejatinya Naha adalah bandara di Kota Tahuna, Ibukota Kabupaten Kepulauan Sangihe (sebagian orang lebih akrab dengan kata Sanger atau Sangir) Propinsi Sulawesi Utara. Pagi ini aku akan bergabung dengan teman-temanku yaitu Dian, Yuni, Dame, Ester dan Kusuma untuk bersama menuju Sangihe. Mereka telah berangkat dari Jakarta ke Manado dinihari.  

Saturday, May 14, 2016

Dan...Kudaki Soputan

"They say life is too short
The here and the now
And you're only given one shot.
But could there be more
Have I lived before
Or this could be all that we've got?"
(Dream Theater - The Spirit Carries On)


----------------------------------------------

Aku akan mendaki Gunung Soputan di Minahasa Tenggara. Demikian kuputuskan, saat melihat kalender bahwa aku punya dua hari yang kosong sebelum bergabung dengan Dian, Dame, Yuni, Esther dan Kusuma untuk pergi bersama ke Kepulauan Sangihe-Talaud di Sulawesi Utara. Kukontak Richard, seorang teman asal Tondano yang dikenalkan oleh Dian. Richard bisa menemaniku mendaki Soputan pada tanggal yang telah ditentukan. Aku rindu menggunung. Kerinci adalah gunung terakhir yang kudaki, itupun tahun lalu. Sejak itu, kaki ini sama sekali absen untuk urusan panjat-memanjat.

28 April 2016


Lion Air mendarat mulus di Bandara Sam Ratulangi Manado sekitar pukul 09.30 pagi. Pesawat ini berangkat pagi buta dari Jakarta, aku masih didera ngantuk yang sangat. Dengan taksi, aku menuju Tomohon, tempat meeting pointku dengan Richard.

Manado cerah hari ini. Pak Ardi, supir taksi yang kutumpangi ini dengan ramah berbincang dan menjelaskan tentang jalan yang kami lewati juga tempat-tempat wisata yang seharusnya bisa kudatangi selama di Tomohon nanti

Hujan turun saat taksi ini memasuki daerah Tinoor. Tambah deras ketika sampai Tomohon Kota. Hujanpun tetap mrngguyur saat aku sampai di Homestay Mountain View. Richard sudah menungguku. 

"Tiap hari Tomohon memang selalu hujan, Len. Kita berangkat ke Soputan jika hujan sudah reda nanti" kata Richard.

Friday, April 22, 2016

Jogja Punya Cerita

"Jogja terbuat dari rindu, pulang dan angkringan..."
(Joko Pinurbo)

---------------------

Piknik dadakan di penghujung jadwal off-ku. Nia menjadi teman ngetripku kali ini setelah sekian lama nggak jalan bareng. Malas piknik yang jauh-jauh, maka kita pilih Jogja saja. Meski aku sudah berkali-kali main ke kota itu, tapi bukankah Jogja selalu istimewa? Kebetulan Nia belum pernah ke sana. Yo wis mari kita kemon, ke sebuah kota yang katanya Joko Pinurbo, terbuat dari rindu, pulang dan angkringan.

Sebenarnya dari kampungku di Pekalongan, aku bisa langsung naik travel ke Jogja. Nia sendiri naik kereta dari Jakarta. Tapi aku sengaja ke Stasiun Cirebon Prujakan, mencegat kereta yang dinaiki Nia yang berhenti di sana. Maka kami berdua dipertemukan di gerbong tiga KA Bogowonto pada jumat dinihari. Bersama menuju Stasiun Tugu Yogyakarta. 

Ngobrol tentang apa saja berlatar pemandangan gelap di jendela kereta. Di depan kami duduk suami istri yang mencoba tidur, tapi tampak gelisah dengan posisi tidur yang nggak nyaman.

Ah, tidur yuk Ni! Ngantuk! Tapi saat mencoba memejamkan mata, tiba-tiba terdengar pengumuman dari petugas kereta bahwa sebentar lagi kereta ini akan sampai di stasiun mana gitu dan meminta penumpang yang akan turun di situ bersiap-siap. Pengumuman biasa saja, wajar sesuai prosedur. Tapi suara petugasnya itu lho, bahasa indonesianya berlogat agak sedikit ngapak, cempreng dan keras pula! Aku dan Nia sontak tertawa. Lha gimana bisa tidur, jika di tiap stasiun pemberhentian kami harus mendengarkan suara seperti itu. Wkwk! 

Tuesday, March 29, 2016

Ngelamang di Sumbawa (Bag. 8): Kulari ke Bukit, Lalu Belok ke Pantai

"If I leave here tomorrow,
Would you still remember me.
For I must be traveling on now 
'Cause there's too much places I've got to see..."
(Free Bird - Lynyrd Skynyrd)

------------------------

13 Januari 2016

Kami tinggalkan Alas pagi itu. Sekali lagi terima kasih untuk Paman dan Bibinya Yuli yang telah menampung kami bahkan telah menyiapkan sarapan yang yummy. 

Kubawa motor pelan melewati jalanan Alas ke arah Poto Tano. Saat inilah aku bisa benar-benar menikmati setiap jengkal perjalanan. Membelah perbukitan hijau setengah kekuningan dengan kondisi jalan aspal yang berkelak-kelok. Yuli bilang, aku harus berhenti di sebuah bukit, orang-orang menyebutnya sebagai Bukit Galau. Wow, kekinian sekali namanya. 

"Ambil kanan, Mbak. Sebentar lagi sampai Bukit Galau." kata Yuli 

Aku aktifkan lampu sen kanan, belok dan menepi. Ada areal cukup lapang di situ, sepertinya memang sengaja dibuat untuk tempat parkir. 

Oh, inikah Bukit Galau itu. Nggak begitu tinggi sih. Sejenak berleha-leha di gazebo yang sudah tersedia sambil menikmati pemandangan alam berupa bukit dan dataran hijau yang menghampar juga jalan raya yang berliku. Tak ada yang menggalau di sini saat ini. Ah, siapa juga yang mau menggalau di tempat ini di hari Rabu pagi yang cukup terik begini? Entah mengapa bukit ini dinamai demikian. Mungkin banyak dedek galau yang suka mengusir kegalauan di sini, atau karena bukit ini kerap menyimpan kenangan? Halah!

Akhirnya aku ikutan menggalau di Bukit Galau
Yulipun juga menggalau

Mentari kian terik. Mari lanjutkan perjalanan lagi! Eh, mampir dulu ke tempatnya Komeng di Puskesmas Seteluk. Meluruskan kaki sambil ngopi-ngopi di kantin Puskesmas. 

Hmm, kemana lagi kita? Masih terlalu pagi untuk pulang ke Benete jam segini. Baiklah kita ngelayap ke pantai saja. Kami melihat ada petunjuk arah dengan tulisan "Pantai Kertasari" tak jauh dari kota Taliwang. Capcus dah! Ini bakal jadi destinasi baru juga untuk Yuli.

Tapi ternyata...Pantai Kertasari itu berada jauuuh (dengan u yang banyak) dari Taliwang. Beneran. Kami melewati banyak perkampungan, persawahan, jalan yang naik turun, jalan yang baru di aspal, dan masih belum sampai juga. Kita bahkan sempat bertanya beberapa kali ke penduduk untuk memastikan bahwa kami berada di jalan yang benar. Dan yup, akhirnya kami menemukan sebuah gapura dengan tulisan semacam Selamat Datang di Desa Kertasari. Akhirnya! 

Kami sampai di sebuah perkampungan nelayan di pinggir pantai. Terdapat juga gubuk-gubuk tempat para petani rumput laut melakukan kegiatan menjemur dan memilah-milah hasilnya. Tapi pantainya cenderung kotor di situ, banyak sisa-sisa rumput laut yang terbawa ombak sampai daratan. Pelan kujalankan motor lagi menjauh dari perkampungan, mencari pemandangan lain lagi. Kami berhenti di tepi pantai yang sepi. Laut sedemikian biru. Tampak gulungan ombak besar nun jauh di sana.


Ombak Pantai Kertasari
Masih di Pantai Kertasari
Rumput laut sedang dijemur
Sudut kampung
Petani rumput laut dan keluarga sedang memilah rumput laut

"Yul, kalau kita punya duit banyak, kita beli aja tanah di sini. Kita bangun penginapan." kataku. Iseng aja sih, lha duit dari Hongkong? Hahaha!
"Betul Mbak, pantai ini belum dikelola. Tuh lihat ombak besar di sana, bagus pasti untuk surfing" timpal Yuli.

Kenapa kami tiba-tiba mikir gini? Karena kami berdua melihat sebuah rumah keren dari kayu yang sedang dibangun persis di depan pantai. Meski mungil, tapi eksteriornya cakep gila! Ada tamannya, terus semacam cafe outdoor, bahkan hammock! Sepertinya tempat ini dimiliki oleh bule, sekelibat kami melihat sosoknya sedang mengawasi pekerjaan para tukang. Mau ngambil foto rumah itu, tapi nggak enak euy! Haha!

Kami melanjutkan perjalanan lagi, kembali ke Taliwang. Masih ingin ngelayap lagi dan belum mau pulang. Yuli menyebutkan nama sebuah pantai lagi, Pantai Balat namanya. Pantai Balat ini terletak di pinggiran Taliwang, sudah ada papan petunjuknya dari kota, tinggal ikuti saja.

Sesampainya di Pantai Balat, tak ada retribusi, langsung masuk saja ke area pantainya. Banyak warung di pinggiran pantai, meskipun kebanyakan tutup karena mungkin akan sedikit pengunjung di hari biasa seperti ini. Untuk pantainya sendiri, aku cukup terkesan karena bersihnya. Balat adalah pantai berpasir hitam dengan bukit-bukit cantik di sisinya.


Bermain pasir di Pantai Balat
Pantai Balat yang sepi

Edisi nge-pantai belumlah selesai. Ada satu pantai lagi kata Yuli yang bisa kita sambangi sekalian pulang ke Benete, yaitu Pantai Jelengah. Yo wis, hajar sekalian saja.

Pantai Jelengah ini terletak di Kecamatan Jereweh. Jalan menuju ke sanapun cukup seru, dan lagi-lagi jalanan ini seperti milik kami saja karena praktis nggak ada orang lain yang melewatinya. Tak cuma jalanannya, tapi pantainya pun....serasa milik pribadi. Berpasir putih, bersih.

Menyusur pantai, menghidupkan kenangan
Pantai Jelengah 

Langit mendadak gelap saat kami beranjak pergi dari Pantai Jelengah, sepertinya akan hujan. Dalam perjalanan pulang, hujanpun turun. Ah, kami nggak bawa jas hujan! Maka inilah ending dari perjalanan seruku di sebagian Sumbawa. Hujan-hujanan di atas motor melewati jalanan Jereweh menuju Benete.

Besok pagi, kapal Tenggara Satu akan membawaku ke Lombok, lalu terbang ke Jakarta pada hari yang sama. Terima kasih banyak untuk Yuli dan keluarga. Juga teman-teman baru yang kukenal di sana, Wiwin, Komeng, Irwan dan Maulidin.

Satu minggu yang sungguh mengesankan! Sumbawa memang tak pernah mengecewakan. Dan kini, telah kuserak lagi kenangan. Sampai jumpa lagi, kawan!

Di Pelabuhan Benete, sebelum pulang


-------------------------------THE END --------------------------

Monday, March 21, 2016

Mengintip #WonderfulEclipse di Bumi Sriwijaya

"Dua puluh tahun dari sekarang, Anda akan merasa lebih menyesal atas hal-hal yang belum dilakukan daripada hal-hal yang telah dilakukan. Maka, lepaskanlah pengikat perahumu, berlayarlah dari pelabuhan kenyamananmu. Tangkap angin yang akan mendorongmu untuk berlayar. Carilah. Mimpikan. Temukan." ~ Mark Twain ~


Masih subuh saat aku keluar dari hotel tempatku menginap yang berjarak sekitar satu kilometer dari Jembatan Ampera. Seorang tukang becak yang mangkal di depan hotel menawariku untuk mengantarkan sampai ke dekat jembatan. Dengan halus aku menolak tawarannya. Aku bisa berjalan kaki ke sana, anggap saja olahraga. Lagipula jalan menuju Jembatan Ampera telah ditutup sejak semalam.

Banyak kendaraan terparkir di sepanjang jalan hingga Masjid Agung Palembang. Jalan raya sudah sedemikian ramainya meskipun pagi buta. Orang berduyun-duyun menuju Jembatan Ampera yang telah disiapkan sebagai pusat berkumpulnya masyarakat untuk menyaksikan Gerhana Matahari Total (GMT). Benar saja, jembatan yang merupakan tengara terkenal di Palembang ini telah riuh dipenuhi warga dan media. 

Entah berapa banyak manusia yang tumpah ruah menyaksikan gerhana di tempat ini dari berbagai usia dan bangsa. Beberapa stasiun televisi tampak sibuk menyiapkan liputannya. Para fotografer lengkap dengan lensa telenya sudah berjajar di tepian jembatan memastikan mereka bisa menangkap momen gerhana di titik yang sempurna.

Mengapa aku memilih Palembang di antara 11 kota lainnya di Indonesia yang dilewati gerhana matahari total pada tanggal 9 Maret 2016 ini? Alasan pertama adalah karena aku belum pernah ke Palembang. Alasan lainnya adalah karena Pemerintah Daerah Palembang kelihatannya sangat merencanakan kegiatan ini dengan baik. Menyiapkan festival hingga menunjuk titik utama pengamatan gerhana yaitu di atas Jembatan Ampera. Pas sudah!


Jembatan Ampera, 9 Maret 2016, sebelum GMT

Langit pagi mulai terang. Semoga cerah. Dari atas Ampera, Sungai Musi terlihat sibuk dengan aktivitasnya. Kapal-kapal bergerak mengangkut orang, logistik bahkan batubara. Tak hanya jembatan saja yang dipenuhi masyarakat yang ingin melihat gerhana. Di Benteng Kuto Besak di seberang hilir jembatan juga tak kalah ramainya. Magnet gerhana matahari total mampu menyihir semua orang untuk menyaksikannya. Tak perlu takut melihat gerhana, inilah relasi manusia dengan alam semesta.

Aku duduk di pinggir trotoar, membaur dengan warga. Kulihat beberapa orang telah menyiapkan kacamata gerhana beraneka bentuk dan warna. Tapi kuakui bahwa masyarakat kita memang sangat kreatif. Selalu ada jalan untuk menggantikan kacamata gerhana keluaran pabrik yang harganya cukup mahal. Ada yang menggunakan hasil foto rontgen besar yang mereka persiapkan sebagai pelindung mata. Bukan saja foto rontgen, bahkan klise foto jaman dulu juga hadir kembali tapi beralih fungsi. Berderet momen human interest di sekitarku ini benar-benar istimewa!

Nak, kan kutunjukkan satu fenomena alam padamu...
Menikmati gerhana dari balik foto rontgen
Melihat gerhana dari balik klise foto

"Mana gerhananya, Ayah?" tanya seorang anak kecil kepada ayahnya. Mereka duduk di sebelahku. 
"Sebentar lagi. Nanti pakai ini ya saat melihat gerhana." kata si Ayah.

Sang Ayah memberikan sebuah kotak karton kecil pada putrinya. Kotak pinhole kurasa.

"Bikin sendiri, pak?" tanyaku membuka obrolan. 
"Ya, mbak. Lumayan, jadi nggak usah beli kacamata gerhana"  jawabnya

Mana gerhananya, Ayah? 

Sesuai perkiraan, proses gerhana matahari total di Kota Palembang ini dimulai sekitar pukul 06.20 WIB. Dari balik kacamata gerhana, sempat kulihat proses saat bulan sedikit demi sedikit menutupi matahari. Tapi sayangnya hanya bisa dinikmati sebentar saja. Langit di sekitar Ampera berselimut awan. Sesekali awan pergi namun datang kembali. Begitu seterusnya. Banyak yang kecewa, termasuk aku. Padahal tempat ini digadang-gadang sebagai lokasi yang bagus untuk menyaksikan gerhana. Orang-orang kemudian menunjuk cerobong asap pabrik Pusri yang tampak mengeluarkan asap nun jauh di sana. Entahlah, aku tidak dapat menyimpulkan apakah hal tersebut turut berkontribusi terhadap tertutupnya matahari pagi ini.

Gumpalan awan menutupi matahari

Pukul 07.20 WIB, menjelang matahari benar-benar berada segaris dengan bulan, langit perlahan berubah menjadi gelap. Lampu Jembatan Ampera tiba-tiba menyala. Suasana pagi yang awalnya terang benderang terlihat seperti waktu maghrib. Suhu udara mendadak menjadi dingin. Sungguh sebuah perubahan yang dahsyat! Orang-orang berteriak, bersorak, sebagian bertakbir dan bertasbih. Mulutku tercekat. Aku terpaku selama hampir dua menit menyaksikan itu. Segala puji bagi-Mu, Tuhan Semesta Alam!


Jembatan Ampera, 9 Maret 2016, pukul 07.20 pagi!!!
Mengabadikan kegembiraan

Awalnya cukup kecewa dengan proses gerhana dan korona yang tak bisa terlihat, padahal aku sudah jauh-jauh datang ke Palembang khusus demi ini. Tapi peristiwa selama dua menit tadi telah membayar lunas semua. Momen merasakan sensasi perubahan terangnya pagi menjadi seperti malam, bersama ribuan pasang mata di atas Jembatan Ampera, wow...luar biasa! Ini tak terlupakan!

Gerhana berlalu. Jembatan Ampera kembali menggeliat dipenuhi lalu lalang kendaraan yang lewat. Di bawahnya, mengalir Sungai Musi, nadi kehidupan kota ini. Aku pulang dengan membawa banyak kenangan dan tentu saja...Pempek Palembang!


Jembatan Ampera dan aktivitas Sungai Musi

Friday, March 18, 2016

Ketika Minyak Tak Lagi "Manis"

"Bukankah selamanya, kasih sayang itu tak menyadari kedalamannya sendiri, sampai datang saat berpisah..." (Kahlil Gibran)

Terus terang, aku benci  menulis deretan kalimat di atas itu. Indah memang quote tersebut, tapi ngilu rasanya.

Enam tahun lebih aku bekerja di lapangan migas lepas pantai. Bekerja di berbagai barge ataupun rig dengan jadwal on-off yang melenakan. Menikmati sunrise dan sunset terindah, bertemu dan bekerja dengan banyak kawan yang luar biasa. Ah, minyak memang "manis", tapi tidak untuk setahun belakangan ini. 

Kini keadaan telah berubah...

Perusahaan tempatku bekerja tentu saja menyikapi perubahan yang terjadi. Memang tak ada kata efisiensi secara eksplisit, tapi kurang lebih maknanya sama meski diplintar-plintir dengan istilah re-organisasi. 

Detik-detik menunggu sebuah pengumuman. Entahlah, seharusnya aku nggak perlu secemas itu. Toh, selama ini saya tak pernah merencanakan atau mentargetkan hidup, apalagi karir. Ibaratnya ngalir saja hingga mbleber kemana-kemana juga bodo amat. 

Di depan masih gelap, apapun bisa terjadi. 

Mari kita nikmati saja hari ini, dengan secangir kopi, masih memakai coverall warna biru, di tengah lautan maha luas tak bertepi. Aku tahu, kelak akan kurindukan semua ini...

Dan satu persatu email "pamitan" itu ada. Bisa saja besok adalah giliranku. Entahlah...

Monday, March 07, 2016

Ngelamang di Sumbawa (Bag. 7) : Agal & Bungin, Here We Come!

"Bila kita tak segan mendaki lebih jauh lagi
Kita akan segera rasakan
betapa bersahabatnya alam
Setiap sudut seperti menyapa
Bahkan teramat akrab
Seperti kita turut membangun
Seperti kita yang merencanakan..."
(Ebiet G. Ade - Senandung Pucuk-Pucuk Pinus)

-----------------------------------------------------------------------

12 Januari 2016

Pagiku yang kesekian hari di Benete. Pagi yang selalu disuguhi pemandangan bukit hijau di belakang rumah Yuli. 

Pukul 07.00 WITA, aku dan Yuli memulai perjalanan piknik hari ini. Dengan motor matic Suzuki Nex kami lalui jalanan Benete, melewati Jereweh, Taliwang hingga Seteluk. Jalanan yang sama yang kami lewati saat menuju Poto Tano dua hari yang lalu. Komeng yang sudah standby di Puskesmas Seteluk, siap menjadi teman sekaligus guide trip kami ke Kecamatan Alas Kabupaten Sumbawa. Kami akan pergi ke Air Terjun Agal di Marente serta Pulau Bungin. Perjalanan yang cukup jauh!

Yuli mbonceng Komeng dan aku bersolo motor sendiri. Lagi-lagi melewati jalanan yang sama seperti saat ke Poto Tano, tetapi di sebuah pertigaan (sebelum pelabuhan) kami ambil arah kanan. Aku terhenyak dengan pemandangan keren yang kulewati menuju Alas ini. Jalanan aspal bagus yang sepi, membelah perbukitan hijau semi kekuningan. Ingin rasanya aku mengendarai motor ini dengan pelan sekali dan menikmati tiap jengkal keindahan yang menghampar. Tapi Komeng ngebut banget sehingga mau nggak mau aku yang di belakangnya juga harus mengimbangi dengan kecepatan sama biar nggak ketinggalan jauh.

Maka setelah berjibaku di atas motor sekitar 30 km melewati jalanan yang tentu saja baru pertama kusambangi, kami sampai di Alas. Tujuan pertama kami adalah ke Desa Marente, tempat dimana air terjun Agal berada. Desa ini berada sekitar 6 km dari pusat Kecamatan Alas.

Jalan aspal mulai berubah menjadi jalanan desa berbatu. Pemandangan pegunungan juga nampak hijau di depan. Kami sudah berada di Desa Marente. Mampir ke rumah Bang Erik, warga desa kenalan Komeng, sekaligus menitipkan motor di sana. Bang Erik juga akan menemani kami trekking ke air terjun Agal. Sebenarnya di Desa Marente ini terdapat setidaknya tiga air terjun yang masih tersembunyi di pekatnya belantara, yaitu Agal, Seketok (1 dan 2) serta Sebra. Tapi kami hanya akan ke Agal saja karena mempertimbangkan waktu tempuh dan sebagainya

Dari rumah Bang Erik, kami jalan kaki menuju sebuah sungai. Orang kampung menyebutnya sebagai sungai besar, itu saja. Arusnya cukup deras, licin dengan ketinggian sekitar lututku. Untuk menuju air terjun kami harus menyeberangi sungai besar itu.

Sekarang saatnya trekking menembus rimba raya Marente melewati jalan setapak. Treknya sesekali nanjak, berseling dengan datar. Ah, terus terang aku rindu dengan suasana seperti ini, sedap dipandang mata saking hijau dan rimbunnya. Sesekali kami beristirahat, meluruskan kaki. Ayo Yuli, kamu bisa! Haha! 

Sudut cantik di Sungai Besar
Ngaso di bawah pohon rindang
Mari foto bersama
Banyak komunitas jalan-jalan di Sumbawa dan penggiat alam yang sudah mengeksplor keindahan Marente, termasuk Komunitas Ngelamang+ dimana Komeng aktif di dalamnya. Mereka bekerja sama dengan warga desa (seperti Bang Erik ini) untuk ikut mengembangkan wisata di wilayah ini.

Petunjuk arah menuju air terjun dapat kita temui di beberapa titik, tapi agak-agak rawan nyasar juga sih sebenarnya, hehe! Untuk tempat istirahat, terdapat dua  pos tempat istirahat di area yang datar dan cukup lapang. Sayangnya, masih saja ada orang yang membuang sampah seperti bekas motol minuman dan makanan sembarangan. Thanks untuk Bang Erik, yang dengan sukarela ngambilin sampah-sampah tersebut.

Istirahat dulu, kakak
Istirahat lagi, kakak

Nyaris sampai di Pos 2 ketika sepatu kets yang dipakai Yuli solnya lepas! Sepatunya sudah minta pensiun karena lelah dimakan zaman, Yul! Haha! Untungnya Yuli membawa sandal yang disimpan di dalam ranselnya, meski itu hanya berupa sandal jepit dan berwarna merah jambu pula! Hati-hati aja, Yul. Licin pastinya pakai sandal begitu melewati jalanan begini. Ini tandanya kamu perlu beli sandal gunung ya, kan sudah mulai doyan trekking :-)

Kami berjalan lagi menembus hutan. Sesekali melewati sungai-sungai kecil. Suara gemuruh air terjun mulai sayup terdengar.

Setelah trekking hampir dua jam, akhirnya sebuah air terjun megah, tinggi sekali, dengan aliran air yang deras serta bertingkat terpampang nyata di depan mata kami. Inilah air terjun Agal. Cantik sekali! Cantik dan sepi. Yakin dengan pasti bahwa aku bisa betah berlama-lama di sini. Sederhana saja, duduk di atas batu sambil menikmati riuh sunyi suara alam sekitar. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam....

By the way, selamat Yul! Meski dengan sandal imut warna pink itu kamu berhasil menembus sampai air terjun Agal, ckck!


Jepretan untuk Agal (1)

Jepretan untuk Agal (2)

Jepretan untuk Agal (3)

Jepretan untuk Agal (4)

Diawali gerimis yang kemudian berubah menjadi hujan akhirnya membuat kami harus segera meninggalkan Agal. Agal dengan segenap kesunyiannya...

Kami telusuri lagi jalan yang sama saat berangkat tadi. Jika tadi trekking nyaris dua jam, kini cukup satu jam saja untuk turun. Ya iyalah, kan turun! Sepanjang jalan, hujan tak kunjung berhenti bahkan semakin deras. Ah, kami harus menyeberangi sungai besar itu lagi!

Kulari ke hutan, lalu kusebrang sungai ;p

Dua gadis desa yang asyik mandi di sungai ;p
Kami istirahat sejenak di sebuah pondok di tepi sungai. Ceritanya pengen nunggu hujan reda. Tapi hujan semakin menjadi. Kondisi kami sudah basah begini, ya sekalian sajalah. Maka kami putuskan tetap pulang kembali ke rumah Bang Erik sambil hujan-hujanan lagi.

Marente masih tetap hujan saat kami pamit pulang ke Bang Erik dan meneruskan perjalanan lagi. Masih ada satu tempat yang akan kami kunjungi yaitu Pulau Bungin yang terletak di bagian utara Alas. Tapi hal yang paling bikin nyesek adalah...sesampai di Alas malah nggak hujan sama sekali. Maka kami bertiga pasti tampak seperti tiga manusia yang aneh sekali, kondisi basah kuyup di atas motor tetapi melewati jalanan ke arah Pulau Bungin yang kering kerontang!

Sedikit cerita tentang Pulau Bungin. Pulau kecil ini masih bagian dari Kecamatan Alas Kabupaten Sumbawa. Hampir seluruh penduduk di pulau tersebut berasal dari Suku Bajo Sulawesi Selatan yang telah hidup di pulau itu secara turun temurun. Pulau ini dijuluki sebagai pulau terpadat di dunia, hampir tak ada lahan yang tersisa karena daratannya dipenuhi oleh rumah-rumah penduduk. Kepadatan penduduk jugalah yang membuat pulau ini tak memiliki garis pantai karena sepanjang pesisirnya dibangun menjadi tempat tinggal. Bahkan warga yang hendak membangun rumah baru harus menguruk lautan dengan karang, ya semacam reklamasi jadinya. Hal ini menjadikan luas Pulau Bungin menjadi bertambah luas seiring bertambahnya rumah.

Satu hal yang bikin aku ngebet banget ke Bungin adalah kabarnya karena saking padatnya pulau, bahkan kambing-kambing di pulau itu sampai makan kertas karena tak ada rumput sama sekali di pulau karang tersebut. Gila!


Padatnya Pulau Bungin (sumber: www.kompas.com)

Dari Pasar Kecamatan Alas menuju Bungin ternyata masih cukup jauh, jalannya berupa jalan tanah yang dipadatkan. Aduh Komeng, kenapa kamu ngebut banget sih bawa motornya? Aku jadi kepontal-pontal mengejar laju motormu, mana jalannya nggak rata pula! Komeng bilang sekarang sudah ada jalan kecil yang menghubungkan Pulau Sumbawa dengan Pulau Bungin, jadi nggak perlu pakai perahu untuk menyeberang ke pulau itu.

Finally, pemandangan berupa rumah-rumah penduduk di seberang sana mulai kelihatan. Sebuah jalan besar dengan gerbang bertuliskan "Selamat Datang di Pulau Bungin" menanti di depan kami. Bungin yang sekarang ternyata sudah berbeda. Laut di sekitar pulau telah direklamasi dengan cukup luas sehingga Bungin sepertinya tak cocok lagi jika disebut pulau karena ia menjadi tak terpisah dengan Pulau Sumbawa. Hasil dari reklamasi itu sendiri menjadikan tempat ini punya cukup luas lahan kosong di sekitar area gerbang. Tapi mari kita lihat bagian dalamnya, Bungin yang sebenarnya! Dan Kambing yang makan kertas pastinya :-)

Bungin sudah kelihatan!

Selamat dating di Pulau Bungin

Beriringan motor, kami memasuki kampung. Beneran ternyata, pulau ini padat sekali. Rumah-rumah berdiri berhimpitan. Rata-rata berupa rumah panggung. Beberapa di antaranya bahkan bukan berdiri di atas tanah, melainkan dibangun di atas tumpukan karang. Untungnya, masih terdapat jalan utama yang menghubungkan tiap sudut kampung. Kami memarkir motor di dekat pelabuhan penyeberangan yang masih difungsikan sampai saat ini sebagai pelabuhan bagi nelayan.

Dengan berjalan kaki kami mengelilingi kampung. Tampak anak-anak kecil berlarian, remaja tanggung main bola di sebuah lapangan kecil di sebelah masjid (untung masih ada lapangan ya!), Bapak-Bapak yang sedang main catur di depan rumah serta Ibu-Ibu yang berkumpul di dekat warung. Denyut kehidupan warga tampak normal di sini. Mataku tergoda oleh kilatan warna pisang goreng yang dijual di sebuah warung di pinggir jalan. Tapi nggak jadi beli gara-gara tetiba mikir bagaimana masyarakat di sini beraktivitas di sebuah pulau reklamasi karang tanpa sumber air bersih dan drainase yang.. ya gitu deh :-(

Kami berhenti sejenak di depan sebuah warung. Ngobrol dengan Ibu pemilik warung yang tampak wah dengan perhiasan emas kuning yang hampir memenuhi telinga, leher dan tangannya. Eh, ada kambing-kambing pula di dekat warung ini, pas sudah! Mari kita buktikan apakah kambing-kambing di sini memang beneran doyan sama kertas.

"Jika saya menggeletakkan buku sembarangan, bisa habis dimakan kambing" kata si Ibu sambil menunjukkan segepok buku tulis baru.
"Tak hanya kertas, tapi uang juga dimakan" tambah si Ibu.

Waduh, serius? Bahaya ini! Komeng segera mengeluarkan uang kertas seribuan dari dompetnya. Mau ngetes dia! Tapi apa yang terjadi saudara-saudara? Kambing-kambing itu menolak mentah-mentah! Lalu si Ibu mengeluarkan uang kertas dua puluh ribu, dan...kambing-kambing itu segera mendekat dan nyaris memakan uang dua puluhan ribu itu jika si Ibu tidak cepat-cepat menariknya! Sialan, ternyata kambingpun tahu harga mata uang, wkwk!

Sudut Bungin

Para penggemar Gudang Garam Merah

Masih ngemut Gudang Garam Merah

Kami lalu menyodorkan kertas bungkus rokok (entah merk apa) yang teronggok di dekat dinding warung. Para kambing tampak cuek saja dan tak tergoda. Tapi ketika kami sodorkan kertas bungkus rokok Gudang Garam merah, wow... kambing-kambing itu saling berebutan! Kertas bungkus selop rokok gudang garam memang baunya agak lain, lanjut si Ibu. Wkwk, ada-ada saja.

"Meskipun makan kertas, kambing-kambing di sini sehat-sehat saja" terang si Ibu.

Aku tinggalkan Pulau Bungin dengan banyak tanda tanya. Entahlah. Peradaban manusia telah membuat kambing di Bungin beradaptasi atau bahkan ber-evolusi terhadap jenis makanannya serta sistem pencernaannya. 

Hari sudah semakin sore. Kami temui senja di jalanan Alas. Yuli menyarankan untuk menginap di rumah Paman dan Bibinya di Kecamatan Alas karena perjalanan pulang ke Benete masih sangat jauh dengan kondisi jalanan yang gelap dan sepi. Aku sih yess saja. Sudah terlalu capek juga.

Komeng pulang ke Seteluk malam itu setelah Paman dan Bibinya Yuli menyuguhi kami makan malam dengan menu khas Sumbawa yang lezat sekali. Makasih ya Meng, sudah nemenin kami ngetrip seharian ini. Makasih tak terhingga juga untuk Paman dan Bibi yang sudah menampung aku dan Yuli malam ini :-)

Aku tepar, tapi masih kuingat betul cantiknya Agal dan uniknya Pulau Bungin....

Kisah selanjutnya di Ngelamang di Sumbawa (Bag. 8): Kulari ke Bukit, Lalu Belok ke Pantai

Saturday, February 20, 2016

Ngelamang di Sumbawa (Bag. 6): Mengenang Maluk

"I walked across an empty land
I knew the pathway like the back of my hand
I felt the earth beneath my feet
Sat by river and it made me complete
Oh simple thing where have you gone?
I'm getting old and I need something to rely on
So tell me when you're gonna let me in
I'm getting tired and I need somewhere to begin..."
(Keane - Somewhere Only We Know)


---------------------------------------------------------------------------------------

11 Januari 2016

Ternyata kami tepar!

Seharusnya pagi ini aku dan Yuli sudah janjian dengan Komeng untuk jalan-jalan ke Air Terjun Agal. Tapi apa daya, totalitas perjalanan dua hari kemarin cukup membuatku dan Yuli menyerah capek. Kami malas bangun, kepala Yuli juga pusing. Haha! Apalagi perjalanan ke air terjun Agal bukan trip yang gampang. Air terjun itu terletak di Alas di Kabupaten Sumbawa, bukan lagi Sumbawa Barat. Dari Poto Tano masih ke timur lagi. Untuk sampai air terjun itu bahkan harus trekking sekitar 1- 2 jam dari desa terdekat. Whaladalah, gempor-gempor dah! Ya sudah, kita lanjut bobok saja kalau begitu. Tapi sebelumnya, kami kirim pesan singkat ke Komeng untuk menunda perjalanan ke Agal sampai besok saja. Komengpun setuju. 

Tapi aku dan Yuli nggak betah lama berleha-leha. Siangnya kami motor-motoran lagi. Lho kok? Tapi yang dekat-dekat saja, ke Maluk.

Pantai Maluk adalah tujuan kami siang ini. Banyak kenangan berserak di tempat ini yang ingin kutelusur lagi. Dulu waktu masih kerja di Sumbawa, aku tinggal di mess perusahaan (kos-kosan yang dijadikan mess) di daerah Maluk ini. Jarak mess yang cukup dekat dengan Pantai Maluk, menjadikanku sering menghabiskan sore di sana. Itu dulu, saat aku masih mencintai laut...

Maka kini kuarahkan motor ini ke sana, ke Pantai Maluk. Lagi-lagi samar kuingat jalanan ini, aroma pantai dan pasirnya. Inikah pantai itu, tempat dimana aku kerap menunggu senja delapan tahun lalu? Ia tetap indah meski agak berubah. Dulu banyak gazebo dan belum ada beton-beton penyangga yang dipasang di tepi pantai untuk menghalau ombak saat laut pasang.

Aku rindu menjejakkan kaki di pasir putihnya
Maluk yang biru, sebiru Januari...

Siang ini adalah milik Pantai Maluk dengan segenap nostalgia, sepuasnya! Sambil menyantap ikan bakar dan Sepat (makanan khas Sumbawa) yang rasanya asem-asem seger, endesslah pokoknya!

Makan siang dulu, kakak!


Kami geber lagi motor menelusuri jalan kecil menuju sisi bukit dan berharap mendapatkan view pantai yang berbeda. Tapi ternyata nggak ada karena jembatan di atas sungai yang tembus ke laut itu putus. Oke, kita cari jalan lain lagi.

Di tengah panas terik, kami balik ke jalan besar Maluk lalu masuk gang yang masih berupa jalan tanah berbatu. Jalan ini juga akan tembus ke Supersuck. Keren ya namanya? Para peselancar memberi nama ombak di tempat itu sebagai supersuck.

Only coming through in waves

Sisi lain Pantai Maluk

Tapi jalan menuju Supersuck itu bener-bener suck! Jalan tanah bergelombang berbatu, nanjak ataupun turun nggak karuan yang bisa bikin roda motor ini selip jika salah pilih jalur sedikit saja. Tapi akhirnya dengan selamat sentosa kami sampai juga di Supersuck hotel. Yuli bilang, ada cafe kecil di hotel itu. Sudah terbayang di depan mata dan tenggorokan, minum es jeruk atau coca cola dingin di siang hari yang panasnya ampun-ampunan ini.

Kami berdua masuk. Tapi kok hotelnya sepi ya. Kami clingak-clinguk mengamati sekitar. Dan tiba-tiba, terdengar  suara gonggongan anjing yang super keras mengagetkan kami. E...kawannya datang lagi, gonggongan anjing bertambah dan bersahut-sahutan sambil menyeringai dengan tatapan buas. Mampus gue! Lariii...!!! Untungnya di tengah kondisi yang mencekam tadi, kami diselamatkan oleh suara mbak-mbak penjaga hotel yang memanggil nama anjing-anjing tadi sehingga mereka bisa diam. Alhamdulillah....! Mbak-mbak penjaga bilang pada kami agar jangan lari. Waduh mbak, gimana nggak panik coba? Nyaris copot jantungku tadi, seumur-umur baru kali ini dikejar anjing, wkwkw!

Tapi es jeruk atau coca cola dingin sebagai obat penenang setelah dikejar-kejar anjing nyatanya tak bisa kami nikmati di tempat ini. Hotel dan cafe-nya tutup karena sedang direnovasi dan baru buka lagi sekitar bulan April nanti. Walah! Maka dengan gontai, kami melangkah menuju sebuah bangku panjang di tepi pantai yang terkenal akan ombak supersuck-nya ini. Botol minumku tinggal setengah terisi dan kami habiskan berdua. Hah, atur nafas dulu...

Sepi, nggak ada anjing ;p
Peace dulu ah! 
Setelah cukup puas melihat laut biru dan supersuck dari kejauhan, pelan kami langkahkan kaki keluar dari area hotel.  Bismillah, jangan sampai dikejar anjing lagi! Haha! Kami pulang dan meninggalkan Maluk di belakang.

Eh, mampir ke warung plecing kangkungnya Mbak Marni yang legend itu dulu ah! Kangen! Sambil membawa motor, sayup terngiang kalimat indah dari penyair Aan Mansyur : "Masa lalu tidak pernah hilang. Ia ada tetapi tidak tahu jalan pulang. Untuk itu ia menitipkan surat-kadang kepada sesuatu yang tidak bisa kita duga. Kita menyebutnya kenangan."  Ya, Maluk tetap akan kukenang, ia menjadi bagian yang tak lekang. Demikian pula dengan plecing kangkung berbumbu tomat, cabe, kacang serta teman-temannya ini, hmm...istimewa!  

This is it, the one and only Plecing Kangkung

Kisah selanjutnya di Ngelamang di Sumbawa (Bag. 7): Agal & Bungin, Here We Come!


---------------------------------------------------------

Monday, February 15, 2016

Ngelamang di Sumbawa (Bag. 5): Satu Lagi, Aik Banyu!

"When you're on a holiday, You can't find the words to say
All the things that come to you, And I wanna feel it too
Oh an island in the sun, We'll be playing and having fun
And it makes me feel so fine, I can't control my brain
We'll run away together
We'll spend time forever
We'll never feel bad anymore..."
(Weezer - Island In The Sun)

-----------------------------------------------------------------------------------

10 Januari 2016

Terlalu pagi untuk menyelesaikan perjalanan ini, maka ada satu destinasi lagi. Kami akan menuju Air Terjun Aik Banyu yang terletak di Desa Lamuntet Kecamatan Brang Rea Sumbawa Barat. Kata mbah google maps, jaraknya kurang lebih 49 km jika dimulai dari Pelabuhan Poto Tano ini. Formasi belum berubah, masih ada kami berenam yaitu aku, Yuli, Wiwin, Irwan, Komeng dan Mauliddin. Ayo kita motor-motoran lagi!

Dari Taliwang, kami mengambil arah ke timur, mendaki gunung, lewati lembah. Pokoknya jauhlah! Si Komeng yang tahu tempatnya, kami cuma followernya, dan percaya saja bahwa perjalanan ini nggak akan mengecewakan. Awas ya, jika nanti air terjunnya nggak seindah foto-fotomu itu, haha!


Awas ada geng motor lewat ;p

Minggir-minggir, geng motor lewat lagi!

Kami sampai juga di Kecamatan Brang Rea. Melewati jalanan desa yang sebagian sudah bagus, sebagian lagi belum. Bahkan beberapa kali motor ini harus menyeberangi beberapa aliran sungai kecil. Tapi akhirnya kami menyerah ketika harus menyeberangi sebuah sungai yang cukup besar sebelum sampai ke air terjun yang kami tuju. Arusnya cukup deras untuk dilewati motor dan kedalaman airnya nyaris mencapai lututku. Akhirnya kami memutuskan untuk memarkir motor di dataran yang cukup lapang di pinggiran sungai saja, lalu jalan kaki menuju air terjun itu.

"Air terjunnya sudah dekat, nggak sampai lima menit sudah sampai kok" kata Komeng sambil menyeberang sungai. 

Serius cuma lima menit? Kok suara gemuruhnya belum kedengeran? Aduh, mana setelah nyebrang sungai ternyata jalannya agak menanjak dan cukup licin.. Lima menit dari hongkong? Wkwk! Tapi bukankah keindahan memang kerap tersembunyi dan selalu layak diperjuangkan di setiap jengkal menuju arahnya? Aih!

Maka di antara rimbunan pohon tinggi, air terjun itu mulai kelihatan. Air terjun Aik Banyu ini bukan tipikal air terjun tinggi yang membuat kita ternganga dan kepala mendongak saking dahsyatnya. Tapi dalam kesederhananaan tampilan minimalisnya serta desau airnya, ia bisa menjadi suara alam yang cukup merdu. 

Tak ada retribusi apapun untuk masuk ke kawasan air terjun ini. Terdapat beberapa baruga atau gazebo untuk tempat istirahat atau sekedar leyeh-leyeh. Kulihat beberapa motor pengunjung lain terparkir di sini (khusus untuk mereka yang punya nyali membawa motor menerjang derasnya air sungai di belakang tadi). Eh iya, habis camping dari Kenawa masih bau iler semua kan, ayo mandi sana!


Salto lagi yuk...!
Pura-pura duduk, padahal tidur ;p
Anggap saja kita lagi sauna & spa ;p

Sudah basah semua, saatnya pulang! Membungkus Aik Banyu dalam petualangan terakhir kita berenam hari ini. Kami berpisah di sebuah pertigaan jalan. Komeng dan Mauliddin pulang ke arah Seteluk. Sedangkan aku, Yuli, Wiwin dan Irwan pulang kembali ke Benete. Terima kasih semuanya, telah menjadi teman perjalanan yang seru. Aku teringat sebuah sebuah quote keren bahwa life was meant for good friends and great adventures! Dan bersama kalian, Sumbawa Barat benar-benar menjadi istimewa!

Indonesia itu indah, jangan cuma di rumah, My trip....maemunah! Haha, jadi ingat para host sebuah acara jalan-jalan yang mengucapkan kalimat sakti itu berkali-kali dalam setiap scene-nya. Lalu apakah trip Sumbawa ini sudah berakhir? Tentu saja belum, kakak! Masih ada hari, masih banyak cerita!

Cerita selanjutnya di Ngelamang di Sumbawa (Bag. 6): Mengenang Maluk