Friday, April 22, 2016

Jogja Punya Cerita

"Jogja terbuat dari rindu, pulang dan angkringan..."
(Joko Pinurbo)

---------------------

Piknik dadakan di penghujung jadwal off-ku. Nia menjadi teman ngetripku kali ini setelah sekian lama nggak jalan bareng. Malas piknik yang jauh-jauh, maka kita pilih Jogja saja. Meski aku sudah berkali-kali main ke kota itu, tapi bukankah Jogja selalu istimewa? Kebetulan Nia belum pernah ke sana. Yo wis mari kita kemon, ke sebuah kota yang katanya Joko Pinurbo, terbuat dari rindu, pulang dan angkringan.

Sebenarnya dari kampungku di Pekalongan, aku bisa langsung naik travel ke Jogja. Nia sendiri naik kereta dari Jakarta. Tapi aku sengaja ke Stasiun Cirebon Prujakan, mencegat kereta yang dinaiki Nia yang berhenti di sana. Maka kami berdua dipertemukan di gerbong tiga KA Bogowonto pada jumat dinihari. Bersama menuju Stasiun Tugu Yogyakarta. 

Ngobrol tentang apa saja berlatar pemandangan gelap di jendela kereta. Di depan kami duduk suami istri yang mencoba tidur, tapi tampak gelisah dengan posisi tidur yang nggak nyaman.

Ah, tidur yuk Ni! Ngantuk! Tapi saat mencoba memejamkan mata, tiba-tiba terdengar pengumuman dari petugas kereta bahwa sebentar lagi kereta ini akan sampai di stasiun mana gitu dan meminta penumpang yang akan turun di situ bersiap-siap. Pengumuman biasa saja, wajar sesuai prosedur. Tapi suara petugasnya itu lho, bahasa indonesianya berlogat agak sedikit ngapak, cempreng dan keras pula! Aku dan Nia sontak tertawa. Lha gimana bisa tidur, jika di tiap stasiun pemberhentian kami harus mendengarkan suara seperti itu. Wkwk! 

Tapi lelah mengalahkan semua. Kami berhasil tidur cukup nyenyak dan baru terbangun ketika kereta ini melintas Kebumen menuju Wates. Kaca jendela kereta menyuguhkan suasana pagi. Rumah penduduk, sawah, kabut dengan sentuhan sunrise. Cantik!

8 April 2016

Jam 6 pagi, selamat datang di Stasiun Tugu. Sugeng Rawuh ten Ngayogjokarto. Mengutip lagunya KLA, kami datang ke kotamu ada setangkup haru dalam rindu. Yuk ah, cuci muka dan gosok gigi sebentar di toilet stasiun. Kami belum bisa langsung meluruskan punggung di penginapan yang sudah kami booking karena baru bisa check-in di atas jam 1 siang nanti. Yo wis, kita langsung hajar jalan saja! 

Keluar dari stasiun, para tukang becak silih berganti menawarkan jasanya, ke tempat wisata, penginapan atau oleh-oleh. Maka ucapan "mboten pak, maturnuwun" (tidak pak, terima kasih) seperti rekaman yang kuputar ulang. Kami berjalan menuju Malioboro yang terletak sepelemparan batu dari Stasiun Tugu. Malioboro masih sepi, sejenak lepas dari hiruk pikuknya.

"Nia, lu mau poto di situ gak? Di bawah tulisan Jl. Malioboro. Mumpung sepi nih" tanyaku
"Ih ogah, gue bukan anak alay" jawabnya sambil tertawa. Haha, baiklah!

Kami berhenti di sebuah lapak ibu-ibu penjual gudeg yang tampak ramai. Sarapan dulu. Hmm, tapi kurang nendang nih makanannya. Gudegnya terlalu manis menurutku. Terus kreceknya juga rasanya agak aneh. Tiap ke Jogja, tak pernah kulewatkan gudeg, sajian khas kota ini. Pernah icip-icip gudeg yg pasang banner segede gaban (sebut saja gudeg yu ini dan yu itu) sampai versi emperan begini. Teringat gudeg tanpa nama yang dijual seorang ibu di dekat pasar Ngasem dan Tamansari, pernah bikin meleleh lidahku saking mantepnya, pada sebuah pagi beberapa tahun silam. 

Jalan lagi. Pasar Bringharjo mulai sibuk di beberapa sudutnya. Kami berhenti dan duduk-duduk di depan Benteng Vrederburg. Lagi-lagi, tukang becak menawarkan jasanya. Aku hanya tersenyum dan sekali lagi bilang "mboten pak, maturnuwun". Kalau udah dijawab pake bahasa jawa, biasanya para tukang becak ini nggak melanjutkan lagi tawarannya. 

Tapi tiba-tiba datang seorang tukang becak yang agak-agak ngeselin, sungguh. Dia berbicara dengan tukang becak yang duduk tak jauh dari kami, keras bicaranya, pakai bahasa Indonesia pula.

"Semalam ada yang dicopet lho di sini. Ada tiga orang cewek yang jalan kaki, ditawari untuk naik becak ke penginapan malah diam saja, sombong! Akhirnya mereka kecopetan, habis! Setelah itu baru tanya ke kami dimana kantor terdekat. Ya tidak saya kasih tahu, biar tahu rasa mereka, jangan sombong-sombong kalau di Jogja"

Hah? Apaan sih maksud si bapak ini? Dengan berbicara keras di samping kami. Aku dan Nia saling berpandangan. E, si bapak itu lalu beralih ke kami dan bercerita hal yang sama ke kami.

"Pokoknya kalau di Jogja jangan sombong-sombong, Mbak. Kalau ditanya ya jawab saja, apa susahnya tho" si tukang becak itu seperti kembali menegaskan. 

Hmm, gimana ya, kalau sekali dua kali ditanya (oleh tukang becak sepanjang jalan Malioboro ini) tentu masih okelah. Tapi kalau tiap meter ditawarin terus...ya bete juga pastinya. Auk ah!  

Dia lalu bertanya kami dari mana, dan mau kemana. Agak nggak enak sih nanyanya tapi kujawab dengan ramah mengggunakan bahasa jawa bahwa kami sedang menunggu seorang teman di sini. Ya, kami memang menunggu Egy, temannya Nia. Dia akan mengantarkan kami ke sebuah rental motor kenalan dia. 

Akhirnya Egy datang, menyelamatkan cengoknya kami yang hanya duduk di depan benteng serta tawaran para tukang becak. Egy Membawa Nia dan aku ke tempat rentalan motor di dekat Tugu Jogja. Maka sebuah motor matic imut Mio Teen menjadi teman jalan kami menikmati Jogja untuk dua hari ke depan. 

Nia yang bawa motor, sementara aku jadi navigator berbekal google maps. Tujuan pertama kami ke daerah Berbah, ke Candi Abang tepatnya.

"Foto-foto di internet sih bagus Ni. Tapi  jangan pernah percaya sama foto" kataku sambil tertawa.
"Yang penting kan nggak penasaran, Len" jawab Nia

Betapa padatnya lalu lintas kota Jogja arah bandara. Di tambah lagi banyaknya lampu merah yang harus dilewati. Hufft! Tapi semua berangsur berkurang ketika kami mulai meninggalkan kota dan memasuki wilayah Berbah. Jalan pedesaan yang tak begitu ramai dengan pemandangan sawah dan rumah-rumah penduduk yang sederhana. Sungguh kontras dengan sesaknya kota. Motor ini melaju sesuai arahan google maps. Teknologi memang membuat semuanya menjadi lebih mudah. 

"Turn left...turn left" suara cewek di program google maps ini berkali-kali mengingatkan kami. Serius belok kiri? Jalannya agak nggak meyakinkan! "Turn left...turn left", si cewek ini kembali complaint setelah kami cueki saja, haha! Iya...iya mbak, kami putar balik dah, ngikutin instruksi dari mbak google saja. Akhirnya kami putar balik menuju jalan kecil yang diinstruksikan oleh si mbak google maps lalu menelusuri jalanan dengan persawahan di sekitar.  Sebuah rambu tulisan kecil di sebuah pohon bertuliskan "Candi Abang" dengan sebuah tanda panah. Wokee dah, kami sampai! 

Kami memarkir si imut Mio Teen di rumah penduduk yang sepertinya biasa digunakan sebagai tempat parkir para pengunjung Candi Abang. 

"Munggah wae, Mbak. Candine kiri-kiro satus meteran seko kene (naik saja, Mbak. Candinya berada sekitar 100 meter dari sini)" kata si Mbak pemilik rumah, sambil menunjukkan jalan menanjak di belakang rumahnya.

O...o...ada sebuah bukit di rumah ini dengan trap-trap anak tangga menuju Candi Abang. Wuih, periksa dengkul dulu deh. Sudah lama nggak main di tanjakan, haha!


Ceritanya lagi ngetest dengkul ;p

Sampai di atas, wuih...cukup tinggi juga tempat ini. Ayo kita jalan ke bukit kecilnya. Yup, jangan harap akan menemukan sebuah bangunan yang terbuat dari batu andesit atau reruntuhannya ala-ala umumnya candi di Jogja atau Jawa Tengah. Konon candi yang dibangun antara abad ke-9 dan ke-10 pada zaman Kerajaan Mataram Kuno ini berbentuk piramid serta terbuat dari batu-bata merah. Kini bangunan candi tersebut telah tertutup oleh tanah serta ditumbuhi rerumputan. Maka jadilah Candi Abang yang tertutup ini menyerupai gundukan tanah atau bukit. 


Candinya  ketutup tanah  sama rumput :-(

Candi Abang ini cukup sepi, mungkin karena hari ini bukan akhir pekan. Hanya kudapati sekelompok ABG saja yang sedang duduk-duduk di gazebo dekat papan informasi. Nggak ada retribusi apapun untuk masuk ke Candi Abang ini. Jadi silahkan menikmati gundukan bukit kecil nan hijau dengan semilir angin serta pemandangan yang terhampar di bawah sana.

Kami selesai dengan destinasi awal piknik di Jogja. Hari masih siang, mari nyari candi lagi! Ah, berbahagialah kalian yang tinggal di Jogja, tempat ini dipenuhi banyak situs purbakala. Tujuan selanjutnya adalah Candi Ijo.

Candi Ijo belum pernah kukunjungi, meskipun pernah kulihat rambu arahnya di dekat pertigaan menuju Candi Ratu Boko. Kabarnya candi ini merupakan candi yang letaknya paling tinggi di dataran Jogja. Lagi-lagi dengan bantuan google maps, kita arahkan motor menuju Candi Ijo. Jalanannya boleh juga nih, nanjak terus! Asyik juga pemandangannya, tak banyak kendaraan juga yang melintas di sepanjang perjalanan.

Sebelum sampai Candi Ijo, ternyata kami melewati Tebing Breksi, salah satu tempat yang lagi ngehitz di Jogja. Sebenarnya tempat ini adalah bekas tambang batu yang sudah tidak digunakan lagi. Ayo ah, mampir sekalian. Kita buktikan apakah Tebing Breksi dalam dunia nyata seindah foto-foto di instagram.

Kami hanya dipungut biaya parkir resmi, untuk biaya masuknya masih sukarela, begitu kata petugas yang berjaga di dekat katakanlah pintu masuk menuju Tebing Breksi. Kenyataannya tempat ini memang hanyalah bekas tambang batu. Tebingnya juga tak begitu tinggi. Tapi tempat ini jadi cantik karena ada semacam ampitheater yang dibangun di tengahnya dengan bangku-bangku yang melingkarinya. Saat kami ke sana, tampak banyak pekerja yang sedang melakukan pembangunan pada sisi atasnya.

Kita lagi ngapain sih, berpose ala girlband?


Beranjak pergi dari Tebing Breksi karena terik siang yang semakin menyengat. Tak begitu lama berkendara, kami sampai di Candi Ijo. Aih, dari tempat parkiran saja, pemandangannya keren sekali. Kita berada di tempat yang cukup tinggi, bahkan Bandara Adi Sucipto bisa kelihatan dari sini.

Cukup mengisi buku tamu dan retribusi seikhlasnya untuk masuk ke areal Candi Ijo ini. Candi hindu berupa kompleks percandian yang terdiri dari satu candi induk dan tiga candi yang berukuran lebih kecil yang terletak di depannya yang diperkirakan dibangun antara abad ke-10 dan 11. Bentuk keseluruhannya seperti teras-teras berundak, karena kemudian di bagian bawah ternyata ada tangga dan reruntuhan percandian yang belum belum dipugar.

Dari tingginya Candi Ijo
Candi Ijo dengan rumputnya yang hijau

Nia masih mau lihat candi lagi? Kukenalkan kamu pada sebuah candi yang paling cantik menurutku, seharusnya tak jauh dari sini. Tak pernah bosan mengunjunginya, Candi Ratu Boko.

Tiket masuk ke candi ini tergolong mahal menurutku, mungkin karena tempat wisata ini sudah dikelola dengan bagus. Tapi cukup kecewa ketika sampai karena banyak stan-stan yang sedang dipersiapkan untuk event di esok hari. Bahkan sebuah panggung besar menutupi kaki gerbang candi itu!

Serasa di luar negeri ya, Ni?
Salam metal dulu deh ;p

Kami bersantai di cafe di kompleks Ratu Boko, menikmati makanan kecil sambil menunggu hujan reda. Ya, sore ini Jogja menyambut kami dengan hujan deras hingga tertahan cukup lama di tempat ini.

Baru jam 4 sore cuy, mari ngelayap lagi. Satu dua candi lagi bolehlah mumpung berada di wilayah Prambanan dan hujanpun cuma tinggal riwis-riwis saja. Yo wis, mari kutunjukkan candi sejuta umat di sini, Candi Prambanan.

Sama dengan Ratu Boko, harga tiket masuk ke Prambanan cukup mahal. Candi-candi yang sudah dikelola dengan baik memang dihargai tiket mahal. Sebaliknya candi-candi kecil semacam Candi Ijo, Candi Sambisari, Kalasan, Sari, Plaosan Lor & Kidul, Barong dan lain-lain malah tanpa retribusi sama sekali, cuma isi buku tamu dan kalaupun mau ngasih ya sukarela saja.

Candi sejuta umat, ya gitu deh, pengunjungnya mbludak, cendol di mana-mana. Apanya yang mau dinikmati dengan pengunjung seramai ini? Maka kami cuma mampir sebentar dan cekrak-cekrek seperlunya sebagai tengara. Sempat mampir ke Candi Plaosan sebentar, nggak masuk, cuma lihat dari luar.

Sudut Prambanan yang agak bersihan dari cendol ;p

Akhirnya selesai sudah kami mengakrabi beberapa candi di Jogja hari ini. Masih banyak yang berserak di sudut-sudutnya, suatu saat pasti ingin kuburu lagi! Markipul, mari kita pulang. Kembali ke kota Jogja, melewati kemacetan yang luar biasa. Ah, bangjo lagi, bangjo lagi (bangjo=lampu merah).

Kami menuju Edu Hostel, tempat yang sudah dibooking sebagai tempat menginap dua malam ke depan. Sebelum jalan ke Jogja, iseng googling tentang penginapan backpacker di sana dan aku terkesima dengan foto-foto Edu Hostel ini. Kamarnya dibuat dengan konsep dormitory, lobby dan ruangan TV nya luas dengan mural-mural keren serta rooftop-nya yang kelihatan asyik banget. Lokasinya nggak jauh dari pusat keramaian, harga juga bersaing. 

Ada peristiwa lucu saat motor kami memasuki area Edu Hostel ini. Aku hanya melihat tanda panah (masuk) lalu aku meminta Nia untuk mengikuti arah tanda panah tersebut. Tak kirain setelah melewati lobby, akan ada tempat parkirnya. Tapi kok ndak ada? Maka motor ini kembali turun dan ternyata tempat parkirnya ada di basement yang pintu masuknya bukan melalui tanda panah yang kami lihat itu.  Aih, malunya diliatin sama Bapak-Bapak Satpam. Maap pak, maklum pendatang baru.

Merebahkan diri lama di tempat tidur, tepar juga seharian ini motor-motoran di Jogja. Rapelan mandi sepuasnya kemudian baru lanjut menikmati malamnya Jogja.

Sengaja kami jalan kaki saja dari penginapan yang terletak di Jl. Letjen Suprapto, karena terus terang agak malas menghadapi kemacetan di setiap lampu merah yang ada nyaris di setiap 50 meternya. Tujuan kami cuma satu, nyari makan malam. Tapi sepertinya keputusan kami untuk jalan kaki agak salah, haha! Kami lewati Jl. KH Ahmad Dahlan. Sepanjang jalan isinya makanan ber-mercon semua. Tongseng mercon, nasi goreng mercon, penyetan mercon dan entah apalagi. Nyaris tergoda untuk mencoba, tapi apalah artinya penasaran dibanding efeknya untuk perut kami nanti! Maka kami cueki saja aneka macam mercon itu. Tetiba kami cium bau harum arang yang terbakar dengan bakmi godhog di atasnya, sangat menggiurkan! Tapi kami perlu nasi. Maka perjalanan kembali diteruskan, melewati RS PKU Muhammadiyah hingga 0 Kilometer Jogja dan belok kanan ke arah Keraton.

Katanya tak lengkap jika mengunjungi Jogja tanpa merasakan atmosfer angkringan. Nasi kucing, wedang jahe dan aneka makanan yang ditusuk. Lumayanlah, meski rasanya sebenarnya biasa. Karena yang jelas, ada space dalam perut yang sengaja kami sisakan untuk bakmi godhog nanti.

Benar saja, sekalian jalan pulang kami berhenti di sebuah gerobag penjual bakmi godhog yang kami lewati tadi. Cukup ramai pembelinya. Bau harum bakmi godhog lagi-lagi semakin mengganggu iman. Kami tunggu dengan sukarela. Tetapi, setelah sepiring bakmi godhog tersebut dihidangkan di depan kami, aku dan Nia langsung saling berpandangan dan sama-sama tertawa. Lho kok jauh di luar harapan begini? Presentasinya (atau kalau bahasa Master Chef disebut plating) nggak menarik selera. Isinya terlalu penuh debgan kuah yang nyaris tumpah. Kuahnya berwarna putih, pucat sekali. Udah gitu mie-nya terdiri dari campuran mie kuning dan bihun, sebuah percampuran yang aneh. Rasanya jangan ditanya, sungguh absurd sekali! Ah, aku dan Nia memang bukan seorang Chef, tapi jika hanya untuk masak bakmi godhog begini pasti bisa lebih enak dari ini, haha! Kecap bisa ditambahkan agar kuahnya nggak pucat begini. Bahannya mie kuning basah saja lebih pas dengan campuran berbagai sayur, daging atau ayam. Bumbunya ya tinggal bawang merah, bawang putih, kemiri, merica, cabe dan garam, itu sudah cukup. Eh, kok kita jadi ngomongin tentang masak-masakan sih? Lalu akan kita apakan sepiring bakmi godhog yang masih kemebul dan penuh ini?


This is it, bakmi godhog yang menggelora itu ;p

Kami kembali ke penginapan dengan cerita seru tentang makanan serta perjalanan hari ini. Kamar Nomor 221 yang terdiri dari 6 bed masih kosong. Mungkin baru malam nanti 4 bed lainnya akan terisi oleh entah siapa. Selamat tidur, Nia. Aku naik ke ranjang yang atas yak!

9 April 2016

Sugeng enjing, Ngayogjokarto!

Terbangun dengan kondisi bed di kamar yang sudah full. Sepertinya semalam, saat aku dan Nia sudah tidur, datang tiga orang yang menjadi room mate kami. Salam kenal Titik, Agnes dan Vera, tiga perempuan dari Surabaya. 

Roof top (yang terletak di lantai lima) di Edu Hostel sekaligus menjadi bagian area tempat sarapan. Cukup oke pemandangan kota yang kami lihat dari atas. Sepiring nasi kuning dan secangkir kopi kami ganjalkan ke perut, di pagi yang cukup panas ini.


Roof top Edu Hostel
Satu sudut di Edu Hostel

Gunung Kidul akan kami kunjungi hari ini. Deretan pantai selatannya memang keren sekali. Kuarahkan motor menuju Wonosari. Kurewind lagi pengalaman naik motor ke sana beberapa tahun silam. Kondisinya kini tak jauh beda, jalan menanjak dengan tikungan-tikungan tajam, beradu dengan truk maupun bis-bis besar. Belum lagi di hari weekend plus pelajar selesai UN seperti sekarang ini, perjalanan ke arah sana dipenuhi dengan kendaraan wisata. Sejujurnya aku bukan anggota genk motor anak jalanan yang demen kebut-kebutan dan sungguh tersiksa dengan motor matic yang yang kunaiki selama nyaris dua jam ini. Wkwk! 

Kita mau ke pantai mana? Hmm, sampling satu aja dulu ya, Pantai Drini. Meski pantai ini lumayan bercendol alias rame banget, tapi selalu ada sudut pantai yang terlupakan bahkan untuk pantai se-ramai Drini. Maka kami hanya sekedar duduk di sebuah warung kecil yang tak buka, menikmati sisi pantai dari atas, menikmati sepoi angin serta deburan ombak. Sekali lagi kuakui, pantai selatan Gunung Kidul memang cantik.

Sisi Pantai Drini yang bebas cendol

Sisi yang agak rame

Sempat terpikir untuk nyari pantai lagi ke arah timur. Tapi mau ke pantai manapun di akhir pekan seperti ini pasti sama kondisinya alias terlalu bercendol. Lagipula jika kami habiskan piknik di pantai-pantai Gunung Kidul seharian, bisa-bisa jalanan pulang kembali ke kota semakin parah karena bersamaan dengan para wisatawan yang pulang piknik juga. Terbayang iring-iringan bis-bis wisata, mobil dan raungan motor memenuhi jalanan berliku nan sempit itu. Baiklah lebih baik kita selesai dengan Gunung Kidul dan mencari destinasi lain.

Foto-foto di instagram yang keren menjadi rujukan kami mengapa memilih tujuan berikutnya yaitu Kebun Buah Mangunan. Yuk ah, hajar ke sana dah! Gantian Nia yang bawa motor dan aku menjadi navigator berbekal google maps di tangan. Kita cari jalan tembus dari Wonosari ke Mangunan tanpa harus balik ke arah Jogja atau melewati Bantul.

Goggle maps memberi petunjuk untuk belok ke arah Playen. Hmm, hijau semua sih di peta-nya, yang berarti dataran tinggi. Dan benar saudara-saudara! Jalan raya yang kami lewati bener-bener parah track-nya. Gila, sumpah! Kadang turunan tajam yang turun banget, lalu nanjak banget, plus track ala-ala cilukba. Busyet! Sepi banget pula situasinya. Tenang Nia, kubantu dengan doa, haha! Dengan perjalanan heboh seperti ini, maka ekspektasi kami tentang Kebun Buah Mangunan menjadi lebih tinggi. 

Hufff! Akhirnya kami sampai juga di tujuan. Tanganmu sampe gemeter ya, Ni? Iyalah, track-nya ajib begini, haha! 

Dan...apakah Kebun Buah Mangunan sesuai dengan harapan kami? Hmm, jujur saja...enggak! Hiks! Tempat ini juga nggak kalah cendolnya. Mana kebun buahnya? Wkwk! Satu-satunya hal menarik di tempat ini adalah puncaknya, dimana terdapat tempat di sisi jurang dengan view hutan, sungai dan bukit. Tapi hampir semua pengunjung tumplek-blek di titik itu. Ya gitu deh jadinya. Jadi teringat Kalibiru, satu destinasi wisata di Wates Jogja yang terkenal akan rumah pohonnya. Jika kita hanya melihat dari foto-foto hasil guglingan, pasti kelihatan keren luar biasa. Tapi yang tidak ter-capture dalam foto itu sesungguhnya adalah antrian mengular demi mendapatkan giliran naik ke rumah pohon. Dulu aku langsung balik badan setelah melihat keadaan itu, wkwk! Ah, sudahlah! 

"Puncak" Kebun Buah Mangunan
Nyante  aja cuy!

Pulang kita! Lewat arah Imogiri saja, langsung nembus kota. Lupakan jalanan ekstrim Wonosari-Playen-Mangunan tadi. 

Perut sudah keroncongan dan kali ini ingin makan yang bener-bener makan. Sebuah rumah makan yang direkomendasikan teman adalah House of Raminten, sengaja kami datangi. Sesampainya di sana, cukup surprise dengan adanya bangku-bangku antrian. Untungnya kami nggak perlu ngantri karena sudah ada meja yang siap. Hmm, apa istimewanya rumah makan ini sehingga orang bisa rela ngantri?

Aku penasaran. Apa karena makanannya? Pelayanannya? Hmm, bau dupa menyeruak hidung saat masuk rumah makan ini, seperti sebuah welcome smell (haha!). Dupa itu kelihatannya ada di bawah kereta yang dipajang sebagai mungkin saja interior dari rumah makan ini. Pelayannya cukup unik, yang cewek memakai kemben dan kain, sementara pelayan cowok memakai kaos dan kain. Makanannya? Mari kita lihat menunya. Aku membolak-balik buku menunya, bingung. List menunya biasa saja menurutku. Kulihat Nia juga melakukan hal yang sama, ternyata dia sama bingungnya. Kami hanya tertawa. Tapi ntar coba nikmati rasanya, siapa tahu istimewa.

Yach, biasa saja! Baik Kupat tahu yang kumakan maupun ayam kremes yang Nia pilih. Lagi-lagi kami tertawa. Jogja memang belum istimewa untuk urusan makanan, setidaknya sejauh ini. Wkwk! Maap!

Setelah cukup beristirahat di penginapan, kami kembali jalan malamnya. Kali ini aku masih penasaran dengan satu angkringan yang sepertinya paling terkenal di Jogja yang terletak di dekat Stasiun Tugu. Angkringan Lek Man namanya. Akhirnya satu kesimpulan kudapat, yang dinikmati di sana adalah atmosfernya, karena kalau untuk makanannya ya rasanya memang standar saja.


Mangan sik dab!

Melihat malamnya Malioboro? Hayuk dah, dekat situ saja. Tapi malas juga untuk nitipin motor di parkiran barunya. Kata Titik dkk (room mate kami di Edu Hostel), kami bisa nyari gang di sekitaran Malioboro dan parkir motor saja di sana. Tips yang hebat dan kami ikuti. Dan malam itu, aku menjadi juru tawarnya Nia. Dengan bekal bahasa Jawa, harga yang ditawarkan para penjual itu bisa turun drastis menjadi 50% bahkan lebih! Wkwk!

10 April 2016

Setelah motor-motoran menikmati paginya Jogja, melintasi Keraton, Alun-Alun, Tamansari dan entah manalagi hingga Bakpia Kurniasari, maka saatnya berpisah dengan kota ini.

Di lobby Edu Hostel, Nia pamitan menuju Stasiun Lempuyangan. Kereta siang ini akan membawanya kembali ke Ibukota. Aku sendiri tinggal jalan kaki ke sebuah travel tujuan Semarang, yang tak jauh dari penginapan ini. Bye, Nia! Semoga trip ini cukup berkesan bagimu. 

Aku tak pernah tinggal di Jogja, aku cuma wisatawan yang ingin merasakan kekhasan Jogja. Tapi di mataku, Jogja kota kelihatan semakin penat dan cenderung mengarah menjadi metropolitan. Semoga masih banyak sudut Jogja yang berhati nyaman, hingga membuat kami tertawan layaknya lagu KLA Project yang sayup-sayup terhafal.

Kutinggalkan Jogja untuk sementara. Aku pasti kembali....

------------------------------------------------

Budget :
1. Sewa motor (matic) = Rp. 60.000/hari
2. Penginapan Edu Hostel = Rp. 70.000/bed (booking via Traveloka)
3. Biaya di Candi Abang = none (hanya parkir saja Rp. 2000,-)
4. Biaya di Tebing Breksi = none (hanya parkir saja Rp. 2000,-)
5. Biaya di Candi Ijo = none (hanya parkir saja Rp. 2000,-)
6. Tiket masuk Candi Ratu Boko = Rp. 25.000,-/orang
7. Tiket masuk Candi Prambanan = Rp. 30.000,-/orang
8. Tiket masuk Pantai di Gunung Kidul = Rp. 5000,-/orang
9. Tiket masuk Kebun Buah Mangunan = Rp. 5000,-/orang

No comments:

Post a Comment