Saturday, May 14, 2016

Dan...Kudaki Soputan

"They say life is too short
The here and the now
And you're only given one shot.
But could there be more
Have I lived before
Or this could be all that we've got?"
(Dream Theater - The Spirit Carries On)


----------------------------------------------

Aku akan mendaki Gunung Soputan di Minahasa Tenggara. Demikian kuputuskan, saat melihat kalender bahwa aku punya dua hari yang kosong sebelum bergabung dengan Dian, Dame, Yuni, Esther dan Kusuma untuk pergi bersama ke Kepulauan Sangihe-Talaud di Sulawesi Utara. Kukontak Richard, seorang teman asal Tondano yang dikenalkan oleh Dian. Richard bisa menemaniku mendaki Soputan pada tanggal yang telah ditentukan. Aku rindu menggunung. Kerinci adalah gunung terakhir yang kudaki, itupun tahun lalu. Sejak itu, kaki ini sama sekali absen untuk urusan panjat-memanjat.

28 April 2018


Lion Air mendarat mulus di Bandara Sam Ratulangi Manado sekitar pukul 09.30 pagi. Pesawat ini berangkat pagi buta dari Jakarta, aku masih didera ngantuk yang sangat. Dengan taksi, aku menuju Tomohon, tempat meeting pointku dengan Richard.

Manado cerah hari ini. Pak Ardi, supir taksi yang kutumpangi ini dengan ramah berbincang dan menjelaskan tentang jalan yang kami lewati juga tempat-tempat wisata yang seharusnya bisa kudatangi selama di Tomohon nanti

Hujan turun saat taksi ini memasuki daerah Tinoor. Tambah deras ketika sampai Tomohon Kota. Hujanpun tetap mrngguyur saat aku sampai di Homestay Mountain View. Richard sudah menungguku. 

"Tiap hari Tomohon memang selalu hujan, Len. Kita berangkat ke Soputan jika hujan sudah reda nanti" kata Richard.

Baiklah. Mari kita packing ulang isi carrier, barang-barang yang belum kuperlukan bisa dititipkan di homestay. Lanjut makan siang dan belanja keperluan camping di Cool Supermarket yang terletak persis di seberang homestay. Hujan tetap belum berhenti. Nyaris reda tapi kemudian turun lagi. Kami tetap menunggu. Bahkan aku sempet ketemuan dengan Juna, teman kerjaku di offshore yang kebetulan sedang berada di kota ini. Jadi kapan kamu mau nanjak Soputan, Jun?

Di Homestay Mountain View, sebelum berangkat (Photo Courtesy of Harjuna Sabathino)

And we're ready to go!  (Photo Courtesy of Harjuna Sabathino)

Akhirnya, hujan tinggal rintik air yang menetes tipis-tipis. Sekitar jam 14.30, dengan motornya Richard, kami berdua berangkat menuju Soputan. Kami akan mendaki via Desa Toure. Ternyata cukup jauh juga euy! Gembolan ransel besar di punggung cukup bikin nggak jenak pula dudukku, heuheu! 

Sekitar jam 15.30 kami sampai di rumah Kepala Desa Toure. Kami disambut istri Pak Kades. Menitipkan motor kemudian nulis buku tamu. Sangat surprise saat kulihat buku tamu (bagi pendaki) ini karena pengunjung terakhir yang nulis di buku tersebut adalah pada tahun 2015. What?

"Sekarang banyak jalur menuju Soputan. Jadi tidak hanya lewat desa ini. Banyak juga yang langsung pergi ke atas, tanpa menulis nama di buku tamu."  terang Ibu Kades.

Siplah, mendaki kita! Bismillah, semoga kaki ini kuat sampai ke Basecamp Pinus 2, tempat yang kami targetkan untuk buka tenda nanti.

Hujan deras yang turun tadi menyisakan jalanan yang basah. Kami melewati hamparan kebun penduduk. Beberapa ekor sapi juga kami temui di sepanjang jalan. Mereka menatap nanar, haha! Apaan sih? Sejatinya jalanan yang kami lewati ini bisa dilewati motor. Bisa sih bisa, tapi treknya ya gitu deh, rawan jatuh pastinya. Maka demi aspek keselamatan ya mending titipin motor saja di rumah Pak Kades, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki. 

Cukup landai. Tak ada tanjakan-tanjakan yang berarti. Tapi jauhnya minta ampun! Berjam-jam kami berjalan sepertinya belum sampai-sampai. Hadeuh! Cuaca yang dingin bahkan membuat kami berkeringat begini (rambut dan kaos basah mirip orang habis mandi). Aduh Cad, kamu salah pilih start! Kalau landai tapi jauh, dibanding dekat tapi nanjak, mungkin aku akan memilih yang dekat meskipun nanjak! Huahaha!

Dalam perjalanan, aku minta berhenti beberapa kali. Cuapek gila! Air minum 1500 ml serasa habis dalam sekejap. Padahal carrierku nggak seberapa berat. Gimana si Richard yang mesti bawa kulkas dua pintu? Wkwk! Ah, untung ada view Danau Tondano yang kelihatan dari jauh namun cukup menyegarkan mata. 

"Sebentar lagi kita akan sampai di sebuah warung. Sehabis dari warung, tinggal dekat saja ke Pinus 1" jelas Richard. Hah, masih pinus 1? Berarti masih jalan lagi ke Pinus 2 yak?

Akhirnya, kami sampai di warung pertama. Mampir untuk menyelonjotkan kaki sejenak dan mari ngeteh manis dulu. Hari telah sedemikian sore.

Selesai dari warung pertama, nanjak sedikit lagi kami ketemu dengan warung kedua. Menanjak lagi sedikit dan ketemu dengan warung ketiga. Inilah warung Om No, seorang Bapak yang sudah cukup sepuh yang sudah membuka warung di kaki Soputan ini sejak lama. Di warung Om No ini kami mesti mampir karena harus menulis buku tamu lagi.

"Banyak yang naik, Om?" tanya Richard
"Ada beberapa, yang naik kemarin juga belum turun"

Yup, hari ini hari Kamis, bukan weekend. Jadi bisa dipastikan Soputan cukup sepi dan jauh dari kata cendol. Dari buku tamu, hanya sekitar 10 orang saja yang naik. 

Ayo jalan lagi! Dengan sisa-sisa tenaga, kami menuju Basecamp Pinus 1. Sekitar 30 menit jalan dari warung Om No. Sesuai dengan namanya, Pinus 1 adalah area di kaki Soputan yang ditumbuhi pepohonan pinus. Terdapat tempat yang cukup lapang untuk camping di sini. Adzan maghrib waktu Manado dari Hpku berkumandang, sesaat ketika kami sampai di Pinus 1. Sore telah lewat, malam menjelang. Perjalanan ini belum usai karena kami berencana camping di Basecamp Pinus 2, masih satu jam jalan menuju ke sana. Hufft!

Aku berjalan di depan, Richard mengikutiku dari belakang. Treknya cukup datar. Kami menembus hutan, kubangan-kubangan air, melewati jalan setapak yang yang tampaknya sebagian besarnya adalah jalur air. Aku bener-bener nggak peduli apa yang ada di kanan kiri, aku terus saja berjalan ke depan. Hanya headlamp yang menerangi gelap malam ini.

Hanya kami berdua yang menyusuri jalan ini. Tak ada orang lain. Suara-suara serangga malam di hutan terdengar cukup riuh bersahutan. Sesekali aku berhenti karena jalan bercabang dan selalu kutanyakan ke Richard apakah harus mengambil jalan ke kanan atau kiri. Bau belerang kadang tercium lewat sebentar di hidungku. Richard bilang banyak kawah-kawah tua di Gunung Soputan ini. Wih, agak ngeri sebenarnya.

Setelah menembus hutan, akhirnya aku bisa melihat langit di tempat yang agak terbuka. Cerah dengan bintang-bintang kecil yang bertaburan di angkasa. Aku mendengar gemericik air, yup kami telah sampai di sungai kecil tempat sumber air. Richard mengeluarkan jerigen dari carriernya, kami isi penuh untuk keperluan camping nanti. Melewati satu tanjakan yang cukup terjal di depan, lanjut jalan lalu kudengar sayup-sayup suara orang. Ah, sepertinya kami hampir sampai di Pinus 2! Yes! 

Di Pinus 2, sudah ada sekitar empat tenda berdiri. Kami sapa beberapa orang yang sedang santai di depan tendanya. Pilih-pilih lokasi yang aman, lalu sepakat untuk mendirikan tenda di sebuah tempat yang agak lapang. Setelah seharian diguyur hujan, cuaca malam ini sangat bersahabat. 

Tenda sudah berdiri. Richard menyalakan Trangia dan mari memasak. Cukuplah segelas kopi, telur dadar dan nasi goreng ala-ala sebagai pengganjal perut lapar sambil ngobrol ngalur ngidul sampai ngantuk.

Basecamp Pinus 2 ini nggak begitu dingin, tapi cuaca di gunung bisa tiba-tiba berubah. Kupakai jaket, sarung tangan, kaos kaki, penutup kepala, lalu langsung nglungker di dalam sleeping bag di atas kasur tiupku yang cukup empuk. 

Selamat tidur, para pendaki Soputan! Besok mau summit jam berapa? Tapi kami memang nggak niat nyari sunsrise kok. 

29 April 2016

Alarmku berbunyi jam 5 pagi. Sebuah pagi yang dingin sekali. Selamat pagi, Pinus 2! Aku nikmati sinar mentari yang masuk di sela-sela pohon pinus nan tinggi di sekitar tenda.

Kami cuma ngopi dan makan cemilan saja untuk sarapan. Tapi gara-gara kelamaan ngopi, nggak terasa waktu sudah nyaris menunjukkan pukul 06.30 pagi. Walah! Bukannya kita harus muncak pagi ini? 


Pagi di Pinus 2

Dengan membawa bekal seperlunya, kami bersiap naik-naik ke puncak gunung. Sepertinya hanya aku dan Richard yang mendaki Soputan pagi ini. Rombongan yang nenda di sebelah barat tenda kami sudah bongkar tenda. Sementara tenda-tenda di sebelah timur sepertinya masih terlelap dalam keheningannya. Sekali lagi berdoa, semoga Tuhan Yang Maha Esa memberi kemudahan dan keselamatan dalam pendakian ini. 

Dari Pinus 2 kami berjalan menuju Kawah Tua, butuh sekitar 20 menit jalan kaki dengan kecepatan ala kakiku yang pelan ini. Lanjut sekitar 20 menit lagi untuk sampai ke puncak "pemandangan". Treknya cukup landai dengan sedikit tanjakan walau nggak begitu terasa. Sepi banget. Agak takjub juga melihat jalur gunung se-sepi ini di zaman selfie seperti sekarang. 

Puncak "pemandangan", entah kenapa disebut demikian. Mungkin karena di titik ini kita bisa melihat Gunung Soputan yang terpampang nyata di depan mata dengan gagahnya. Dengan berlatar langit biru, gunung itu bener-bener berdiri luar biasa! Indah. Tampak Gunung Soputan Ibu dengan puncaknya yang paling tinggi dan juga Soputan Anak di bawahnya. Sejatinya gunung ini masih berstatus Siaga, terakhir meletus bulan Februari 2016 lalu. Soputan yang memiliki tinggi 1784 mdpl ini memang termasuk salah satu gunung berapi teraktif di Sulawesi Utara.

Gunung Soputan di Puncak "pemandangan"
Lebih dekat dengan Puncak Soputan
Richard di Puncak Pemandangan

Jika dilihat-lihat, puncak pemandangan ini sudah sejajar dengan Gunung Soputan Anak. Tetapi di depan kami adalah jurang dan lembah. Artinya, untuk menuju puncak gunung sana, kami harus turun ke lembah lalu mendaki lagi. Hadeuh!

Yup, kami turun ke lembah. Melintas rerimbunan pohon serta melewati satu trek turunan yang cukup luar biasa. Richard bilang, jalur itu disebut jalur patah hati. What? Wkwk! Hmm, senelangsa itukah? Kulihat langit. Agak mulai mendung meskipun daerah sekitar gunung masih tampak cerah. Please, bersahabatlah wahai cuaca! Ijinkan kami menjejakkan kaki ini di puncak sana.

Singkat cerita, sampailah kami di kaki gunungnya. Kupandang ke depan, pasir semua sampai puncaknya. Waduuh! Tak mudah menyusuri trek berpasir begini. Maju selangkah, turun dua langkah. Tapi untungnya pasirnya agak-agak padat, mungkin karena sering ditimpa hujan akhir-akhir ini. Kuikuti Richard yang sudah jalan duluan jauh di depan. Aduuh, puncaknya masih jauuuh! Pelan aku melangkah. Maju dua langkah, berhenti, dua langkah, berhenti, wkwk! Kupandang puncak berkali, ugh...masih jauh! Dan gunung ini, benar-benar sunyi. Aku merasa sangat kecil sekali dibanding maha-Nya ciptaan Tuhan yang sedang coba kudaki ini. Kuatur nafas lagi. Kuurut dengkul lagi. Agak krek-krek lutut kiri ini, efek Chondromalacia Patella yang konon katanya memang nggak bisa sembuh ini. 

Tapi puncak memang tak akan kemana. Setelah satu setengah jam (terhitung dari puncak pemandangan), akhirnya aku sampai di puncak Soputan Anak yang ditandai dengan sebuah tower pemantau gunung api di puncaknya. Alhamdulillah. Makasih banget untuk Richard yang sudah nemenin aku ke sini. Kutatap Soputan Ibu di depanku. Ia tak bisa didaki, tepatnya dilarang untuk didaki. Tak ada yang mengepul dari puncaknya, tapi kemiringannya curam dan pasirnya kelihatan merah panas di beberapa bagiannya. Ia berdiri gagah, tapi penuh misteri. Man...statusnya masih Siaga 2 kan!


Richard di Puncak Soputan Anak
And this is me!

Di puncak Soputan Anak, hanya ada kami berdua. Landscape hamparan pasir, langit biru, pucuk-pucuk Gunung Lokon dan Klabat serta garis pantai dari Teluk Amurang tersuguh dengan indah dalam pandangan. Jika saja gunung ini tidak berstatus siaga, ataupun tak ada arakan awan mendung yang mulai bergerak, tentu aku masih betah berlama-lama di sini. Bye, Soputan! Terima kasih telah menerimaku berkunjung ke sini.


Aktifkan tongsis dulu!
Pemandangan dari Puncak Soputan

Seperti biasanya, kakiku ini bener-bener payah jika diajak turun gunung. Dengan trek berpasir begini, meluncur dengan kedua kaki tampaknya mudah, tapi kadang aku memilih prosotan di pasir saja. Ah, mana jejak sepatu kami di pasir saat naik tadi? Sepertinya jejak itu pergi entah kemana, sehingga kami turun agak berbelok arah dibanding saat naik tadi, lalu terpaksa memutar untuk kembali ke jalan yang benar. Bener-bener rawan nyasar.

Kami lewati jalan yang sama, menembus jalur patah hati dan kembali ke Puncak Pemandangan. Gerimis mulai menetes. Sekali lagi aku menatap Gunung Soputan, Soputan yang kini puncaknya telah tertutup kabut tebal.

Ayo, kamu bisa! Saia bantu doa saja ;p

Mari kita pulang!

Sekitar jam 11 siang kami sampai ke tenda di Basecamp Pinus 2. Beristirahat sebentar lalu mengganjal perut dengan nasi goreng telur plus mie goreng. Perjalanan pulang masih jauh dan kami perlu tenaga yang cukup.

Seharusnya setelah makan, kami akan bongkar tenda, packing lalu meluncur turun gunung. Tapi apa yang terjadi? Pas selesai makan tiba-tiba turun hujan, deras sekali. Richard sampai bikin drainase di sekitar tenda saking derasnya hujan dan rawan untuk bikin becek area tenda. Hujan juga tak kunjung reda, kami terjebak dalam tenda. Tapi akan kubiarkan hujan itu turun sepuasnya. Bukankah kata Aan Mansyur, penulis puisi-puisi Rangga di film di AADC-2, hujan adalah cara laut mengecup kening gunung? Gubrakkk!!!

Dan hujan baru berhenti sekitar jam 3 sore. Jika turun gunung jam segini, dipastikan baru malam nanti kami sampai di Desa Toure. Sirna sudah harapanku untuk bisa jalan-jalan ke Danau Linow, Gunung Mahawu dan sebegainya setelah turun Soputan sesuai rencana sebelumnya. Tapi setidaknya Soputan sudah kudaki, lain waktu aku bisa kembali untuk jalan-jalan di Tomohon dan sekitarnya.

Hujan yang mengguyur menjadikan trek turun gunung yang sebagian jalur air juga basah tak terkira. Dengan suasana yang masih terang aku baru bisa melihat bahwa inilah trek dari Basecamp Pinus 2 ke Pinus 1 yang aku lewati dalam gelap semalam. Bukit-bukit yang rawan longsor, pepohonan tumbang serta sebuah kawah tua yang masih menyemburkan bau belerang.

Di sepanjang jalan pulang, kami temui beberapa pendaki yang mau naik. Akhir pekan begini pasti bakal ramai di atas sana. Untung kami mendaki di hari biasa.

Sekitar jam 5 sore kami sampai di warung Om No. Kami pulang dengan selamat! Mari catat di buku tamunya.

"Kalian naik lewat mana kemarin?" tanya Om No
"Lewat Toure, Om" jawab Richard
"Ampun, masih 7 kilo dari sini." kata Om No, lengkap dengan ekspresi dua tangannya yang memegang kepala, seolah menyiratkan keputusasaan. Haha!

Aku hanya bisa ngakak. Begitulah, Om. Perjalanan kami memang masih jauh, dengan huruf "u" yang banyak. Bahkan Om No yang orang lokal saja bilang bahwa Desa Toure itu memang jauh sekali. Tapi tenang aja, Om. Kami masih kuat kok, apalagi sudah mendapat tambahan energi dari segelas kopi jamuan dari Om No tadi. Makasih ya, Om!

Perjalanan pulang ini memang masih jauh. Dengan remah-remah tenaga yang tersisa, aku kembali menyusuri perkebunan penduduk. Sore berganti malam. Tanda-tanda adanya pemukiman baru kami dapati menjelang pukul 7 malam. Kembali ke rumah Pak Kades Desa Toure, mengambil motor dan mengucapkan terima kasih kepada Bapak dan Ibu Kades sekeluarga. Kami pamit pulang ke Tomohon.

Sekali lagi terima kasih untuk Richard yang sudah menjamu dan menemaniku mendaki Soputan. Kelak jika ada kesempatan, waktu dan rezeki, semoga aku bisa mampir lagi.

Soputan, aku pamit duluan!

Cerita selanjutnya di Kisah Dari Sangihe

4 comments:

  1. Bagus cerita nya...thx lena

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih juga, Cad. Sampai jumpa di trip selanjutnya 😃

      Delete
  2. Photo Courtesynya gk nahan mbak len.. Btw nice story..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh, ada Juna! Kan pemilik fotonya kudu dikasih royalti, Jun! Ntar gw bisa dituntut klw gak nulis sumber fotonya, hehe.

      Delete