Saturday, May 21, 2016

Kisah Dari Sangihe

"Pergi ke laut lepas, anakku sayang
Pergi ke alam bebas!
Selama hari belum petang
dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau
................
Kembali pulang, anakku sayang
Kembali ke balik malam!
Jika kapalmu telah rapat ke tepi
Kita akan bercerita
Tentang cinta dan hidupmu pagi hari"
(Surat Dari Ibu - Asrul Sani)

------------------------------------------------

30 April 2016


Aku masih berada di sebuah homestay di Kota Tomohon Sulawesi Utara. Jam 3 pagi aku terbangun. Terpaksa bangun tepatnya. Masih dalam kondisi mata 5 watt dan capek setengah mampus setelah mendaki Gunung Soputan kemarin. Aku baru balik dari gunung jam 9 malam tapi sekarang harus packing dan check out. Pakaian dan sepatu basah sisa pendakian kumasukkan sekenanya saja ke dalam carrier. Taksi akan menjemputku jam 4 pagi nanti menuju Manado. 

"Nggak usah ngebut-ngebut, Pak. Pesawat saya masih jam 7 pagi kok. Saya sengaja berangkat pagi biar nggak terburu-buru." kataku pada Pak Alvin, sang pengemudi taksi. 

Jalanan dari Tomohon ke Manado yang berkelak-kelok serta naik turun tampak sudah sangat diakrabi oleh driver ini. Aku bahkan ketiduran di dalam taksi dan baru terbangun ketika dari jauh kulihat Patung Yesus Memberkati di sebuah bukit di dekat gerbang sebuah perumahan mewah. Ah, sudah sampai Manado kita rupanya. 

Pagi buta, Bandara Sam Ratulangi Manado sudah sedemikian ramainya. Aku langsung check in ke counter Wings Air tujuan Naha. Meski namanya mirip bahasa Jepang, sejatinya Naha adalah bandara di Kota Tahuna, Ibukota Kabupaten Kepulauan Sangihe (sebagian orang lebih akrab dengan kata Sanger atau Sangir) Propinsi Sulawesi Utara. Pagi ini aku akan bergabung dengan teman-temanku yaitu Dian, Yuni, Dame, Ester dan Kusuma untuk bersama menuju Sangihe. Mereka telah berangkat dari Jakarta ke Manado dinihari.  

Aku clingak-clinguk di ruang tunggu bandara. Di mana mereka? Ah, itu Kakak Dame! Hey Dian, apa kabar? Untuk Yuni, Ester dan Kusuma...salam kenal ya! Senang rasanya bertemu kalian semua! 

Kami berenam disatukan oleh sebuah impian. Mimpi untuk bisa mengunjungi Pulau Miangas, sebuah pulau di ujung utara nusantara yang bahkan wilayahnya lebih dekat ke Filipina dibandingkan Indonesia. Kapal menuju Miangas akan berangkat besok malam dari Tahuna, maka hari ini sampai besok sore kami masih punya kesempatan untuk piknik sebentar di Tahuna dan sekitarnya.

Kurang dari 1 jam perjalanan dengan menggunakan pesawat dari Bandara Sam Ratulangi untuk sampai ke Bandara Naha. Inilah kami, menjejak satu dari sekian pulau di Kepulauan Sangihe!


Letak Tahuna (Kepulauan Sangihe) dalam Peta Indonesia
Welcome to Naha! 

Mendarat di Naha, ternyata ada Marsello (putra asli Sangihe yang telah dikenal sebelumnya oleh Dian, Yuni dan Ester) yang menjemput kami di bandara. Kami menuju kota. Melihat wajah sebagian kecil sudut Tahuna. Sempat berhenti sebentar di tepi jalan Langaneng untuk menyaksikan pemandangan kota dan Teluk Tahuna dari ketinggian (meskipun bukan the best spot sebenarnya). Mobil jalan lagi. Di sebelah kanan, dalam jarak yang sangat jauh, tampak dataran tinggi menjulang dengan selimut kabut samar di atasnya. "Itu Gunung Awu" kata Marsello


Kota dan Teluk Tahuna terlihat dari tepian jalan Langaneng

Kami lanjut makan siang di Rumah Makan Ci Nona yang terletak di sebuah jalan bernama Satu Jalur. Hmm, Tinutuan (bubur manado) dan Nike (mirip perkedel yang dibuat dari ikan teri) bener-bener bikin kalap. Pesen Nike 20 biji lagi!

Enjoy your meal! 
Marsello masih nemenin kami muter-muter nyari penginapan dan akhirnya mentok di Hotel Melia. Ia menyarankan agar kami sewa satu kamar untuk menitipkan barang-barang bawaan yang belum diperlukan. Malam ini kami memang tidak berencana menginap di Tahuna melainkan di Tamako. Tamako adalah daerah terdekat untuk menuju Mahengetang. Nantilah aku akan bercerita lebih lanjut tentang Tamako dan Mahangetang. Eh, makasih banyak ya Om Marsel!

Siang ini masih bisa jalan-jalan di seputaran Tahuna. Teman-teman yang sebagian besar doyan banget sama laut langsung ngebet ingin snorkelingan di Pelabuhan Tua Tahuna yang kabarnya ada spot kapal karam (ship wreck) di dalam lautnya. Cukup naik angkot sekali dari depan Hotel Melia.


Di sekitar Pelabuhan Tua Tahuna

Bagiku, laut lebih indah dinikmati dari atas, menyapa birunya dan membiarkan segala yang hidup di dalamnya tetap dalam kesunyian (ini sebenarnya cuma cara ngelesnya orang yang nggak bisa renang dan malas basah-basahan, haha!). Terus apa kegiatanku sebagai manusia yang nggak suka main air? Sebagai teman yang baik (Ehm!) maka dengan sukarela aku jagain barang-barang selama mereka snorklingan.

Kulihat Yuni dan Ester nyemplung, Dian dan Dame enggak, sementara Kusuma yang katanya mau main air malah bolak-balik ke gazebo tempatku menunggu.

"Wrecknya nggak ketemu, nggak tahu nih tepatnya di mana" kata Yuni dan Ester. Mereka berjalan ke arah gazebo, dengan raut wajah yang agak kecewa.

Kami langsung bergerak untuk merencanakan destinasi berikutnya yaitu ke gunung api bawah laut Mahengetang. Letaknya cukup jauh bila dijangkau dari Tahuna, lebih baik kami menuju Kecamatan Tamako saja. Informasi dari Marsello, ada travel tujuan Tamako yang ngetem di dekat Pelabuhan Tua ini. Jumlah kami ada enam orang, jadi travel bisa langsung jalan. Biayanya Rp 30.000/orang kalau tidak salah.

"Iya betul, Rp. 30.000/orang" sahut seorang wanita muda yang sedari tadi duduk di bangku gazebo Kami langsung menoleh ke arahnya.
"Nanti sama saya saja, saya juga pergi ke Tamako" lanjut wanita muda itu, sambil memangku anak lelakinya.

Wanita muda yang bernama Kak Cilia ini kemudian menelepon travel yang ternyata milik suaminya. Awalnya, sang suami (yang bernama Kak Istem) nggak percaya bahwa ada 6 orang yang akan ikut dengan mobilnya ke Tamako sore ini. Yuni akhirnya mengambil alih percakapan di telepon itu dan menjelaskan bahwa kami memang benar-benar akan ke Tamako.

Sip, urusan tentang travel ke Tamako selesai. Kak Cilia dan Istem akan menjemput jam 4 sore nanti di hotel tempat kami menginap. Mari kita kembali ke hotel lagi, ganti baju selepas basah-basahan lalu nyari makan.

Siang-siang begini enaknya memang ngebakso dengan kuah panas dan pedas. Kami temukan sebuah lapak bakso di pinggir jalan di dekat Pasar Tahuna. Nggak hanya bakso ternyata, ada satu makanan berkuah lagi yang bener-bener asing di mataku. Ternyata itu Milu, makanan khas Gorontalo. Icip-icip dulu boleh?

Berjalan ke Pasar Tahuna, masuklah kami ke Supermarket Megaria. Awalnya sih cuma mau beli cemilan, tapi buntutnya kami sekalian belanja sembako untuk keperluan di Miangas. Berkardus-kardus sembako kami borong, mulai dari beras, mie instan, air mineral, keperluan masak dan lain-lain. Informasi awal yang kami dapatkan tentang kondisi Miangas, membuat kami merasa perlu menyiapkan ini semua.

Mobil Kak Cilia dan Kak Istem sudah menunggu di depan Hotel Melia saat kami tiba kembali ke penginapan dan menenteng hasil shopping kami di Megaria. Tunggu sebentar ya, Kak! Kami masukkan enam carrier segede gaban di bagasi plus enam pelampung besar (Mersello minjemin pelampungnya yang type offshore life jacket euy! Bulky banget pastinya, haha!). Atur-atur tempat duduk dan sip...berangkat kita menuju Tamako.

Nah, sekarang aku akan bercerita tentang Tamako dan Mahengetang. Tamako (sekali lagi entah mengapa namanya mirip kata dalam bahasa Jepang) adalah sebuah Kecamatan di Kabupaten Kepulauan Sangihe. Dengan menggunakan mobil, Tamako dapat ditempuh dalam waktu kira-kira satu jam dari Tahuna. Kecamatan ini letaknya bisa dikatakan lebih dekat menuju Pulau Mahengetang yang akan kita datangi untuk melihat gunung api bawah lautnya. Yup, gunung api bawah laut (underwater volcano)! Jika biasanya kita harus mendaki untuk menggapai puncak gunung tapi di Mahengetang kita malah harus menyelam ke dalam air. Gimana cara ngitung tingginya kalau begini? Mungkin menjadi meter above seabed? Tinggi gunung Mahengetang sendiri diperkirakan mencapai 3000 meter. Gunung ini masih aktif. Aktivitas vulkaniknya ditandai dengan adanya gelembung-gelembung udara yang keluar dari celah-celah atau retakan batu dan tanahnya. Ekosistem laut yang indah dan unik  juga dapat ditemukan di sana. Kabarnya puncaknya tak begitu dalam dari permukaan air sehingga cukup dengan kegiatan snorkeling saja, kita bisa menikmati keindahannya.

"Nanti kalian turunnya di mana?" tanya Kak Istem sembari menyetir mobil dengan kecepatan sedang saja, menembus jalanan Tahuna-Tamako.

Sesuai informasi dari Marsello bahwa hanya ada satu penginapan di Tamako, namanya Penginapan Rainbow. Maka di situlah kami akan turun.

"Jika tujuan kalian ke Mahengetang dan nginapnya di Rainbow, itu jauh sekali. Dari tempat naik kapal, masih 3 kilo lebih jalan. Tadi malah saya ketemu pemilik penginapan Rainbow sedang menuju ke Tahuna." lanjut Kak Istem.
"Kalau rumah Kak Istem dan Kak Cilia di mana? Jika lebih dekat, kami numpang aja di rumah Kakak" sahut Dame
"Boleh saja, tapi rumah kami sederhana sekali." jawab Kak Istem dan Kak Cilia.
"Nggak apa-apa Kak, kami sudah biasa tidur di mana saja. Ada yang menampung saja kami sudah sangat senang sekali" kata Yuni diamini Dame.

Sesuatu yang tak terduga. Atas campur tangan semesta kami dipertemukan dengan kakak-kakak yang baik hati ini. Sekali lagi aku percaya bahwa Tuhan selalu bersama para pejalan! Malam ini kami diperbolehkan menginap di rumah Kak Cilia dan Kak Istem. Bukan cuma itu, Kak Istem juga kenal dengan pemilik kapal yang mungkin bisa kami sewa untuk ke Mahengetang esok hari.

Jalanan berliku menuju Tamako, sebagian besar penumpang terlelap dalam kantuk. Demikian pula Rahvi, putra semata wayang Kak Cilia dan Kak Istem.

Kami sampai di Kampung Nagha 2, kampungnya Kak Cilia dan Kak Istem. Mobil berhenti di depan sebuah rumah di dekat sebuah teluk, aku lupa menanyakan nama teluknya, jadi mari sebut saja Teluk Nagha 2. Kami akan nego harga kapal ke Mahengetang dengan pemiliknya. Tapi kru kapal sedang berada di kapalnya, kapal itu buang jangkar nun jauh di sana. Sepertinya draft kapal (kedalaman kapal atau badan kapal yang tenggeram di air) cukup dalam sehingga tidak bisa berlabuh atau bersandar di tepi daratan yang dangkal. Tak ada pilihan lain selain menunggu mereka turun ke darat. Nunggu sampe lumuten saking lamanya. Maaf ya, Kusuma. Jangan heran ya dengan trip ala koboi begini. Gimana, seru kan? Semua-muanya nunggu eksekusi di jalan sambil berharap akan adanya kejutan!

Rahvi and friend :-)

Akhirnya kru kapal yang diwakili oleh Pak John datang. Tanpa negosiasi yang rumit akhirnya kami menyepakati sebuah harga. Sampai ketemu besok, jam 6 pagi, di tempat ini! 

Shopping lagi? Yes, tentunya. Kami harus belanja untuk kebutuhan masak malam ini dan esok hari, secara kami hanya sewa kapal tanpa pelayanan makan. Tapi tenang, ada Chef Kusuma yang siap menunjukkan keahlian level masternya. Kak Istem mengantarkan kami ke Pasar Tamako. 

Usai belanja, Kak Istem membawa kami menuju rumah Bapak Kepala Desa Nagha 2. Ia harus melapor dulu ke pimpinan desa setempat bahwa ada enam orang yang akan menginap di rumahnya. Terus terang aku salut dengan hal ini, prosedur pelaporan yang tetap dipatuhi oleh warganya. Untuk sampai ke rumah Bapak Kades ini, jalannya menanjak lebih dari 45 derajat. Cadas! 

Satu hal yang membuat kami surprise. Bapak Kepala Desa (atau dalam bahasa lokal disebut sebagai Kapitalaun) betul-betul gaul abis! Kapitalauan Nelson Terimanis namanya, yang tampak berwibawa tapi tetap santai. Beliau mengijinkan kami untuk menginap di Tamako dan menasehati untuk tetap menjaga sikap selama di desa maupun di Mahengetang nanti. Siap 86 komandan!

Ya sudah, urusan logistik kelar, demikian pula tentang permit. Mari kita menuju rumah Kak Istem dan Kak Cilia, tempat di mana kami akan berteduh malam ini. 

Di rumah, kami bertemu dengan Kak Chyntia, saudara perempuan Kak Istem. Aku sangat terharu dengan sambutan keluarga ini, orang-orang yang sebenarnya baru kami kenal. Mereka bahkan menyiapkan makan malam yang luar biasa lezat buat kami. Nasi hangat, ikan segar beserta sambal dabu-dabu. Inilah yang membuat sebuah perjalanan menjadi tambah berkesan. Kami serasa punya keluarga. 

Malam panjang di Kampung Nagha 2 adalah malam dengan langit cerah berhias gugusan bintang-bintang kecil. Kami ngobrol di teras. Si kecil Rahvi tampak sibuk dengan mainan barunya, tongsis dan hape yang bikin dia doyan banget minta foto selfie. Juga anjing-anjing jinak di rumah (salah satunya bernama SoWhat - nama lengkapnya adalah So What Gitu Loh, haha!) serta seekor kucing rumah bernama Pilus. Sebuah kehidupan yang nyaman. 

Malam bergerak larut. Kampung Nagha 2 siap terlelap. Selamat istirahat, para pejalan! Mari melukis malam dengan mimpi masing-masing...

1 Mei 2016

Kampung Nagha 2, Marlukade! (Selamat pagi dalam Bahasa Sanger).

Apakah kita harus mandi? Ups! Langung packing aja yuk, membawa kebutuhan yang diperlukan selama perjalanan di kapal dan perlengkapan bagi yang mau piknik di bawah air. Mari meluncur ke Teluk Nagha 2.

Foto keluarga dulu di depan depan rumah Kak Istem & Kak Cilia
Selamat pagi, Teluk Nagha 2!
Tepian Teluk Nagha 2 tampak surut. Kapal yang akan kami sewa terlihat berada jauh di sana. Dengan alasan yang sama seperti kemarin, kapal tersebut tidak bisa merapat lebih dekat ke daratan. Kami harus menggunakan perahu kecil terlebih dahulu lalu transfer ke kapal itu. Dengan jumlah kami berdelapan maka perahu kecil ini harus bolak-balik untuk mengambil penumpang.

Perahu kecil yang hanya bisa memuat maksimal empat orang ini adalah perahu tanpa mesin, ia bergerak dengan dayungan tenaga manusia. Aku serasa berada di akuarium raksasa. Meski berada dekat dengan pemukiman penduduk, bisa dikatakan bahwa air lautnya masih terjaga kebersihannya. Bening sekali.

Setelah sampai di dekat kapal (KM Jaya Samudra namanya), bukan lalu urusan selesai. Perjuangan belum selesai. Kapal tersebut cukup tinggi dan tidak tersedia pilot ladder (semacam tangga monyet) yang bisa kami naiki. Yang ada adalah fender berupa sebuah ban yang ada di samping kapal, cuma itu satu-satunya alat bantu kami naik ke kapal. Arus bergerak cukup kencang, perahu nggak bisa stabil bersandar di pinggir kapal. Aku bahkan sempat terjatuh ke laut saat hendak naik ke ban tetapi perahunya malah bergerak menjauh dari kapal. Ah, untung masih bisa berpegang pada sesuatu! Selamet...selamet....

I'm sailing...I'm sailing! (Photo Courtesy of Dame Sianipar)
Tariik, mang! 

Semua sudah berada di kapal. Jangkar di-retrieve. Mari kita berlayar menuju Mahengetang! Butuh waktu 3-4 jam perjalanan kabarnya. Kami arungi birunya Laut Sulawesi.

Aku duduk di buritan, di atas penutup bak air bersih di kapal. Pulau Sangihe tampak jauh di belakang. Laut luas terhampar dalam sepanjang mata memandang. Indonesia ini adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang bahkan dua pertiga wilayahnya adalah lautan. Jika potensi kekayaan maritimnya dikelola dengan baik dan profesional, pasti bangsa ini bisa menjadi bangsa yang besar dan sejahtera. Bukankah nenek moyangku seorang pelaut? Kenapa selama berpuluh-puluh tahun kita seolah memunggungi laut dan samudra, lalu sibuk mentahbiskan diri menjadi negara agraris tetapi sekarang malah mengimpor kebutuhan pangannya! Ya, ternyata aku sedang memikirkan negara. Dan ternyata memikirkan negara itu membutuhkan energi juga. Ayo masak!

Kusuma dan aku segera bergerak. Agak sedikit putus asa saat kubuka kotak perkakas masak di kapal ini. Tak ada rice cooker pula di sini jadi kami harus menggunakan cara lama untuk menanak nasi.

"Kita aron aja berasnya sampai setengah matang. Baru deh masukin ke dandang/panci pengukus." kata Kusuma
"Siap, Chef" jawabku

Dengan peralatan masak yang terbatas, kami terpaksa mengaron beras menggunakan wajan dan mengaduk beras yang telah diberi air tadi dengan sodet tipis berbahan seng dan bergagang kayu yang ringkih banget. Api kompor terus tertiup angin laut yang cukup kencang. Tantangan berat! Ah, sebuah nearmiss terjadi, untungnya bisa ditangani dengan cekatan oleh Chef Kusuma. Thanks for your tips and tricks!

Chef Kusuma in action! 

Selamat makan, teman-teman. Kita makan seadanya dulu, hanya nasi, mie goreng (campur bunga pepaya seiprit yang kita petik di tepian Teluk Nagha 2) serta telur dadar saja. Semoga cukup mengenyangkan dan menjadi bekal tenaga untuk snorkelingan nanti.

Kapal melintasi Pulau Kalama, terus bergerak hingga melalui Pulau Karaketang. Jam sudah menunjukkan nyaris pukul 12 siang. Pulau Mahengetang semakin dekat. Kapten Nelson menurunkan laju kapalnya. Kapal ini tak bisa merapat ke Pulau Mahengetang. Kru melego jangkar sekitar 100 meteran dari dermaga.

Yup, kami tidak langsung menuju lokasi gunung api bawah laut itu. Izin dari pemangku adat harus didapatkan terlebih dahulu.  Yuni dan Dame lalu terjun berenang menuju dermaga pulau, bermaksud permisi kepada ketua adat agar kami dizinkan mengunjungi gunung Maeangetang. Semoga sukses misinya, Kakak!

Dari jauh kulihat mereka bertemu dengan dua orang penduduk lalu diajak berjalan menjauhi dermaga. Setelah menunggu cukup lama menunggu misi perdamaian Kakak Yuni dan Dame, akhirnya mereka kembali. Hasilnya sukses! Kami diizinkan untuk mengunjungi gunung api bawah laut Mahengetang, dengan satu nasehat bahwa dilarang menyentuh atau membawa apapun selama berada di sekitar gunung dan jangan mengucapkan apapun jika melihat sesuatu.

Kapal bergerak menuju arah barat daya pulau ini, mendekati lokasi di mana gunung api bawah laut itu berada. Jangkar dilego lagi. Yuni, Dame, Ester dan Dian telah bersiap dengan peralatan tempurnya untuk nyebur ke air. Selamat mendaki eh salah...menyelami gunung maksudnya! Aku, Kusuma, Kak Istem, Kak Cilia serta kru kapal hanya menunggu di kapal saja. Kita mancing aja yuk!

Tapi tak berapa lama, para penyelam gunung itu malah kembali ke kapal. Lagi-lagi karena nggak ada pilot ladder, naik ke kapal menjadi kegiatan yang sangat susah. Ada apakah gerangan hingga kegiatan menyelami gunung berlangsung secepat ini?

"Gunung api bawah lautnya nggak ketemu. Kita harus kembali ke Pulau Mahengetang dan minta tolong penduduk sana untuk menemani. Mereka pasti tahu tempatnya. Sekalian sewa kapal yang lebih kecil saja di sana, biar bisa dekat dengan lokasi gunungnya"  kata salah satu tim penyelam gunung

Jangkar ditarik lagi. Kapal ini kembali mengarah ke Pulau Mahengetang. Hari telah semakin siang. Sampai berapa lama kita di sini?

"Teman, tujuan utama kita ngetrip ini kan ke Miangas. Jangan sampai kelamaan di Mahengetang, Miangasnya malah gagal total" kata Dame.

Betul, setuju Kakak! Kita harus kembali ke pulau lagi, sewa kapal kecil, lalu ke gunung bawah laut dan snorkeling. Belum lagi perjalanan pulang ke Tamako, ditambah perjalanan darat dari Tamako ke Tahuna. Jam berapa nanti kita bakal sampai Tahuna?

Dian datang ke buritan tempat kami ngumpul, tiba-tiba menyahut "Pokoknya ini dulu, pokoknya harus ke Mahengetang dulu! "

Kami semua saling berpandangan. Pasti semua ingin ke Mahengetang, tapi....

"Dengerin dulu, Yan. Miangas adalah tujuan utama, inget itu. Ini sudah jam segini. Jangan sampai nanti kita ketinggalan kapal ke Miangas gara-gara ini." jawab Yuni, mencoba menjelaskan.

Akhirnya kami sepakat untuk melihat situasi dan kondisi dulu. Sebisa mungkin tetap ke gunung api Mahengetang tetapi tetap memperhatikan waktu. Kapal melego jangkar lagi di dekat Pulau Mahengetang. Kali ini gantian Dian dan Esther yang nyebur turun dan berenang ke pulau untuk menyewa perahu penduduk setempat.

Tak lama, Dian dan Ester beserta dua orang dari penduduk pulau Mahengetang telah berada dalam speed boat kecil dan menuju kapal ini untuk menjemput Dame dan Yuni serta siapapun yang mau ikut melihat gunung api bawah laut.

"Ayo, Pak...ikut! Masa orang sini nggak tahu letak gunung api Mahengetang. Saya aja jauh-jauh dari Jakarta ke sini demi melihat itu." seru Esther dari speed boat, ditujukan kepada kru kapal ini. Tadinya semuanya tak bereaksi, namun akhirnya salah satu dari kru yaitu Pak John turun juga ke speed boat. 

Speed boat pergi, melaju menjauh. Ada yang sedikit mengganjal dalam batinku sedari tadi. Seluruh kru kapal ini adalah asli orang-orang Sanger yang sejak kecil dibesarkan oleh laut. Laut adalah kehidupan mereka, mereka mengenal laut seperti saudara. Tanpa kompas dan GPS pun aku yakin mereka akan bisa sampai tujuan karena piawai membaca tanda-tanda alam semacam rasi bintang di langit, riak gelombang, alun, begitu pula tradisi dan nasehat turun-temurun, insting serta daya tanggap terhadap alam sekitar. Tak mungkin mereka nggak tahu dimana letak Mahengetang, gunung api bawah laut itu. Tapi ada sesuatu yang membuat mereka tidak berani "speak up" tentang Mahengetang.

Tapi ya sudahlah, semoga kali ini tim penyelam gunung akan dapat menemukan impiannya. Mari lanjut mancingnya, Bapak-Bapak! Ikannya nanti bisa kita goreng untuk makan siang.

Tak berapa lama, speed boat yang membawa tim penyelam gunung akhirnya kembali. Wajah ceria bisa kulihat dari rona teman-temanku saat speed boat itu merapat di samping kapal.

"Bagus banget....beneran! Selama kami snorkeling, baru pertama kali nemu yang begini. Banyak gelembung-gelembung udara yang keluar dari bebatuan. Keren. Airnya juga agak hangat di sekitar situ!" seru para penyelam gunung.

Selamat, kawan! Selamat telah mencapai summit Mahengetang! Aku ikut senang, lalu nimbrung melihat hasil foto maupun videonya.


Gelembung-gelembung udara tampak keluar dari celah bebatuan gunung api bawah laut Mahengetang
(Photo Courtesy of Dame Sianipar)
Ada yang "mendesis" kata Kakak Yuni, hehe! (Photo Courtesy of Yuni Rachma)
Seorang penduduk lokal sedang free dive di sekitar gunung api bawah aut Mahengetang
(Photo Courtesy of Dame Sianipar)

Everyone is happy! Kita bisa pulang dengan gembira beserta segudang cerita. Kapal diarahkan kembali ke Tamako. Perjalanan pulang masih panjang. Mari kita isi perut yang mulai lapar ini. Kak Cilia dan Kak Istem membersihkan ikan-ikan hasil pancingan. Kita goreng ikan yuk! Yuni dan Esther menyiapkan sambal dabu-dabunya. Selamat makan!

Aksi Kak Istem dalam adegan pembersihan ikan (Photo Courtesy of Yuni Rachma)
Nyam-nyam! Dian mana, Dian...? (Photo Courtesy of Dame Sianipar)
Kak Cilia, nikmat banget makan kuaci-nya? (Photo Courtesy of  Yuni Rachma) 

Para pencumbu ikan ;p

Selesai makan, aku duduk-duduk di haluan kapal. Dame juga di sana, disusul Yuni. Di situlah Dame dan Yuni bercerita tentang Mahengetang. Kisah ini diceritakan oleh pemangku adat Pulau Mahengetang yang ditemui Dame dan Yuni saat meminta izin untuk mengunjungi gunung api bawah laut.

Mahengetang dalam bahasa daerah artinya adalah Banyak Setan. Gunung ini sangat disakralkan oleh penduduk setempat. Ada ritual yang digelar setiap tahunnya (tepatnya setiap tanaggal 1 Januari) untuk menghormati para "penjaga" gunung dan agar daerah ini terhindar dari bencana. Karena sangat sakral, kita dilarang untuk menyentuh dan membawa apapun dari gunung itu serta dilarang mengucapkan apapun jika melihat sesuatu. Dulu, sempat ada penyelam yang nekad mengambil batu dari gunung api tersebut, semacam batu untuk sampel. Tapi ada yang terjadi kemudian? Tak lama setelah itu, orang tersebut mengalami sakit dan hanya bisa disembuhkan setelah dilakukan ritual dan doa khusus oleh pemangku adat di Pulau Mahengetang. Pernah ada juga seorang atheis (tidak percaya Tuhan) yang kebetulan seorang expat yang melihat penampakan ikan berkepala manusia dan berambut panjang saat melakukan penyelaman di sekitar Mahengetang. Hmm, aura "spooky" ternyata juga dirasakan teman-teman ini selama snorkelingan di sana.

Tak ada bedanya dengan tradisi masyarakat yang hidup di kawasan kaki gunung, maka warga Sangihe yang hidup di sekitar gunung api bawah laut Mahengetang juga menjadikan gunung dengan segenap cerita dan ritualnya menjadi bagian dari kearifan lokal sehingga mereka dapat hidup berdampingan dan saling menjaga. Kapal terus melaju, angin buritan turut membantu membelah lautan biru.

Semburat senja menyambut saat kapal ini berlabuh di Kampung Nagha 2. Kami telah selesai dengan Tamako hari ini. Perjalanan kami masih jauh. Masih ada yang menunggu. Satu titik di ujung paling utara Indonesiaku...Miangas!

Senja di Teluk Nagha 2 (Photo Courtesy of Dame Sianipar)

Terima kasih tak terhingga buat Kak Cilia dan Kak Istem yang telah banyak membantu selama kami di Tamako. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu memberkati kakak dan keluarga.

Seng kapure, kaseh lawo-lawo! (Saya pergi dulu dan terima kasih banyak, dalam Bahasa Sanger).

----------------------------------------------------

Budget :
1. Hotel Melia Tahuna = Rp. 150.000,-/kamar/malam
2. Tarif angkot Hotel Melia - Pelabuhan Tua/Pasar Tahuna = Rp. 3000.-/orang
3. Travel Tahuna - Tamako = Rp. 30.000,-/orang
4. Sewa kapal dari Tamako - Pulau Mahangetang = Rp. 1.000.000,- (termasuk BBM)


No comments:

Post a Comment