Thursday, February 16, 2017

Menembus Hulu Mahakam (Bag. 1) - Menantang Jeram Menuju Tiong Ohang

"There are places I'll remember
All my life, though some have changed.
Some forever not for better
Some have gone and some remain
All these places have their moments..."
(In My Life - The Beatles)

------------------------------------------------

Ternyata terlalu banyak desnitasi impian. Ini salah satu dari sekian banyak itu, menyusur Sungai Mahakam hingga ke hulu.

Sungai Mahakam merupakan sungai terbesar dan terpanjang di Propinsi Kalimantan Timur yang bermuara di Selat Makassar. Sungai sepanjang 920 KM ini melintasi Kabupaten Mahakam Ulu di bagian hulu hingga Tenggarong dan Samarinda di bagian hilirnya. Ia menjadi sumber air, sumber makanan (perikanan) dan menjadi parasarana transportasi bagi kehidupan masyarakat sekitar.

Berdasarkan informasi, ada beberapa cara menuju Kabupaten Mahakam Ulu. Bisa menggunakan kapal kayu besar dari Samarinda atau Melak, dapat juga menggunakan speedboat dari Pelabuhan Tering. Alternatif lainya adalah menggunakan transportasi udara yaitu Susi Air dari Bandara Melak ke Data Dawai (tapi susah medapatkan tiket penerbangan perintis semacam ini). Maka dengan mempertimbangkan berbagai alasan, maka kami memilih menggunakan speedboat dari Pelabuhan Tering di Kutai Barat sebagai titik awal perjalanan menyusuri Sungai Mahakam. 

Terus terang ini adalah perjalanan tanpa itinerary, males bikin dan informasi yang terbatas. Tiket pulang ke Jakartapun belum dibeli. Jika semesta mengizinkan, cita-cita kami adalah menjejakkan kaki sampai ke Desa Long Apari, desa paling ujung di hulu Sungai Mahakam yang "nyaris" berbatasan dengan Malaysia. Kita lihat saja nanti. Lagi-lagi my partner of crime dalam trip ini adalah the one and only...Dame!

10 Oktober 2016

Siang itu, Pesawat Wings Air yang kami tumpangi mendarat mulus di Bandara Melak Kutai Barat. Ini kali pertama aku pergi ke daerah ini, tapi tidak bagi Dame. Kutai Barat adalah semacam reuni dengan penggalan kisah masa lalunya saat bekerja di sana beberapa waktu silam. 

Tak ada transportasi umum dari Bandara Melak menuju Pelabuhan Tering. Yang tersedia hanyalah taksi menggunakan mobil-mobil semacam Avanza yang harus disewa dan dinego harga. Well, tak ada pilihan lain. Maka meluncurlah kami dengan mobil yang dikendarai Pak Beng. Lumayan juga jarak dari Melak ke Tering. Dari Pak Beng jugalah kami mendapatkan informasi bahwa sore ini masih ada speedboat ke hulu jadi tidak perlu menginap semalam di Tering. 

Tampak sungai dengan air berwarna coklat lumpur tapi berarus kencang, inilah Sungai Mahakam di tepian Pelabuhan Tering. Tering bukanlah pelabuhan besar. Hanya speedboat-speedboat saja yang bersandar di tempat ini. Infrastruktur juga masih seadanya. Tak ada jetty yang memadai, hanya lempengan-lempengan kayu yang disusun sedemikian rupa untuk akses keluar masuk penumpang. Tapi ada satu hal yang patut kuacungi jempol di sini yaitu seluruh penumpang kapal harus mendaftarkan nama diri dll untuk data manifest penumpang di Pos Dinas Perhubungan. Prosedur yang memang seharusnya dilakukan. Spanduk tentang SAKAS (Sadar Keselamatan Angkutan Sungai) juga terpasang di beberapa tempat.


Suasana Pelabuhan Tering, Kutai Barat

Sambil menunggu keberangkatan kapal, kami sempatkan bertanya pada beberapa orang tentang cara serta biaya untuk sampai ke Desa Long Apari. Beginilah cara kami ngetrip jika nggak punya itinerary atau minim info dari mbah google. Ternyata rute ke Long Apari mudah saja. Dari Long Bagun (tujuan akhir dari kapal yang akan kami tumpangi), kemudian lanjut ke Tiong Ohang. Tiong Ohang sendiri sudah termasuk Kecamatan Long Apari. Tapi jika yang kami tuju adalah  Desa Long Apari maka perjalanan harus dilanjutkan dengan menyewa perahu ketinting (penduduk lokal menyebutnya "ces").

"Siapkan saja sekitar lima uang lima juta rupiah untuk sewa cesnya" kata seorang Bapak, awak dari sebuah speedboat.

Langsung lunglai rasanya mendengar harga yang disebutkan itu. Fantastis habis jika hanya ditanggung berdua saja. Entahlah, dengan segala pertimbangan (khususnya persoalan keuangan negara), akankah kami merelakan duit sebanyak itu? Ah, sekali lagi berharap pada keajaiban semesta.


Siap-siap berangkat!

Sekitar pukul 3 sore, akhirnya kapal cepat berkapasitas sekitar 20 orang itu berangkat mengarungi Sungai Mahakam. Sebagai perenang gaya batu, maka pelampungpun sudah siap sedia terpakai. Kapal terisi penuh dan memacu kecepatan tinggi. Sesekali motorist (pengemudi kapal) memperlambat lajunya saat melewati gelondongan-gelondongan kayu yang mengapung di beberapa titik karena akan sangat membahayakan jika sampai menabraknya. 

Ciri khas peradaban sungai benar-benar terlihat di sepanjang perjalanan. Kampung-kampung Dayak di tepian sungai dengan segala aktivitasnya, lalu lintas kapal, tongkang yang memuat batubara, warung-warung bahkan Depo BBM terapung dapat mudah kita jumpai. Ya, Sungai Mahakam bak nadi kehidupan dan perekonomian bagi warganya.

Speedboat ini terus melaju. Seorang bayi laki-laki mungil yang digendong Ibunya tampak tetap terlelap dengan nyenyaknya seolah tak terganggu dengan goyangan kapal yang cukup kuat.

"Anak ini sudah biasa saya bawa naik kapal" terang si Ibu.

Aku tersenyum. Perjalanan ini baru dimulai. Tapi kesan seru sudah sangat terasa.


Menjemput impian

Riuh rendah aktivitas warga di tepian sungai

Speedboat ini kemudian singgah sebentar di sebuah warung di tepian sungai di Desa Datah Bilang. Monggo bagi yang mau makan, silahkan. Sepertinya inilah tempat istirahat a.k.a rest area kapal-kapal jurusan Tering - Long Bagun.

Mari mampir dulu

Dermaga kecil di pinggir sungai

Makin ke hulu, air Sungai Mahakam tak lagi coklat gelap. Pemandangan kanan kiripun kian indah karena sesekali hutan hijau masih terlihat. Menjelang Long Bagun, ada satu pemandangan di sisi sebelah kanan yang sempat membuatku terpukau. Batu dinding tinggi, berupa singkapan batu gamping yang besar dan cukup panjang. Keren sekali, serius!

"Di atasnya ada makam-makam leluhur " kata seorang penumpang.

Kapal melaju kencang, kuabadikan view itu dengan jepretan sekenanya. 

Batu dinding 
Tug boat dengan latar Batu Dinding

Senja menyapa di tengah perjalanan. Malam menjelang. Hampir empat jam lebih perjalanan ini. Kapal kemudian menurunkan penumpang terakhir (selain kami berdua) di Dermaga Ujoh Bilang. Ujoh Bilang adalah ibukota Kabupaten Mahakam Ulu. Kapal melaju lagi.

"Turun di mana, Mbak?" tanya Bapak motorist.
"Di Long Bagun, Pak" jawab kami sekenanya
"Ini sudah masuk  Long Bagun" kata Motorist.

Eh, sejujurnya kami nggak tahu harus turun di mana. Kami hanya tahu Long Bagun saja (seperti yang tertulis di tiket kapal), wkwk!

"Ada penginapan di sekitar sini, Pak? Besok rencananya kami mau ke Tiong Ohang" tanyaku dan Dame
"Ada, Mbak. Nanti kami antarkan. Bule-bule biasanya sering menginap di sana"
"Jangan yang kelas bule, Pak. Mahal. Penginapan yang biasa saja"  jawab kami.

Kami sampai di Long Bagun. Sebuah kota kecamatan yang cukup ramai. Lampu-lampu perkampungan serta kapal-kapal berbagai ukuran yang bersandar mengisi pemandangan malam di tempat ini. Motorist membawa kapal yang kami tumpangi dengan pelan menyisir pinggiran sungai.

"Besok ada yang mudik tidak?" teriak Motorist pada sekumpulan orang yang sedang mandi di pinggir sungai.
"Belum, kami tidak mudik" jawab mereka

Kapal bergerak lagi, mencari kapal yang besok berencana mudik. Awalnya aku sempat bingung dengan pemakaian kata "mudik". Mudik sepengetahuanku adalah kembali ke kampung halaman. Ternyata kata "mudik" dipakai di sini sebagai istilah untuk pulang ke daerah hulu. Sebaliknya, jika meninggalkan kampung di hulu menuju ke wilayah hilir, penduduk menggunakan istilah "milir".

"Besok ada yang mudik tidak? Ada dua orang yang mau ikut!" kembali Motorist bertanya pada sekumpulan orang di sebuah rumah terapung di pinggir sungai. 
"Ada! Besok kami jemput jam 7 ya!"  jawab mereka. 

Sip, urusan transportasi untuk besok telah beres atas bantuan Bapak Motorist dkk. Lalu kami diturunkan di Penginapan Koko, sebuah penginapan "terapung" di tepian sungai. Terima kasih banyak atas bantuannya ya, Pak! 

Penginapan terapung yang sederhana dengan dua tempat tidur di dalam kamarnya. Bangunannya terbuat dari papan. Karena terletak di tepi sungai, maka fasilitas MCK walhasil juga memanfaatkan sungai ini. Jangan harap nemu WC yang proper ya, haha!

Ngopi dulu, Kak!

Wah, perutku bunyi euy! Saatnya cacing-cacing minta asupan makan malam dan Kakak Dame juga kehausan. Nanya ke Bapak yang ngurus penginapan tentang warung makan terdekat, tapi ternyata hari ini semua warung dan toko tutup karena ada sesepuh adat yang meninggal. Waduh! Terpaksa makan Roti Boy aja nih :-(

Hah, meski roti nggak cukup nendang tapi   malam ini cerah (lha opo hubungane?). Kami duduk-duduk di beranda apung depan penginapan sambil ngobrol dengan beberapa orang yang menginap di sana. Lagi-lagi kami bertanya bagaimana caranya bisa ke Desa Long Apari dengan harga murah, tapi tampaknya memang susah! 

Aku berbaring di atas kasur kamar, memandang langit-langit penginapan yang tanpa plafon. Suara mesin kapal sesekali terdengar disusul suara air yang terciprat gerakan kapal. Satu hari telah kami lewati. Terima kasih Tuhan, atas lancarnya perjalanan dan banyaknya kejutan. Dan perjalanan ini, masih panjang...

11 Oktober 2016

Bagaimana aku bisa menggambarkan pagi di Long Bagun saat kubuka pintu kamar penginapan? Ah, sebuah pagi yang cantik dengan kabut tipis yang menghampar di atas sungai dan rerimbunan hutan di seberang. Tenang dan sunyi. 

Sebuah kapal besar tampak bersandar tak jauh dari penginapan. Kapal itu rutin membawa penumpang dan logistik dari dan ke Samarinda. Satu persatu orang di kapal itu mulai sibuk. Lampu-lampu mulai padam. Kapal-kapal kecil dengan suara mesinnya yang khas melintas. Sekumpulan Ibu mencuci, anak-anak mandi. Geliat Sungai Mahakam mulai tampak.


Long Bagun, pada sebuah pagi

Long Bagun yang mulai sibuk

Aku bukan orang yang rajin mandi saat traveling (ini bentuk pengakuan jujurku, haha!). Tapi mandi dengan air Sungai Mahakam langsung dari sumbernya adalah godaan tersendiri. Yeay, aku memutuskan untuk mandi! Bukan mandi di sungainya sih, tapi mandi di dalam pondok terapung yang diperuntukkan untuk MCK di depan penginapan. Dalam ruangan itu tentu tak ada bak mandi atau WC, alias kosongan aja. Lantai kayunya sengaja dibangun tidak rapat karena dengan begitu kita dapat mengambil air sungai yang mengalir di bawahnya dengan gayung ataupun mengalirkan dan membuang apa yang perlu dibuang. Byar byur byar byur...yang penting seger, abaikan warna air yang keruh dan hal-hal lainnya, wkwk! 

Sehabis mandi, maka secangkir kapal api terasa begitu enak dinikmati. Bukan specialty coffee memang, tapi aku toh penganut minum kopi apa saja. Roti Boy sisa kemarin, masih layak makan untuk sarapan. Yup, jangan lupa sarapan agar kuat menghadapi kenyataan. Halah! 

Sungai Mahakam mulai hiruk. Meski kadang pemandangan indah sungai sempat beberapa kali ternodai oleh pemandangan lain yang bikin shock saat kulihat orang-orang dengan seenaknya membuang sampah anorganik (sampah plastik, kardus dsb) ke sungai begitu saja. Heuheu! 

"Mau mudik, Mbak? Mari ikut kami saja." Kata seorang Mas-Mas yang keluar dari penginapan sambil membuka cover penutup kapal yang bersandar di depan.
"Kami sudah janji dengan orang yang semalam mengantar kami ke sini. Nggak enak Pak kalau tiba-tiba ganti kapal." Jawab kami.
"Tapi kapal kamilah yang sebenarnya punya jatah mudik hari ini, bukan mereka" lanjut Mas-Mas itu.

Walah, gimana ini? Semalam kan kami sudah punya janji dan akan dijemput jam 7 ini . Lalu tiba-tiba ada pemilik kapal lain (yang kebetulan satu penginapan dengan kami)  menyatakan bahwa hak mereka untuk mudik hari ini. Ya meneketehe. Untungnya, di tengah kebingungan kami bersikap, datanglah Pak Rahman, beliau pemilik  penginapan. Pak Rahman bilang memang seharusnya hak Mas-Mas itu untuk membawa penumpang yang menginap di sini dan jatah mereka untuk mudik hari ini. Tapi berhubung kami sudah berjanji dengan kapal lain ya tidak elok untuk meng-cancel begitu saja.

Wajah Mas-Mas itu nampak  kurang senang, kami juga merasa nggak enak. Tapi kan kami nggak tahu apa-apa.

"Sudah nggak apa-apa. Lagian dia sama kapal yang Mbak punya janji itu saudaraan kok, kakak-adik" jelas Pak Rahman.

Ah yo wislah, mari selesaikan sruputan kopi  lagi. 

Merah putih teruslah kau berkibar
Rimbun hutan di tepian Mahakam

Sesuai informasi yang kami dapat, ada dua jenis kapal yang melayani transportasi dari Long Bagun ke Tiong Ohang. Pertama adalah speedboat bermesin dua (seperti yang akan kami naiki) dengan waktu tempuh sekitar 8 jam serta Long Boat dengan waktu tempuh yang lebih lama tapi dengan biaya yang lebih murah. 

Jam tujuh lebih sedikit, kapal bertuliskan "Subur Rezeki" merapat di depan penginapan.

"Mbaknya yang semalam bilang mau mudik kan?" tanya salah satu kru kapal.

Akhirnya! Keril kami angkat. Kru kapal memasukkannya ke dek kapal. Kami tinggalkan penginapan Pak Rahman. 

Kapal ini tidak langsung berangkat ke Tiong Ohang, melainkan terus berputar-putar mencari penumpang dari dermaga satu ke dermaga selanjutnya. Kami serasa setrikaan yang harus ngikut bolak-balik ra uwis-uwis. 

"Nanti ada rombongan bule yang ikut juga" kata Pak Eng, pengemudi kapal ini.

Tapi setelah didatangi ke penginapannya ternyata rombongan bule itu belum siap. Maka kamipun diajak untuk berkeliling lagi. Yeah, tahu gini mah kami tunggu aja di penginapan saja, masih bisa bobok-bobok cantik lagi. 

Penumpang tak jua bertambah, hanya aku dan Dame. Yang nambah adalah bermacam-macam logistik yang ditumpuk dan disusun di bagian buritan kapal. 


Penginapan Koko, tempat kami menginap

Menurunkan motor untuk diangkut ke kapal

Kapal kembali bergerak menjemput ke penginapan rombongan bule. Muncul juga deh akhirnya. Satu persatu mereka menaiki kapal. Ada dua bule dan tiga orang berwajah lokal, satu di antaranya perempuan. Namanya Kak Martha, penduduk asli daerah ini. Dengan Kak Marthalah kami banyak ngobrol. Mereka bekerja di LSM Nurani Perempuan, sebuah LSM yang bergerak dalam pemberdayaan dan perlindungan perempuan. 

Kukira setelah rombongan tambahan ini masuk kapal, kami akan langsung cus meninggalkan Long Bagun. Tapi ternyata tidak. Pak Eng mendrop kami di Pos Dinas Transportasi Sungai untuk didata guna pembuatan manifest penumpang. Setelah itu kami diminta menunggu di sana karena kapal akan berkeliling lagi mencari penumpang maupun logistik yang hendak diangkut ke hulu. Waduuh! Dari jam 7 pagi kami dijemput dan sekarang sudah jam 9 lebih bisa dibilang kami hanya stuck berputar-putar di tempat ini. Aku sudah kehabisan gaya. 


Long Boat ke hulu dan Kapal Kayu Besar jurursan Samarinda

Jam 10 siang lebih, Subur Rezeki akhirnya benar-benar berangkat mudik ke hulu dengan sepuluh penumpang serta banyak muatan termasuk satu buah motor. Pak Eng yang membawa kapal. Di sebelahnya ada Pak Dedy, motorist spesialis riam. Dua orang helper standby di bagian buritan. 


Angkat terus, sampai penuh!

Tinggi air sungai tampaknya sedang-sedang saja, tak pasang juga tak surut. Dengan kecepatan yang cukup kencang, kami lewati banyak kampung Dayak di tepian sungai. Speed boat, ces, long boat berlalu lalang. Beberapa kali kulihat Ces yang memuat sebuah keluarga lengkap dengan hewan peliharaannya. Wajah-wajah berkulit putih khas Suku Dayak menjadi pemandangan umum di sini. Air sungai yang semakin jernih dan bersih. Rerimbunan hutan di sepanjang kanan dan kiri sungai. Di beberapa titik, tampak penambangan emas tradisional dengan perlengkapan seadanya mengais kekayaan emas yang kabarnya berserak di sungai ini. Mahakam terus memberiku kejutan.


Slow broow...!

Dari kejauhan, di sebelah kiri kami terlihat pegunungan tinggi menjulang dan memanjang dari utara ke selatan entah berapa kilometer. Bentuknya menyerupai dinding raksasa. Bebatuan cadas serupa tembok besar itu dikenal dengan nama Batu Ayau. Batu Ayau adalah batas alam yang memisahkan propinsi Kalimantan Timur dengan Kalimantan Tengah. Apakah jika dilihat dari atas, bebatuan itu beneran menyerupai dinding? Entahlah. Penasaran aku dibuatnya, edan kerennya! Mataku nanar terus mengikuti bentuknya, hingga ia hilang saat kapal berbelok mengikuti jalur ke hulu.

Batu Ayau
Kabut tipis di Batu Ayau

Sekitar jam 2 siang, kapal berhenti di sebuah warung makan di tepi sungai di area antah berantah. Serius nggak ada bangunan lain di sini selain warung ini saja. Seluruh penumpang dipersilahkan makan siang (tapi bayar sendiri-sendiri, hehe). Tempat ini menjadi rest area untuk rute  kapal Long Bagun - Tiong Ohang. 



Maksi-maksi!

Selesai makan siang, Pak Dedy (motorist spesialis jeram) mengambil alih kemudi dari tangan Pak Eng. Jeram atau riam Sungai Mahakam yang selama ini dahsyatnya hanya kulihat lewat layar televisi akan segera kami lewati. 

"Perlu turun nggak, Pak?" tanya seorang penumpang
"Nanti kalau saya suruh turun, baru turun"  kata Pak Dedy.

Kapal melaju lagi menembus sungai yang semakin deras alirannya. Jeram-jeram kecil mulai tampak dalam lintasan kapal ini. Woohoo! Gila, pemandangan di kanan kiri makin keren cuy! Rimbunnya belantara berpadu dengan bebatuan bentukan alam yang indah sekali! 


Bebatuan di Sunagi Mahakam

Pak Dedy memperlambat kecepatan kapal. Seakan menilai keadaan. Kami akan melewati Riam Udang, satu jeram yang terkenal akan keganasannya. Pak Dedy tidak meminta penumpang turun. Beberapa penumpang tampak memegang erat jaket pelampungnya.

Bismillah! Deg-degan cuy!

Pak Dedy nge-gas pol. Hmm, tapi kok rasanya biasa saja ya. Ternyata setiap riam punya term and condition sendiri-sendiri. Ada yang kondisinya dahsyat pada saat air pasang, ada yang pas air surut ataupun sedang. Nah, riam udang menjadi tak garang dengan debit air yang ada sekarang. Aman! Aman yang sementara. Karena di depan masih banyak riam ganas yang siap menanti. 

Susah motretnya :-(

Sekali lagi aku hanya bisa berucap wow untuk view sepanjang jalan yang kami lintasi. Semakin ke hulu semakin breathaking! Sungai ini mengalir deras berbatas dinding-dinding batu tinggi dengan air terjun yang keluar dari bebatuan. Kami berada di tengah belantara Kalimantan yang serasa belum tersentuh orang. Sesekali kapal menerjang keras derasnya arus di antara bebatuan hingga air sungai membasahi tubuh ini. 



Dinding-dinding batu di sepanjang jalan

Kini Riam Panjang sudah menanti di depan. Dinamakan Riam Panjang karena riamnya banyak, panjang seolah tak terputus. Pak Dedy sekali lagi memperlambat laju kapal. Kami nggak perlu turun katanya. Kupastikan lagi pelampungku. Bukan apa-apa, riam ini sudah banyak memakan korban gara-gara kapal yang pecah saat melawan riam. 

Bismillah....

Kapal bergerak kencang. Pak Dedy bermanuver memilah jalur, kapal membelah riam dan terhentak berkali-kali. Aku dan penumpang lainnya berteriak-teriak ngeri. Kupegang erat tiang penopang atap kapal. Sungguh menciutkan nyali. Rasanya seolah bertaruh nyawa. Hanya motorist berpengalaman yang mampu menaklukkan ini. 


Siap-siap....!

Dan riam panjang benar-benar masih panjang. Teriakan penumpang terus terdengar. Ngeri, seru karena sensasinya sekaligus sedih. Aku berpikir, setiap hari penduduk yang tinggal di sekitar sungai Mahakam harus melewati jalur sungai seperti ini untuk mudik ataupun milir karena jalan darat yang belum terbangun atau belum terhubung. Bukan hanya orang, tapi juga kebutuhan logistik warga. Jalur dengan risiko yang besar bagi keselamatan. Miris. 

Saat kapal ini terhuyung tak karuan dihempas riam, sebuah pemandangan maha dahsyat terlihat di sebelah kiri. Wow!!! Gila, sebuah air terjun yang megah yang aku susah mendeskripsikannya tiba-tiba muncul. Maka teriakanku bukan saja karena kami melalui riam yang ganas, tapi karena pemandangan menakjubkan dalam waktu beberapa menit barusan. Ah, seandainya kapal ini bisa melaju pelan saja untuk bisa mengabadikan momen indah tadi dengan sempurna. Atau seandainya saja kita bisa berhenti sebentar di sana. Tapi itu seperti sebuah hal yang mustahil di tengah goncangan kapal yang mencekam saat melintas riam.

Kuhela nafas panjang. Tempat ini indah, indah sekali.


Air terjun di dekat riam

Tak ada lagi riam dengan goncangan yang berarti. Mahakam mengalir tenang. Pak Dedy kembali mengemudi dengan santai, dihibur pula dengan lagu-lagu favoritnya.

Satu demi satu penumpang dan logistik turun. Jika agak lama, sesekali kami diperbolehkan untuk naik ke kampung sebentar. Ke sini salah satunya, Kecamatan Long Pahangai. Oh ya, kecamatan ini termasuk kecamatan yang wilayahnya  berbatasan dengan Malaysia. Maka tak heran terdapat tugu merah putih (penanda wilayah RI) di tempat ini, meski tidak terletak persis di titik perbatasannya. 


Tangga dan Gerbang ke Desa Long Pahangai
Tugu NKRI di Long Pahangai

Kapal bergerak lagi menyibaki aliran sungai tenang yang entah dimana ujungnya.

Di Kampung Long Isun, Kak Martha dan rombongannya turun. Disusul seorang penumpang dan motor bebeknya juga turun. Maka tinggal aku dan Dame yang tersisa di speedboat ini, di samping Motorist dan asistennya. Waktu sudah semakin sore.


Satu..dua...tiga...keluarkan motornya
Para Pencari Emas Mahakam

"Mbak-mbak rencananya mau kemana?" tanya Pak Eng yang duduk santai di sebelah Pak Dedy sang motorist
"Maunya sih bisa sampai ke Desa Long Apari, Pak. Tapi mahal" jawab kami
"Ya, harganya sekitar tiga juta rupiah untuk sewa ces" timpalnya
"Masa nggak ada yang lebih murah lagi?" lagi-lagi kami menghiba

Pak Eng hanya tertawa. Tampaknya harapan kami untuk bisa sampai ke Long Apari sirna sudah. Biaya speedboat yang kami tumpangi sekarang ini sudah sejuta per orang, masa kami harus nambah lagi biaya jutaan lagi? Serius, aku juga nggak menyiapkan uang cash sebanyak itu! 

Sungai Mahakam yang tenang dan nyaman. Kampung demi kampung kami lewati. Tiong Ohang akan segera kami darati setelah delapan jam perjalanan di atas speedboat Subur Rezeki.  

Sore menjelang, kami akhirnya sampai di Desa Tiong Ohang, pusat Kecamatan Long Apari. Yeay! Tapi kapal ini tidak merapat di Tiong Ohang melainkan di kampung seberangnya yaitu Desa Tiong Bu'u. Kedua desa tersebut terhubung oleh sebuah jembatan gantung. Inilah akhir perjalanan kami hari ini. 


Bukit gamping di dekat Tiong Ohang/Bu'u

Kami mengikuti Pak Dedy, motorist speedboat ke sebuah penginapan yang terletak persis di belakang dermaga tempat kapal bersandar. Beliau juga akan menginap di sana malam ini sebelum milir (kembali ke Long Bagun) esok atau lusa.  Penginapan bernama Putra Apari, berada di tepi jalan utama desa Tiong Bu'u.

"Saya ada teman yang biasa nyewain Ces ke Desa Long Apari, harga lokal. Saya hubungi sekarang. Nanti biar ngobrol sendiri sama kalian ya." kata Pak Dedy di dekat beranda penginapan.

Wah, terima kasih banyak, Pak Dedy! Akhirnya kami mendapatkan harga yang  cukup terjangkau untuk ke Desa Long Apari. Meskipun sebenarnya tetap saja mahal. Tapi setidaknya harga 1,5 juta rupiah masih okelah dibanding 3 atau bahkan 5 juta seperti informasi yang kami terima sebelumnya. When God steps in, miracles happen! And I do believe!

Tok-tok-tok...!

Pemukiman di sekitar Penginapan Putra Apari

Kami letakkan gembolan-gembolan keril di kamar penginapan yang sederhana. Meluruskan badan sebentar setelah delapan jam hanya bisa duduk dalam kapal.  Eh, jangan lupa nge-charge apapun yang perlu di-charge. Karena listrik di daerah ini akan mati pada jam 10 malam, demikian pula sinyal Hp.

Ada warung yang letaknya persis di sebelah penginapan sehingga kami nggak perlu jauh-jauh jalan untuk membeli makan. Aku langsung tercengang membaca spanduk yang terpampang di dalam warung. Bagaimana tidak, dengan font besar tertulis "Warung Jateng"! Yup, pemilik warung itu adalah Ibu Saleh, asli Magelang Jawa Tengah. Beliau bersama suami telah bertransmigrasi ke desa ini sejak puluhan tahun lalu. Di seberang warung ini juga terdapat warung Jawa lainnya, yaitu Warung Jatim. Ealah, jauh-jauh berkelana menyusur Sungai Mahakam sampai perkampungan Suku Dayak di Tiong Ohang/Tiong Bu'u, lha kok ketemunya warung Jawa. Haha!

Di Warung Jateng itu jugalah, kami bertemu dengan Pak Suadi dan Mas Ali, motorist Ces dan asistennya (yang telah dikontak oleh Pak Dedy) yang besok akan mengantarkan kami ke Desa Long Apari. Ngobrol sebentar dan sepakat untuk menjemput kami besok jam 7 pagi.


Kapal-kapal merapat di dermaga Tiong Bu'u

Dari loteng penginapan, kulihat Sungai Mahakam yang mengalir tenang. Kapal-kapal telah bersandar. Langit menjelang gelap. Kehidupan mulai sepi.  Mimpi apa aku bisa sampai ke sini...

When I start feeling sick of it all
It helps to remember I'm brick in the wall
Who runs down from the hillside to the sea
When I start feeling that it's gone too far
I lie on my back and stare up at the stars
I wonder if they're staring back at me...

------------------------------------------------------

Budget:

1. Taksi Bandara Melak - Pelabuhan Tering = Rp. 230.000,-
2. Speedboat Pelabuhan Tering - Long Bagun = Rp. 300.000,-/orang
3. Penginapan Pak Rahmat di Long Bagun = Rp. 100.000-/kamar/malam
4. Speed Boat Long Bagun - Tiong Ohang = Rp. 1.000.000,-/orang
5. Penginapan Putra Apari di Tiong Ohang = Rp. 80.000,-/kamar/malam

10 comments:

  1. Wiiih,petualang sejati.
    Hi mba lena,org Pekalongan juga y...? Kapan nih balik sini.kopdar yuuuk bareng komunitas blogger Pekalongan..., makan nasmeg,nikmati kopi tahlil....hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Mbak Cii, salam kenal.
      Halah, petualang opo tho, saia cuman petualang abal-abal ;)
      Iya, saia asli Pekalongan Mbak. Tp agak jarang mudik sih skrg, hehe.

      Aih baru tau euy ada Komunitas Blogger Pekalongan.
      Klw saia mudik, pasti mau banget saia kopdar & ngobrol sama Kakak-Kakak keren di komunitas tsb, pengen nimba ilmu dari Kakak semua. Ajak-ajak saia ya, mbak :-)

      Delete
  2. wah keren sekali petualangannya mbak, buat baper dan mupeng deh...


    Semoga saat pulang kampung ke Balikpapan bisa main3 lagi ke daerah di sekitarnya.

    SAlam kenal dan sukses selalu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Mbak Citra. Salam kenal juga :-)

      Mahakam Hulu memang seru, wajib dan kudu didatengi Mbak. Nggak jauh2 juga kok dari Balikpapan :-D
      Nah klw mudik ke Balikpapan, Salam ya untuk senja di Pantai Melawai hingga Pelabuhan Semayang. Kangen saia menikmati pisang gapit dan jagung bakar, dg view langit keemasan dan lalu lalang kapal, hehe!

      Delete
  3. Hallo mbak,
    Saya googling "losmen putra apari" dan nemu blog ini. Saya sangat menikmati membaca dan melihat foto-foto dari pengalaman perjalanan mbak ke Long Apari. Saya ingin tahu bagaimana pengalaman menginap di losmen putra apari? Apakah cukup nyaman selama menginap di sana?
    Salam kenal ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Mbak Avelya. Salam kenal juga. Terima kasih sdh mampir.

      Klw menurut pengalaman saya, Losmen Putra Apari cukup nyaman. Kamarnya ada di loteng (lantai 2) krn lantai bawah digunakan sbg rumah/ruko. Dari loteng, dpt terlihat Sungai Mahakam & Desa Tiong Ohang.

      Ada dua bed dlm kamar dg bangunan kayu tsb, cukup sempit sih, tp lumayanlah. Listrik menyala mulai dari 6 pagi sampai 10 malam. Tersedia Toilet/kamar mandi yg lumayan. Ada bbrp warung makan dan toko sembako di sekitar penginapan.

      Alteenatif lain di daerah situ adalah Penginapan Pirda di Desa Tiong Ohang (seberang Tiong Bu'u), dekat dg pusat keramaiannya Kecamatan Long Apari. Saia cuma lewat depannya aja sih, alias nggak masuk/lihat2 kondisinya.

      Semoga info ini cukup membantu, hehe! Selamat liburan, menembus hulu mahakam :-)

      Delete
  4. Hallo Mbak..
    saya asli anak Kaltim, Berau masa kecil di samarinda seberang, palaran..
    tapi besar di pulau orang,,
    Postingan mbak membuat saya ingin pulang sekarang, kangen mandi di sungai mahakam..
    Terntyata hulu sungainya begitu, mata saya berbinar binar takjub.., luar biasa...
    Saya ingin pulang skrang.., hiks hiks..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo juga, Mas. Makasih sdh mampir.
      Wah, asli Kaltim tho?
      Dari dulu saia penasaran dg hulu mahakam & takjub sekali setelah akhirnya berhasil saia sambangi.
      Harus sempetin dateng ke tempat ini, jika pulang nanti mas.
      Asli, kerennya kebangetan!

      Delete
  5. Seruuu...
    Oya klo ke Pekl mitap dg Blogger Pekalongan yuuk..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asyik, bisa ketemuan dg para seniyor blogger. Saia bs menimba ilmu banyak :-)
      Kabar2in yak klw ada acara mbak, sapa tau saia pas mudiks ke kota tercintah hehe

      Delete