Sunday, June 18, 2017

Sejenak di Luwuk

"And the earth becomes my throne
I adapt to the unknown
Under wandering stars I've grown
By myself but not alone
I ask no one
................
Anywhere I roam
Wherever I lay my head is home"

(Wherever I May Roam - Metallica)

--------------------------------------

Aku dan Kakak Dame (my partner in crime, untuk kesekian kali) punya tiga hari free sebelum bergabung dengan Ester, Kirey, Yuji dan Rifki jelong-jelong ke Taman Nasional Lore Lindu di Poso Sulawesi Tengah. Tapi malah bingung mau kemana. Tercetus banyak ide, tapi kemudian lewat begitu saja. Baru nyaris di injury time, kami memutuskan untuk pergi ke Kota Luwuk Kabupaten Luwuk-Banggai Sulawesi Tengah. Ini kota yang paling memungkinkan kami kunjungi karena memiliki jadwal direct flight ke Palu, tempat meeting point kami nanti dengan teman-teman sebelum berangkat bareng ke TN Lore Lindu. So, the backpacks are packed and we ready to go! 

8 Desember 2016

Berangkat dari Jakarta dan transit di Makassar. Ada kejadian yang cukup memalukan saat kami transit selama kurang lebih empat jam di Bandara Sultan Hasanudin Makassar. Saking capeknya, aku dan Dame terkapar di kursi ruang tunggu bandara. Meski tepar, sejatinya telinga kami masih bisa menyimak pengumuman dari petugas bandara. Tapi entah apa yang terjadi pada subuh pagi itu...

"Panggilan terakhir, panggilan terakhir untuk penumpang atas nama Dame Sianipar dan Lena Viyantimala, penumpang pesawat Garuda Indonesia tujuan Luwuk....." 

Aku dan Dame saling berpandangan. Apa? Kagetlah pastinya! Apakah kami begitu teparnya sehingga ketinggalan berita boarding bahkan sampai dipanggil-panggil begini? Setengah berlari kami menuju gate sesuai boarding pass, sambil tak henti tertawa. 

Sekitar jam 08.30 WITA, akhirnya kami mendarat di Bandara Syukuran Aminuddin Amir di Luwuk Sulawesi Tengah. Selamat datang di Kota Luwuk Berarir alias Bersih, Aman, Indah dan Rapi, ibukota Kabupaten Luwuk Banggai, kota yang berjarak sekitar 600-an KM lebih dari Palu, Ibukota Sulawesi Tengah. 

Kota Luwuk, ditandai dengan titik merah di peta (Sumber: www.banggaikab.go.id)

Dengan taksi bandara (bukan taksi argo, melainkan mobil-mobil avanza yang digunakan sebagai transportasi umum dari bandara ke kota), kami meluncur ke arah kota. Mobil menyusur jalan dengan view pantai di sebelah kanan, lalu masuk kota. Cukup ramai. 

Kami minta diturunkan di Kantor BNI Luwuk. Di sana kami janjian dengan Cahyadi di tempat kerjanya. Cahyadi adalah temennya Ester yang akan menjadi host kami selama di Luwuk. Salam kenal ya, Di. Mohon maaf akan merepotkanmu selama 2 hari ini :-)

Selesai meletakkan carrier di kost-an Cahyadi, istirahat sebentar serta mendapatkan satu motor sewaan dari temannya Cahyadi, aku dan Dame segera meluncur jalan-jalan entah kemana. Kami berdua saja, sementara Cahyadi kembali ke kantornya untuk melanjutkan tugas negara. 

Hunting air terjun aja yuks! Luwuk sangat terkenal dengan air terjunnya yang ada di mana-mana. Pergi sekarang? Ya iyalah! Kustarter motor, mari melanglang buana.

Tak ada yang tahu arah jalan. Maka dengan bantuan google maps. kami arahkan perjalanan menuju Air Terjun Hanga-Hanga dan Air Terjun Piala.  Dua buah lokasi air terjun yang cukup bisa terlacak jelas arahnya di maps. Nggak begitu jauh sih kelihatannya. Aku ngikutin apa kata suara mbak-mbak google maps itu. Dia suruh kiri aku ke kiri, dia suruh ke kanan aku ke kanan. 

Tapi Google maps mulai ngaco, yang ada aku cuma berputar-putar nggak karuan, bolak-balik nggak jelas melewati jalanan yang itu-itu juga. Lagi-lagi melewati sekolah, bundaran, pasar serta masjid yang sama. Bikin stress! Wkwk! Sepertinya, kami harus menggunakan GPS Manual, alias nanya penduduk sekitar.

Aku berhentikan motor di dekat pertigaan, di sebuah warung untuk isi bensin sekalian nanya arah.

"Kalian mau ke mana?" tanya seorang Bapak
"Kami mau ke air terjun, Pak. Tapi bingung kemana arahnya." jawab kami
"Ikut saya saja, kebetulan saya bawa truk ke arah sana. Kalian tinggal mengikuti dari belakang." kata si Bapak.

Yeay! Ah, beruntung sekali kami. 

Aku ikuti truck itu. Jalannya persis yang sudah kami lalui tadi, naik-turun, belak-beloknya sama. Tapi di satu titik, truk itu belok ke kanan. Aha, ini dia yang miss tadi dan nggak kebaca di google maps! Truck berhenti di depan dan menunggu kami.

"Saya lurus terus, kalian tinggal belok kiri. Ikuti saja jalan itu, nanti ketemu air terjunnya." kata si Bapak yang baik hati ini.

Terima kasih banyak, Pak. Kuikuti petunjuk arah si Bapak pengemudi truck itu. Jalanan beraspal bagus dengan tanjakan dan kadang turunan yang cukup curam. Dan akhirnya kami menemukan sebuah papan petunjuk arah.

Gardu pembangkit PLTM Hanga-Hanga

Tak ada tulisan besar semisal Air Terjun Hanga-Hanga ataupun retribusi tiket karena kami sejatinya berada di kompleks PLTM (Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro) Hanga-Hanga. Terlihat dua orang pria duduk-duduk tak jauh dari gardu pembangkitnya.

"Ada di sana air terjunnya." kata si Bapak 

Kami mblusuk ke arah pagar pembatas gardu, belok ke kanan lalu menemukan air terjun itu. Debit airnya kecil, bertingkat dan warna hijau toska tampak mendominasi kolam-kolam curahan airnya. Tampak sebuah gazebo di pinggir yang sudah rusak dan tak terawat.

Air Terjun Hanga-Hanga

Masih di Hanga-Hanga

"Len, kata Bapak penjaga, di belakang gardu  itu ada tangga menuju sumber air untuk PLTM itu." kata Dame

Tentu saja aku penasaran, jika air terjunnya saja cukup besar, pasti sumbernya lebih besar lagi. Aku membayangkan sebuah sungai dengan sumber mata air yang deras sekali. Maka selepas puas cekrak-cekrek di air terjun, kami segera pergi ke belakang gardu pembangkit. Tampak tangga-tangga semen dengan handrail, menjulang tinggi di samping sebuah pipa air berdiameter besar. Ujung tangga itu tak kelihatan. Okelah, kita naik! Lumayan juga inklinasinya euy, empat puluh lima derajat lebih ada kali.

Walau bukan di gunung, ayolah kita mendaki!

Awal-awal naik tangga, kami masih bisa ngobrol. Tapi lama-lama, cuma deritan dengkul dan nafas ngos-ngosan yang kedengeran. Entah masih berapa tinggi tangga ini, serasa tak ada habisnya. Tangga ini bener-bener menembus hutan, tampak jarang dilewati orang. Hadeuh! Tapi tetap semangat, bayangan akan sumber air besar itu sungguh menjadi penyemangat kami.

Entah berapa ratus anak tangga, aku males menghitungnya. Tapi ini gila! Mau turun juga nanggung, siapa tahu tinggal sedikit lagi. 

Nggak tahu juga kami sudah berada di ketinggian berapa, namun pelan-pelan di antara sibakan pepohonan, kami melihat pemandangan yang terbuka. Panorama kota Luwuk! 

Akhirnya, dari kejauhan aku bisa melihat sebuah bangunan semacam pintu air. Yeay, puncak sudah terlihat! Eh, kok puncak sih, haha!

Sesampai di ujung tangga paling atas, sumpah aku dibikin shock sekaligus ingin mentertawakan kebodohan ini. Ternyata di atas sini ada  jalan raya dan pintu air tersebut berada di seberang. Gimana enggak shock ketika dari arah sebelah kiri tiba-tiba melintaslah sebuah motor tersebut di depanku dengan santai. What? Kami sudah naik tangga ratusan dan sarat kepayahan dari bawah, tapi ternyata akses ke sumber air terjun bisa dilewati motor pula! Tahu gini kan kami naik motor saja ke atas, wkwk! Siyaaaalll...! 

Dan sumber air itu ternyata, well...agak jauh dari bayangan sih. Berupa sebuah kolam berukuran sekitar dua puluh lima meter persegi, tenang tapi terlihat tekanan airnya kenceng banget. Ah, baiklah! Mari kita leyeh-leyeh dulu, menimati pemandangan Kota Luwuk dari atas, sembari sekali lagi menertawakan diri. 

Sumber air PLTM Hanga-Hanga

Pemandangan Kota Luwuk dari SUmber Air PLTM Hanga-Hanga


Perjuangan belum berakhir, kami harus menuruni anak tangga itu lagi untuk sampai ke bawah, wkwk!

Hah, capek sih. Tapi masak harus pulang? Kemana lagi kita? Masih ada air terjun lagi di seputaran sini? Yeah, kami akan menuju ke Air Terjun Piala. Dari air terjun Hanga-Hanga, kami tinggal mengikuti jalan saja terus, lalu ketemu jembatan dan belok kanan, demikian informasi yang kami dapatkan dari seorang penduduk. Memang, lagi-lagi nggak ada petunjuk arah menuju Air Terjun Piala.

Motor kugeber lagi. Kali ini jalanannya agak parah, nggak ada lagi jalanan aspal bagus, melainkan jalan tanah dan batu-batu. Basah dan licin gara-gara hujan musim hujan. Maka kukemudikan motor ini pelan saja.

Di beberapa jalur dengan turunan tajam, atau jalan tanah yang licin dan penuh kubangan air, malah kuminta Kakak Dame untuk turun dari boncengan. Hehe, maap ya Kakak. Ane nggak berani, takut kita berdua jatuh! Berabe entar ;p

Maka setelah berjuang menempuh rute yang bikin motor menangis dan diri meringis, kami sampai ke sebuah jembatan. Kuarahkan ke kanan hingga menemukan semacam bendungan. Beberapa motor tampak terparkir di dekat bendungan dimana tak ada jalan lagi untuk bisa dilewati motor. Tak ada retribusi masuk air terjun ini atau bahkan sebuah papan nama.

Gemuruh suara air mulai terdengar, demikian pula aliran sungai yang tampak deras dan berwarna hijau toska di sebelah kanan kami. Berjalan sebentar ke arah hutan. Dan, ah...view di depanku bener-bener gila. Ini air terjun juara banget!  Tak salah jika air terjun ini dinamai Air Terjun Piala! (eh, nggak tahu juga ding asal-usul pemberian nama air terjun ini). Bagaimana aku menggambarkannya? Air terjun berundak banyak dengan air aliran air yang sangat deras berwarna hijau toska. Sempurna!

Sejenak aku speechless, don't know what to do. Mengeluarkan kamera dari drybag lalu sibuk mengabadikan keindahan. Ada sebuah jembatan kayu seadanya agar bisa ke sisi depan air terjun ini. Sebenarnya ingin rasanya menyeberang lebih jauh menuju tingkatan air terjun di paling depan. Tapi terus terang nyaliku ciut. Dari sisiku berpijak sekarang aku harus melewati aliran air yang entah dalamnya seberapa dan berarus sangat deras. Memang sih, ada bantuan sedikit berupa tali untuk pegangan. Tapi sumpah, aku nggak berani. Maka aku harus berpuas diri cukup melihat semua keindahan air terjun tersebut dari titik ini saja.

Tempat ini cukup ramai, meski belum masuk kategori cendol. Beberapa orang tampak dengan santainya berlompatan ria di bagian atas sana.

Air Terjun Piala yang Juara!

Deras...! Besar...!!

Dan ini memang juara!

Kakak Dame berniat nyebrang, dan ouch...! Dia terpeseleset dan jatuh ke air saat melewati sungai berair deras itu. Untung dis berpegangan tali dan berhasil bangkit lagi, Hah! Dia berhasil hingga menapak tingkatan air terjun di depan sana. 

Dari hasil guglingan sebelum ke Luwuk, aku telah mencatat beberapa nama air terjun di sini. Mumpung ketemu orang lokal, maka sekalian saja kutanya air terjun lain yang bisa kita kunjungi jika tempatnya tak jauh dari sini. Maka tersebutlah nama Air Terjun Laumarang. 

Yo wis, setelah cukup puas di Piala, kami memutuskan lanjut ke Laumarang. Toh hari masih siang. 

Ternyata jalanan ke Laumarang sangat parah. Jalan tanah yang sebagian besar becek karena hujan, dengan medan yang naik turun pula. Maka sekali lagi, maksudku berkali-kali lagi, Kakak Dame harus rela turun dari motor demi keselamatan bersama, haha!

Kami sudah jauh motor-motoran, tapi tak ada tanda-tanda kehidupan. Kanan kiri hanyalah  kebun dan hutan, nggak ada rumah penduduk. Tak ada juga arah petunjuk. 

Sangat bingung saat menemukan jalan bercabang begini. Kami memutuskan ambil arah kiri karena tampak lebih meyakinkan. Tak lama menjalankan motor, kami menemukan kolam pemancingan. Gila, di tengah-tengah lokasi antah berantah gini yang bahkan menujunya saja sudah naudhubillah jalannya, kok ada kolam pemancingan ya. Kakak Dame turun kemudian bertanya pada seorang Bapak dimanakah keberadaan Air Terjun Laumarang.  

Ah, ternyata kami salah jalan. Harusnya tadi belok kanan katanya. Baiklah, mari belokkan lagi. 

Kami menyusuri jalan lagi. Kali ini masuk ke semacam area persawahan hingga mentok tak ada jalan lagi tepat di sebuah rumah dan kolam pemancingan lagi. Aku semakin bingung, bagaimana ini bisa terjadi, lagi-lagi kolam pemancingan di tempat seperti ini. 

Lalu dimanakah Laumarang? 

Ada dua orang tak jauh dari kolam  yang menunjukkan arah. Bahwa dari samping rumah, ada jalan setapak turun lalu ikuti saja. Akhirnya, kami memang nggak nyasar. Laumarang tak jauh lagi. 

Kami berjalan mengikuti jalan setapak di antara ilalang yang sangat rimbun hingga kemudian menemukan aliran sungai. Ternyata juga ada pipa air dari besi di pinggiran jalan setapak itu. Kami menyusurinya. 

Sepi. Hanya ada aku dan Kakak Dame di sini. Jalan setapak yang basah ini kemudian menembus hutan dengan pepohonan tinggi dan kondisi pencahayaan yang kurang. Aih, agak-agak gimana gitu auranya. Hanya suata gemericik sungai di bawah sana yang menemani perjalanan ini.

Tak kunjung kami dengar suara gemuruh air layaknya air terjun. Berarti perjalanan ini masih cukup jauh. Hadeuh! Tetapi, damn! Saat kami melihat ke arah sungai di bawah sana, sungai dengan aliran deras yang memecah bebatuan, mulutku langsung nganga. Wow, airnya hijau toska! Indah! 

Sayup-sayup aku mendengar suara gemuruh. Air terjun su dekat! Kupercepat langkah.

Akhirnya! Woohoo!!! Ia terlihat, Laumarang di depan mata. Sebuah tali tambang terikat di pohon sebagai alat bantu jika kita hendak turun ke dekat air terjun karena jalan setapaknya cukup curam. 

Maka aku terpaku menyaksikan Laumarang. Air terjun ini sebenarnya tak begitu tinggi, juga tak berundak. Tapi indahnya tak bisa dibilang sederhana. Ia indah dengan caranya. Derasnya debit air terjun ke kolam berwarna hijau toska, memercik di antara tebing di sekitarnya. Sementara bias sinar matahari tepat mengarah ke tebing di depan air terjun dan tampias air yang jatuh terlihat bak kabut yang bergerak ke atas. Sebuah, entahlah tampaknya sebuah cekungan di dinding semacam gua berada di sebelah kanan air terjun itu. Magis!

Air Terjun Laumarang

Dan ia cantik dengan caranya

Dan ia memang cantik...

Dan hanya kami berdua di sini. Tak ada orang lain lagi di tempat yang seindah ini. Ah, jika saja hari tak keburu beranjak sore dan perjalanan pulang kembali ke Kota Luwuk tak sejauh itu, pasti aku betah berlama-lama di sini.

Kami pulang, melewati lagi jalan jalan yang sama seperti berangkat tadi. Jalan tanah yang becek, licin dan trek yang curam. Roda-roda motor ini berkali "mbelet" di jalanan tanah yang parah. Harus pinter memilih jalur. Kakak Dame berkali pula terpaksa turun dari boncengan.

Di tengah jalan, Hpku berbunyi. Kubiarkan saja. Sesampai di jalan yang datar aku berhenti sebentar lalu kusempetin mengeceknya. Tapi saat hendak kunyalakan motor lagi, motor itu nggak mau hidup. Kutekan berkali-kali tombol starter dan tetap saja motor ini nggak mau hidup. Sementara hari semakin sore dan kami berada di tengah hutan antah-berantah jauh dari mana-mana dan nggak ada orang yang lewat sekalipun. Gimana nggak panik coba? Sinyal blank pula di sini.

Aku harus berjalan agak jauh hingga nemu sinyal untuk bisa menghubungi Cahyadi. Satu-satunya orang yang kukenal di Luwuk, wkwk!

"Dii, motornya nggak bisa hidup. Apa yang salah ya?" tanyaku pads Cahyadi
"Mbak lagi di mana, sekarang?" tanya Cahyadi dari seberang 
"Nggak tahu, deket hutan, nggak jauh dari air terjun Laumarang"
"Standarnya mungkin belum full keangkat kali?"

Aku jarang naik motor matic, motor yang kupunya dan biasa kupakai adalah motor bebek yang menggunakan gigi. Aku juga nggak pernah membaca Manual Book motor matic. Jadi saat mendengar bahwa mesin motor matic bakal nggak mau hidup jika standar belum terangkat penuh adalah berita yang bikin aku mikir. Seriously?

Kulangkahkan kaki, cepat kembali ke tempat motor berada. Eh, ternyata benar saudara! Saat kupastikan standar dari motor tersebut fully terangkat, hidup dah mesinnya. Aku pengen ngakak dibuatnya. Ini fitur safety di motor matic ternyata. Haha, aku katrok banget yak! 

Kembali menempuh jalanan yang sepi. Jalur tanah yang becek dan penuh kubangan air sepertinya makin rusak karena dilewati rombongan motor trail. Iya, mereka sih enak. Lha gw? Harus pinter-pinter memilih jalur yang tepat agar motor ini nggak terpeleset atau malah kejeblos ke kubangan yang parah.

Di satu titik aku meminta Dame turun. Terlihat jalan dengan kubangan air. Aku kendarai motor melipir ke sisi kanan yang tampaknya cukup kering.  Dame berjalan duluan di depan. Dan...gubrak! Roda motor ini selip dan aku terjatuh ke kubangan air serta tertimpa motor pula. Heuheuheu! Beberapa orang penduduk yang berada di jalan segera bergerak menolongku. Ah, fix aku sudah lelah, wkwk! Nggak seberapa sakit, meski ada beberapa bagian tanganku lecet, tapi malunya itu lho! Hahaha!

Penampakan tubuh dan bajuku sudah nggak karuan lagi, basah dan kotor penuh lumpur. Demikian pula motor matic yang semula berwarna putih ini, huahaha! 

Perjalanan masih panjang. Jalanan masih naik turun, kali ini trek berganti jalan tanah naik turun penuh jeglogan dan kerikil. Berkali aku meminta Dame atau dia yang berinisiatif turun dari boncengan. Beruntung kami bertemu dengan seorang Bapak yang mengendarai motor (yang tampaknya sudah terbiasa dengan medan) menawari Dame untuk mboncengin dia sampai ke jalan yang cukup aman.

Saat sampai di dekat jembatan dan kondisi jalan yang lumayan bagus, Dame diturunkan. Akupun berhenti. Ada sungai yang mengalir di bawah jembatan. Inilah kesempatanku untuk bisa membersihkan tubuh dari lumpur dosa, eh maksudnya lumpur akibat jatuh dari motor tadi. Meskipun tentu saja, sangat seadanya.


Ngapain, mbak? Mandi?

Nyaris maghrib saat motor ini mulai melintas jalan raya beraspal di Kota Luwuk. Cita-cita kami cuma satu, yakni menemukan tukang cuci motor. Kan entar nggak enak sama Cahyadi, balikin motor dalam kondisi nggak layak begini. Dan kami beruntung, menemukan tukang cuci motor yang masih mau melayani kami maghrib itu. Meskipun dia minta uang jasa lebih karena kotornya terlalu parah katanya, haha!

Masih hari pertama di Kota Luwuk. Seharian yang penuh drama. Dari naik tangga PLTM Hanga-Hanga, motor yang mendadak nggak bisa hidup hingga jatuh dari motor ke kubangan lumpur. Yeah, dan kini, mau tak mau aku harus mandi. Badan kotor kuy! 

9 Desember 2016

Setumpuk cita-cita hari ini: Ke Air Terjun Salodik, Bukit Country, Bukit Keles dan Bukit Teletubies. Wuih, banyaknya! Bisa semua? Ah, namanya kan cita-cita. Tetapi hujan mengguyur Luwuk sedari pagi. Maka aku dan Kakak Dame hanya bisa menunggu agar redaan dikit untuk bisa keluar, sementara Cahyadi sudah berangkat kerja.

Hujan masih rintik saat kami memutuskan pergi. Kuarahkan motor menuju Desa Salodik yang terletak sekitar 30 KM dari sini. Dari kota, kami tinggal menyusuri jalan Trans Luwuk. Jalanan ini seperti menyusur daerah pesisir alias tepian laut Luwuk.

Jauh euy ternyata! Menyempatkan bertanya pada penduduk untuk memastikan bahwa kami nggak nyasar. Memang tinggal lurus terus, nanti ketemu pertigaan yang ada Pos Dishub kami disuruh belok kiri. Jalan raya yang menghubungkan Luwuk ke Poso dan Palu.

Berbeda dengan jalan raya yang kami melewati dengan kondisi aspal yang sebagain rusak, maka setelah belok kiri dari Pos Dishub adalah berupa jalan raya yang sangat lebar dengan aspalan baru, masih kinclong! Tapi sepi sekali. Hanya hutan yang ada di sebelah kanan kiri. Enak banget motor-motoran dengan jalanan seperti ini. Jalan raya seolah punya sendiri meskipun sesekali mobil-mobil dengan kecepatan tinggi lewat memecah sunyi.

Kemarin aku sungguh dibuat terpukau oleh air sungai di Air Terjun Piala dan Laumarang yang airnya hijau toska. Kini aku tambah terpukau karena bahkan aliran sungai biasa yang ada di tepi jalan raya yang kami lewati juga berair serupa alias hijau toska juga.

Sekali lagi kami bertanya kepada penduduk karena plang atau petunjuk ke Air Terjun Salodik memang sama sekali nggak ada. Singkat cerita, akhirnya kami sampai.

Sejatinya Air Terjun Salodik berada di Kawasan Objek Wisata Pilaweanto (yang bahkan tulisan ini tertutup oleh pagar temboknya yang tinggi). Tempat ini berada di sisi sebelah kiri dan dipagar tembok cukup tinggi. Saat kami sampai, tak ada pengunjung di sana. Bahkan pos tiketpun nggak ada yang jaga.

Ternyata tempat ini nggak hanya memiliki satu air terjun, tapi banyak dan menyebar. Sungai berair hijau toska, kolam dan air terjun berundak memenuhi areal ini. Beberapa lokasi air terjun bahkan nggak memiliki akses yang susah atau bahkan sama sekali nggak bisa dilihat dari dekat. Sayang debit airnya lagi sedikit sehingga beberapa kolam tampak kering. Ini kalau airnya lagi banyak pasti cantik parah!

Air Terjun Salodik

Mirip Air Terjun Matajitu di Pulau Moyo, kan? 

Foto dulu ah, tapi dari belakang saja, biar misterius kesannya ;p

Sebuah air terjun lagi, tapi aksesnya susah

Selesai dari air terjun, pengennya sih ke Bukit Country. Sebuah areal perbukitan yang kabarnya lagi happening di Luwuk. Kujalankan motor mengikuti jalan raya yang medannya cukup naik turun dan termasuk dalam Trans Sulawesi. Info dari penduduk yang kami tanyai, jalan masuk ke Bukit Country tak jauh dari sebuah tower yang berada di kiri jalan.

Kami berhenti di sebuah warung yang berjajar di sebelah kanan sambil mengisi perut sebentar, sambil nanya-nanya arah ke Bukit Country. Ternyata, menuju Bukit Country membutuhkan waktu yang lama, trekking sekitar 2 jam-an. Pengen sih, tapi...nggak dulu deh. Kami nikmati saja suasana hutan pinus dan pemandangan Teluk Poh tak jauh dari sini.

Panorama Teluk Poh dari kejauhan

Zoom lagi ah!
Pose ala nggak butuh di Hutan Pinus


Selesai dari wilayah Salodik dan sekitarnya, kami pulang kembali ke Kota Luwuk. Melewati jalan yang sama seperti berangkat tadi. Tapi hari masih siang, bisalah kita menuju 1-2 destinasi lagi di Kota Luwuk.

Kuarahkan motor ke sebuah perbukitan yang juga sedang hits di Luwuk, namanya Bukit Teletubbies. Pernah lihat fotonya di internet dan sebuah program acara jalan-jalan di TV. Keren tampaknya. Luwuk ini memang unik, meskipun dekat dengan laut namun tak jauh darinya adalah hamparan perbukitan di mana-mana. Sekali lagi dengan bekal nanya orang di jalan, aku mengikuti informasi jalan ke tempat tersebut karena blas nggak ada papan petunjuk sama sekali.

Tapi busyet, ini parah nanjaknya. Mungkin derajat kemiringannya di atas 45. Agak-agak ngeri aku bawa motornya. Mana aspalnya sebagian besar sudah ngelothok semua.

Semakin jauh kujalankan motor, aku malah jadi agak ragu. Ini beneran jalan ke Bukit Teletubbies? Bingung juga mau nanya siapa, nggak ada orang lain di sekitar sini. Sementara tanjakan semakin menjadi. Aih, kubalikkan arah sajalah! Kami batalkan niat ke Bukit Teletubbies. Ealah, ini makin ngeri jalan turunnya, terpaksa kudu di-rem terus nih motor! Ini kalau jatuh mah lumayan banget. Bismillah...

Maka sore itu kami habiskan waktu saja di sekitar Bukit Keles a.k.a Bukit Inspirasi, satu lagi areal perbukitan tak jauh dari sini. Tempat nongkrong yang sangat terkenal dengan view Kota Luwuk sepanjang mata memandang, terutama saat malam. Mari kita ngopi berteman sepiring pisang goreng (Pisang Lowe) berikut dengan sambalnya.

Kopi dan pisang goreng, duet mau!
View Kota Luwuk dari Bukit Inspirasi

Apa kuliner di Luwuk yang hukumnya fardhu ain untuk diicip-icip? Cahyadi menyebut Kaledo alias Kaki Lembu Donggala dengan kuah mirip Sop Buntut gitu deh.

"Kaledo Garuda, Mbak. Letaknya di Jalan Garuda, nggak jauh dari Gereja Immanuel" tulis Cahyadi dalam WA-nya.

Sip! Kuterobos malam di Luwuk yang cukup ramai suasananya. Kuaktifkan google maps (yang meskipun aku yakin nggak bakal cukup berguna di Luwuk ini karena sering mengarahkan ke arah yang salah, haha!) dan tentu saja dipadankan dengan nanya orang di jalan. Tapi apa yang terjadi? Entah berapa kali putaran kami melalui Gereja Immanuel, tapi tak jua kutemukan rumah makan kaledo itu. Nanya orang beberapa kalipun seakan nggak ngeh adanya rumah makan kaledo di deket Gereja Immanuel. How come? Tempat makan yang seterkenal itu bahkan orangpun nggak tahu? Tapi hal itu malah membuat rasa penasaranku semakin menjadi. Aku belum menyerah, meski sebenarnya rasa lapar telah membuncah ;p

Sekali lagi akhirnya Kakak Dame bertanya pada orang di pinggir jalan dan sepertinya mulai menemukan petunjuk. Ternyata oh ternyata, rumah makan Kaledo Garuda itu letaknya bukan di dekat Gereja Immanuel melainkan Gereja Katolik (Bintang Kejora?). Nama Jalan Garuda juga sudah berubah menjadi Jl. Agus Salim. Owalah, pantesan! Di... Cahyadi, salah info woi! Wkwk!

Hah, baiklah! Mari kita sikat kaledo ini. Kita sesap sumsumnya hingga tak bersisa. Alih-alih mengunakan ubi (khasnya kaledo katanya sih makannya pakai ubi), karena perpaduan aneh menurutku, maka tentu saja aku memilih nasi. Kenyang!

Gambarnya nggak bagus, tapi rasanya enak kok ;p

10 Desember 2016

Hari terakhir di kota Luwuk. Masih bisalah motor-motoran ke tempat yang deket-deket saja. Ke Pelabuhan Telok Lalong misalnya, melihat kesibukan pagi para nelayan dan masyarakat setempat di pelabuhan terbesar Kota Luwuk. Cukup waktu juga menikmati semilir angin di Pantai Kilo Lima, pantai di tepian kota yang menurutku sangat terjaga kebersihannya.

Sebuah masjid berkubah warna emas, tampak dari kejauhan

Kapal-kapal nelayan berjajar

Serok es batunya dulu, Bang!

Menunggu ikan hasil tangkapan

Pantai Kilo Lima

Finally, it's time to go! Cahyadi, terima kasih banyak untuk bantuannya. Luwuk, pamit dulu. Kini Palu sudah menunggu, demikian juga Taman Nasional Lore Lindu...

--------------------------------------------

Budget:
1. Taksi Bandara - Kota Luwuk = Rp. 50.000,-
2. Ojek Kota Luwuk - Bandara Luwuk = Rp. 25.000,-


2 comments:

  1. Ya amplop...seru banget bacanya. Hampir seharian baca kisah perjalanan mbak Lena.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hah, serius seharian mbaca? Busyet, haha! Aku jadi terharu, Maria. Sungguh. Terima kasih ya :-)

      Delete