Monday, July 03, 2017

Bersua Lembah Besoa

"Rinduku sedang bertandang ke masa lalu
Mengais remah-remah kenangan tentangmu
Apakah kamu masih semegah dulu?
Saksi bisu kejayaan negeriku..."

-----------------------------------------

11 Desember 2016

Pak Ronald, driver mobil yang kami sewa, menjemput kami berlima (aku, Kakak Dame, Rifki, Kirey dan Yuji) di Hotel Buana Palu Sulawesi Tengah, tempat kami menginap. Mobil langsung diarahkan ke Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie untuk menjemput Kakak Ester yang baru tiba pagi ini dari Jakarta. 

Okay, kini formasi lengkap sudah. Cuss meluncur ke Lembah Besoa yang merupakan kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Seharusnya peserta trip ini ada tujuh orang. Tetapi Rudi mengundurkan diri di menit-menit terakhir. Atit dia, wkwk! Cepet sembuh ya, Rud. Tapi beruntung juga sih Rudi nggak ikut sehingga satu seat di dalam mobil ini bisa menjadi tempat carrier-carrier kami yang numpuk. Eh, sebenarnya carrier Rifki dan Kirey doang sih yang bikin penuh. Entah apa yang dijejalkan ke dalamnya. Mungkin segepok cita-cita bahwa sehabis dari Taman Nasional Lore Lindu mereka berdua akan lanjut backpackeran ke Sulawesi Selatan. Tapi sekali lagi, ini baru cita-cita lho ya.

By the way, areal Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) itu sebenarnya luas sekali, mencakup dua kabupaten di Propinsi Sulawesi Tengah, yaitu Kabupaten Sigi dan Poso. Kawasan ini dipenuhi hutan warisan alam dengan keanekaragaman flora dan fauna endemiknya. Tak hanya itu, TNLL juga menawarkan wisata budaya adat istiadat masyarakat lokal serta situs-situs megalitik yang berserak di Lembah Bada, Lembah Napu dan Lembah Besoa.


Tujuan kami: Desa Doda, Lore Tengah, Kab. Poso (ditandai dengan pin merah)

Yup, kami hendak "berburu" situs-situs megalitik di Lembah Besoa. Tempat itu terletak di Kecamatan Lore Tengah Kabupaten Poso. Berjarak sekitar 150 KM lebih dari Palu dan diperkirakan akan memakan waktu tempuh sekitar 3-4 jam. Mendengar tentang Poso, mungkin ingatan kita langsung terbawa pada kisah kerusuhan dan konflik berkepanjangan yang pernah terjadi di sana beberapa tahun silam. Demikian pula belantara Poso yang hingga kini masih terus menjadi tempat persembunyian teroris Santoso Cs. Terus terang, agak bergidik bulu roma juga sih sebenarnya. Bahkan karena masih berlangsungnya Operasi Tinombala oleh TNI (dalam rangka pemberantasan teroris) membuat jalan tembus dari Lembah Besoa ke Lembah Bada ditutup sementara. Kami harus balik ke Palu lagi jika ingin melanjutkan perjalanan ke Lembah Bada. Ya sudah, karena keterbatasan waktu yang kami punya, kami putuskan kali ini hanya akan ke Lembah Besoa saja (plus Lembah Napu) karena arahnya sejalan. 

Rute baru selalu menyenangkan bagiku. Sangat sayang jika harus dilewatkan dalam lelap. Kami lewati kota hingga belantara di kanan kiri dengan jalan yang berkelak-kelok ditemani playlist dari Hpnya Kirey yang sudah kami wanti-wanti sebelumnya agar men-skip lagu-lagu Korea. Sungguh, telinga kami nggak bisa menerima musik K-Pop sambil membayangkan Boyband Korea tersebut berjoget-joget ria nggak jelas. 

Awal perjalanan kami berenam masih ngobrol hahahihi, lama-lama satu demi satu diem, tertidur, lelap...

Harapan kami sepanjang jalan... ;p

Setelah kurang lebih dua jam jalan, kami berhenti sebentar di Danau Tambing yang terletak di poros Palu - Lembah Napu. Danau Tambing ini masuk kawasan TNLL yang tampaknya sudah terkelola dengan baik. Ramai juga di sana, banyak yang camping ternyata. Kalau danaunya sendiri sih so-so saja menurutku. Selain camping, aktivitas yang bisa dilakukan di sana adalah bird watching. Tapi kami memang nggak punya niat berkegiatan semacam itu. Maka selesai muterin area, kami cao saja.

Sejenak di Danau Tambing

Perjalanan dilanjutkan kembali. Medannya makin seru. Jalan berkelak-kelok dengan hutan di kanan-kiri serta kondisi aspal jalan yang nggak begitu bagus. Bahkan di beberapa tempat terdapat jalan yang longsor separuhnya, ngeri. Mungkin hanya driver yang sudah biasa lewat saja yang mengerti celah bagaimana melalui medan ini dengan aman. Bisa dibilang kami jarang berpapasan dengan kendaraan-kendaraan lain. Sepi. Ah, pantas saja para teroris bersembunyi di belantara Poso sini, aksesnya jauh dari mana-mana dan hutannya masih rapat bener.

Di satu titik, tampak jalan yang diberi portal dan sebuah Pos TNI dipinggir jalan dengan rambu di dekatnya bertuliskan "Ada Pemeriksaan". Penjagaan di beberapa titik oleh tentara ini mungkin bagian dari operasi pemberantasan terorisme itu. Mobil kami berhasil lewat tanpa halangan yang berarti dan satu senyuman dari Bapak TNI, halah!

Setelah lama disuguhi jalanan yang sepi, akhirnya kami sampai di areal pemukiman penduduk. Satu hal yang bikin aku takjub. Hampir di tiap desa yang kami lewati, selalu ada gereja kemudian disusul masjid yang letaknya bisa dibilang sangat berdekatan. Kelihatan harmonis sekali. Poso pernah punya pengalaman berdarah-darah yang sedikit banyak bersinggungan dengan masalah SARA, tapi sungguh pemandangan damai yang kulihat ini membuatku optimis bahwa kini Indonesia baik-baik saja.

Selepas jalan berkelak-kelok, kami disuguhi areal persawahan yang kemudian disusul savana berlatar pegunungan yang cantik sekali. Serius!

Semua sudah bangun, kami hahahihi lagi meski lapar mendera dan Pak Ronald bilang bahwa sulit menemukan warung makan di sekitar sini. Walah!

Ups! Sekilas kami melihat sebuah tulisan di sebelah kiri jalan. Pak Ronald bilang di situ memang ada patung-patung megalitik tapi beliau memang sengaja jalan terus karena dikiranya kami akan langsung ke penginapan di Desa Doda. Aih. lupakan tentang penginapan dan perut yang lapar, kita cus langsung cari patung! "Cagar Budaya Megalitik Tadulako", demikian tulisan plang di tepi jalan itu.

Kami melewati jalan dengan areal persawahan di kanan kiri. Awalnya cukup lebar tapi makin lama makin menyempit sehingga mobil nggak bisa lewat lagi. Yo wis, kita lanjut jalan kaki. Pak Ronald memarkir mobilnya di tempat yang aman lalu ikut berjalan bersama kami. Tempat ini berlokasi di Desa Bariri.

Di tengah sawah yang sepi, kami disambut penampakan Rumah Adat Tambi, kondisinya masih cukup bagus. Rumah Adat Tambi adalah rumah adat tradisional yang berada di daerah Lore. Arsitektur bangunannya unik karena dinding rumah juga berfungsi sebagai atap. Kerangka bagian atas rumah juga hanya menumpang di atas balok bundar yang tersusun sebagai belandar sekaligus berfungsi sebagai pondasi dan tiang. Rumah adat ini dimiliki dan ditinggali oleh semua kalangan, baik rakyat baisa ataupun keturunan raja. Tetapi jika bagian bumbungan atapnya memiliki tanduk kerbau, maka berarti rumah tersebut ditinggali oleh para bangsawan. Demikian sekilas cerita.

Persawahan Desa Bariri

Rumah Adat Tambi di tengah persawahan Desa Bariri

Mari jalan lagi. Tak begitu jauh dari sana, kami melihat sebuah patung di tengah hamparan padang rumput berlatar perbukitan hijau dan langit biru. Itulah Patung Tadulako. Tadulako menurut legenda masyarakat sekitar, artinya adalah panglima perang. Arca ini tingginya sekitar 2 meteran dengan gambaran wajah dan mata yang agak miring.

Selamat Datang di Cagar Budaya Megalitik Tadulako

Tadulako, Sang Panglima Perang

Jangan tinggi-tinggi, Ki. Kasian Kirey, baunya asem katanya ;p

Jangan merasa puas dulu, berkelilinglah lebih jauh. Pak Ronald kemudian menunjukkan peninggalan-peninggalan lainnya yang berserak di sekitar situs ini. Kami melihat Kalamba, tutup kalamba dan batu-batu lainnya dengan aneka macam bentuk.

"Di sebelah sana masih ada lagi!" kata Pak Ronald, yang sepertinya sangat mengenal tempat ini karena sering bawa tamu.
"Batu apa yang di sana, Pak?" tanya kami
"Kalamba juga. Sebelah sana juga ada kalamba lagi." lanjut Pak Ronald sambil menunjuk sebuah titik nun jauh di sana

Batu Dakon (??) di kompleks Tadulako

Kalamba (dengan sekat di dalamnya)

Kalamba lagi, kalamba lagi. Siang ini hidup kami penuh dengan kalamba. Kalamba adalah sebutan untuk batu berbentuk wadah semacam tong/drum. Tapi pada akhirnya nanti kami tahu bahwa kalamba itu ada dua jenis. Kalamba yang bagian dalamnya kosong serta kalamba yang punya sekat-sekat di dalamnya. Dahulu kala, kalamba yang punya sekat-sekat di dalamnya merupakan tempat untuk mandi, sedangkan kalamba yang dalamnya kosong/tanpa sekat adalah tempat mengubur tulang-tulang orang yang sudah meninggal. O..o...tiba-tiba hening...dan ngeri! Haha!

Kalamba lagi 

Sedang mengukur diameter kalamba, halah!

Menembus ilalang mencari jejak masa lalu

Kami bahkan blusukan di antara rumput dan ilalang yang kadang tingginya melebihi tinggi tubuhku yang mungil ini. Seru, lalu tertawa bahagia saat menemukan batu-batu purbakala. Tapi kaki-kaki kami jadi korban khususnya bagi yang tidak mengunakan celana panjang dan sepatu. Perih semua kegaruk-garuk ilalang yang tajam. Berkorban untuk melihat keindahan, mengapa tidak? (*sambil meringis menahan nyeri, wkwk!).

Seperti apa tempat ini pada zaman dulunya? Entahlah....

Puas dengan Situs Megalitik Tadulako kami lanjutkan perjalanan ke Situs Padang Masora yang terletak berseberangan jalan dengan Situs Tadulako. Pak Ronald menunggu di mobil yang diparkir di tepi jalan raya. Well, kalau di lihat tulisan di plangnya sih hanya 200 meter dari jalan raya. Tapi aslinya? Lebih! Bahkan pada akhirnya kami dibuat kebingungan karena jalan tanah tersebut kemudian bercabang banyak dan tak ada papan petunjuk lagi. Akhirnya kami temukan situs tersebut setelah melewati sawah yang becek serta menyeberangi sebuah sungai kecil.

Plang Cagar Budaya Megalitik Padang Masora di tepi jalan


Di Situs Padang Masora, kita akan menemukan dua buah batu dengan bentuk menyerupai wajah kera/monyet. Entahlah, kemungkinan seperti itu. Karena kami lebih tertarik dengan pohon jambu biji yang ada di sekitar batu-batu itu. Yeah, mungkin kami terlalu lapar. Permisi, kami ijin makan buah jambunya ya....

Sepi, nggak ada yang mau difoto. Semua lagi sibuk makan jambu ;p

Foto keluarga setelah kenyang makan jambu ;p

Hari telah beranjak sore saat kami sampai di Desa Doda. Kami memutuskan menginap di Penginapan Rizky yang letaknya tak begitu jauh dari gerbang desa.

Di ruang makan penginapan itu terpasang banyak foto-foto situs di Taman Nasional Lore Lindu. Ada foto patung Tadulako dan patung-patung lain yang belum kami lihat. Bentuknya aneh-aneh dan lucu-lucu. Sempet sedikit shock dan kecewa saat Pak Ronald bilang bahwa hampir 90% patung-patung di foto itu adanya di Lembah Bada bukan di Besoa. Hah? Kok? Yach...! Untungnya rasa kecewa itu sirna saat Kak Ika (pemilik penginapan Rizky) menghubungkan kami dengan Pak Karman, seorang guide lokal di Desa Doda yang sudah biasa membawa tamu keliling situs-situs di Lembah Besoa.

"Katanya ada patung-patung temuan baru di sini" kata Kak Ika.
"Sekalian foto-foto di Situs Pokekea pakai baju adat Poso saja. Nanti saya carikan baju-bajunya, kalian bisa sewa" lanjut Kak Ika

Yess! Kami jadi tambah semangat! Nggak sabar nunggu esok. Siap meng-explore apapun yang bisa di-eksplore di sini! Iyess...Iyess...Iyess (kalimat semangat ala Yuji) tiba-tiba menggema seantero nusantara...


Children of Doda

Langit Senja di Desa Doda

12 Desember 2016

Pagi yang sempurna. Pagi di Desa Doda, Kecamatan Lore Tengah Kabupaten Poso. Pemandangan kabut lembut yang merayap di perbukitan serta sawah nan hijau menghampar.

Sekitar jam 7 pagi lebih, kami berenam, Pak Ronald serta Pak Karman, berangkat mencari apa yang dicari. Kami akan blusukan lagi mencari patung, kalamba dan apapun itu. Rencananya kami akan pergi ke Situs Lempe dan sekitarnya terlebih dahulu, kemudian ke situs temuan baru, lalu lanjut ke Situs Pokekea.

Kabut pagi di Desa Doda

Kapan kita kemana?

Pak Ronald memarkir mobilnya di kampung terakhir sebelum masuk ke hutan. Situs Lempe (dan sekitarnya) yang akan kami kunjungi ini lokasinya beneran masuk-masuk ke dalam hutan yang tanpa rambu petunjuk sama sekali. Memang harus pakai guide kalau ke sini. Dijamin nyasar, tak tahu arah pulang dan aku tanpamu budiran debu jika nekad jalan sendirian menurutku.

Patung berperut besar adalah patung yang pertama kami jumpai di awal perjalanan. Penduduk lokal memberinya nama Patung Tokalaya yang artinya adalah Ibu Hamil. Ia berdiri di tengah rimbun tanaman yang tumbuh di hutan. Iya sih, perut patung itu gendut banget, mirip orang hamil.


Patung "Ibu Hamil"

Foto keluarga bersama "Ibu Hamil"

Terus masuk ke dalam hutan mengikuti Pak Karman. Sesekali beliau membabat jalan semak-semak di jalan setapak yang kami lalui dengan parangnya.  Lagi dan lagi, kami temukan Kalamba di mana-mana. Ada yang kondisinya masih utuh, hancur sebagian, terguling dan sebagainya.

Kalamba yang terbelah

Kalamba lagi (tanpa sekat-sekat)

Kumpulan Kalamba

Selain kalamba, akhirnya kami jumpai juga beberapa patung setelah trekking sedikit mendaki. Ada yang berbentuk pendek sekilas mirip burung hantu, ada juga yang berdiri, serta patung dalam kondisi rebah/terbaring. Pak Karman bilang, sekarang kami sudah berada di areal Situs Padang Lalo.

Ketemu patung lagi

Foto keluarga bersama patung lagi

Kalamba lagi, untuk kesekian kali

Patung "Terbanting"

Pak Karman berjalan di depan, sesekali menengok ke belakang untuk memastikan tak ada yang tertinggal. Di satu titik, Pak Karman mengingatkan kami untuk berjalan beriringan dan jangan ramai/ribut. Yup, bagaimanapun kami memang berada di tengah hutan antah-berantah. Segala kearifan lokal pasti ada dan dijaga.

Okay, kini hutan semakin lebat dan trekking semakin menanjak. Aku nggak tahu sekarang kami ada di mana, lha wong jalan setapak saja nggak ada. Tapi Pak Karman sepertinya bener-bener tahu tempat ini, krusak-krusuk, babat sana babat sini, nyebrang sungai antah berantah dalan lain-lain untuk menuju Situs Halutawe.

"Belum banyak yang tahu tentang Situs Halutawe ini. Baru ditemukan sekitar dua bulan lalu" kata Pak Karman.

Terus terang aku langsung tercengang menyaksikan batu-batu yang berserak di Situs Halutawe ini. Batu-batu yang telah berkeping di tanah, ada pula yang tertimbun, dipenuhi tanaman, tapi sebagian "motif/bentuk" nya masih bisa dikenali. Batu yang berbentuk wajah, patung besar yang berkeping-keping dan lain sebagainya. Serius, jika direkonstruksi pasti keren sekali. Bisa-bisa kalah dah itu situs megalitik di Pulau Paskah!

"Informasi dari para peneliti yang menemukan situs ini, kemungkinan tinggi patung-patung di Situs Halutawe ini lebih tinggi dari Palindo" kata Pak Karman

Wow! Jika patung Palindo saja sudah setinggi itu, bagaimana dengan yang ini? Palindo adalah patung terbesar dan tertinggi sejauh ini yang ditemukan di kawasan Taman Nasional Lore Lindu, letaknya di Lembah Bada. 

Patung di Situs Halutawe

Bebatuan tertimbun di Situs Halutawe

Bentuk "wajah" pada bebatuan

Batunya tersungkur, tapi ada bentuk "wajah" di batu itu

Para "arkeolog abal-abal" ;p

Sekitar jam 11 siang, kami  keluar dari hutan. Jalan turun menuju kampung. Masih ditemukan beberapa kalamba di tengah perjalanan.

Perjalanan dua hari ini semakin membuatku kagum akan Indonesia. Tapi satu sisi, aku merasa miris karena warisan nenek moyang berupa megalith-megalith megah yang diperkirakan berasal dari tahun 3000 hingga 1300 Sebelum Masehi ini terbengkalai tak terawat, tersebar dan terserak begitu saja di tengah sawah, padang rumput, hutan, kebun, bahkan pekarangan rumah penduduk. Peninggalan-peninggalan purbakala tersebut juga rawan dicuri oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.


Kepala patung serta batu-batu umpak hasil curian, yang kini telah diamankan di depan Balai Adat

Kepala patung yang pernah dicuri, kini diamankan di depan Balai Adat

Destinasi selanjutnya adalah Situs Pokekea. Berbeda dengan situs yang telah kami datangi sebelumnya yang lokasinya berada di dalam hutan dan teronggok begitu saja, keberadaan Situs Pokekea tak jauh dari jalan raya dan kondisinya cukup terawat. Pokekea bisa dijangkau dengan mobil hingga pintu gerbangnya. Tinggal jalan kaki tak begitu jauh untuk sampai ke situs tersebut. Dalam kompleks Situs Pokekea, didominasi oleh kalamba, arca batu juga ada, dan entah batu-batu lain yang aku nggak tahu apa sebutannya.

Selamat datang di Situs Pokekea

Peninggalan purbakala di Situs Pokekea

Peninggalan purbakala di Situs Pokekea

Peninggalan purbakala di Situs Pokekea

Peninggalan purbakala di Situs Pokekea

Karena mudah dijangkau maka wajar saja Situs Pokekea banyak dikunjungi wisatawan. Tempat ini cukup ramai saat kami datang. Baiklah, kami akan menunggu hingga sepi. Kami kan mau photo session di sini menggunakan baju adat Poso. Ide dari Kak Ika semalam memang luar biasa! Kapan lagi bisa berfoto ria, berbaju adat setempat di situs warisan nenek moyang ini. Mendadak model! Model alay!

Cekrek! Pose satu


Cekrek! Pose dua

Cekrek! Pose tiga

Cekrek! Pose empat

Oke, cekrak-cekrek masih berlanjut lagi, lagi dan lagi! Beberapa pengunjung yang datang kemudian akhirnya malah ngeliatin kami, haha! Well, tunggu saja penampilan kami di Majalah Trubus edisi bulan depan ;p


Cekrek! Pose lima

Cekrek! Pose enam

Cekrek! Pose tujuh

Melompat lebih tinggi!

Kami kembali ke penginapan sebentar hanya untuk makan siang, sorenya lanjut kembali memburu patung. Ada satu patung, yang disebut sebagai patung terbanting yang berada di areal persawahan belakang Desa Doda yang letaknya cukup jauh dari pusat desa.




Patung "Orang Terbanting" di tengah sawah

Desember masih pertengahan, tapi Desa Doda telah mulai menyambut Natal. Umbul-umbul dipasang di sepanjang jalan desa. Sebuah "pohon natal" juga ditempatkan di pertigaan desa.



Ceritanya lagi nonton bola

Rumah Adat Tambi di Desa Doda

Desa Doda menyambut Natal

Seharian ini kami menjelma laksana arkeolog dan ahli sejarah yang sedang mengungkap peninggalan-peninggalan masa lalu, meskipun sejatinya kami hanyalah pejalan abal-abal. Sedikit melelahkan, tapi terbayar dengan serunya pengalaman. 

Ini malam terakhir kami di Desa Doda. Desa yang tenang dan sepi. Ngobrol di teras kamar penginapan sambil mengenang lagi segenap kelucuan sepanjang hari yang kami lalui. Termasuk kisah tentang Gorontalo-nya Kirey hingga kacang kulit yang tak sengaja termakan sekulit-kulitnya. Udah, nggak perlu dibahas, itu "aib". Dilarang protes kenapa nggak ditulis. Wkwk!

13 Desember 2016

Sekali lagi, pagi yang indah di Doda. Tapi kami harus pamit pada tempat yang vibe-nya adem ini.


Foto keluarga di depan penginapan

Kabel listriknya agak ngganggu :(

Perjalanan kami di Lembah Besoa, Kecamatan Lore Tengah ini akan ditutup dengan memgunjungi satu situs lagi yang berada sejalur dengan arah pulang yaitu Situs Bangkeluho di Desa Bariri. Tenang, hanya 500 meter saja letaknya dari pinggir jalan. Begitu tulisan di plangnya. Pak Karman juga masih menemani kami. 

Namun tulisan plang Bangkeluho itu memang bangke beneran, wkwk! Ternyata bukan 500 meter, tapi entah berapa kilo, sungguh! Jalurnya parah pula. Awalnya masih dapat jalan setapak, berganti lewat pematang sawah, lalu blusak-blusuk nggak jelas di antara ilalang. Sesekali kejeblos ke parit yang ketutup rumput tinggi. Kaki dan lenganku yang masih penuh luka akibat blusukan di hari pertama, kini ditimpa lagi dengan baretan luka baru. Heuheu! Terakhir kami  harus nyebrang sebuah jembatan bambu di atas sungai, jalan lagi di hutan, menjumpai savana lalu baru ketemu kompleks situsnya. 

Di lokasi Situs Bangkeluho kami jumpai sebuah patung yang tak begitu tinggi. Tak jauh dari situ, kalamba-kalamba juga berserak di mana-mana.

Selamat Datang di Cagar Budaya Megalitik Bangkeluho

Patung di Situs Bangkeluho


Kalamba terbelah di Situs Bangkeluho


Akhirnya kami beneran mengucapkan sampai jumpa kepada Lembah Besoa. Terima kasih banyak, Pak Karman. Tanpa diguide-in Bapak, kami pasti bakal muter-muter nggak karuan di sini. Sebelum pergi, Pak Karman  ngasih informasi tentang adanya situs megalitik di Desa Wanga dan Maholo di Kecamatan Lore Timur (masuk Lembah Napu). Sekalian pulang ke Palu, mungkin kami bisa mampir ke sana. Oke, sip! Well noted! 

Jalan yang sama saat berangkat kembali kami lalui. Terjal, berliku-liku seperti hidup ini (halah!), sebagian besar jalan rusak bahkan longsor serta hamparan hutan sepanjang jalan. Ah, untung saja, Pak Ronald (driver kami) ini nyimpen CD lagu-lagu yang lumayan enak didengarkan. Daripada playlist di Hpnya Kirey, tentu saja selera musik Pak Ronald lebih keren di telinga ;p

Singkat cerita, setelah melewati Pos Pemeriksaan TNI di pinggir jalan, kami memasuki Desa Wanga. Tinggal mencari keberadaan situsnya aja. Kudu tanya orang nih. 

Pak Ronald memarkir mobilnya di tepi jalan. Kakak Ester yang kebetulan duduknya di dekat pintu, turun lalu bertanya pada seorang pemuda yang sedang duduk-duduk di depan rumah.

"Mari saya antar saja" kata pemuda itu, yang kemudian mengenalkan diri bernama Forman. Dia bahkan mengeluarkan motornya. Wuih, boleh juga nih rayuannya Kakak Ester ;p
"Satu patung letaknya dekat saja dari sini, satu lagi cukup jauh" terang Kak Forman

Yoi, satu patung memang letaknya hanya berjarak beberapa rumah saja dari rumah Kak Forman. Berada di pekarangan sebuah rumah di pinggir jalan raya. Patung peninggalan purbakala ini serasa jadi penghias halaman rumahnya, teronggok begitu saja. Aku hanya geleng-geleng kepala. Sebuah papan nama usang tertera di sana "Patung Megalit Mpolenda". 




Patung Mpolenda, dengan parabola dan jemuran di belakangnya

Papan nama di depan rumah

Patung satunya lagi cukup jauh lokasinya dari jalan raya. Kami melewati areal persawahan, mblusak-mblusuk dan kejeblos parit, masuk ke kebun baru deh ketemu. Patungnya dalam kondisi rebah dan terbelah banyak, tak terurus.  



Add caption

Add caption

Oke, kita selesai dengan Desa Wanga. Sempet mampir lagi ke rumah Kak Forman yang ternyata punya pohon jambu biji banyak sekali di pekarangannya. Makasih Kak, sudah nge-guide-in kami serta buah jambunya yang manis-manis ini. 

Belum lelah memburu peninggalan purbakala, kamipun melanjutkan perjalanan menuju Desa Maholo di Kecamatan Lore Timur. 

Hari sudah sore saat kami tiba di Desa Maholo. Pak Karman sempet ngasih nomor telp rekannya yang ada di sini yang bisa menjadi guide, tapi ternyata ketika coba dihubungi agak susah. Walhasil, awalnya kami mencoba mencari situs megalitik tersebut secara mandiri alias nanya-nanya penduduk.

Kirey turun dari mobil, bertanya pada sekumpulan anak-anak yang sedang bermain di tanah kosong di pinggir jalan. Anak-anak yang entah sedang bermain apa karena pada bawa parang semua. Jadi saat Kirey bertanya, dan dijawab nggak tahu, maka seolah-olah dia diacung-cungi parang oleh anak-anak itu. Wkwkw!

Oke, sekali lagi bertanya pada penduduk lokal di sebuah rumah. Kirey lagi yang nyamperin dan kali ini tampaknya lebih parah, karena di samping mereka nggak tahu dimana letak situs megalitik, salah satu orang itu juga bawa senapan berburu. Wkwk! 

Kirey...Kirey...tadi diacungi parang, sekarang senapan. Beda nasib sama Kakak Ester. Hahaha! Sabar ya! Ayo pulang ke Gorontalo saja sudah ;p

Pak Ronald mengisi bensin dulu di sebuah SPBU, satu-satunya SPBU sepertinya di daerah situ. Di dekat pintu kantornya, kami melihat sebuah patung megalitik! Sontak kami turun mobil dan langsung cekrak-cekrek. Lucu, imut, mungil gitu penampakannya. Beda dengan patung-patung yang sempat kita jumpai sebelumnya. Jangan-jangan ini semacam bonekanya anak-anak jaman dulu kali ya. Nggak ngebayangin gimana mainnya. Kalau anak-anak lagi marah-marahan terus digapruk sama boneka batu. Selidik punya selidik, ternyata itu bukan peninggalan megalitikum, itu patung pahatan yang dibikin orang sekarang. Whoaa, tertipu!

Patung megalitik KW di SPBU Maholo

Kantor Kecamatan Lore Timur Kab. Poso

Bingung mau nanya ke siapa lagi karena kebanyakan pada nggak tahu keberadaan situs megalitik yang kami maksud, kami memilih berhenti dan menunggu di dekat Kantor Kecamatan Lore Timur. Guide di Maholo terus kami hubungi. Masih susah, tapi akhirnya terangkat juga. Ada guide yang bernama Kak Frans yang akan ke sini sebentar lagi. Yeay!

Hari sudah sore dan mendung menggantung saat Kak Frans datang lalu membawa kami ke Situs Pekasele. Lokasinya lumayan juga sih dari jalan raya, perlu jalan kaki masuk ke areal persawahan dan perkebunan. Kak Frans bilang dulunya ini adalah lokasi Kerajaan Pekasele.

Sebuah patung yang disebut sebagai Patung Pekatalinga terletak di depan jalan setapak menuju kompleks yang disebut "Kerajaan Pekasele". Pekatalinga ini adalah perwujudan dari permasiuri kerajaan ini. Berjalan sedikit lagi ke depan maka kita akan menjumpai sebuah tempat dengan batu-batu yang terhampar, rata-rata berbentuk batu umpak. Patung perwujudan juga Raja Pekasele terletak tak jauh dari sana.

Patung Pekatalinga
Kompleks "Kerajaan Pekasele"
Kami bersama patung perwujudan Raja Pekasele
"Masih ada kompleks megalitik lagi. Lokasinya cukup jauh dari sini. Sayang kalian datangnya sudah sore sekali. Jika agak siang, kita bisa ke sana" kata Kak Frans

Yach, tapi sudahlah. Kapan-kapan lagi jika ada kesempatan, kami masih mau kok berburu patung dan situs megalitik lagi. Tapi sebelum benar-benar pergi meninggalkan Desa Maholo, kami sempat mengunjungi satu patung lagi yang searah dengan jalan pulang. Patung Dayang-Dayang mereka sebut, berada di halaman sebuah rumah.

Para dayang bersama Patung Dayang-Dayang

Langit dengan semburat merah di arah barat. Sudah maghrib kurasa. Akhirnya selesai sudah trip kami di Lembah Besoa (dan secuil Lembah Napu) di Taman Nasional Lore Lindu Kabupaten Poso Sulawesi Tengah ini. Satu sudut Indonesia yang menyimpan banyak pesona. Tempat yang berpotensi mendunia jika saja dikelola dengan baik. 

Kami kembali menyusuri lagi jalanan Lembah Napu- Palu. Menembus malam. Pulang...

Terima kasih banyak untuk Pak Ronald (driver kami yang ketjeh banget), Kak Ika (Penginapan Rizky), Pak Karman (guide Desa Doda), Kak Forman (guide dadakan di Desa Wanga) serta Kak Frans (guide Desa Maholo) dan semua pihak yang telah membuat perjalanan kami dimudahkan dan dilancarkan.

Eh iya, video rangkuman perjalanan ini dapat disimak di link youtube berikut ini! Jangan lupa subscribe ya, halah!




------------------------------

Budget:
1. Sewa mobil = Rp. 1.350.000,- (3 hari, tidak termasuk BBM dan Tips Driver)
2. Penginapan Rizky di Desa Doda = Rp. 1.130.000,- (3 kamar, termasuk makan 3x untuk 7 orang)
3. Tips Guide (Desa Doda & Maholo) = Rp. 200.000,-
4. Sewa Kostum Baju Adat Poso = Rp. 210.000,- (untuk 6 orang)


2 comments: