Wednesday, December 27, 2017

Menjejak Timor Tengah Selatan (Bag.2): Nyanyi Sunyi Fatumnasi

"Kuda-kuda bercengkerama di padang savana hijau
Sementara angin pagi menghantar kembali ingatan lampau
Kata orang, rindu adalah kesengsaraan yang syahdu
Dan aku sedang menikmati itu..."

-------------------------------------------------------------

11 Januari 2017

Selamat pagi, Kota Soe! Kamu tak sedingin yang kukira. Soe, Ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan Propinsi Nusa Tenggara Timur ini dikenal dengan sebutan Kota Dingin karena hawanya terkenal dingin dan cukup kontras jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Pulau Timor yang identik memiliki cuaca panas dan kering. Sekitar jam 7 pagi, selesai sarapan, Om Demus (driver mobil yang kami sewa) datang menjemputku, Kakak Dame dan Kakak Jane ke hotel tempat kami menginap di  Kota Soe. Masih dengan mobil APV yang kaca depannya retak setelah kena lemparan batu dalam perjalanan ke Bandara El Tari Kupang kemarin. Oke, sekarang kami bersiap menuju Fatumnasi, sebuah desa di Kaki Gunung Mutis, masih di Kabupaten Timor Tengah Selatan alias TTS.

Jarak dari Kota Soe menuju Desa Fatumnasi sekitar 40-an kilometer. Kami melintasi kota yang pagi itu telah memulai geliatnya. Perkampungan demi perkampungan, tentu saja dengan pemandangan khas Timor, yaitu rumah-rumah bulat atau Uma Bubu. Uma Bubu adalah rumah khas Timor yang terbangun dari papan dan beratapkan daun gewang. Seperti dalam perjalanan kemarin, Om Demus ini juga  serasa tak ada habisnya bercerita tentang tanah  timor.



"Orang-orang dari luar sering menganggap bahwa orang timor itu sebagian besar adalah orang miskin gara-gara melihat rumah-rumah bulat yang kesannya seperti rumah orang yang tidak mampu. Tidak! Kami tidak miskin, itulah rumah adat kami. Cuaca di sini dingin, jadi dengan berdiam di rumah bulat, tubuh kami akan tetap hangat dibanding rumah yang beratapkan seng dan tembok. Hasil bumi kami seperti jagung juga lebih tahan lama jika ditempatkan di dalam rumah bulat." kata Om Demus, yang kembali berkisah tentang tanah kelahirannya.

"Hal ini sering dimanfaatkan oleh LSM-LSM yang tidak bertanggung jawab. Mereka foto-foto rumah bulat kami serta "kemiskinan" kami lalu dimanfaatkan untuk mengumpulkan donasi dan sebagainya. Tetapi hasil sumbangan itu entah kemana dan untuk siapa..." lanjutnya.

Aku tak bisa berkomentar banyak. Bagiku yang hanya bisa sekali-kali pergi ke timur Indonesia dan "menikmati" Timor sebagai destinasi wisata, kemudian melihat pemandangan seperti yang dijelaskan Om Demus, lalu kubandingkan dengan kehidupan di Pulau Jawa, mungkin akan berpikiran sama jika tanpa mendalami sejarah dan sosiologi masyarakatnya. Tapi entahlah, di antara Lembaga Swadaya Masyarakat yang bertujuan baik, bisa saja ada oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Walaupun sering membawa tamu alias turis baik dari dalam maupun luar negeri di seputaran Kupang dan TTS, tetapi Om Demus ini baru pertama kali bepergian ke Fatumnasi. Mungkin promosi tentang tempat itu masih kalah dibanding tempat-tempat wisata lainnya di Soe ataupun di Pulau Timor secara umum.

Soe ke Fatumnasi, dalam google maps ;p

Kami memasuki wilayah Kecamatan Kapan. Suguhan suasana pasar yang ramai, kemudian berlanjut melewati jalan rusak di samping jembatan. Beberapa kali bertanya pada penduduk untuk memastikan bahwa jalan yang kami lalui ini benar dan kami nggak kesasar.

Jalanan mulai berubah menjadi jalan tanah bercampur bebatuan yang rusak serta cukup naik-turun. Cuaca cerah cenderung panas. Langit biru. Semakin jauh semakin sepi. Tak ada kendaraan satupun yang lewat. 

Di tengah perjalanan, Om Demus mengentikan laju mobilnya sejenak di pinggir jalan, tepat di samping sepasang suami istri (terlihat si ibu sambil menggendong bayinya) yang sedang berjalan kaki. Om Demus berbicara dengan bahasa setempat dengan mereka. Lalu Om Demus bilang ke kami bahwa ia menawarkan tumpangan pada mereka hingga ke desanya di atas sana.

"Saya kasihan dengan mereka, Mbak. Lihat saja di sini, tak ada kendaraan yang lewat. Jalanan menanjak dan cuaca cukup panas. Bawa anak kecil pula." sambung Om Demus. Tentu saja kami setuju Om, kursi di dalam mobil juga masih cukup untuk mereka.

Keluarga itu kemudian turun di sebuah perkampungan tak jauh dari tepi jalan. Perjalanan kami lanjutkan kembali.

"Jalannya masih lebih bagus ini dibanding jalan ke Desa Boti" begitu komentar Om Demus.

Hmm, memang bener banget sih. Jalanan ke Desa Boti yang kami lalui kemarin memang parah naudhubillah. Kalau ini mah kategorinya masih lumayan. Aku bahkan tidak begitu khawatir kaca depan mobil yang retak ini bakalan ambrol, hehe!

Pepohonan Eucalyptus di sepanjang jalan menuju Fatumnasi

Jalan menuju Fatumnasi 

Mobil terus bergerak memasuki daerah perbukitan. Pepohonan eucalyptus tampak mendominasi vegetasi di daerah ini. Jalan yang berkelok dengan hamparan hijau pepohonan dan rerumputan, tempat ini tampak sangat berbeda dengan wilayah Nusa Tenggara  Timur yang berkesan kering. Di beberapa tempat, tampak kuda-kuda dan sapi yang sedang merumput. Sebuah pemandangan yang indah sekali. Setengah nggak percaya, bahwa pulau Timor memiliki lanskap seindah ini. Ah, pantas saja, tempat ini sering disebut sebagai A Little Scotland alias Skotlandia kecil. Yeah, walaupun tentu saja aku belum pernah ke Skotlandia, tapi lebih baik aku percaya saja ;p



Lanskap ajib sepanjang jalan

Merumput dulu...

Selain padang savana dan eucalyptus yang tumbuh subur, daerah ini juga kaya dengan lanskap bebatuan. Dulu bahkan sempat ada penambangan batu marmer di sini tapi sekarang sudah tidak beroperasi lagi. Menyisakan perbukitan batu yang terkikis, tampak di kejauhan.

Hanya ada satu tempat menginap di Desa Fatumnasi yaitu Homestay Lopo Mutis yang dikelola oleh Bapak Mateos Anin, sesepuh adat desa. Aku juga belum telepon sama sekali untuk booking kamar. Berharap kosong aja sih karena ini bukan akhir pekan dan bukan pula musim liburan.

Akhirnya kami tiba di Homestay Lopo Mutis  yang terletak di tepi jalan utama desa. Homestay ini terdiri dari beberapa bangunan berbentuk rumah bulat. Sepi sekali, seperti nggak ada orang. Penghuninya sedang pergi ke ladang, tapi sebentar lagi datang, begitu kata seorang Mama tetangga. Tak lama ditunggu, datanglah Kak Wasti, anak perempuan Bapak Mateos serta Mama Yuliana, istri Pak Mateos. Oh ya, Om Demus hanya mengantarkan kami sampai di sini. Insya Allah, lusa baru dijemput lagi. Hati-hati di jalan, Om!

Semilir angin dingin menyelinap ke balik dinding papan homestay Lopo Mutis. Kami memilih rumah bulat yang berada paling depan. Di dalamnya terdapat tiga tempat tidur, pas untuk kami bertiga. Kami letakkan carrier-carrier kami di sana. 



Tak lama kemudian Bapak Mateos pulang dari ladang. Kami makan siang bersama dan berbincang banyak dengan beliau. Dari ceritanya, ternyata beliau sudah melanglang nusantara, sering menjadi perwakilan dari NTT untuk berbagai event pariwisata dan budaya, sembari mengenalkan Fatumnasi di mana-mana. Telah banyak pula tamu-tamu yang telah datang ke Fatumnasi, mulai dari pemerintahan, penelitian sampai pejalan biasa seperti kami.



Selamat datang di Homestay Lopo Mutis
Bangunan homestay yang berbentuk Rumah Bulat

Tiga tempat tidur beserta kelambu dalam bangunan homestay


"Fatumnasi berasal dari kata Fatu yang artinya batu dan kata Mnasi yang artinya tua." kata Pak Mateos 

"Mengapa gunung di sini diberi nama Mutis? Mutis artinya lengkap atau melengkapi. Air dari gunung inilah yang yang melengkapi dan melayani, menjadi sumber air bagi masyarakat, tumbuhan dan hewan di sekitar gunung ini, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara bahkan hingga Timor Leste" lanjut Pak Mateos. 

"Bulan ini di Fatumnasi musimnya sedang tidak bagus. Angin dan hujan setiap hari. Tapi hari ini cuaca cukup cerah. Semoga besok juga demikian. Biar besok ditemani Wasti. Karena yang mendaki perempuan, biar ditemani anak perempuan Bapak." jelas Pak Mateos saat kami menyatakan keinginan  untuk dapat mendaki Gunung Mutis esok hari.

Amin! Semoga rencana pendakian esok diijabahi semesta. Sayang, sudah jauh-jauh sampai Fatumnasi tetapi tidak mendaki Gunung Mutis.

Berbincang dengan Pak Mateos Anin ini sangat menyenangkan. Wawasan beliau sangat luas tentang sejarah tempat ini, kearifan lokal serta harapan untuk Fatumnasi di masa depan. 

Sorenya kami tak sabar untuk sekedar berjalan-jalan di sekitaran desa. Menikmati satu sudut Fatumnasi yang cukup terkenal yaitu hutan bonsai. Konon disebut demikian karena di sana terdapat banyak pepohonan yang tumbuh mirip bonsai atau kerdil secara alami.  

Areal Hutan Bonsai sudah termasuk kawasan Cagar Alam Mutis. Oh ya, kami tak cuma bertiga. Ada anak-anak kecil di sekitaran homestay yang ikut ngintilin kami. Ada Anita, Senny, Chrisbet, Justin, Marcell, Michael, Agulinda serta Yemmy. Mama Yuli juga ikut, ada juga Pak Amrosius yang masih kerabat dengan Pak Mateos Anin.

Sambil bercerita dan bercanda, kami melewati jalan bebatuan yang merupakan jalan utama yang menghubungkan desa ini dengan desa-desa lainnya di kaki Gunung Mutis. Rumah-rumag warga dan beberapa toko kelontong, lapangan bola, sekolah serta pegunungan batu menjadi pemandangan kami sepanjang jalan. Tak begitu jauh kami berjalan, kini tampak sebuah gerbang bertuliskan "Cagar Alam Mutis". Selamat datang...!

Selamat Datang di Cagar Alam Mutis

Halan-halan sore
Masih dalam kawasan cagar alam

Pepohonan eucalyptus menyapa kami, mereka tumbuh berselang-seling di antara rerumputan hijau. Sebuah sungai kecil berair jernih kami lintasi. Ah, lagi-lagi takjub bahwa ada sudut yang sehijau dan sedamai ini di sudut Pulau Timor. Aku membayangkan suasana pagi yang berkabut di sini, pasti indah sekali. 

Anak-anak membawa kami ke hutan bonsai. Satu kawasan di pinggiran jalan yang dipenuhi eucalyptus dengan bentuk dahan meliuk-liuk bak bonsai alias pohon kerdil. Mereka langsung berlari-larian, bahkan prosotan di tanah yang membentuk bukit kecil. Ya, anak-anak ini memiliki tempat bermain yang keren!

Hutan Bonsai
Hutan Bonsai, sayang banyak "bonsai" nya yang sudah mati

Mari makan...

Mama Yuli memanggul kayu bakar. Aih, kuat sekali Mama!

Sementara itu, Mama Yuli mencari dan mengambil ranting-ranting kering. Beliau kumpulkan untuk dijadikan kayu bakar. Diangkatnya tumpukan kayu itu dan diletakkan di atas kepala. Kuat sekali beliaunya. Kalau saya pasti sudah encokan, low back pain dan segala macamnya, haha!

Sore pertama di Fatumnasi. Menjelang senja, kami pulang kembali ke homestay. Masih bersama anak-anak yang terus ngintilin. Menikmati langit kemerahan di ufuk barat.


Liatin fotonya, kakak!

Bersama anak-anak Desa Fatumnasi
Gereja berlatar langit senja

Tepat berada di kaki gunung, menjadikan hawa di desa ini cukup dingin. Seperti cerita Om Demus di perjalanan di mobil tadi pagi, rumah-rumah bulat yang dibangun dan ditinggali oleh warga pada dasarnya adalah rumah yang konsepnya mampu menahan hawa dingin. Maka di rumah bulat keluarga Pak Mateos, kami melingkari tungku kayu untuk menghangatkan badan sambil ngobrol dengan Kak Wasti dan Mama Yuli. Kak Wasti  menggoreng ubi sebagai bekal kami untuk mendaki Gunung Mutis esok hari. Sementara Mama Yuli menggulung benang yang akan digunakan untuk menenun.

Tak ada televisi di sini, demikian pula sinyal 3G. Tapi malam ini aku menemukan sebuah kesederhanaan dan kebersahajaan di sudut negeri.

Mama Yuli mengulung benang
Kak Wasti sedang menggoreng ubi. 


12 Januari 2017

Selamat pagi, Fatumnasi!  Kami akan mendaki Gunung Mutis hari ini. Untuk menyingkat waktu perjalanan, kami akan naik motor dulu dari homestay hingga Padang Sabana 1. 

Aku, Dame, Jane dan Kak Wasti masing-masing membonceng satu motor. Lalu beriringan di jalanan desa yang berudara segar pagi itu. Kami berangkat tepat saat jam tanganku menunjuk angka 06.15 pagi.

Seperti di luar negeri yak, hehe!

Jalan desa yang cukup mulus

Perbukitan batu

Dari Hutan Bonsai yang kami sambangi kemarin, rutenya masih terus lurus. Semakin ke atas, jalanan makin rusak. Hujan yang mengguyur desa ini terus-menerus akhir-akhir ini, membuat jalan tanah sudah tak berbentuk lagi. Kadang sesekali aku harus turun dari boncengan, lalu Kak Anton (yang mengendarai motor) berhasil melewati jalan itu dengan sekuat tenaga dan asa. 

Jarak dari homestay ke Padang 1 ternyata cukup jauh. Ini kalau jalan kaki lumayan lumayan gempor juga sih, haha! Tapi pemandangan makin ajib, serius! Di antara jalanan yang rusak, perbukitan batu menghias di kanan kiri. Tempat ini super sekali! 

Setelah melewati medan yang tak mudah untuk dilalui motor, akhirnya kami sampai di Padang 1 sekitar jam 07.15. Sabana hijau nan luas dengan kuda-kuda dan sapi-sapi yang berlarian. Ini bak adegan film-film luar negeri yang terpampang di depan mata. Aku hanya mampu ternganga. Percayalah, pemandangan aslinya jauh lebih indah dan menyejukkan jiwa dibanding secuil foto-foto amatiran yang kupampangkan dalam tulisan ini. 

Padang Sabana 1

Di Padang Sabana 1

Kak Wasti dan Kakak-Kakak Ojek yang mengantarkan kami



Motor hanya bisa sampai di Padang 1. Tak ada lagi jalan menuju Gunung Mutis selain jalan setapak. Aku, Dame, Jane dan Kak Wasti meneruskan perjalanan dengan jalan kaki. Kak Anton ikut nanjak juga. Sementara Kakak-Kakak ojek lain menunggu di Padang 1. 

Dari Padang 1 kami melewati jalan setapak menuju Padang 2. Perjalanan santai yang memakan waktu kurang dari 1 jam. Nafasku cukup terengah-engah karena lama nggak pernah olahraga (wkwk, emang gue pernah olahraga?). Padang 2 adalah sebuah padang rumput yang lagi-lagi memiliki pemandangan sempurna! Istirahat lagi di Padang 2. Menikmati view bentang alam yang luar biasa. 

"Itu Desa Nenas. Dari sana juga ada jalur menuju Mutis" kata Kak Wasti sambil menunjuk sebuah arah.

Padang Sabana 2

Padang Sabana 2

Gunung Mutis tertutup kabut

Tak jauh dari tempat kami istirahat, tampak sekumpulan warga desa yang akan mengambil sapi-sapinya yang telah merumput di sini. Jadi, kebiasaan masyarakat di sana adalah mereka menggembala sapi-sapi peliharaan ke padang rumput ini lalu dibiarkan seminggu untuk merumput kemudian baru dibawa pulang kembali. Mereka bahkan tidak khawatir bahwa sapi-sapi itu akan hilang dicuri orang atau sapi-sapi tersebut lari entah kemana selama ditinggal seminggu. Kak Wasti dan Kak Anton sempat ngobrol dengan mereka. 

"Mereka warga Kampung Nenas. Mereka mau ikut kita ke Puncak Mutis" terang Kak Wasti.
"Wah, asyik! Rame-rame kita muncak" kataku

Lalu sebuah kisah sedih terungkap dari cerita Kak Wasti tentang warga Desa Nenas yang kami jumpai di Padang 2 ini. Mereka adalah sepasang suami istri Pak Frans dan Mama Luisa serta tiga orang kerabatnya. Pak Frans dan Mama Luisa dulunya tinggal di Dili, kota yang sebelum Referendum tahun 1999 merupakan ibukota Propinsi Timor Timur dan masih menjadi bagian dari Indonesia. Sejak peristiwa kerusuhan di Dili jauh sebelum referendum (Pak Frans menyebut "40 tahun yang lalu", mungkin sekitar awal-awal integrasi Timtim ke Indonesia), mereka terpaksa melarikan diri ke wilayah NTT, meninggalkan seluruh harta benda dan kehidupannya di Dili sana. Sejak itu pula, mereka tak pernah lagi kembali ke sana. 

"Kami sudah tidak bisa masuk ke sana" kata Pak Frans, dengan raut muka yang sulit aku terjemahkan. Ia tidak menggunakan kata "blacklist", tapi dari cerita beliau kesannya memang menjadi seperti itu, mengingat dulu beliau adalah mantan aparat di Dili sebelum meletus kerusuhan di sana yang pada akhirnya berujung hingga lepasnya propinsi itu dari pangkuan ibu pertiwi. 

Mama Luisa sudah sangat rindu dengan Timor Timur (sekarang Timor Leste), dan masih banyak kerabatnya yang tinggal di sana). Dan alasan mengapa mereka mau ikut mendaki ke Puncak Gunung Mutis bersama kami adalah karena dari puncak, kita bisa melihat wilayah Timor Leste. Ya, melihat Timor Leste dari jauh untuk sekedar mengobati rindu Mama Luisa terhadap kampung halamannya. Berdesir hatiku mendengar itu.

Sebuah konflik yang pernah mewarnai sejarah bangsa ini telah mencerai-beraikan banyak keluarga, menyisakan pada setidaknya pada satu keluarga yang kini duduk di rerumputan di padang sabana 2 di kaki Gunung Mutis.

Cuaca cukup cerah, sepertinya semesta mendukung perjalanan ini. Kunikmati lanskap pegunungan hijau di sekeliling. Kami kembali berjalan, tapi sekarang ada Pak Frans dan keluarga yang mengikuti kami dari belakang.

Kami melewati sebuah tempat yang disebut Kak Wasti sebagai kuburan tua yang konon adalah makam orang Belanda zaman dulu. Tak jauh dari situ, Kak Wasti meminta kami berhenti. Beliau menyebut tempat yang ditandai dengan sebuah pohon dan batu setinggi kurang lebih 2 meter sebagai semacam "pintu gerbang" untuk minta izin sebelum naik ke Gunung Mutis. Di sana kami menundukkan kepala. Kak Wasti memimpin doa, memohon pada Tuhan yang Maha Kuasa agar memberikan kami keselamatan dan perlindungan dalam perjalanan. Selesai berdoa, Kak Wasti meminta kamu meletakkan permen di atas batu itu sebelum memulai pendakian. Akupun mengikuti apa katanya.


Batu penanda "pintu gerbang: menuju Gunung Mutis

Padang sabana 1 dan 2 tampak dari ketinggian

Menembus jalur yang menanjak di antara pepohonan yang didominasi eucalyptus yang semakin rapat. Dalam perjalanan banyak kami temui pepohonan yang berukuran besar dan tinggi sekali. Aku lupa apa sebutannya dalam bahasa lokal, tapi kira-kira kalau diartikan adalah jika kita memanjat pohon itu kita bisa melihat Kota Kupang. 

Jalur ke Puncak 1

Istirahat dulu di pohon besar yang tinggiiii sekali


Jalur ke Puncak 1

Di beberapa titik aku berhenti untuk mengatur nafas dengan dalih ingin jeprat-jepret pemandangan, wkwk! Ah, tapi pemandangan dari ketinggian memang sayang untuk dilewatkan.

"Silahkan duluan" itu yang selalu kuucapkan pada Pak Frans dan keluarganya saat mendaki.

Tentu saja, penduduk desa di kaki gunung ini memang luar biasa kalau urusan jalan kaki. Mereka yang hanya memakai sandal jepit tapi bisa berjalan secepat rusa. Sedangkan aku yang menggunakan sepatu gunung ala-ala pendaki beneran, alih-alih bisa mendaki dengan mantap tapi malah jalannya seperti siput, haha! 

"Aku cukup sampai Puncak 1 saja ya" kata Dame di tengah perjalanan.

Yakin? Nggak nyesel nih, Kakak Dame? 

Gunung Mutis memang memiliki dua puncak. Penduduk mengenalnya sebagai Puncak 1 dan Puncak 2. Di Puncak 2 lah terdapat tugu sebagai penanda puncak tertinggi Mutis.

Sekitar jam 09.30 akhirnya kami sampai di Puncak 1 Gunung Mutis. Puncak yang terbilang rimbun karena tertutup oleh pepohonan. Bekal yang dibawa Kak Wasti yaitu ubi goreng yang digoreng semalam kami nikmati rame-rame. Pak Frans dan keluarga malah mengupas pepaya. Ah, nikmat manalagi yang kudustakan, bisa menikmati pepaya di ketinggian sambil beristirahat sejenak, melepas lelah. 


Foto Keluarga di Puncak 1


Seorang perempuan tampak duduk termenung agak menjauh dari kami. Memandang ke depan, seakan menyibak rimbun pepohonan yang menghalangi hamparan luas nun jauh di sana. Dialah Mama Luisa. Dia sedang memandang ke arah Timor Leste. Kerinduan yang menjadi satu-satunya alasan ia sampai ke puncak ini. 

Puncak tertinggi Gunung Mutis masih harus kami capai. Yuhuu, Dame memutuskan ikut mendaki lagi! Oh ya, Kak Wasti memgingatkan bagi yang membawa Hp lebih baik dimatikan saja karena dalam perjalanan ke Puncak 2, tiba-tiba provider SIM Card Indonesia (yang bahkan tadinya hilang signal) akan berubah menjadi Timor Leste dan tentu saja kena roaming! 

Alhamdulillah, tepat jam 10.20 kami berhasil sampai di Puncak 2 Gunung Mutis di ketinggian 2427 mdpl. Puncak ini juga merupakan puncak tertinggi di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Sebuah tugu dengan ketinggian sekitar 2 meter menjadi penanda. Belum banyak gunung yang telah kudaki, tapi setiap gunung memang memiliki ceritanya sendiri...


Foto Keluarga di Puncak Mutis 2427 mdpl


Pak Frans dan Mama Luisa di Tugu Puncak Mutis

Tanuebok tom tei Nuaf Mutis. Kak Wasti mengajariku satu kalimat dalam bahasa lokal yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia adalah Selamat Datang di Gunung Mutis! 

Puncak 2 ini tak begitu luas. Sisi sebelah tenggara  malahan tertutup pepohonan tinggi. Tetapi sisi lainnya cukup terbuka. Perbukitan bahkan lautan nun jauh tak terjangkau. Kak Wasti menunjukkan arah Kupang serta wilayah Oecussi Timor Leste. 

Satu demi satu kami mengabadikan pencapaian ini, bahkan hingga naik ke tugu puncak ini. Mama Luisa yang tadinya tidak mau berfoto pun akhirnya ikut berfoto di tugu. Tahu alasannya kenapa Mama Luisa akhirnya mau difoto? Kami sempat cerita jika tak ada halangan maka lusa nanti berencana ke Dili Timor Leste. Pak Frans lalu bilang ke istrinya bahwa foto Mama Luisa akan bisa kami tunjukkan ke kerabat Mama di Dili nanti. Hiks! 

Tak lama kami berada di Puncak 2 Gunung Mutis. Sekitar jam 11 siang kami turun.  Melewati lagi jalur yang sama seperti saat berangkat tadi. Pak Frans dan keluarga pamit untuk berjalan duluan agar  bisa segera membawa kembali sapi-sapi peliharaannya pulang. Ya, meski singkat, semoga rindu Mama Luisa bisa sedikit terobati. Rindumu Mama, semakin menahbiskan bahwa sejauh apa kita melangkah, tempat pulang adalah kampung halaman. Semoga kelak Mama Luisa dapat bertemu kembali dengan keluarganya di Timor Leste sana. Semoga harapan dan doa Mama, dikabulkan oleh Tuhan yang Maha Baik. 

Di tempat yang sama yang disebut sebagai pintu gerbang oleh Kak Wasti, kami berhenti lagi. Kak Wasti memimpin doa, mengucapkan syukur kepada Tuhan atas kelancaran dan keselamatan perjalanan kami hari ini. 

Mendung tampak menggantung di Puncak Mutis saat kami lihat dari Padang Sabana 2. Tambah gelap bahkan. Bersyukur kami sudah berada di sini, jika terlambat sedikit saja mungkin kami bisa terjebak hujan di tengah jalan. 

Kami sampai di Padang 1 sekitar jam 13.30 siang. Dengan motor kami kembali pulang ke Fatumnasi. Kusesap lagi kenangan akan tempat ini. Satu tempat yang jika ada kesempatan umur dan rezeki, kelak ingin kusambangi lagi. Indahnya tak terperi. Terima kasih, semesta! Telah menggenapi satu mimpi, mencapai Fatumnasi! 


Kantor Desa Fatumnasi

Bersama Pak Mateos Anin dan Mama Yuli. Terima kasih banyak! 
------------ THE END ------


Budget:

1. Hotel Bahagia di Soe TTS = Rp. 220.000,-
2. Rental Mobil (termasuk perjalanan sebelumnya) = Rp. 850.000,- 
3. Ojek ke Gunung Mutis = Rp. 100.000,-/ojek
4. Guide ke Gunung Mutis = Rp. 150.000,-
5. Homestay Lopo Mutis (2 malam, 3 orang, sudah termasuk makan) = Rp. 650.000,- (total)


37 comments:

  1. Ini beneran masih di Indonesia kan? Kayak di luar negeri dengan padang rumput yg hijau, pepohonan. duh.

    berarti mama luisa dan pak frans masuk WNI ya? kenapa nggak boleh ke daerah timor leste? pengen tahu alasan lebih mendetilnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Gallant. Terima kasih usah mampir.

      Iya, Fatumnasi masih Indonesia. Keren ya? Pemandandangan aslinya lebih cihuy loh ;)

      Tentang Pak Frans dan Mama Luisa. Iya, mereka WNI. Mama Luisa yang lahir dan besar di Dili (Timor-Timur waktu itu). Pak Frans asli NTT yang bekerja di Dili. Mereka kemudian menikah. Mereka terpaksa pergi/lari ke wilayah di luar Timor-Timur, Pak Frans menyebut mereka keluar dari Dili sekitar 40 tahun lalu. Dan jika itu benar maka itu sekitar tahun 1977 saat awal-awal integrasi Timtim ke Indonesia. Masih banyak operasi militer saat itu. Pak Frans sempat cerita bahwa dia bekerja sebagai "aparat" waktu di Dili. Aparat di sini mungkin saja tentara atau polisi atau petugas pemerintah setempat yang pro-Indonesia. Banyak kerusuhan terjadi saat awal2 integrasi, antara militer dengan penduduk sipil.

      Pak Frans tidak menyebut secara detail mengapa sampai sekarang dia tidak bisa kembali lagi ke Dili (atau Timor Leste sekarang). Tapi mungkin stigma eks aparat yang pro Indonesia sudah melekat pada beliau dan keluarga, dan kini Timor Leste sudah lepas dari Indonesia, perlu paspor dan visa (VOA bagi WNI).

      Delete
  2. padang rumputnya indah sekali ya, dikirain di sana gersang semua

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, savananya breathtaking abis. Saya juga hampir2 nggak percaya bahwa di sudut Pulau Timor ada bentang alam seindah itu :-)

      Makasih sudah mampir, Mbak Tira :)

      Delete
  3. Wah... indah sekali alamnya kak, budayanya kental bnaget, aku penasaran sama rumahnya.. pingin deh traveling ke sana, tapi harus nyiapain budget dulu, lumayan mahal soalnya ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Mbak Junita. Trims sudah berkunjung.

      Iya, NTT memang kental dengan budaya dan adat yang masih terjaga. Bentang alamnya juga cantik.

      Sayang tiket ke sana masih agak mahal. Ke Fatumnasi ini bisa pake transportasi umum sebenarnya, asal punya cukup waktu. Bisa ngikut naik mobil pick-up yang nganterin hasil bumi ke Kupang pp, sekali dalam sehari. Sayangnya info ini baru saya dapetin pas sudah sampai di sana, hehe!

      Delete
  4. Cantiiik �� Kupikir Timor Leste, kan udah luar negeri, ternyata NTT yah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Mba Esthy.

      Iya, ini masih NTT, tetanggaan aja ama Timor Leste ;p

      Btw, terima kasih sudah mampir ke blog saia.

      Delete
  5. Wah Indonesiaaaaa, uwww.. Makasih ya udah ngajak aku travelling lewat tulisan ini.. Pengin boboan di padang sabana uww

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Ella. Terima kasih sdh mampir.
      Iyaaaa, semua sudut negeri kita indah semua. Ayo tak temeni maen2 ke padang savananya... ;p

      Delete
    2. Beneran nih mau ditemenin? Hahaha
      Itu juga lucu banget homestaynya kak

      Delete
    3. iya, ayo tak temenin, beliin tiketnya ya, haha!
      Itu bentuknya mirip rumah bulat, rumah adat timor. Cuman lebih kecil aja

      Delete
    4. Hahaha, ku juga mau loh kl dibeliin tiket mbak.. Wkwk
      Btw tidur disitu nggak digigitin nyamuk?

      Delete
  6. Salut dengan orang-orang yang menjelajah ke timur Indonesia, menceritakan sisi lain Indonesia. Aku mungkin tidak pernah menginjakkan kaki di sana, tapi dari tulisan orang-orang seperti mbak, aku jadi tahu bagaimana Indonesia itu sungguh luas dan indah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Nasirullah.

      Iya, Indonesia ini luas. Semua sudut Indonesia itu keren dan nggak ada matinya. Negeri ini juga kaya akan keindahan alam dan budayanya, mau dimanapun kita berada :)

      Terima kasih sudah mampir :)

      Delete
  7. Subhanallah....indahnyaaa....
    Terima kasih sudah berbagi keindahan ini yaa...meletupkan secuil asa, semoga kubisa sampai di sana juga.. Aamiin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Mba Mechta...

      Negeri kita ini mmg warbiasa. Smoga bisa piknik ke sana dan seluruh penjuru Indonesia. Jangan lupa ajak-ajak saya ya :)

      Delete
  8. pesonaa indoonesiaaa.... (Pakai nada)^^
    saya berharap bisa menjelajah di luar jawa..
    masak g punya pengalamn sekali dari kecil hingga segede ini, muter2 di jawaaa mulu. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pesona Indonesiaaa...
      Ayo nyanyi bareng, mas!
      Eh, tapi suaraku fals, lebih enakan baca puisi sih. Puisi Hujan Bulan Juni, haha!

      Delete
  9. Halo kak! Ini pertama kalinya aku berkunjung kesini, huehehe. Satu sih, aku gak setuju loh dengan tagline blog 'Absurd Journey'. Because it's not absurd at all, you did some great and amazing trips!

    Huehheheh xD gak bermaksud menggurui ya, serius ._. but because I really appreciate and adore your journey *__*

    Padang sabana yang hijau dengan sapi atau kuda, aku langsung kepikiran New Zealand malah huehehe. Atau desa2 kecil di Britania Raya semacam Edensor? I really wanna go there >.<

    Kak, I love you (?). Ih kakak menyuguhkan cerita perjalanan yang mulusnya kayak padang sabana itu hehehe. Anyway, aku request lagi dong. Kasih widget pengikut di blog ini. Supaya bisa masuk timeline ku kalau ada tulisan baru.

    Because I really can't wait your next journey to Timor Leste!

    Terakhir, salam kenal kak! Aku Zahrah dari Sidoarjo, domisili di Malang ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Zahrah! Salam kenal juga. Terima kasih ya sudah mau mampir.
      Terima kasih juga untuk pujiannya, serius aku jadi terharu :)

      Soal tagline blog, hehe! Sebenarnya ini blog abal-abal yg gak punya konsep. Isinya kadang soal traveling, kadang curhat gak jelas, campur aduk ra nggenah, absurd! Yo wis, absurd journey skalianlah, absurd mewakili absurdnya perjalanan hidupku. Wkwk, apaan sih!

      Dan padang sabana di Fatumnasi, memang cakepnya kebangetan. Ini perjalananku hampir setahun lalu yg baru sempat kutuliskan, tapi aku masih terngiang-ngiang dengan jelas keindahannya.

      Semoga nanti Zahrah bisa halan2 ke sana, dan seluruh penjuru nusantara lainnya yg tak kalah indahnya :)

      Oh ya, makasih utk saran nambah widget follower. Insya Allah aku tambahkan. Ya, semoga ada followernya yak meskipun blognya absurd begini, hihi!

      Oke Zahrah, tunggu ceritaku di episode selanjutnya. Semoga penyakit males nulis ini bisa segera sembuh ;p

      Delete
  10. Ya..ampuuun. bikin pingin aja nih ke Timor
    Ko bagus gitu pemandangannya
    Serba hijau, cantik sekali nusantara ini dgn segala potensi keindahannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Mba Sie-thi. Terima kasih sudah mampir.

      Iyaaa, ijo royo-royo, lagi sering hujan soalnya. Aku juga ngga nyangka ada yg ijo-ijo di Timor sana :)

      Delete
  11. Bae sonde bae tana timor lebe bae.. Ah sangat rindu sekali dengan tanah timor. Dulu belum sempat menjejakkan kaki di fatumnasi apalagi gunung mutis.. Padang sabana itu sungguh menggoda sekali.. Aaah, inginku kembali kesana untuk menjelajah daerah ini..

    -Traveler Paruh Waktu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Mas Bara...

      Ayolah mbalik ke NTT lagi! Propinsi itu mmg ajib sekali, dan selalu nggak abis untuk diexplore.
      Jangan lupa ajak2 saia ya, hehe!

      Delete
  12. Bacara cerita dan lihat foto-fotonya ajib banget. Nabung ahh nabung. Pulang kampung nanti harus perbanyak traveling di negeri sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Mas. Terima kasih sudah mampir.

      Iya Mas, negeri sendiri harus diexplore, ndak kalah kok sama yang di luar sono ;)

      Delete
  13. ah kakak how lucky you are, TTS itu cakep sekali yah kak orang-orangnya ramah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Kak Winny. Terima kasih sudah mampir :)

      Iyaa, TTS itu indah banget. Orang2nya baik dan ramah. Indonesia Timur memang tak pernah mengecewakan dan selalu bikin kangen ;)

      Delete
  14. wah... asik banget yak.. pengen ngerasain juga nginep di rumah bulat...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Mas. Terima kasih sudah berkunjung.

      Ayo ke Fatumnasi Mas, biar ngerasain nginep di rumah bulat. Seru lho :)

      Delete
  15. Aku nggak cukup sehari untuk ngerampungin baca ini. Bukan cuma karena panjang, tapi emang butuh pelan-pelan banget untuk ngunyah tiap informasi dan deskripsi yang disajikan dengan begitu detil. Emang harus dinikmati pelan-pelan, kaya kita makan menu terbaik di restoran top. Well, siapa yang nggak terpana dengan bentang alam seperti itu. Aku udah lama pengen ke NTT, cuma belum terwujud aja nih. Semoga dalam waktu dekat bisa ke sana, dan iseng-iseng sekalian ke Timor Timur :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Mas Eko. Matur nuwun sudah mampir di blog saia.

      Serius mbacanya gak cukup sehari? Terlalu detil ya, haha! Maap. Abis banyak hal2 yg sayang rasanya untuk dilewatkan dan tak dituliskan, hehe!

      Ayo ke NTT, Mas. Ajak2 saia ya klw mau ke sana, saia pasti mau banget balik ke sono ;p

      Delete
  16. keren mbak kereeeen, pemandangannya masyaAllah indah banget, seperti bukan di Indonesia, ini bisa jadi beberapa cerita nih, sabananya aja cakep banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Mbak Evrina. Makasih sudah mampir.

      Fatumnasi memang kerennya kebangetan. Sudut Indonesia yg kerap luput dari liputan wisata, tapi sangat layak untuk didatangi. Ayo maen ke sana, Mbak :)

      Delete
  17. Habis baca ini langsung rindu ingin kembali ke Fatumnasi. Waktu itu saya cuma sampai hutan lumut, lalu tutup lensa kamera ternyata jatuh tercecer di sini. Lalu saya berkata dalam hati, "Mungkin ini pertanda supaya saya kembali lagi ke Fatumnasi". Hehehe.. Ingin mendaki Gunung Mutis pun!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi, itu pertanda banget dari semesta bhw Mas harus balik ke Fatumnasi lagi hingga ke puncak Gn Mutis 😃

      Btw, terima kasih atas kunjungannya ke sini

      Delete