Saturday, October 20, 2018

Merhaba Turkiye (Bag.1): Welcome to The City, Istanbul!

"Life can't be all that bad, I'd think from time to time. Whatever happens, I can always take a long walk along the Bosphorus..."
(Orhan Pamuk)

---------------------------------

14 September 2018

Pesawat Saudi Airlines yang kami naiki dari Jeddah, mendarat mulus di Bandara International Ataturk Turki sekitar pukul 10.30 waktu setempat. Selamat datang di Istanbul. Kota yang pernah disebut sebagai Konstantinopel atau Bizantium. Kota terpadat di Turki, pusat ekonomi, budaya dan tentu saja sejarah.

Teman jalanku kali ini adalah Mbak Andari. Teman kerja yang cubiclenya persis di sebelah. Sampai juga kita di sini ya, Mbak? Padahal, rencana pergi ke Turki bisa dibilang cukup dadakan. Hari cuti memang sudah kami block sejak lama, tapi terus terang kami bingung mau jalan ke mana. Tiket baru kita beli sekitar seminggu sebelum berangkat. Maka Turki seolah menjadi sebuah wacana saja, karena kami malah sibuk nyiapin acara gathering kantor saat itu lalu dilanjut keseringan nonton pertandingan Asian Games, haha! Belum lagi berita tentang krisis ekonomi yang sedang terjadi di Turki (dan timbul kekhawatiran dari segi keamanan) juga nilai tukar rupiah yang sedang turun melawan Dolar Amerika, cukup membuat kami ragu untuk bepergian ke sana.

Kami langsung menuju loket pemeriksaan paspor. Antriannya mengular panjang. Lira (mata uang Turki) yang sedang anjlok terhadap Dollar, tampaknya malah membawa dampak terhadap banyaknya wisatawan barat yang berkunjung ke negeri ini. Bagi WNI, kita hanya butuh Visa On Arrival (VOA) yang bisa diapply online sebelum keberangkatan dengan biaya sekitar $26. Oke, satu cap mengisi pasporku yang nyaris kosong ini.

Friday, June 22, 2018

Mempertanyakan Keselamatan Transportasi Perairan

Berita tenggelamnya Kapal Motor (KM) Sinar Bangun yang terjadi di Danau Toba Sumatra Utara pada tanggal 18 Juni 2018 menorehkan duka di tengah kegembiraan seusai merayakan Idul Fitri. Diperkirakan ratusan penumpang menjadi korban dan masih dalam proses pencarian. Tak jelas berapa jumlahnya secara pasti mengingat tidak ada manifest atau daftar nama penumpang kapal. Diduga, kapal tersebut tenggelam karena kelebihan muatan serta cuaca buruk.

Sebelumnya, tanggal 13 Juni 2018, KM Arista yang memuat 43 orang, tenggelam di perairan Makassar Sulawesi Selatan juga tenggelam dan mengakibatkan 15 penumpang meninggal dunia. Penyalahgunaan peruntukan kapal yang seharusnya bukan untuk penumpang disebut oleh Ketua KNKT sebagai salah satu penyebab kecelakaan. 

Masih di tanggal 13 Juni 2018, KM Albert berpenumpang 30 orang karam di Sungai Kong Sumatra Selatan, 2 orang ditemukan meninggal. Penyebab kecelakaan ini ditengarai karena faktor kondisi cuaca buruk serta gelombang tinggi.

Tiga kecelakaan kapal terjadi dalam kurun waktu kurang dari seminggu. Al Fatihah untuk seluruh korban dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. 

Tuesday, June 12, 2018

Offshore Life: Ramadhan dan Idul Fitri Spesialku

"I look to the sea, 
reflections in the waves spark my memory. 
Some happy, some sad...'
(STYX - Come Sail Away) 

----------------------

Kutulis postingan ini saat santai di kampung halaman di Pekalongan. Yoi, aku sudah mudik sejak beberapa hari lalu, pastinya untuk merayakan Idul Fitri yang tinggal hitungan hari. Leyeh-leyeh sambil scrolling akun medsos, membuatku terantuk pada foto-foto jadul saat masih kerja di lapangan dulu. Nggak penting sih sebenarnya, haha! Tapi mendadak jadi pengen bernostalgia tentang Ramadhan dan Idul Fitri spesialku beberapa tahun lalu. Betapa merayakan dua moment itu bersama keluarga pernah menjadi moment langka buatku.

Barge Tirta Rajawali, berlatar senja

Di atas menara Rig Randolph Yost

Sejak akhir tahun 2009 hingga pertengahan 2016 aku sempat bekerja di lapangan migas lepas pantai di perairan Selat Makassar yang terletak di antara Pulau Kalimantan dan Sulawesi. Kadang berada di Offshore Rig alias anjungan pemboran lepas pantai ataupun barge untuk kegiatan perawatan sumur migas. Rata-rata jadwal kerja kami adalah dua minggu kerja dan dua minggu off. Dengan jadwal kerja yang sudah paten itu, maka dimanakah aku berada saat Ramadhan atau Idul Fitri tentu nggak bisa dinego lagi. Paling ngenes kalau lihat kalender dan mendapati jadwalku sedang on/bekerja saat Idul Fitri nanti. Ah, alamat kampul-kampul di laut saat takbiran deh. Rasanya langsung lunglai seketika. Yah, risiko tugas, mau gimana lagi?  Nasib kuli dan kroco mumet. Tapi sedikit terhibur pas gajian masuk ke rekening sih.


Barge Tirta Rajawali, saat towing

Rig Randolph Yost
Senja di Rig MTR2

Sepanjang tujuh tahun bekerja di lepas pantai, aku selalu mendapati jadwal kerja pas Ramadhan. Tapi kalau Idul Fitri, seingatku sih sudah tiga kali merayakan lebaran di tengah laut. 

Bagaimana rasanya melewati Ramadhan di lepas pantai antah berantah bersama kurang lebih seratusan orang di atas anjungan pemboran ataupun barge? 

Well, yang jelas lepas pantai itu teriknya ampun-ampunan, matahari tanpa tedeng aling-aling berada di atas kita (makanya kulit saya lumayan eksotis, wkwk). Sebagian pekerja harus panas-panasan di atas dek ataupun lantai bor, berpeluh keringat untuk handling pipa-pipa besi, naik ke ketinggian, kegiatan pengangkatan material dan lain sebagainya. Banyak kegiatan yang membutuhkan aktivitas fisik. Ya namanya juga ngebor nyari minyak dan gas ya gaes, di tengah laut pula serta berisiko tinggi. Pekerjaan di sana itu 24/7 non stop serta dibagi 2 shift.  Yang  menjadi konsen dan prioritas adalah Fit for Duty selama Ramadhan (terutama bagi yang menjalankan ibadah puasa), memastikan agar seluruh pekerja tetap dalam kondisi fit dan bekerja dengan selamat. 

Apakah kami tetap menjalankan ibadah puasa? Ada yang tetap puasa, ada juga yang tidak. Pilihan masing-masing individulah. Tapi nuansa Ramadhan tetap terasa  kok meskipun kami jauh dari mana-mana. 

Suasana di galley (sebutan untuk area makan di rig/barge) saat buka puasa selalu seru. Camp Boss (sebutan untuk bossnya dapur dan akomodasi) sudah menyiapkan menu spesialnya dengan asupan gizi yang memadai untuk kami-kami yang berpuasa dan bekerja keras seharian, lengkap dengan takjil seperti kurma, kolak ataupun es buah.  Saat waktu berbuka puasa tiba, PA (public announcement) diberikan lewat speaker umum seantero rig/barge. 

Lalu bagaimana dengan Sholat Tarawih, apakah ada? Ada dong! Alhamdulillah di beberapa barge punya mushala yang cukup representative loh. Di beberapa rig juga kadang menggunakan recreation room yang lebih luas untuk disulap sejenak menjadi tempat sholat Tarawih. Walaupun tentu saja tak bisa semua pekerja bisa ikut berjamaah karena operations harus tetap berjalan. Yang jelas, gema Ramadhan tetap terasa meskipun kami kampul-kampul di tengah samudra. 

Jamaah Tarawih Rig MTR2, tahun 2011

Wajah-wajah kelaparan menunggu buka

Moment Idul Fitri, nah ini yang paling bikin sedih. Merayakan lebaran jauh dari keluarga (dan bagiku) nggak bisa sungkem kepada kedua orang tua. 

Dimulai dari malam takbiran di sana yang dilakukan selepas maghrib. Malam menjelang Idul Fitri ini kerap membuatku terharu campur sedih. Sebagai kadang satu-satunya perempuan di atas Rig/Barge, aku harus tetap tegar, halah! Biasanya aku naik ke helideck, memandang lampu-lampu kapal dari kejauhan, ataupun crane yang naik turun swing kanan dan kiri mengangkat dan menurunkan barang. Lalu telepon rumah, minta maaf kepada kedua orang tua. Memohon maaf atas semua kesalahan selama ini juga minta maaf karena nggak bisa pulang. Untungnya, sinyal komunikasi antara laut dan darat cukup bisa diandalkan. Meskipun kadang di beberapa platform, kami bisa mati gaya lantaran susah sinyal, haha! 

"Ora opo-opo, Nduk. Sing penting sehat lan kerjo selamet neng kono (Tidak apa-apa, Nak. Yang penting sehat dan selamat di sana)" demikian jawaban orang tuaku, tiap kali kutelpon di malam takbiran. Aku malah tambah mewek kalau gini. 

Bagi yang merayakan Idul Fitri dan pekerjaannya bisa digantikan sebentar, Company Man (sebutan untuk orang nomor satu di sini) memberikan keleluasaan untuk menunaikan Sholat Idul Fitri di pagi hari. Jika cuaca bagus, kami menunaikan sholat Idul Fitri berjamaah di helideck (tempat landing helikopter di rig/barge). Sajadah digelar juga sound system dinaikkan. Imam dan Khatib bersiap. Takbir berkumandang. Mewek moment kembali terulang. Apalagi sejauh mata memandang, hanyalah lautan. Kami tak menjejak daratan. 


Sholat Idul Fitri, Rig MTR2, tahun 2011

Shola Idul Fitri, Rig Hibiscus, tahun 2010

Suasana saling bermaafan, Idul Ftri tahun 2015, Rig Randolph Yost

Selepas sholat dan khutbah, kami semua berdiri dan berkeliling saling bermaaf-maafan sesama rekan kerja. Kebersamaan yang kami rasakan sejenak bisa menyamarkan rasa rindu jauh dari keluarga tercinta  saat hari raya. Kami senasib sepenanggungan. Selesai bermaafan kami segera turun ke Galley untuk menikmati hidangan spesial Idul Fitri. Ada ketupat juga opor ayam, meskipun tak selezat masakan Ibuku. Beberapa orang pekerja, kadang juga membawa nastar ataupun kue-kue lebaran lainnya yang sengaja dibawa dari rumah sebelum naik ke rig untuk kami nikmati bersama.

Setelah sarapan? Ya kerja lagi, ngebor lagi! Pekerjaan kembali berjalan normal seperti sediakala. 

Kini aku sejenak absen dari pekerjaan di lapangan. Birunya lautan sudah tergantikan oleh macetnya ibukota. Terus terang, kadang aku rindu. Kangen sunrise dan sunset paling indah di sana, teman-teman yang seru dan pastinya segenap cerita.

Selamat merayakan Idul Fitri untuk seluruh pekerja di lapangan migas lepas pantai di  blok manapun berada, yang tetap harus bekerja di saat lebaran guna terus merawat energi dan menggerakkan ekonomi negeri. Pasti kangen kumpul dengan keluarga. I feel you gaes. Tetap semangat dan utamakan keselamatan :-)

Foto Keluarga, Idul Fitri tahun 2015, Rig Randolph Yost

Foto Keluarga, Idul Fitri tahun 2010, Rig Hibiscus


Saturday, May 12, 2018

Ada Riang di Gunung Kembang

"Sini, kuredakan lelahmu dengan kopi hitam buatanku.
Kesukaaanmu.
Lalu mari bertukar kabar,
Tentang mimpimu dan rinduku..."

-----------------------------------

6 Mei 2017

Sekitar jam 06.30 pagi, kami sampai di Taman Plaza Wonosobo. Turun dari bis Dieng Indah yang membawaku dan TJ dari Jakarta ke kota yang terkenal akan keindahan negeri di atas awannya. Desi, seorang sahabat yang  tinggal di kota ini,  menjemput kami berdua ke rumahnya di daerah Mangli. 

Terakhir kali ke rumah Desi mungkin sekitar setahun lalu, saat naik ke Gunung Bisma. Setelah berulang kali re-schedule karena alasan cuaca, sekarang kami bakal reunian lagi. Kali ini giliran Gunung Kembang yang akan didaki. 

Yup, Gunung Kembang. Meskipun keberadaan Gunung Kembang sebenarnya berdekatan dengan Gunung Sindoro dan Sumbing (bahkan disebut sebagai anak dari kedua gunung tersebut), tetapi nama Gunung Kembang masih cukup asing terdengar di telinga, nggak tahu kenapa. Satu hal yang cukup unik dari gunung ini adalah karena kabarnya ia terus "bertumbuh kembang" alias bertambah tinggi. Tercatat  ketinggian Gunung Kembang sekarang adalah 2370 mdpl alias dua kali lipat bila dibandingkan dengan tingginya pada satu dekade silam. Aktivitas vulkanik dari gunung di sebelahnya, diperkirakan menjadi penyebab bertambahnya ketinggian gunung ini. 

Setelah puas sarapan Sate Kertek yang rasanya endes sekali, sekitar jam 10 pagi kami siap berangkat. Oh ya, selain kami bertiga, Desi juga mengajak Herni dan Salim, dua pemuda perkasa harapan bangsa yang siap membawa carrier dengan beban sebanyak-banyaknya. Peace, bro! 

Friday, May 11, 2018

Kota Dili, di Januari

"I like the dreams of the future, better than the history of the past"
(Thomas Jefferson)
------------------------------

16 Januari 2017

Selamat sore, Dili!

Ternyata rasa lelah yang membuncah setelah seharian melalui perjalanan darat dari Soe NTT, melewati PLBN (Pos Lintas Batas Negara) Motaain di Atambua hingga sampai ke Dili Timor Leste, tak membuatku, Kakak Dame dan Kakak Jane tepar sesampainya di hostel Dili Central Backpackers, tempat kami menginap. Maka selesai memasukkan carrier ke dalam kamar dan bebenah sebentar, kami bertigapun segera cus ke luar. Tujuan utamanya sih buat nyari makan. Jangan pernah diet kalau lagi traveling yak, karena piknik juga butuh energi biar nggak mudah panik!

"Transportasi umum di Dili cukup mudah. Ada infonya di papan itu" kurang lebih begitulah kata-kata Mbak Kim, bule pemilik hostel ini, saat kami bertanya tentang angkutan umum atau biasa disebut Mikrolet oleh warga Dili. 

Hal itu juga diamini Jacko dan Rob. Jacko adalah pegawai di penginapan, sedangkan Rob adalah teman Kim yang suka main ke tempat ini. Keduanya warga negara Timor Leste. Jacko yang berwajah Timor, agak terbata-bata jika berbicara dengan Bahasa Indonesia. Sedangkan Rob yang blas nggak ada wajah Timor sama sekali, malah sangat lancar berbahasa Inggris. Oke, baiklah, kami berkomunikasi campur-campur saja. Yang penting jangan pakai Bahasa Portugis (bahasa resmi Timor Leste) atau Bahasa Tetun (bahasa lokal keseharian warga Timor Leste), karena dijamin kami bakal plonga-plongo! Hehe!

Selesai membaca info mikrolet di papan pengumuman, mataku tertuju pada satu gambar yang terlukis di sisi samping meja resepsionis. Gambar anak laki-laki yang menaiki buaya di tengah lautan. Hmm, apakah gerangan artinya?

Monday, February 19, 2018

Apa Kabar, Timor Leste?

“Siapakah pemilik sejarah? 
Siapa yang menentukan siapa yang jadi pahlawan dan siapa yang menjadi penjahat? 
Siapa pula yang menentukan akurasi setiap peristiwa?"
(Leila S. Chudori)

----------------------------------------------------

14 Januari 2017

Hampir pukul 14.00 siang saat aku, Kakak Dame dan Kakak Jane berjalan memasuki gerbang negara Timor Leste yang berbatasan dengan PLBN (Pos Lintas Batas Negara) Motaain di Atambua Nusa Tenggara Timur. Sebuah gerbang bertuliskan “Bem Vindo A Timor Leste”. Ya, Selamat Datang di Timor Leste!

Pose dulu di depan PLBN Motaain Indonesia yang megah sekali
Gerbang menuju Timor Leste

Batu prasasti peresmian Posto Fronteirico Integrado alias Pos Perbatasan Terpadu di Batugade Timor Leste yang ditandatangani oleh Xanana Gusmao (Presiden Timor Leste, waktu itu) serta sebuah tugu Timor Leste yang ada di sampingnya, menyambut kedatangan kami. Tugu, prasasti dan bangunan serupa juga kami dapati di PLBN Wini, yang berbatasan dengan wilayah Oecussi Timor Leste yang sempat kami kunjungi kemarin.  Sepertinya Timor Leste memiliki pakem bentuk bangunan dan pelengkapnya pada pos-pos perbatasannya.


Gedung Pos Perbatasan Timor Leste
Apa yang membawaku ke Timor Leste?


Friday, January 26, 2018

Wini dan Motaain, Satu Lagi Perbatasan Negeri

"Jikalau aku melihat wajah anak-anak di desa-desa dengan mata yang bersinar-sinar, 
"Pak Merdeka, Pak Merdeka, Pak Merdeka!" 
Maka aku bukan lagi melihat mata manusia, tapi aku melihat Indonesia"
(Ir. Soekarno)


13 Januari 2017

Mobil Om Demus terlihat dari kejauhan. Mobil APV dengan kaca depannya yang retak itu. Segera kami berkemas, mengeluarkan gembolan-gembolan dari kamar homestay Lopo Mutis. Pamit kepada Pak Mateos Anin, Mama Yuli dan Kak Wasti, mengucap terima kasih atas segala bantuannya selama kami di Fatumnasi. Sekaligus menyerahkan sedikit buku dan alat tulis yang bisa dibagi untuk anak-anak di sekitar sini. Kami  harus mengucap sampai jumpa pada Fatumnasi. Satu desa di kaki Gunung Mutis yang cantik sekali.

Kami masih punya waktu seharian ini di NTT sebelum menjejak Timor Leste esok hari. Maka kami sewa mobil Om Demus lagi agar bisa bebas pergi ke mana saja tanpa terkendala transportasi. Hari ini Om Demus menawarkan untuk melihat Air Terjun Oehala dan juga PLBN (Pos Lintas Batas Negara) Wini di Kabupaten Timor Tengah Utara yang berbatasan dengan Oecusi Timor Leste.

Tentu saja aku tak menolak untuk diajak melihat PLBN Wini. Bahagia malah. Kukira dalam trip kali ini aku hanya akan melintas PLBN Motaain di Atambua Kabupaten Belu saja yang Insya Allah akan kami lintasi besok saat menuju ke Timor Leste. Tapi ternyata malah dapat tambahan satu PLBN lagi!


Wilayah Timor Leste, negara tetangga kita ini bisa dibilang cukup unik, karena ia tak hanya berada di bagian timur Pulau Timor saja tapi juga ada sempalan kecil atau daerah kantung (enclave) di daratan sebelah barat Kabupaten Timor Tengah Utara NTT yaitu wilayah Oecussi atau Ambeno. Ada satu pos perbatasan Indonesia sebelum memasuki Oecussi Timor Leste yaitu PLBN Wini yang rencananya akan kami kunjungi hari ini.