Tuesday, June 12, 2018

Offshore Life: Ramadhan dan Idul Fitri Spesialku

"I look to the sea, 
reflections in the waves spark my memory. 
Some happy, some sad...'
(STYX - Come Sail Away) 

----------------------

Kutulis postingan ini saat santai di kampung halaman di Pekalongan. Yoi, aku sudah mudik sejak beberapa hari lalu, pastinya untuk merayakan Idul Fitri yang tinggal hitungan hari. Leyeh-leyeh sambil scrolling akun medsos, membuatku terantuk pada foto-foto jadul saat masih kerja di lapangan dulu. Nggak penting sih sebenarnya, haha! Tapi mendadak jadi pengen bernostalgia tentang Ramadhan dan Idul Fitri spesialku beberapa tahun lalu. Betapa merayakan dua moment itu bersama keluarga pernah menjadi moment langka buatku.

Barge Tirta Rajawali, berlatar senja

Di atas menara Rig Randolph Yost

Sejak akhir tahun 2009 hingga pertengahan 2016 aku sempat bekerja di lapangan migas lepas pantai di perairan Selat Makassar yang terletak di antara Pulau Kalimantan dan Sulawesi. Kadang berada di Offshore Rig alias anjungan pemboran lepas pantai ataupun barge untuk kegiatan perawatan sumur migas. Rata-rata jadwal kerja kami adalah dua minggu kerja dan dua minggu off. Dengan jadwal kerja yang sudah paten itu, maka dimanakah aku berada saat Ramadhan atau Idul Fitri tentu nggak bisa dinego lagi. Paling ngenes kalau lihat kalender dan mendapati jadwalku sedang on/bekerja saat Idul Fitri nanti. Ah, alamat kampul-kampul di laut saat takbiran deh. Rasanya langsung lunglai seketika. Yah, risiko tugas, mau gimana lagi?  Nasib kuli dan kroco mumet. Tapi sedikit terhibur pas gajian masuk ke rekening sih.


Barge Tirta Rajawali, saat towing

Rig Randolph Yost
Senja di Rig MTR2

Sepanjang tujuh tahun bekerja di lepas pantai, aku selalu mendapati jadwal kerja pas Ramadhan. Tapi kalau Idul Fitri, seingatku sih sudah tiga kali merayakan lebaran di tengah laut. 

Bagaimana rasanya melewati Ramadhan di lepas pantai antah berantah bersama kurang lebih seratusan orang di atas anjungan pemboran ataupun barge? 

Well, yang jelas lepas pantai itu teriknya ampun-ampunan, matahari tanpa tedeng aling-aling berada di atas kita (makanya kulit saya lumayan eksotis, wkwk). Sebagian pekerja harus panas-panasan di atas dek ataupun lantai bor, berpeluh keringat untuk handling pipa-pipa besi, naik ke ketinggian, kegiatan pengangkatan material dan lain sebagainya. Banyak kegiatan yang membutuhkan aktivitas fisik. Ya namanya juga ngebor nyari minyak dan gas ya gaes, di tengah laut pula serta berisiko tinggi. Pekerjaan di sana itu 24/7 non stop serta dibagi 2 shift.  Yang  menjadi konsen dan prioritas adalah Fit for Duty selama Ramadhan (terutama bagi yang menjalankan ibadah puasa), memastikan agar seluruh pekerja tetap dalam kondisi fit dan bekerja dengan selamat. 

Apakah kami tetap menjalankan ibadah puasa? Ada yang tetap puasa, ada juga yang tidak. Pilihan masing-masing individulah. Tapi nuansa Ramadhan tetap terasa  kok meskipun kami jauh dari mana-mana. 

Suasana di galley (sebutan untuk area makan di rig/barge) saat buka puasa selalu seru. Camp Boss (sebutan untuk bossnya dapur dan akomodasi) sudah menyiapkan menu spesialnya dengan asupan gizi yang memadai untuk kami-kami yang berpuasa dan bekerja keras seharian, lengkap dengan takjil seperti kurma, kolak ataupun es buah.  Saat waktu berbuka puasa tiba, PA (public announcement) diberikan lewat speaker umum seantero rig/barge. 

Lalu bagaimana dengan Sholat Tarawih, apakah ada? Ada dong! Alhamdulillah di beberapa barge punya mushala yang cukup representative loh. Di beberapa rig juga kadang menggunakan recreation room yang lebih luas untuk disulap sejenak menjadi tempat sholat Tarawih. Walaupun tentu saja tak bisa semua pekerja bisa ikut berjamaah karena operations harus tetap berjalan. Yang jelas, gema Ramadhan tetap terasa meskipun kami kampul-kampul di tengah samudra. 

Jamaah Tarawih Rig MTR2, tahun 2011

Wajah-wajah kelaparan menunggu buka

Moment Idul Fitri, nah ini yang paling bikin sedih. Merayakan lebaran jauh dari keluarga (dan bagiku) nggak bisa sungkem kepada kedua orang tua. 

Dimulai dari malam takbiran di sana yang dilakukan selepas maghrib. Malam menjelang Idul Fitri ini kerap membuatku terharu campur sedih. Sebagai kadang satu-satunya perempuan di atas Rig/Barge, aku harus tetap tegar, halah! Biasanya aku naik ke helideck, memandang lampu-lampu kapal dari kejauhan, ataupun crane yang naik turun swing kanan dan kiri mengangkat dan menurunkan barang. Lalu telepon rumah, minta maaf kepada kedua orang tua. Memohon maaf atas semua kesalahan selama ini juga minta maaf karena nggak bisa pulang. Untungnya, sinyal komunikasi antara laut dan darat cukup bisa diandalkan. Meskipun kadang di beberapa platform, kami bisa mati gaya lantaran susah sinyal, haha! 

"Ora opo-opo, Nduk. Sing penting sehat lan kerjo selamet neng kono (Tidak apa-apa, Nak. Yang penting sehat dan selamat di sana)" demikian jawaban orang tuaku, tiap kali kutelpon di malam takbiran. Aku malah tambah mewek kalau gini. 

Bagi yang merayakan Idul Fitri dan pekerjaannya bisa digantikan sebentar, Company Man (sebutan untuk orang nomor satu di sini) memberikan keleluasaan untuk menunaikan Sholat Idul Fitri di pagi hari. Jika cuaca bagus, kami menunaikan sholat Idul Fitri berjamaah di helideck (tempat landing helikopter di rig/barge). Sajadah digelar juga sound system dinaikkan. Imam dan Khatib bersiap. Takbir berkumandang. Mewek moment kembali terulang. Apalagi sejauh mata memandang, hanyalah lautan. Kami tak menjejak daratan. 


Sholat Idul Fitri, Rig MTR2, tahun 2011

Shola Idul Fitri, Rig Hibiscus, tahun 2010
 
Suasana saling bermaafan, Idul Ftri tahun 2015, Rig Randolph Yost

Selepas sholat dan khutbah, kami semua berdiri dan berkeliling saling bermaaf-maafan sesama rekan kerja. Kebersamaan yang kami rasakan sejenak bisa menyamarkan rasa rindu jauh dari keluarga tercinta  saat hari raya. Kami senasib sepenanggungan. Selesai bermaafan kami segera turun ke Galley untuk menikmati hidangan spesial Idul Fitri. Ada ketupat juga opor ayam, meskipun tak selezat masakan Ibuku. Beberapa orang pekerja, kadang juga membawa nastar ataupun kue-kue lebaran lainnya yang sengaja dibawa dari rumah sebelum naik ke rig untuk kami nikmati bersama.

Setelah sarapan? Ya kerja lagi, ngebor lagi! Pekerjaan kembali berjalan normal seperti sediakala. 

Kini aku sejenak absen dari pekerjaan di lapangan. Birunya lautan sudah tergantikan oleh macetnya ibukota. Terus terang, aku rindu. Kangen sunrise dan sunset paling indah di sana, teman-teman yang seru dan pastinya segenap cerita.

Selamat merayakan Idul Fitri untuk seluruh pekerja di lapangan migas lepas pantai di  blok manapun berada, yang tetap harus bekerja di saat lebaran guna terus merawat energi dan menggerakkan ekonomi negeri. Pasti kangen kumpul dengan keluarga. I feel you gaes. Tetap semangat dan utamakan keselamatan :-)

Foto Keluarga, Idul Fitri tahun 2015, Rig Randolph Yost

Foto Keluarga, Idul Fitri tahun 2010, Rig Hibiscus


Saturday, May 12, 2018

Ada Riang di Gunung Kembang

"Sini, kuredakan lelahmu dengan kopi hitam buatanku.
Kesukaaanmu.
Lalu mari bertukar kabar,
Tentang mimpimu dan rinduku..."

-----------------------------------

6 Mei 2017

Sekitar jam 06.30 pagi, kami sampai di Taman Plaza Wonosobo. Turun dari bis Dieng Indah yang membawaku dan TJ dari Jakarta ke kota yang terkenal akan keindahan negeri di atas awannya. Desi, seorang sahabat yang  tinggal di kota ini,  menjemput kami berdua ke rumahnya di daerah Mangli. 

Terakhir kali ke rumah Desi mungkin sekitar setahun lalu, saat naik ke Gunung Bisma. Setelah berulang kali re-schedule karena alasan cuaca, sekarang kami bakal reunian lagi. Kali ini giliran Gunung Kembang yang akan didaki. 

Yup, Gunung Kembang. Meskipun keberadaan Gunung Kembang sebenarnya berdekatan dengan Gunung Sindoro dan Sumbing (bahkan disebut sebagai anak dari kedua gunung tersebut), tetapi nama Gunung Kembang masih cukup asing terdengar di telinga, nggak tahu kenapa. Satu hal yang cukup unik dari gunung ini adalah karena kabarnya ia terus "bertumbuh kembang" alias bertambah tinggi. Tercatat  ketinggian Gunung Kembang sekarang adalah 2370 mdpl alias dua kali lipat bila dibandingkan dengan tingginya pada satu dekade silam. Aktivitas vulkanik dari gunung di sebelahnya, diperkirakan menjadi penyebab bertambahnya ketinggian gunung ini. 

Setelah puas sarapan Sate Kertek yang rasanya endes sekali, sekitar jam 10 pagi kami siap berangkat. Oh ya, selain kami bertiga, Desi juga mengajak Herni dan Salim, dua pemuda perkasa harapan bangsa yang siap membawa carrier dengan beban sebanyak-banyaknya. Peace, bro! 


Menggunakan 3 motor menuju ke Desa Lengkong Kecamatan Garung yang berjarak sekitar 10 kilometer dari rumah Desi. Desa Lengkong merupakan salah satu titik awal pendakian Gunung Kembang. Berhubung di desa ini belum ada basecamp pendakian, maka kami menitipkan motor ke rumah kenalan Desi. 

Kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke lereng gunung, melewati jalanan desa berbatu dengan pemandangan pekebunan sayur di kanan kiri. Sebenarnya bisa naik motor juga sih setidaknya sampai ke persimpangan tempat paralayang di atas sana. Tapi ngeri-ngeri sedap juga kondisi jalannya. Tak apalah, anggap saja pemasanasan kaki dan nafas yang sudah lama absen dari dunia ketinggian. Hah, tuh kan? Belum apa-apa sudah ngos-ngosan, wkwk!

Sesampainya di simpang jalan, kami mengambil jalan ke kiri. Jalanan lurus datar, hingga ketemu dengan persimpangan selanjutnya yang berujung dengan dua jalan setapak. Desi memilih arah ke kanan, ke jalan setapak yang rimbun tertutup pepohonan paku-pakuan. Hmm, tampaknya tempat ini jarang sekali dilewati orang.

“Iya, ini jalurnya. Tapi sekarang kok sudah tertutup begini?” kata Desi, sebagai satu-satunya orang dalam rombongan ini yang pernah mendaki Gunung Kembang sebelumnya.

Kami memutuskan beristirahat sejenak. Desi dan Herni lalu memotong-motong tali rafia yang akan diikatkan ke pohon-pohon sebagai penanda jalur perjalanan ketika lewat jalan setapak yang rimbun itu nanti.


Ini masih di awal, perjalanan masih jauh ciin...!

Jalur pendakian kelihatan rimbun dan cenderung tertutup di awal namun semakin ke atas jalan semakin terbuka tapi kemudian rapat lagi. Banyak kami temukan tumbuhan kantong semar dalam ukuran yang cukup besar di beberapa titik perjalanan. Jalur pendakian Gunung Kembang ini sejatinya berupa jalur air, semacam selokan yang mengalirkan air dari puncak sana hingga ke lereng. 

Alamak, nanjak terus ini. Nggak ada bonusnya sama sekali. Nafas tambah ngos-ngosan, dengkul kiri mulai berderit-derit. Faktor U memang tak bisa bohong, wkwk! Tuh lihat Herni dan Salim, generasi muda harapan bangsa yang meskipun memanggul kulkas dua pintu tapi jalannya masih secepat rusa. Sementara aku terseok-seok dan banyak minta berhentinya.

Walah, mendung yang menggelayut sedari awal perjalanan, kini mulai berubah menjadi hujan. Bahkan jas hujan yang kami pakai tampaknya tak bisa melindungi tubuh kami karena hujan sedemikian derasnya. Tambah parah karena suara guntur dan sesekali kilatan petir juga terlihat. Jalur yang berupa “selokan” itu otomatis dipenuhi aliran air dari atas yang berwarna coklat dan lumpur. Kami serasa berjalan di tengah kubangan air sambil terus mendaki. Hanya satu yang kutakutkan, bagaimana jika bukit ini longsor? Bagaimana jika pohon-pohon di sekitar ini tumbang! Ah, tetiba ngeri membayangkannya.

Ah, sudahlah. Bismillah, dibawa happy saja. Kami bahkan ketawa-tawa saja di sepanjang jalan. Lha mau gimana. Hujan nggak bisa kita suruh berhenti. Puncak juga masih jauh. Sementara baju dan badan kami sudah basah semua. Sepatu telah keisi air semua. Mana jalur pendakian terus menanjak tak ada hentinya. Komplit euy penderitaan ini, ye kaan?

Salim sudah ngacir duluan. Maklum, anak muda. Pasti nggak sabar nunggu jalannya nenek-nenek yang tertatih ini, yang selalu saja kerap minta berhenti, wkwk! Sementara Herni masih betah berjalan di belakang kami para cewek ini.

Hari semakin sore. Sudah nggak ngitung lagi berapa jam kami telah berjalan. Hujan perlahan-lahan reda tapi langit tetap nggak ada aura cerahnya sama sekali.

Selain kami berlima, aku tak menemukan pendaki lain sejauh ini. Gunung ini sepi sekali. Apa karena cuaca yang cenderung buruk akhir-akhir ini, atau karena belum dikelola dan jalurnya belum jelas, atau malah karena aroma mistis di gunung ini? Yoi, Desi sempat bercerita, alih-alih untuk dinikmati keindahan alamnya, gunung ini malah sering dijadikan sebagai tempat semedi untuk tujuan tertentu.

"Banyak sesajen di atas, di Bimo Pengkok" kata Desi yang kemudian menjelaskan sedikit tentang legendanya, bahwa konon di situlah Bimo pernah jatuh kepengkok (dalam posisi terduduk).

Oke, mari lanjut lagi. Hadeuh, puncak mana sih? Ini kaki sudah teyol begini.

"Lah, hutannya mana ya, harusnya setelah ini ada hutan yang cukup lebat. Kok sudah nggak ada. Apa habis karena kebakaran dulu itu ya?" Desi seperti mengingat-ingat sesuatu tentang jalur ini.

Hampir gelap saat kami tiba di dekat sebuah pondok berdinding dan beratapkan terpal . Nah, setelah menemukan pondok ini, berarti puncak semakin dekat. Tinggal menembus ilalang untuk menuju ke puncak, kira-kira 15 menitan lagilah berjalan kaki.

Akhirnya, ya...akhirnya saudara-saudara! Kulirik jam tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore lebih. Berarti kami menghabiskan 5 jam pendakian untuk sampai ke puncak, Iya, 5 jam bo! Hah, tepar rasanya seluruh badan ini. Kulepas carrier dari punggungku dan ndlongsor sempurna di atas rerumputan. Alhamdulillah wa syukurillah..

Area datar di puncak Gunung Kembang ini tak begitu luas, ilalang di sekitar juga cukup tinggi. Keburu malam, kami segera mendirikan dua buah tenda. Langit hitam, tak ada bintang, rintik hujan masih tersisa. Ah, untung kami membawa bekal makanan berupa Sate Kertek (again? Haha!) untuk menu makan malam. Langsung makan, tak perlu bersusah payah lagi masak malam ini, apalagi kondisi cuacanya parah begini.

Nasi, lauknya sate dan lontong? Heh?

"Sayang nih, nggak dapet ceker sama kepala ayamnya" ungkap TJ dengan kecewa, apalagi dia sudah ngidam banget pengen makan semua itu di Sate Kertek khas Wonosobo ini.

Baiklah, perut sudah terisi. Tak ada acara jeprat-jepret langit malam karena gerimis mengundang lagi. Mari meringkuk dalam sleeping bag saja, sambil curhat-curhatan seputar persoalan kehidupan. Halah! 

7 Mei 2017 

Selamat pagi!  Selamat pagi dari puncak Gunung Kembang yang terus bertumbuh kembang.

Kubuka tenda, menghirup aroma pagi di gunung sesepi ini. Lansekap indah terpampang nyata di depan kami. Mendapati Gunung Sindoro yang berdiri megah tepat di depan mata hingga konturnya demikian jelas terlihat. Di bawah, sebuah kawah mati yang ditumbuhi rerumputan hijau seakan memisahkan Gunung Sindoro dengan Gunung Kembang, itulah Bimo Pengkok. Sementara Gunung Sumbing tampak gagah di sebelah kanan Sindoro dengan sedikit awan di puncaknya, begitupun Merbabu dan Merapi yag ada di belakangnya. Sedangkan jauh di belakang kami tampak jejeran gunung-gunung di Wonosobo lainnya seperti Prau, Bisma dan Pakuwaja.

Aku tak menemukan adegan munculnya matahari yang wow karena sedikit tertutup oleh kabut. Tapi yang penting, pagi ini cerah. Tak menyesal rasanya mendaki selama 5 jam di tengah derasnya hujan demi mendapatkan pemandangan ajib seperti ini. Mari rayakan. Untuk pencapaian kita!


Sindoro, Sumbing dan Bimo Pengkok

Embun di ilalang, menyapa pagi di puncak gunung yang sunyi

Cuman kami berempat, Salim ke mana yak?

Karena bosan dengan ritual di puncak gunung yang selama ini cuma itu-itu saja, katakanlah hanya menunggu sunrise dan ngopi, maka aku, TJ dan Desi memang sudah merencanakan untuk melakukan sesuatu. Kami iseng membawa kebaya dan kain untuk seru-seruan, biar tampak lebih produktif dan bertema (meskipun Hari Kartini telah lewat bulan lalu), wkwk! Jeprat-jepret selfie, adegan manis hingga pose ala-ala pertarungan Mantili dan Lasmini. Salim dan Herni pasti cuma ketawa saja melihat para nenek yang lupa umur ini, haha!

Kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi

Untuk kopi pahit dan aroma pagi...
Pose kekinian. Tangan siapa sih itu? Kekar amat? Haha!
Hiduplah Indonesia Raya!

Eh, Mantili dan Lasmini? Hanya generasi jaman old dan pendengar setia sandiwara radio Saur Sepuh saja yang tahu siapa mereka. Jadi ceritanya gini, alkisah di negeri Madangkara hiduplah seorang Raja bernama Brama Kumbara, dia memiliki adik perempuan bernama Mantili. Sedangkan Lasmini adalah seorang pendekar perempuan yang mencintai Brama, padahal Brama sudah memiliki istri (dua istri malah, haha). Gugling deh tentang dua tokoh fiksi yang merupakan musuh bebuyutan itu. Seru! 

Pertarungan abad ini, Mantili Vs Lasmini
Ciyaaaatttt....!

Iki pose opo toh?

Kabut perlahan menutup puncak Sindoro, ibu dari Kembang. Satu hal yang paling nggak kusuka setelah sampai di puncak gunung adalah mau nggak mau kami harus turun lagi. Pulang. Meninggalkan segenap keindahan alam ciptaan Tuhan, kedamaian, sejenak lupa dengan pusingnya pekerjaan, dan menyiapkan perjuangan lagi. Siapa bilang turun gunung itu mudah dan tanpa perjuangan? Bagiku turun gunung itu lebih susyah dibanding naik! Ciyus!


Enak Des? Lahap amat?

Tim lengkap, cekrek dulu sebelum pulang

Di depan pondok, di dekat puncak
Muka-muka belum mandi

Jalur yang sama seperti saat berangkat kami lewati kembali. Masih sepi, seperti kemarin. Lagi-lagi tak kujumpai orang lain selain kami. Nah, sekarang giliran jalurnya turun terus dan praktis membuat dengkul kiriku yang sudah klethak-klethuk ini semakin kepayahan. Maka acara prosotan di jalur air akhirnya menjadi andalan. Bodo amat kalau celana sobek! Dan hujan, lagi-lagi hujan menemani perjalanan kami walaupun tak separah kemarin.

Waktu tempuh turun gunung yang seharusnya bisa lebih cepat dibanding naik ternyata tidak berlaku untuk gunung ini. Terhitung dari puncak hingga ke persimpangan jalan setapak ke jalan desa, totalnya 4,5 jam! Beda 30 menit saja dibanding naiknya. Parah! Aku langsung ndlongsor dan males bangun sesampai di tempat datar di ujung jalan. Kami menertawakan sepatu kami yang sudah nggak karuan bentuknya dan ngelothok solnya juga pantat celanaku yang jangan ditanya lagi seperti apa rupanya. Eh, Salim mana? Hadeuh, nggak sopan ya ngacir duluan ninggalin tante. Jangan-jangan sudah sampai Kota Wonosobo dia!

Mencoba tersenyum walau dengkul atit
Asyik, punya alasan untuk beli sepatu baru. Yeay!

Yang tepar dan Yang tersenyum ;p

Sewaktu menuruni jalan desa yang berbatu, jalanku sudah miring-miring nggak jelas, mirip orang habis sunat! Hayati sudah lelah, Bang! Bodo amat deh diketawain sama Desi, TJ dan Herni. Allahuakbar, untung ada dewa penolong yaitu Bapak petani setempat yang sedang naik motor dan menawarkan nganterin sampai rumah tempat kami menitipkan motor di Desa Lengkong. Tentu saja aku yess! Wkwk!

Belum banyak gunung yang kudaki, tapi setiap gunung pasti memiliki ceritanya sendiri. By the way, video tentang perjalanan kami di Gunung Kembang bisa disimak di link video youtube berikut ini. Jangan lupa di-subscribe ya Kakak :)



Friday, May 11, 2018

Kota Dili, di Januari

"I like the dreams of the future, better than the history of the past"
(Thomas Jefferson)
------------------------------

16 Januari 2017

Selamat sore, Dili!

Ternyata rasa lelah yang membuncah setelah seharian melalui perjalanan darat dari Soe NTT, melewati PLBN (Pos Lintas Batas Negara) Motaain di Atambua hingga sampai ke Dili Timor Leste, tak membuatku, Kakak Dame dan Kakak Jane tepar sesampainya di hostel Dili Central Backpackers, tempat kami menginap. Maka selesai memasukkan carrier ke dalam kamar dan bebenah sebentar, kami bertigapun segera cus ke luar. Tujuan utamanya sih buat nyari makan. Jangan pernah diet kalau lagi traveling yak, karena piknik juga butuh energi biar nggak mudah panik!

"Transportasi umum di Dili cukup mudah. Ada infonya di papan itu" kurang lebih begitulah kata-kata Mbak Kim, bule pemilik hostel ini, saat kami bertanya tentang angkutan umum atau biasa disebut Mikrolet oleh warga Dili. 

Hal itu juga diamini Jacko dan Rob. Jacko adalah pegawai di penginapan, sedangkan Rob adalah teman Kim yang suka main ke tempat ini. Keduanya warga negara Timor Leste. Jacko yang berwajah Timor, agak terbata-bata jika berbicara dengan Bahasa Indonesia. Sedangkan Rob yang blas nggak ada wajah Timor sama sekali, malah sangat lancar berbahasa Inggris. Oke, baiklah, kami berkomunikasi campur-campur saja. Yang penting jangan pakai Bahasa Portugis (bahasa resmi Timor Leste) atau Bahasa Tetun (bahasa lokal keseharian warga Timor Leste), karena dijamin kami bakal plonga-plongo! Hehe!

Selesai membaca info mikrolet di papan pengumuman, mataku tertuju pada satu gambar yang terlukis di sisi samping meja resepsionis. Gambar anak laki-laki yang menaiki buaya di tengah lautan. Hmm, apakah gerangan artinya?

Monday, February 19, 2018

Apa Kabar, Timor Leste?

“Siapakah pemilik sejarah? 
Siapa yang menentukan siapa yang jadi pahlawan dan siapa yang menjadi penjahat? 
Siapa pula yang menentukan akurasi setiap peristiwa?"
(Leila S. Chudori)

----------------------------------------------------

14 Januari 2017

Hampir pukul 14.00 siang saat aku, Kakak Dame dan Kakak Jane berjalan memasuki gerbang negara Timor Leste yang berbatasan dengan PLBN (Pos Lintas Batas Negara) Motaain di Atambua Nusa Tenggara Timur. Sebuah gerbang bertuliskan “Bem Vindo A Timor Leste”. Ya, Selamat Datang di Timor Leste!

Pose dulu di depan PLBN Motaain Indonesia yang megah sekali
Gerbang menuju Timor Leste

Batu prasasti peresmian Posto Fronteirico Integrado alias Pos Perbatasan Terpadu di Batugade Timor Leste yang ditandatangani oleh Xanana Gusmao (Presiden Timor Leste, waktu itu) serta sebuah tugu Timor Leste yang ada di sampingnya, menyambut kedatangan kami. Tugu, prasasti dan bangunan serupa juga kami dapati di PLBN Wini, yang berbatasan dengan wilayah Oecussi Timor Leste yang sempat kami kunjungi kemarin.  Sepertinya Timor Leste memiliki pakem bentuk bangunan dan pelengkapnya pada pos-pos perbatasannya.


Gedung Pos Perbatasan Timor Leste
Apa yang membawaku ke Timor Leste?


Friday, January 26, 2018

Wini dan Motaain, Satu Lagi Perbatasan Negeri

"Jikalau aku melihat wajah anak-anak di desa-desa dengan mata yang bersinar-sinar, 
"Pak Merdeka, Pak Merdeka, Pak Merdeka!" 
Maka aku bukan lagi melihat mata manusia, tapi aku melihat Indonesia"
(Ir. Soekarno)


13 Januari 2017

Mobil Om Demus terlihat dari kejauhan. Mobil APV dengan kaca depannya yang retak itu. Segera kami berkemas, mengeluarkan gembolan-gembolan dari kamar homestay Lopo Mutis. Pamit kepada Pak Mateos Anin, Mama Yuli dan Kak Wasti, mengucap terima kasih atas segala bantuannya selama kami di Fatumnasi. Sekaligus menyerahkan sedikit buku dan alat tulis yang bisa dibagi untuk anak-anak di sekitar sini. Kami  harus mengucap sampai jumpa pada Fatumnasi. Satu desa di kaki Gunung Mutis yang cantik sekali.

Kami masih punya waktu seharian ini di NTT sebelum menjejak Timor Leste esok hari. Maka kami sewa mobil Om Demus lagi agar bisa bebas pergi ke mana saja tanpa terkendala transportasi. Hari ini Om Demus menawarkan untuk melihat Air Terjun Oehala dan juga PLBN (Pos Lintas Batas Negara) Wini di Kabupaten Timor Tengah Utara yang berbatasan dengan Oecusi Timor Leste.

Tentu saja aku tak menolak untuk diajak melihat PLBN Wini. Bahagia malah. Kukira dalam trip kali ini aku hanya akan melintas PLBN Motaain di Atambua Kabupaten Belu saja yang Insya Allah akan kami lintasi besok saat menuju ke Timor Leste. Tapi ternyata malah dapat tambahan satu PLBN lagi!


Wilayah Timor Leste, negara tetangga kita ini bisa dibilang cukup unik, karena ia tak hanya berada di bagian timur Pulau Timor saja tapi juga ada sempalan kecil atau daerah kantung (enclave) di daratan sebelah barat Kabupaten Timor Tengah Utara NTT yaitu wilayah Oecussi atau Ambeno. Ada satu pos perbatasan Indonesia sebelum memasuki Oecussi Timor Leste yaitu PLBN Wini yang rencananya akan kami kunjungi hari ini.