Friday, January 26, 2018

Wini dan Motaain, Satu Lagi Perbatasan Negeri

"Jikalau aku melihat wajah anak-anak di desa-desa dengan mata yang bersinar-sinar, 
"Pak Merdeka, Pak Merdeka, Pak Merdeka!" 
Maka aku bukan lagi melihat mata manusia, tapi aku melihat Indonesia"
(Ir. Soekarno)


13 Januari 2017

Mobil Om Demus terlihat dari kejauhan. Mobil APV dengan kaca depannya yang retak itu. Segera kami berkemas, mengeluarkan gembolan-gembolan dari kamar homestay Lopo Mutis. Pamit kepada Pak Mateos Anin, Mama Yuli dan Kak Wasti, mengucap terima kasih atas segala bantuannya selama kami di Fatumnasi. Sekaligus menyerahkan sedikit buku dan alat tulis yang bisa dibagi untuk anak-anak di sekitar sini. Kami  harus mengucap sampai jumpa pada Fatumnasi. Satu desa di kaki Gunung Mutis yang cantik sekali.

Kami masih punya waktu seharian ini di NTT sebelum menjejak Timor Leste esok hari. Maka kami sewa mobil Om Demus lagi agar bisa bebas pergi ke mana saja tanpa terkendala transportasi. Hari ini Om Demus menawarkan untuk melihat Air Terjun Oehala dan juga PLBN (Pos Lintas Batas Negara) Wini di Kabupaten Timor Tengah Utara yang berbatasan dengan Oecusi Timor Leste.

Tentu saja aku tak menolak untuk diajak melihat PLBN Wini. Bahagia malah. Kukira dalam trip kali ini aku hanya akan melintas PLBN Motaain di Atambua Kabupaten Belu saja yang Insya Allah akan kami lintasi besok saat menuju ke Timor Leste. Tapi ternyata malah dapat tambahan satu PLBN lagi!


Wilayah Timor Leste, negara tetangga kita ini bisa dibilang cukup unik, karena ia tak hanya berada di bagian timur Pulau Timor saja tapi juga ada sempalan kecil atau daerah kantung (enclave) di daratan sebelah barat Kabupaten Timor Tengah Utara NTT yaitu wilayah Oecussi atau Ambeno. Ada satu pos perbatasan Indonesia sebelum memasuki Oecussi Timor Leste yaitu PLBN Wini yang rencananya akan kami kunjungi hari ini. 



Yeah, entah mengapa, traveling ke daerah perbatasan atau batas-batas Indonesia dengan negara tetangga atau pulau-pulau terdepan wilayah nusantara  menjadi salah satu obsesiku. Bukan sok lebay dan nasionalis sih, tapi seru aja punya cita-cita wagu begini, haha! "Mengumpulkan jejak satu-persatu, di seluruh beranda negeriku", menjadi tagline asal-asalanku, wkwk! Maka mumpung berada di Pulau Timor yang memiliki perbatasan dengan Timor Leste, tentu tidak kulewatkan kesempatan melihat penampakan teras-teras negeri ini. Oh ya, ada empat kabupaten di Propinsi NTT yang wilayahnya berbatasan dengan Timor Leste yaitu Kabupaten Timor Tengah Utara, Kabupaten Malaka, Kabupaten Belu dan Kabupaten Kupang. Tiga kabupaten diantaranya telah memiliki kantor PLBN (Pos Lintas Batas Negara) resmi kecuali di Kabupaten Kupang. 


Peta Wilayah Indonesia dan Timor Leste

Oke, cukup dulu informasinya tentang PLBN, mari kita cuss ke Air Terjun Oehala dulu. Jaraknya sekitar 50 KM dari Fatumnasi ke arah Kupang. Dalam perjalanan ke sana, kami sempat melewati Istana Kerajaan (atau dalam bahasa setempat disebut Sonaf) yang ada di Kecamatan Mollo Utara yaitu Sonaf Aijobaki yang merupakan istana Kerajaan Mollo. Numpang lewat aja sih, kami nggak masuk. Jangan bayangkan bentuknya seperti istana megah dengan taman-taman yang cantik, melainkan sebuah bangunan yang bisa dibilang sangat sederhana, beratapkan seng dan halaman yang kosong. Tetapi kabarnya, di dalam Sonaf itu masih tersimpan peninggalan-peninggalan kerajaan dan tetap dilestarikan.

Sonaf Aijobaki, Istana Kerajaan Mollo

Hari sedang panas-panasnya saat kami sampai di Air Terjun Oehala. Kawasan wisata ini sudah dikelola, terbukti dengan adanya lahan parkir, loket tiket hingga lapak-lapak pedagang. Karena hari ini bukan akhir pekan, sepertinya nggak ada pengunjung lain di sini selain kami berempat.

Air Terjun Oehala memiliki beberapa tingkat. Sayangnya debit airnya kecil. Ini kalau debit airnya melimpah pasti keren. Kebersihan juga perlu diperhatikan lagi. Dan lebih sayang lagi, sinar matahari benar-benar tertuju pada air terjun! Aih, sebagai tukang poto amatiran, maka susah bikin foto slow speed kalau kondisinya kek gini, hiks!  Ditungguin beberapa lama juga mataharinya tetap gagah saja, haha!


Salah satu sudut di Air Terjun Oehala (yang gagal slow speed;p)

Sayang debit airnya kecil euy!

Selesai dengan Air Terjun Oehala, perjalanan kami lanjutkan kembali. Menuju PLBN Wini di Kecamatan Insana Utara Kabupaten Timor Tengah Utara yang letaknya kata mbah google maps sekitar 145 km dari sini.

Jalan menuju perbatasan Wini bisa dikatakan cukup bagus. Bentang alam perbukitan, dengan jalan aspal mulus berkelak-kelok kemudian berseling-seling dengan pemukiman penduduk.  Lengang. Dalam perjalanan, kami hanya sesekali berpapasan dengan kendaraan roda empat atau dua.

"Nanti kita akan melewati pemandangan yang bagus sekali. Ada pegunungan batu-batu yang menjulang tinggi di sepanjang jalan. Indah sekali." kata Om Demus. Pernyataan Om Demus yang tentu semakin membuat kami penasaran.




Menuju Oecussi

Perjalanan masih cukup jauh. Jalanan seperti tak ada putusnya. Masih seperti kemarin-kemarin, Om Demus bercerita tentang banyak hal, terutama tentang Pulau Timor, tanah kelahirannya.

Menjelang Kecamatan Insana Utara, maka penampakan lanskap yang disebut oleh Om Demus itu mulai terlihat. Pegunungan batu berwarna kecoklatan yang menjulang tinggi tampak di kanan-kiri. Edaan, gagah sekali! Entah berapa kilometer panjangnya! Hmm, sayangnya agak susah meng-capture pemandangan dalam kondisi mobil bergerak begini meskipun kami meminta Om Demus agar mengurangi kecepatan. Yup, lebih baik kurekam saja indahnya dalam ingatan ;p


Pegunnungan menuju Oecussi

Pegunungan menjelang Oecussi

Jalan raya berubah menjadi semakin lebar bahkan dengan kondisi aspal yang masih gres terbangun saat mendekati Pelabuhan Wini serta PLBN Wini. Dari jendela mobil yang kubiarkan terbuka, menyaksikan infrastruktur jalan yang cukup memadai di wilayah yang nyaris menjadi beranda negeri ini, aku cukup optimis bahwa pembangunan itu ada dan semoga semakin rata menjangkau ke seluruh pelosok nusantara. Tak ada yang dianaktirikan. Sabang sampai Merauke, Miangas hingga Rote adalah anak kandung ibu pertiwi.

Jalan raya di sekitar Pelabuhan Wini

Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore lebih. Akhirnya! Selamat datang di PLBN Wini, satu teras Indonesia yang berbatasan dengan Oecussi Timor Leste! 

Gedung PLBN Wini

Kami lapor ke petugas security yang berada tak jauh dari gerbang, minta izin untuk sekedar berkunjung dan foto-foto di sini. Suasana PLBN Wini sore itu ramai sekali. Tampak motor-motor terparkir di depan gerbang PLBN. Sebuah bangunan besar dengan desain "Lopo" (rumah adat berbentuk bangunan terbuka, yang digunakan untuk berkumpul warga) terletak di tengah halaman luas di depan bangunan utama. Sebuah tiang bendera dan bendera merah putihnya yang besar berkibar di angkasa raya. Megah, luar biasa, berlatar pegunungan wilayah Oecussi.

Gedung PLBN Wini.

Gedung PLBN Wini

PLBN ini sedang dalam proses pembangunan dan belum diresmikan. Terlihat juga pekerja-pekerja yang sibuk dengan segala aktivitasnya, juga warga sekitar ataupun pengunjung sejperti kami. PLBN ini menjadi semacam wisata perbatasan.

Pemerintah memang sedang giat-giatnya membangun, merenovasi dan mempercantik PLBN-PLBN di batas-batas negara. "Masa gedung PLBN cuma seperti kantor kelurahan saja? Malu kita. PLBN itu ibarat wajah Indonesia" demikian kira-kira ucapan Presiden Jokowi saat meresmikan beberapa PLBN sebelumnya, yang pernah kulihat liputannya di televisi.

Sudut PLBN Wini

Sudut PLBN Wini


Sore ini, aku menjadi saksi, sebuah PLBN di batas negeri yang megah dan indah. Kita layak bangga memiliki beranda sekeren ini.

"Tulisan "PLBN Wini Indonesia" nya belum terpasang, masih dalam proses pengiriman dari Bali." kata seorang pekerja yang kuajang berbincang tentang dimana kami bisa berfoto dengan tengara PLBN ini.

Kami berjalan ke arah belakang dari bangunan utama itu. Sebuah patung burung Garuda besar berdiri tegak di hadapan Timor Leste. Garuda ini akan menyapa siapapun yang memasuki wilayah Indonesia dari arah Oecussi Timor Leste. (catatan: Jika kita berkunjung ke PLBN ini sekarang, maka sudah ada tulisan "Wini Indonesia" di bawah patung Garuda).

"Ayo kita foto di bawah Burung Garuda besar itu" kata seorang pengunjung, seorang Bapak yang mengajak keluarganya berjajar rapi di bawahnya.

Aku tersenyum, sembari menunggu antrian untuk dapat mengabadikan kenangan juga di sana. Di bawah Garuda, lambang negara kebanggaan mereka, kebanggaanku, kebanggaan kita. 

"Kakak dari mana?" tanya Bapak yang dengan hebohnya berfoto dengan seluruh keluarganya ini padaku.
"Saya dari Jawa Tengah, Pak" jawabku.
"Wah, jauh sekali. Saya dari sekitar sini saja. Anak-anak saya sudah lama mengajak ke sini. Sekarang baru sempat." kata si Bapak sambil menggendong seorang anak. Anak kecil yang kemudian tertawa renyah sekali saat kucoba pegang pipinya yang gembil.

Ayo kita foto di bawah Garuda!


Saya juga mau foto ;p

Cukup berjalan kaki dari Patung Garuda, terdapat portal perbatasan Indonesia dan Timor Leste. Batas kedua negara yang "pernah bersatu" ini dipisahkan oleh sebuah sungai yang kering dengan jembatan di atasnya.

Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 4 sore. Berarti kami hanya punya waktu yang sangat singkat untuk masuk ke wilayah Timor Leste karena portal perbatasan akan ditutup tepat jam 4 sore. Hanya bisa cekrak-cekrek sebentar di sebuah tugu bertuliskan "Timor Leste" di dekat gedung imigrasinya. Terlihat dari jauh, gedung imigrasi Timor Leste. Keren juga gedungnya. Mantan Propinsi ke-27 ini sudah pintar memoles wajah berandanya sejak dulu. Cukup miris, jika pemerintah Indonesia baru beberapa tahun belakangan ini memperhatikan daerah pinggiran atau beranda-beranda nusantara.  Padahal, inilah wajah yang pertama dilihat oleh orang luar yang akan melintas negeri ini lewat darat.

Batas negara Indonesia - Timor Leste

Gedung Imigrasi Timor Leste

Satu jepretan di teras negara tetangga

Wih, beneran euy, petugas perbatasan Timor Leste bahkan sudah siap menutup portal saat kami baru aja mulai foto-foto. Tungguin bentar dong, Pak! Maka dengan setengah berlari kami buruan kembali ke pangkuan ibu pertiwi, haha!

Perhatian-perhatian!

Dulu kita mengenal Timor Leste sebagai Timor Timur, propinsi paling muda pada zamannya. Dulu bahasa persatuan kita sama, bendera kita sama, lagu kebangsaan kitapun sama. Dulu juga tak ada portal apalagi kantor-kantor imigrasi seperti ini. Tapi setelah Referendum tahun 1998, Timor Timur resmi lepas dari Indonesia dan menjadi negara sendiri bernama Republic Democratic of Timor Leste. Kini bahkan WNI seperti saya juga butuh visa (meskipun Visa On Arrival) untuk masuk ke Timor Leste, wilayah yang dulu bagian dari negeri ini. Kupandang portal Timor Leste serta gedung imigrasinya, sekali lagi. Entah perasaan apa, tapi rasanya nyeri aja...

Kami tinggalkan PLBN Wini sore itu dan kembali ke Kota Soe di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Sempat singgah sejenak di tepian pantai di dekat Pelabuhan Wini. Merasakan pasir pantai berwarna hitam di pinggir Selat Ombai.

Mobil Om Demus di tepi pantai

Selesai sudah perjalanan kami selama beberapa hari di NTT. Telah ratusan foto tercapture serta pengalaman batin yang kudapatkan dalam perjalanan ini. 

Hari sudah malam saat Om Demus menurunkan kami di sebuah hotel di Soe yang letaknya tak begitu jauh dari perwakilan/agen Timor Travel, travel yang akan kami naiki besok menuju Atambua di Kabupaten Belu hingga Dili Timor Leste.

Om Demus, terima kasih banyak  atas bantuannya selama kami di NTT. Mengantarkan kami ke Timor Tengah Selatan hingga perbatasan Wini di Timor Tengah Utara. Tanah kelahiran Om ini terlalu indah untuk kami abaikan. Terlalu banyak tempat yang keren serta budaya yang agung di pulau ini. Sampai jumpa lagi, Om Demus! Bae sonde bae, tanah Timor lebe bae!

14 Januari 2017

So, setelah lama nggak pergi ke luar negeri, maka hari ini pasporku akan dapat cap imigrasi lagi!

Sejujurnya, selama ini aku kurang tertarik untuk bepergian ke luar Indonesia. Negeriku masih terlalu luas, banyak pulau yang ingin kukunjungi, masih banyak kota dan desa yang ingin kutelusuri dan terlalu banyak budaya nusantara yang ingin kunikmati. Tapi kali ini, entah mengapa aku merasa ingin sekali berkunjung ke Dili Timor Leste. Tak mengapa bahwa di sana "nggak ada apa-apa", nggak ada tempat wisata menarik atau apalah. Apapun yang kulihat maka itulah sesuatu buatku. Aku hanya ingin mendatangi sebuah negara yang dulu pernah menjadi bagian dari kita, Indonesia. Seperti apa kehidupannya setelah kita tak bersama? Apakah ia bahagia? Apakah ia baik-baik saja? Haha, apaan sih? Seperti mengenang sang mantan saja (#Ehh). Oh ya, sebelumnya thanks banyak untuk Kakak Dame dan Kakak Jane yang sudah mau menemani ;p

Mobil Timor Travel yang akan kami gunakan nanti sebenarnya berangkat dari Kupang, tapi travel ini juga singgah di agennya di Soe ini. Kami berangkat sekitar pukul 8 pagi dari Kota Soe. Travel ini akan menuju Atambua Kabupaten Belu hingga berakhir di PLBN (Pos Lintas Batas Negara) Motaain, pintu masuk menuju Dili Timor Leste. 

Penumpangnya cukup penuh. Kami bertiga dapat tempat duduk berjejer tiga, tepat di belakang sopir.  Di belakang kami duduk sepasang suami istri yang ternyata warga negara Timor Leste. Tapi mereka masih lancar berbahasa Indonesia. Mereka sering bolak-balik ke Kupang untuk belanja dan mengunjungi kerabat di Indonesia. 

Perjalanan ini menempuh jarak sekitar 190 km. Lumayan juga, bakal 4 jam-an sepertinya dihabiskan dengan duduk saja. Keluar dari Soe, kami kemudian memasuki Kabupaten Timor Tengah Utara.  Di Kota Kefamenanu (Ibukota Timor Tengah Utara), travel ini berhenti sebentar di sebuah warung makan dan juga mengambil penumpang di agen yang ada di kota ini.  


3 calon TKW yang akan berangkat ke Dili, hehe

AC alami berhembus keluar dan masuk mobil travel berupa elf. Agak gerah, cuaca panas banget di luar. Sopir elf memasang lagu campur-campur apa saja yang penting bahagia sepanjang perjalanan yang panjang dan cukup melelahkan.

Menjelang jam 12 siang, kami memasuki Kabupaten Belu. Terus lanjut hingga kemudian sampai di Kota Atambua. "Kota Perbatasan" demikian tertulis di sebuah gerbang besar menuju kota.

Elf ini lalu berhenti di agen travel di Kota Atambua, beberapa penumpang tampak turun. Untuk yang hendak melanjutkan ke Timor Leste, paspor kami didata, sepertinya untuk bikin manifest nama penumpang. Tertib juga administrasinya.

Travel ini hanya akan sampai di PLBN Motaain dan tidak bisa melintasi perbatasan negara. Untuk lanjut ke Timor Leste, kami akan ditransfer menggunakan mobil yang lain (Timor Travel juga sih sebenarnya) yang telah standby di luar pagar kantor imigrasi Timor Leste. 

Oke, mari kita teruskan perjalanan hingga PLBN Motaain. Eh, ternyata jarak dari kota Atambua ke PLBN Motaain cukup jauh juga euy! Ada kali sekitar 1 jam-an. Kami hanya numpang lewat saja di kota perbatasan ini, nggak sempat explore kemana-mana.  

Dari jauh kulihat sebuah kompleks bangunan yang luas dan megah yang didominasi warna putih. Mobil ini kemudian parkir. Kami telah sampai di PLBN Motaain. Yes, here I am! Di satu lagi perbatasan Indonesia! 

"Penumpang habis di sini" kata Pak Sopir dengan logat timornya, menyatakan bahwa kami semua harus turun. 

Kami turun, mengambil carrier-carrier di bagasi lalu menuju arah gedung imigrasi. 

Tiba-tiba banyak orang mengerubuti kami, menawarkan jasa untuk mengisi kartu imigrasi. Katanya sih, cukup bayar 5000 rupiah mengisi kartu. Tapi kami menolaknya secara halus, kan cuman nulis doang ya ;p

Aku cukup takjub dengan areal PLBN ini. Gila, benar-benar megah dan luas! Lebih megah dibanding PLBN Wini yang kami kunjungi kemarin. Mungkin karena bisa dibilang PLBN Motaain ini paling ramai dari segi lalu lintas keimigrasian antara Indonesia dan Timor Leste. Bangunan PLBN ini juga masih baru, masih kinyis-kinyis. Ornamen khas NTT tampak menghiasi beberapa sudut bangunan. Oh ya, Presiden Jokowi baru saja meresmikan gedung baru PLBN Motaain ini pada Desember 2016 lalu. Maka sekali lagi kukatakan bahwa kita patut bangga memiliki beranda negeri yang sangat representative seperti ini. Masa kalah dibanding gedung imigrasi Timor Leste yang notabene dulu adalah bagian dari negeri ini. Malu-maluin aja, haha! 

Ternyata cukup banyak orang yang akan memasuki wilayah Timor Leste. Kami memasuki gedung yang bau catnya masih baru dan ruangan yang dilengkapi AC. Antrian antara WNI dan WNA terpisah dengan rapi dengan meja imigrasi masing-masing.  

"Mau pergi ke mana, Mbak?" tanya petugas imigrasi
"Ke Dili, Pak" jawabku
"Jalan-jalan ya?" tanya si petugas imigrasi lagi, sambil memperhatikan carrier besar di punggungku.

Aku mengiyakan dan tersenyum. Petugas lalu mengambil lembar sisi keberangkatan dari kartu imigrasi kemudian memberikan stempel pada halaman pasporku. 

Keluar dari gedung imigrasi, terdapat areal taman yang luas. Sebuah patung Burung Garuda yang sama persis dengan yang ada di PLBN Wini juga ada di sini. Sepertinya, Garuda menjadi sebuah tengara di setiap PLBN di batas-batas negeri. Berjalanlah lagi ke depan dan kita akan menemukan sebuah bundaran dengan tulisan "Motaain Indonesia" dengan ukuran besar dan keren sekali. 


Area PLBN Motaain

Area PLBN Motaain
 
3 TKW siap memasuki perbatasan, haha!


Sama seperti PLBN Wini di Kabupaten Timor Tengah Utara yang kemarin kami kunjungi, maka PLBN Motaain juga menjadi semacam wisata perbatasan. Banyak orang datang ke sini dengan tujuan ingin melihat perbatasan negara dan tentu saja berfoto di teras nusantara yang berada di Kabupaten Belu NTT ini. 

Selepas bundaran, terdapat gerbang pos terakhir wilayah Republik Indonesia. Sebuah gerbang yang berada persis di sebelah jembatan di atas sungai tak berair yang menjadi pemisah wilayah Indonesia dan Timor Leste. Beberapa orang tentara tampak berjaga. Tulisan "Indonesia" dapat kita lihat dari arah Timor Leste. 

Pamit sebentar ya negeriku. Aku ingin mengunjungi tempat di seberang sana yang dulu pernah bersama dalam naungan ibu pertiwi.  Lusa ku kan kembali. Pulang.

Pintu gerbang Indonesia (arah dari Timor Leste)


Tugu penanda perbatasan dua negara

Tak jauh dari gerbang Indonesia, seorang anak kecil tampak bersepeda dengan riangnya. Penduduk lokal pastinya. Anak laki-laki itu mengayuh sepedanya bolak-balik antara gerbang Indonesia dan Timor Leste. Beranda negeri ini seolah menjadi taman bermainnya. 

Dari gerbang Indonesia, kami berjalan sekitar beberapa puuh meter untuk sampai ke sebuah gapura besar bertuliskan "Bem Vindo A Timor Leste" alias "Selamat Datang di Timor Leste".

Timor Leste, apa kabarmu? 
Setelah belasan tahun kita tak lagi bersatu....

Selamat Datang di Timor Leste










Cerita selanjutnya di Apa Kabar, Timor Leste?
  ------------------------------------

Budget:

1. Sewa mobil = Rp. 750.000,-
2. Hotel Sehati di Kota Soe = Rp. 160.000,-
3. Travel dari Soe ke Dili = 190.000,-/orang


15 comments:

  1. jadi ingat, kalau salah satu kenalanku dari Banjarnegara, sekarang sedang bekerja di oecuse, kalau ga salah sedang membangun bandara, namanya mas Noer

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pancen wong Jowo ki ulet merantau ke mana-mana yo, Mas :)

      Terima kasih sdh berkunjung :D

      Delete
  2. Itinerary dan ilustrasi foto yang sangat lengkap.... bisa jadi referensi yang sangat jelas nih :D :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ditunggu kedatangannya di Pulau Timor dan Timor Leste, Mas :)

      Btw, terima kasih sdh berkunjung di blog saia.

      Delete
  3. air terjunnya indah dan gedungnya bagus ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Mbak Tira.

      Gedung PLBN-nya mmg bagus banget, tp kalau air terjunnya ya lumayanlah, hehe

      Delete
  4. Keren euy.. Berkunjung ke pelosok negeri memang berkesan, apalagi di perbatasan seperti ini..

    Btw, kalo misal tiap postingan dikasih "jump break" bakal lebih rapi hlo blognya.. Biar g kepanjangan juga..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, makasih banyak sarannya Mas. Nanti saia bikin jump break deh.
      Maklum saia suka gaptek klw urusan ginian, hehe 😃

      Delete
  5. Saya ikut nyeri hati kak.....
    Ada emosi yang melupa ditiap kata yang saya baca.

    Melewati batas negara, saya baru mengalami satu kali ketika ke Malaysia. Tapi kan bukan PLBN darat, jadinya gak ada rasa 'sama tanah beda kekuasaan'.

    Pernah sih, lewat PLBN Malaysia-Thailand, tapi gak ada rasa khusus. Dai cerita kakak, aku jadi membayangkan, bahwa dulu kita pernah bersaudara dekat sekali dengan seseorang (Timor Leste), kemudian karena suatu hal.....terpaksa berpisah. Padahal masih saling menyayangi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Zahrah. Terima kasih udah mampir lagi.

      Iya, rasanya memang gimana gitu. Mungkin karena Timor Leste pernah punya sejarah kebersamaan dg Indonesia.

      Beda dengan perbatasan2 di tempat lain (misal perbatasan Indonesia-Malaysia atau perbatasan Indonesia-Papua Nugini) yg ya memang nggak punya kisah khusus sebelumnya.

      Atau mungkin, aku yg terlalu melo ya? Hahaha!

      Delete
  6. Cerita-cerita di perbatasan selalu menarik ya :) kalau pebatasan Indonesia dengan negara lain aku belom pernah. Cuma pas ke Amrtisar yang berbatasan dengan Pakistan, bikin haru bener. Maulah ntar ke Timor Leste.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Mas. Terima kasih sdh mampir.

      Yoi, daerah perbatasan dan pulau2 terdepan selalu memilki cerita tersendiri dan selalu menarik. Mungkin karena kita orang Indonesia, maka ketika berada di batas negara rasanya jadi sesuatu sekali. Deru nasionalisme yg begitu menggebu, kira2 begitu, haha! (Lebay yak).

      Ayo Mas ke border2 RI-Timor Leste, atau border RI dg Papua Nugini di Papua. Atau border2 RI-Malaysia di sepanjang pulau Kalimantan.

      Eh tapi perbatasan negara2 lain spt yg Mas kunjungi juga seru banget! Kapan ya saya bisa ke sana...

      Delete
  7. Wah seru sekali jalan-jalannya. Kapan saya bisa ke sana kemarin seperti ini? :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gampang Mas, tinggal beli tiket saja kok, hehe!

      Trims sdh mampir ya :)

      Delete
  8. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete