Friday, May 11, 2018

Kota Dili, di Januari

"I like the dreams of the future, better than the history of the past"
(Thomas Jefferson)
------------------------------

16 Januari 2017

Selamat sore, Dili!

Ternyata rasa lelah yang membuncah setelah seharian melalui perjalanan darat dari Soe NTT, melewati PLBN (Pos Lintas Batas Negara) Motaain di Atambua hingga sampai ke Dili Timor Leste, tak membuatku, Kakak Dame dan Kakak Jane tepar sesampainya di hostel Dili Central Backpackers, tempat kami menginap. Maka selesai memasukkan carrier ke dalam kamar dan bebenah sebentar, kami bertigapun segera cus ke luar. Tujuan utamanya sih buat nyari makan. Jangan pernah diet kalau lagi traveling yak, karena piknik juga butuh energi biar nggak mudah panik!

"Transportasi umum di Dili cukup mudah. Ada infonya di papan itu" kurang lebih begitulah kata-kata Mbak Kim, bule pemilik hostel ini, saat kami bertanya tentang angkutan umum atau biasa disebut Mikrolet oleh warga Dili. 

Hal itu juga diamini Jacko dan Rob. Jacko adalah pegawai di penginapan, sedangkan Rob adalah teman Kim yang suka main ke tempat ini. Keduanya warga negara Timor Leste. Jacko yang berwajah Timor, agak terbata-bata jika berbicara dengan Bahasa Indonesia. Sedangkan Rob yang blas nggak ada wajah Timor sama sekali, malah sangat lancar berbahasa Inggris. Oke, baiklah, kami berkomunikasi campur-campur saja. Yang penting jangan pakai Bahasa Portugis (bahasa resmi Timor Leste) atau Bahasa Tetun (bahasa lokal keseharian warga Timor Leste), karena dijamin kami bakal plonga-plongo! Hehe!

Selesai membaca info mikrolet di papan pengumuman, mataku tertuju pada satu gambar yang terlukis di sisi samping meja resepsionis. Gambar anak laki-laki yang menaiki buaya di tengah lautan. Hmm, apakah gerangan artinya?



"Di Timor ini ada legenda tentang buaya. Orang Timor menyebut buaya sebagai leluhur atau kakek. Kami tidak boleh memburu, membunuh ataupun memakan dagingnya" kata Jacko 

"Orang Timor jika hendak berenang di laut, mereka akan memasuki air sambil berkata: Jangan makan aku buaya, aku saudaramu" lanjutnya.

Alkisah, pada zaman dulu kala, ada seekor anak buaya yang dalam kondisi lemah tak berdaya di tepi sebuah danau yang diselamatkan oleh seorang anak laki-laki. Anak itu kemudian membawanya ke laut. Buaya tersebut kemudian berenang dan sehat kembali. Sebagai ucapan terima kasih, buaya itu berkata kepada anak kecil itu "Kau telah menyelamatkan aku. Jika kamu butuh bantuan apapun, panggillah aku. Aku akan datang dan menuruti perintahmu" 

Beberapa tahun kemudian, anak kecil itu telah tumbuh dewasa. Suatu hari, saat berada di tepi pantai, dia teringat akan buaya yang pernah ditolongnya. Maka pemuda itupun memanggilnya. Lalu muncullah buaya yang kini telah menjelma menjadi buaya besar. Pemuda itu berkata bahwa ia ingin melihat dunia, mengikuti matahari. 

Buaya itu lalu menyuruh sang pemuda untuk naik ke punggungnya. Mereka menuju ke timur selama bertahun-tahun. Setelah melakukan perjalanan panjang dan buayapun sudah mendekati kematiannya, buaya itu berkata "Wahai Pemuda, untuk mengenang kebaikanmu, aku akan mengubah diriku menjadi pulau yang indah, di mana engkau dan anak-anakmu kelak bisa hidup sampai matahari tenggelam di laut." Kemudian buaya tersebut menjelma menjadi Pulau Timor. 

Hmm, kalau dilihat di peta, bentuk Pulau Timor memang mirip buaya. Yup, namanya juga legenda. Tapi menurutku, semua kearifan lokal pasti bertujuan baik. Thanks, Jacko dan Rob. Jadi nambah pengetahuan tentang negeri ini. 

Setelah terlena dengan cerita tentang legenda Pulau Timor, kamipun nggak nyadar kalau hari sudah beranjak semakin sore. Let's go-lah! Kami nggak pakai mikrolet tapi jalan kaki saja. Ada pantai yang berjarak tak sampai 1 kilo dari hostel ini. 

Kami menyusuri trotoar di tepi jalanan Kota Dili yang relatif sepi, kalau gak salah namanya Rua atau Jalan Belarmino Lobo. Sebuah restoran cepat saji spesial burger tampak di pojok jalan di depan sana. Sementara beberapa rumah makan alias Restorante (Bahasa Portugis untuk Rumah Makan) berada di kanan jalan. Selintas, restotante-restorante tersebut menyajikan menu masakan Indonesia. Terlihat dari foto-foto yang terpajang di spanduknya seperti rawon, soto, gado-gado, pecel lele, pecel ayam, bakso, mie ayam dan lain sebagainya. Percayalah, sangat mudah mencari makanan (halal) di Dili ini. Negara ini masih sangat Indonesia sekali. 

Sebuah gedung yang berada di kanan jalan sempat menarik perhatianku. Xanana Reading Room, tertulis di depan gedung yang pagarnya tertutup itu. Sempat kubaca di papan informasi di hostel tadi tentang gedung ini sebagai salah satu interest place di Dili. Di dalamnya terdapat museum dan galery tentang Xanana Gusmao juga perpustakaan.

Xanana Gusmao, nama yang sangat terkenal. Beliau adalah Presiden pertama Timor Leste setelah lepas dari NKRI. Sangat panjang kisah mengenai beliau ini. Dulu aku hanya tahu ceritanya lewat berita-berita di TV (masih zaman TVRI). Sempat bergerilya di hutan dan pegunungan Timor Leste hingga kemudian tertangkap dan mendekam di penjara di Jakarta. Aku tak berniat sama sekali berkunjung ke museum itu. Tak tega rasanya menengok kembali sejarah yang pernah melibatkan negeriku. Yang penting, kini Indonesia dan Timor Leste adalah sahabat dan kita bersaudara. Semua sudah selesai.

Kami berjalan hingga menjumpai sebuah taman di tepi pantai dengan tulisan besar berwarna oranye  "Largo De Lecidere".

Largo...

.....De Lecidere

Monumen Nobel Ramos Horta

Masih satu kompleks dengan Largo de Lecidere, terdapat monumen Nobel Ramos Horta. Ramos Horta, satu lagi nama yang kerap terdengar pada masa itu. Beliau adalah tokoh pergerakan kemerdekaan Timor Leste. Berjuang selama masa pengasingannya di Portugis selama masa integrasi Timor-Timur dengan Indonesia. Pada tahun 1996, beliau mendapatkan Penghargaan Nobel Perdamaian bersama Uskup Belo (Uskup Timor Timur, pada saat itu). Penghargaan tersebut sekaligus seolah menjadi bentuk pengakuan dunia internasional atas pergerakan kemerdekaan Timor Timur dan mempersulit posisi politik luar negeri Indonesia. Selepas Referendum tahun 1999 dan berakibat lepasnya Timor Timur dari Indonesia, Ramos Horta sempat menduduki jabatan sebagai Menteri Luar Negeri, Perdana Menteri, hingga terpilih menjadi Presiden kedua Timor Leste setelah Xanana Gusmao.

Sekantong plastik kacang goreng kami beli dari abang-abang di pinggir jalan seharga 50 Centavos. Centavos adalah mata uang koin yang berlaku di sini, sedangkan uang kertas menggunakan Dollar. Dollar Amerika bo'! 100 Centavos dihargai sebagai 1 Dollar Amrik. Cukup lama kami duduk-duduk di taman itu, menikmati sore pertama di ibukota Timor Leste ini sambil membaca peta Dili yang kami dapatkan dari penginapan. 

Langit kemerahan di tepian Largo de Lecidere. Kelip lampu dari kapal-kapal di sekitar Pelabuhan Dili terlihat, menandakan hari mulai petang.


Dame & Jane, my partner of crime
Dari jauh, suasana Pelabuhan Dili

Malam menjelang. Taman ini mulai diterangi lampu-lampu kecil yang temaram. Saatnya pulang dan makan malam. Iseng, kami mengambil rute yang berbeda dengan saat berangkat tadi. Awalnya kami pikir, jarak pantai ini dengan penginapan tak begitu jauh dan rutenya juga mudah, sehingga jika kami mencari rute lainpun pasti gampanglah.


Artinya: Dilarang parkir sampai rambu selanjutnya ;p

Kami menyusuri trotoar di seberang taman Largo de Lecidere dan berjalan lurus ke arah timur. Jalanan agak sepi, lampu penerangan jalan juga tidak begitu terang. Setelah menemukan persimpangan, kami belok ke kiri. Tapi kemudian jalan bercabang lagi. Ups! Aku mencoba membuka aplikasi Google Maps untuk diarahkan ke penginapan, tapi sinyal tampaknya tidak bersahabat. Kami malah mutar-mutar tak karuan. Sempat bertanya pada orang di jalan, tapi ketika diajak berbicara dengan Bahasa Indonesia bingung, Bahasa Inggris juga susah. Sementara kami blas nggak tahu Bahasa Portugis apapun kecuali kata "Obrigada' yang artinya terima kasih. Bahasa Tetun apalagi. Hadeuhh, malam pertama di Dili kami nyasar, saudara-saudara! Wkwkw!

Entah bagaimana jalan ceritanya, kami malah sampai ke sebuah kompleks perumahan. Beberapa remaja tampak berkumpul di pinggir jalan. Kami mencoba bertanya lagi, tentang arah menuju penginapan. Tapi yang ditanya juga bingung, either bingung dengan pertanyaan kami, bingung Bahasa Indonesia atau memang nggak tahu di mana letak Dili Central Backpackers.

"Kalau...Largo dimana? Largo de Lecidere di mana, atau Burger King?" tanya Kakak Dame, memecah kebuntuan. Ah, cerdas kamu! Mereka pasti tahu ke mana arah menuju taman atau resto itu. Tempat itu bisa menjadi ancer-ancer yang mudah.

"Oh Largo, Burger King! E...kanan, lurus...lalu kiri" kata salah satu di antara mereka dengan Bahasa Indonesia yang kurang lancar.

Akhirnya! Yeah, akhirnya kami menemukan jalan yang benar setelah sekian lama muter-muter nggak jelas. Hadeuh! Lega rasanya setelah melihat penampakan penginapan itu dari jauh. Kami ngakak bersama. Hah, kita makan dululah! Lapar banget setelah nyasar! Kami datangi sebuah restorante yang berlokasi tak jauh dari penginapan. Sebuah rumah makan milik orang Jogja ternyata. Menunya Indonesia semuah!

Tapi ternyata perjuangan belum berakhir sampai di sini. Kamar dorms (kelas termurah, isi 4 bed) yang kami tempati di penginapan dengan fasilitas kipas angin itu sukses bikin aku nggak bisa tidur. Kipas angin yang nemplok di atas plafon itu gerakannya lemah gemulai nyaris tanpa tenaga, mana ventilasi minim pula. Walhasil, aku turun dari tempat tidur atas dan lebih memilih tidur di lantai. Yo wislah. Boa noite, Dili! Selamat malam, Dili!

17 Januari 2017

Bom dia alias selamat pagi! Dikit-dikit belajar Bahasa Portugis, haha! 

Hari ini kami akan ke Christo Rei, satu landmark terkenal di ibukota Timor Leste ini yang tak boleh dilewatkan jika berkunjung ke kota ini. Dari depan penginapan, tinggal naik mikrolet sekali saja. 

Pengalaman pertama naik mikrolet di Dili. Nggak ada bedanya dibanding mikrolet di Indonesia. Penumpang 6-4 serta sebuah bangku kecil yang bisa disisipkan. Dan tentu saja lengkap dengan musik yang disetel dengan cukup kenceng. Pagi itu, lagu-lagunya Slank, Noah, Ungu dan band-band Indonesia lainnya menemani telinga para penumpang. Sopir mikroletpun dengan ekspresifnya ikut bernyanyi bareng Ariel, Pasha dan Kaka.  

Jarak dari penginapan ke Christo Rei sekitar 12 km-an. Jalan raya  cukup lebar dan mulus. Lalu lintas belum begitu ramai. Rute mikrolet ini menyusuri pesisir pantai. Langit cerah dan laut kelihatan biru. Penumpang yang rata-rata pulang dari gereja, turun satu demi satu. Tinggal kami bertiga yang akhirnya diantar hingga parkiran Christo Rei.

Jalan Christo Rei

Christo Rei adalah salah satu tengara penting di Dili. Christo Rei berarti Kristus Raja. Sebuah patung Yesus Kristus yang dibangun di atas bukit di Tanjung Fatucama.  

Pagi ini, belum begitu banyak pengunjung yang datang. Panas yang  mulai menyengat, menemani perjalanan kami menaiki ratusan tangga menuju puncak bukit dimana terdapat Patung Kristus. Kabarnya sih ada 500-an anak tangga. Di sebelah kanan terdapat semacam shelter berisi mural-mural yang menggambarkan prosesi jalan salib, lengkap dengan penjelasannya dalam dua bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Bahasa Indonesia? Tentu saja, karena tempat ini dibangun pada saat Timor Timur masih menjadi bagian dari Indonesia.

Naik-naik ke puncak Christo Rei
Salah satu shelter yang berisi mural prosesi jalan salib

Pelataran luas sebelum sampai di puncak

Kami tiba di sebuah pelataran yang cukup luas. Bisa menjadi tempat istiahat bagi yang sudah lelah menaiki ratusan anak tangga. Patung Yesus tampak semakin jelas dari sini. Guys, masih harus naik lag!.

Meskipun lumayan capek, tapi lansekap di bawah sana terlihat semakin indah dari ketinggian. Pantai berpasir putih, lautan dengan gradasi warnanya serta hijau perbukitan. Cantik sekali. Sejenak kami berhenti. Pantai di timur memang juara!

Pantai Pasir Putih d belakang Christo Rei

Kami sampai!  Christo Rei, Kristus Raja yang berdiri di atas bola dunia sambil merentangkan kedua tangannya. Wow, megah sekali! Kupandangi dari bawah hingga puncaknya. Patung yang dibangun pada tahun 1996, saat era Presiden Soeharto berkuasa, sebagai peringatan integrasi Timor Timur ke Indonesia. Christo Rei ini memiliki tinggi 27 meter yang melambangkan Timor Timur sebagai propinsi Indonesia yang ke-27 pada saat itu. Mirip di Brazil deh, eh emangnya pernah ke Brazil? Haha! Pemandangan dari atas sini juga nggak kalah keren! Serius!

Patung Kristus aja di atas bola dunia

Malu ah kalau ngadep kamera ;p

Aku duduk di lantai tepat di bawah bola dunia, menikmati angin sepoi sambil memandang laut biru di seberang sana. Cukup teduh di sini. Tak berapa lama, datang serombongan ABG. Cewek semua. Duduk-duduk tak jauh dariku. Membuka laptop dan sebagian membuka tasnya dan mengeluarkan buku-buku. Mereka ngobrol dengan bahasa yang aku tidak tahu, haha! Musikpun lalu terputar dari laptop, lagu Indonesia. Mereka bernyanyi.

"Itu lagunya Noah kan? Band Indonesia." tanyaku, membuka obrolan dengan para ABG itu.

"Ya, Noah. Kakak dari Indonesia?" jawab mereka, dengan Bahasa Indonesia yang tidak terlalu lancar.

"Iya, kami dari Indonesia. Kalian kok tahu lagu-lagu Indonesia?"

"E...sering lihat di televisi. Kami menonton acara televisi Indonesia."

"Wah, jangan-jangan kalian juga suka nonton sinetron Indonesia! Ganteng-Ganteng Serigala atau Anak Jalanan?" lanjutku. Merekapun sontak tertawa.

"Iya, tapi sekarang saya malas nonton Anak Jalanan. Sejak Stefan putus dengan Wilona, dan sekarang malah pacaran sama Celine" celetuk salah satu remaja ini.

Sekarang giliran aku yang tertawa. Aku ingat ibuku yang hobi banget nonton sinetron Anak Jalanan, dengan ikonnya yaitu Boy dan Reva. Sinetron anak jaman now! Nah, Stefan (Stefan William) adalah pemeran Boy dalam sinetron itu, sementara Reva dimainkan oleh Natasha Wilona. Mereka pacaran dalam cerita sinetron sekaligus pacar benaran dalam dunia nyata. Beberapa waktu lalu, si Stefan dan Wilona putus (putus beneran dalam kenyataan) lalu Stefan pacaran dengan Celine Evangelista. Si Celine kini banjir haters dari para penggemar Boy dan Reva. 

Hmm, tetiba terngiang sebuah narasi pembuka acara gosip terdepan, yang dibacakan dengan artikulasi mantap serta mata sedikit melotot yang mengupas gosip secara tajam, setajam silet! Jreng jreng...! 

"Kalian kelas berapa?" tanya Kakak Jane. Pertanyaannya membuyarkan imajinasiku tentang acara gosip selebriti itu, wkwk!

"Kelas dua... SMP" jawab mereka. Cukup sulit menyebutkan kata SMP. Tapi mereka tahu. Mungkin sebutan Sekolah Menengah Pertama dalam istilah pendidikan dalam Bahasa Portugis, bukanlah "SMP" pastinya.

Iseng kubuka buku pelajaran mereka yang tergeletak. Tampaknya pelajaran Fisika dengan halaman-halaman awal yang membahas tentang tata surya (aku menebak lewat gambar planet-planetnya sih, wkwk). Edan, pakai Bahasa Portugis cuy! Aku cuma bisa tersenyum membaca nama-nama planet dalam Bahasa Portugis. Serasa di Lisbon! Ini kalau Christiano Ronaldo sama Luis Figo pasti paham sih artinya apa, haha!

Cukup seru ngobrol dengan remaja-remaja ceria Dili ini. Generasi muda harapan Timor Leste. Mereka yang lahir setelah Timor Timur lepas dari Indonesia. Entah apa arti Indonesia dalam benak mereka, entah cerita apa tentang Indonesia yang mereka pahami.

Kembali muda bersama para ABG Dili ;p

Dari puncak bukit di Tanjung Fatucama, kupandangi sekali lagi pantai pasir putih di bawah sana. Ayo ke situ! Kamipun turun melewati tangga yang telah disediakan menuju pantai berlatar perbukitan hijau itu. Pantainya juga bersih, airnya biru, ombaknya tenang. Tapi panasnya ampun-ampunan kalau siang begini dan dijamin akan membuat kulitku semakin eksotis, halah! Sebagian besar pengunjung tampak berteduh di bawah pepohonan yang cukup rindang.

Pantai Pasir Putih

Selain Pantai pasir putih, pantai lainnya di dekat parkiran Christo Rei juga sudah dipenuhi pengunjung dan pedagang. Pantai-pantai di sekitar Christo Rei ini memang jadi tempat piknik warga kalau boleh kubilang.  

Piknik dulu bro!

Menunggu pembeli

Sesungguhnya, kami nggak punya tujuan lain di Dili selain ya ke Christo Rei ini mengingat waktu yang kami punya memang cuman sebentar.  Namun rasanya kami sudah puas mengelilingi lokasi ini. Hmm, kemana lagi? Eh, nggak mungkin kan kami bertamu ke rumah Krisdayanti dan Raul Lemos? Wkwk! Atau ke Timor Plaza, satu-satunya mall di Dili ini? Haha! Aku inget cerita Rob dan Jacko di penginapan kemarin tentang beberapa tempat menarik di Timor Leste. Ada Gunung Ramelau, Pulau Atauro dan lain-lain. Tapi tempat-tempat itu sepertinya tak mungkin kami sambangi dalam waktu sesingkat ini. Well, beginilah akibatnya kalau males gugling dulu sebelum pergi, hiks!

Tapi apa yang terjadi selanjutnya? Kami malah stuck di sebuah Rumah Makan Padang di sudut jalan. Selesai makan, kami bukannya langsung jalan, tetapi malah nonton Anandhi, serial India di ANTV yang juga sedang ditonton oleh Ibu penjaga warung. Ingin tertawa rasanya, ya gimana ya, bahkan selama di Indonesia mana pernah aku nonton acara TV ginian. Lha ini malah di Dili cuy dan aku dibuat terpaku oleh kisahnya. Aneh!

Restorante Padang

Tentu kami nggak sampai habis nonton Anandhi yang berjam-jam itu. Kami lanjut jalan-jalan yang ngasal saja seperti ke pasar tradisional misalnya. Cuss kami naik mikrolet ke Terminal Taibesi.

"Kasihku manis,tempat ku mengeluh. Kasihku manis ingin selalu di sisimu. Tentang kisah asmara yang gila..." sepenggal lagu Kisah Yang Biru dari Boomerang, terdengar dari speaker besar di mikrolet yang kami tumpangi. Tanpa sadar, aku ikut bersenadung. Maka rasa nasi padang dengan lauk ayam yang masih tersisa di lidah serta lagu-lagu Indonesia yang diputar, aku merasa di negeri sendiri.

Kami sampai di Terminal Taibesi. Cukup besar tempatnya meskipun agak sepi, mungkin karena sudah terlalu siang. Tiap moda transportasi seperti bis, mikrolet, taksi dan angguna (truk bak terbuka) memiliki tempat ngetem sendiri. Wah, ada pasar di sebelah terminal! Cucok! Ayo kita lihat seperti apa pasar tradisional di Timor Leste ini, Pasar Taibesi.

Pasar ini nyaris tak ada bedanya dengan pasar-pasar di Indonesia yang menyediakan berbagai kebutuhan pokok dan rumah tangga. Sembako yang sebagian besar produk Indonesia, sayur mayur dan buah-buahan, tahu tempe, sirih pinang, peralatan dapur hingga kain-kain tenun khas Timor Leste. Bahkan sayup-sayup terdengar lagunya Ratih Purwasih mengalun merdu di pasar ini. Ah, jadul sekali!

Sayur mayur yang dijual di Pasar Tabesi

Kain tenun khas Timor Leste

Di luar pagar terminal

Aku pernah membaca bahwa jika kita ingin memahami budaya sebuah masyarakat, maka kunjungilah pasar tradisionalnya. Di pasar itulah kita bisa melihat secara utuh budaya masyarakat setempat, melihat barang apa yang dikonsumsi masyarakat dan apa yang mereka masak untuk keluarga mereka. Dan di Pasar Taibesi, aku masih "melihat" dan "merasakan" Indonesia.

Hampir sore, kamipun beranjak. Naik mikrolet lagi ke arah pelabuhan. Melewati keramaian lalu lintas kota Dili.  Kami turun di seberang kantor Perdana Menteri Timor Leste yang sangat megah. Di sepanjang pantai yang menghadap Selat Ombai, kami bisa duduk-duduk menghabiskan waktu, mungkin menunggu senja.

Sebuah mikrolet yang sarat penumpang melintasi jalan di depan gedung Perdana Menteri

Duduk santai di tepi pantai

Ngak tahu gedung apa, pake Bahasa Porto soalnya ;p

Seorang Bapak tampak mengawasi anak kecil yang sedang bermain tak jauh dari tempat duduk kami. Kakak Jane memotret anak lucu itu. Sang Bapak menyapa kami, dengan bahasa Indonesia yang lancar.

"Dari Indonesia ya?" tanya Bapak itu

"Iya, Pak. Bapak kok masih fasih pakai Bahasa Indonesia ? tanyaku

"Kalau saya masih bisa Bahasa Indonesia. Saya mendapatkan pendidikan Indonesia. Anak-anak yang lahir setelah Timor Leste merdeka yang susah." jawabnya.


Bapak itu kemudian menjelaskan bahwa setelah Timor Leste merdeka, bahasa yang digunakan dalam buku pelajaran dan tatap muka di sekolah adalah Bahasa Portugis, yang juga menjadi bahasa resmi negara. Sedangkan keseharian masyarakat Timor Leste sejatinya menggunakan Bahasa Tetun. Tetapi bukan berarti Bahasa Indonesia lenyap begitu saja. Masih banyak pendatang asal Indonesia di sini dan Bahasa Indonesia tetap digunakan. Namun demikian, generasi yang lahir setelah Timor Leste merdeka, hanya mengenal Bahasa Indonesia melalui televisi serta lagu-lagu Indonesia yang tetap membahana seantero negeri. Ternyata, TV Timor Leste hanya mengudara 3 jam sehari itupun hanya program berita. Sedangkan hampir semua Stasiun TV Indonesia dapat dengan mudah ditangkap dengan parabola di Timor Leste ini.

Cerita kemudian berlanjut tentang pemerintahan Timor Leste, perekonomiannya juga tentang generasi muda Timor Leste sekarang yang banyak merantau ke Eropa untuk mencari pekerjaan.

Aku mendengarkan penjelasan Bapak di depanku ini dengan seksama. Setelah lepas dari Indonesia, negara muda ini mungkin masih "berjuang" dalam banyak hal untuk mengisi cita-cita kemerdekaannya.

Langit sedikit mendung di tepian pantai Dili. Kapal-kapal terlihat datang dan pergi.

Inilah sore kami. Sore terakhir di Dili, ibukota dari negara yang bernama Republica Democtratica de Timor Leste. Mungkin perjalananku di sini terlalu singkat, belum banyak yang kusingkap. Tapi paling tidak, cukup mengobati rasa penasaranku tentang bagaimana Timor Leste sekarang setelah lepas dari NKRI. Legacy Indonesia memang masih terlihat dan terasa dalam berbagai aspek, bagaimanapun Indonesia pernah menjadi bagian dari sejarah negara ini. Tapi setelah memutuskan merdeka, selayaknya kita hidup berdampingan sebagai sesama negara, saling mendukung dan menghormati satu sama lainnya.

Besok kami pulang. Kembali ke tanah air tercinta dengan perjalanan darat lagi seperti saat keberangkatan kami ke sini, melalui Atambua hingga Kupang NTT.

Timor Leste ini sebenarnya spesial, sama seperti Indonesia Timur yang selalu kurindukan. Akankah aku kembali suatu hari nanti? Mungkin...


Toilet Publici alias Toilet Umum ;p

Tulisan-tulisan (mungkin berupa slogan ataupun peringatan( dalam Bahasa Portugis yang kujumpai 

Info Mikrolet di Dili, in case you need it

---------- THE END ----------

Budget:
1. Penginapan Dili Central Backpackers = $10 per orang per malam
2. Ongkos mikrolet = $1 - $2 sekali naik



No comments:

Post a Comment