Tuesday, June 12, 2018

Offshore Life: Ramadhan dan Idul Fitri Spesialku

"I look to the sea, 
reflections in the waves spark my memory. 
Some happy, some sad...'
(STYX - Come Sail Away) 

----------------------

Kutulis postingan ini saat santai di kampung halaman di Pekalongan. Yoi, aku sudah mudik sejak beberapa hari lalu, pastinya untuk merayakan Idul Fitri yang tinggal hitungan hari. Leyeh-leyeh sambil scrolling akun medsos, membuatku terantuk pada foto-foto jadul saat masih kerja di lapangan dulu. Nggak penting sih sebenarnya, haha! Tapi mendadak jadi pengen bernostalgia tentang Ramadhan dan Idul Fitri spesialku beberapa tahun lalu. Betapa merayakan dua moment itu bersama keluarga pernah menjadi moment langka buatku.

Barge Tirta Rajawali, berlatar senja

Di atas menara Rig Randolph Yost

Sejak akhir tahun 2009 hingga pertengahan 2016 aku sempat bekerja di lapangan migas lepas pantai di perairan Selat Makassar yang terletak di antara Pulau Kalimantan dan Sulawesi. Kadang berada di Offshore Rig alias anjungan pemboran lepas pantai ataupun barge untuk kegiatan perawatan sumur migas. Rata-rata jadwal kerja kami adalah dua minggu kerja dan dua minggu off. Dengan jadwal kerja yang sudah paten itu, maka dimanakah aku berada saat Ramadhan atau Idul Fitri tentu nggak bisa dinego lagi. Paling ngenes kalau lihat kalender dan mendapati jadwalku sedang on/bekerja saat Idul Fitri nanti. Ah, alamat kampul-kampul di laut saat takbiran deh. Rasanya langsung lunglai seketika. Yah, risiko tugas, mau gimana lagi?  Nasib kuli dan kroco mumet. Tapi sedikit terhibur pas gajian masuk ke rekening sih.


Barge Tirta Rajawali, saat towing

Rig Randolph Yost
Senja di Rig MTR2

Sepanjang tujuh tahun bekerja di lepas pantai, aku selalu mendapati jadwal kerja pas Ramadhan. Tapi kalau Idul Fitri, seingatku sih sudah tiga kali merayakan lebaran di tengah laut. 

Bagaimana rasanya melewati Ramadhan di lepas pantai antah berantah bersama kurang lebih seratusan orang di atas anjungan pemboran ataupun barge? 

Well, yang jelas lepas pantai itu teriknya ampun-ampunan, matahari tanpa tedeng aling-aling berada di atas kita (makanya kulit saya lumayan eksotis, wkwk). Sebagian pekerja harus panas-panasan di atas dek ataupun lantai bor, berpeluh keringat untuk handling pipa-pipa besi, naik ke ketinggian, kegiatan pengangkatan material dan lain sebagainya. Banyak kegiatan yang membutuhkan aktivitas fisik. Ya namanya juga ngebor nyari minyak dan gas ya gaes, di tengah laut pula serta berisiko tinggi. Pekerjaan di sana itu 24/7 non stop serta dibagi 2 shift.  Yang  menjadi konsen dan prioritas adalah Fit for Duty selama Ramadhan (terutama bagi yang menjalankan ibadah puasa), memastikan agar seluruh pekerja tetap dalam kondisi fit dan bekerja dengan selamat. 

Apakah kami tetap menjalankan ibadah puasa? Ada yang tetap puasa, ada juga yang tidak. Pilihan masing-masing individulah. Tapi nuansa Ramadhan tetap terasa  kok meskipun kami jauh dari mana-mana. 

Suasana di galley (sebutan untuk area makan di rig/barge) saat buka puasa selalu seru. Camp Boss (sebutan untuk bossnya dapur dan akomodasi) sudah menyiapkan menu spesialnya dengan asupan gizi yang memadai untuk kami-kami yang berpuasa dan bekerja keras seharian, lengkap dengan takjil seperti kurma, kolak ataupun es buah.  Saat waktu berbuka puasa tiba, PA (public announcement) diberikan lewat speaker umum seantero rig/barge. 

Lalu bagaimana dengan Sholat Tarawih, apakah ada? Ada dong! Alhamdulillah di beberapa barge punya mushala yang cukup representative loh. Di beberapa rig juga kadang menggunakan recreation room yang lebih luas untuk disulap sejenak menjadi tempat sholat Tarawih. Walaupun tentu saja tak bisa semua pekerja bisa ikut berjamaah karena operations harus tetap berjalan. Yang jelas, gema Ramadhan tetap terasa meskipun kami kampul-kampul di tengah samudra. 

Jamaah Tarawih Rig MTR2, tahun 2011

Wajah-wajah kelaparan menunggu buka

Moment Idul Fitri, nah ini yang paling bikin sedih. Merayakan lebaran jauh dari keluarga (dan bagiku) nggak bisa sungkem kepada kedua orang tua. 

Dimulai dari malam takbiran di sana yang dilakukan selepas maghrib. Malam menjelang Idul Fitri ini kerap membuatku terharu campur sedih. Sebagai kadang satu-satunya perempuan di atas Rig/Barge, aku harus tetap tegar, halah! Biasanya aku naik ke helideck, memandang lampu-lampu kapal dari kejauhan, ataupun crane yang naik turun swing kanan dan kiri mengangkat dan menurunkan barang. Lalu telepon rumah, minta maaf kepada kedua orang tua. Memohon maaf atas semua kesalahan selama ini juga minta maaf karena nggak bisa pulang. Untungnya, sinyal komunikasi antara laut dan darat cukup bisa diandalkan. Meskipun kadang di beberapa platform, kami bisa mati gaya lantaran susah sinyal, haha! 

"Ora opo-opo, Nduk. Sing penting sehat lan kerjo selamet neng kono (Tidak apa-apa, Nak. Yang penting sehat dan selamat di sana)" demikian jawaban orang tuaku, tiap kali kutelpon di malam takbiran. Aku malah tambah mewek kalau gini. 

Bagi yang merayakan Idul Fitri dan pekerjaannya bisa digantikan sebentar, Company Man (sebutan untuk orang nomor satu di sini) memberikan keleluasaan untuk menunaikan Sholat Idul Fitri di pagi hari. Jika cuaca bagus, kami menunaikan sholat Idul Fitri berjamaah di helideck (tempat landing helikopter di rig/barge). Sajadah digelar juga sound system dinaikkan. Imam dan Khatib bersiap. Takbir berkumandang. Mewek moment kembali terulang. Apalagi sejauh mata memandang, hanyalah lautan. Kami tak menjejak daratan. 


Sholat Idul Fitri, Rig MTR2, tahun 2011

Shola Idul Fitri, Rig Hibiscus, tahun 2010
 
Suasana saling bermaafan, Idul Ftri tahun 2015, Rig Randolph Yost

Selepas sholat dan khutbah, kami semua berdiri dan berkeliling saling bermaaf-maafan sesama rekan kerja. Kebersamaan yang kami rasakan sejenak bisa menyamarkan rasa rindu jauh dari keluarga tercinta  saat hari raya. Kami senasib sepenanggungan. Selesai bermaafan kami segera turun ke Galley untuk menikmati hidangan spesial Idul Fitri. Ada ketupat juga opor ayam, meskipun tak selezat masakan Ibuku. Beberapa orang pekerja, kadang juga membawa nastar ataupun kue-kue lebaran lainnya yang sengaja dibawa dari rumah sebelum naik ke rig untuk kami nikmati bersama.

Setelah sarapan? Ya kerja lagi, ngebor lagi! Pekerjaan kembali berjalan normal seperti sediakala. 

Kini aku sejenak absen dari pekerjaan di lapangan. Birunya lautan sudah tergantikan oleh macetnya ibukota. Terus terang, aku rindu. Kangen sunrise dan sunset paling indah di sana, teman-teman yang seru dan pastinya segenap cerita.

Selamat merayakan Idul Fitri untuk seluruh pekerja di lapangan migas lepas pantai di  blok manapun berada, yang tetap harus bekerja di saat lebaran guna terus merawat energi dan menggerakkan ekonomi negeri. Pasti kangen kumpul dengan keluarga. I feel you gaes. Tetap semangat dan utamakan keselamatan :-)

Foto Keluarga, Idul Fitri tahun 2015, Rig Randolph Yost

Foto Keluarga, Idul Fitri tahun 2010, Rig Hibiscus


16 comments:

  1. AryDev6:06 AM

    Eits, gw kenal itu Rig!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, dunia ini sempit mas bro!

      Delete
  2. Salut sama orang-orang yang bekerja di laut lepas seperti ini. Bertugas kala teman lain sednag berkumpul dengan keluarga. Semangat mas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yach, tuntutan tugas Mas, mau gimana lagi. Yang penting ikhlas menjalani, begitu pesen ortu.
      Btw, saya mbak, bukan mas, hehe!

      Delete
  3. Bener2 salut saya Mba, ditengah pekerjaan yang keras, masih disempatkan berpuasa dan sholat tarawih.................hebat3x......:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah Mas, selama ada niat Insya Allah dimudahkan.
      Perusahaan juga mendukung kebebasan menjalankan ibadah.
      Jadi meskipun di tengah laut, atmosfer Ramadhannya masih kerasa

      Thanks sudah mampir ke blog saia :)

      Delete
  4. wah ramadhan dan idul fitrinya di tempat kerjaan ya, jadi ingat dulu waktu kerja juga seperti itu, tidak bisa pulang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya beginilah, risiko jadi kuli gini Mas. Hehe.

      Terima kasih sudah mampir :)

      Delete
  5. Ya ampun mbak, aku terharuuuu. #utangrasa ku ke mereka yang bekerja demi keseimbangan negara.. Huhu, jd pengin mewek.. Btw, sunsetnya indah2 banget, syahdu.. Wajar kl mbak Lena rindu masa2 bekerja di tengah laut begitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Ella!

      Udah risiko pekerjaan, kagak bisa ditolak, haha!

      Sunset di tengah laut memang juara, menghabiskan waktu hingga ia tenggelam di cakrawala saja maka hidupku sudah bahagia, Halah!

      Btw, selamat idul fitri, mohon maaf lahir dan batin ya :)

      Delete
  6. Mantap, jiwa engineer emang harus kuat mental mbak. Selamat Idulfitri^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha! Saia pura2 kuat, padahal hati meringis ��

      Btw, terima kasih sudah mampir ��

      Delete
  7. Keren mbak cewek cewek kerja di lepas pantai. Aku Baru tau Cara mereka merayakan Bulan suci seperti ini. PAdahal ditempatku (indramayu) banyak juga pekerjaan lepas pantai ini (pertamina) Tapi Aku sendiri cetek pegetahuan. Keren Keren ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jaman now sdh banyak cewek yg kerja di lepas pantai kok mbak, masalah gender bukan halangan,hehe!

      Iya betul,di Indramayu ada operations lepas pantai punyanya Pertamina Hulu Energi-Offshore North West Java tuh.

      Ya beginilah kehidupan kami di laut, hehe!

      By the way, makasih sudah mampir mbak :)

      Delete
  8. Saya ngerasa sedih banget yah, bukan karena gak bisa ngumpul bareng keluarga tapi kebersamaan. Saya jadi ngerasain apa yang mbak rasain waktu itu, semoga mbak bisa bertemu lagi dengan teman-temannya. Selamat hari raya idul fitri ya mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas, kebersamaan dg teman2 kerja di lepas pantai itu memang ngangenin banget. Teman2 senasib seperjuangan yg sdh seperti keluarga "kedua"

      Selamat Idul Fitri juga. Makasih sudah berkunjung ke blog saia ;)

      Delete