Friday, August 10, 2018

Indonesia Hari Ini

Aku teringat sebuah percakapan di dalam mobil, sebulan lalu, di sebuah tempat yang cukup jauh dari ibukota.

"Bapak pilih Jokowi atau Prabowo?" tanya temanku kepada seorang driver yang mengantarkan kami ke lokasi kerja.
"Saya pilih Prabowo. Ya gimana ya, Jokowi bacaan Qur'annya tidak fasih." jawab si Driver.

Aku yang duduk dibelakang driver itu langsung terhenyak. Kita mau milih pemimpin negara atau imam sholat sih sebenarnya. Sehingga dengan alasan "bacaannya tidak fasih" menjadi justifikasi untuk tidak memilihnya sebagai presiden. Tapi inilah yang sesungguhnya terjadi pada masyarakat. Politik dan agama kini tak jelas lagi ranahnya, campur mbawur nggak jelas semenjak Pilpres 2014 hingga puncaknya Pilkada DKI 2017.

"Lha memangnya Prabowo bacaannya fasih? Mungkin malah jangan-jangan nggak bisa ngaji." lanjut temanku lagi. Si driver tampak tersenyum nyengir.

Fenomena agama dijadikan alat politik dan bagaimana ganasnya para politikus menggorengnya hingga menjadi bahan jualan serta masyarakat yang akhirnya "tercuci" sejatinya tidak hanya ramai di dunia maya, tapi dunia nyata. Pendapat driver ini salah satunya dan mungkin banyak orang di luar sana termasuk teman-teman kita sendiri.

Seharusnya inilah yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sebagai "relawan". Bukan hanya pakai seragam pro ini pro itu, kumpul-kumpul, selfie, upload di medsos atau joged-joged massal. Tugas berat seorang relawan adalah bergerak aktif ke masyarakat, mengkomunikasikan dan memberikan pengertian dengan cara yang tepat. Kita sama-sama sadar, budaya membaca di Indonesia masih sangat rendah.

Hari ini 10 Agustus 2018, satu hari bersejarah dalam perjalanan bangsa ini. Dua pasangan capres-cawapres mendaftarkan diri ke KPU secara resmi untuk kemudian berkompetisi pada Pilpres 2019 yaitu Jokowi-Ma'ruf Amin serta Prabowo-Sandiaga. Tentu aku punya preferensi politik dan terus terang agak kecewa dengan pilihan cawapres dari capres pilihanku. Tapi ada yang lebih penting dan mendesak bagi negeri ini, bukan hanya keinginan egois akan sesuatu yang ideal menurutku. Diakui atau tidak, kita sudah "terbelah" oleh masalah agama yang dipolitisasi.

Eh, mungkin aku akan bilang begini ke  driver yang kuceritakan tadi. Bahwa nanti Jokowi bisa langsung belajar ngaji dari wapresnya sendiri, mbahnya ulama, mbahnya santri, Ketua MUI, Rais Am PBNU, agar bacaan Qur'annya fasih. Bapak driver pasti mau milih Jokowi kan? Halah!

Sore ini aku melipir sebentar ke Monas sebelum masuk ke Stasiun Gambir untuk mudik sore nanti. Monas, tempat yang pernah menjadi saksi bisu demo berjilid-jilid atas "nama membela agama". Kupandang tugu kebanggaan Indonesia ini. Monas kini sepi dan sedang berlatar langit kelabu.

Selamat nyoblos di 2019 nanti! Selamat berkompetisi dengan sehat dan cerdas.