Saturday, October 20, 2018

Merhaba Turkiye (Bag.1): Welcome to The City, Istanbul!

"Life can't be all that bad, I'd think from time to time. Whatever happens, I can always take a long walk along the Bosphorus..."
(Orhan Pamuk)

---------------------------------

13 September 2018

Setelah menempuh perjalanan cukup panjang dari Jakarta, pesawat Saudi Airlines yang sempat transit di Jeddah Arab Saudi ini mendarat mulus di Bandara International Ataturk Turki sekitar pukul 10.30 waktu setempat. Selamat datang di Istanbul. Kota yang pernah disebut sebagai Konstantinopel atau Bizantium. Kota terpadat di Turki, pusat ekonomi, budaya dan tentu saja sejarah.

Teman jalanku kali ini adalah Mbak Andari. Teman kerja yang cubiclenya persis di sebelah. Akhirnya sampai juga kita di sini ya, Mbak? Padahal rencana pergi ke Turki bisa dibilang cukup dadakan. Hari cuti memang sudah kami block sejak lama, tapi terus terang kami belum menentukan hendak jalan ke mana. Tiket baru kita beli sekitar seminggu sebelum berangkat (untung harga tiketnya miring cuy). Maka Turki seolah menjadi sebuah wacana saja, karena kami malah sibuk nyiapin acara gathering kantor saat itu lalu dilanjut keseringan nonton pertandingan Asian Games hampir setiap hari di GBK, haha! Belum lagi berita tentang krisis ekonomi yang sedang melanda Turki (lalu timbul kekhawatiran dari segi keamanan) juga nilai tukar rupiah yang sedang turun melawan Dolar Amerika, cukup membuat kami ragu untuk bepergian ke sana. Tapi tekad kami bulat, pokoknya harus piknik, meskipun ngirit! Wkwk!

Kami langsung menuju loket pemeriksaan paspor. Antriannya mengular panjang. Lira (mata uang Turki) yang sedang anjlok terhadap Dollar, tampaknya malah membawa dampak meningkatnya wisatawan barat yang berkunjung ke negeri ini. Bagi WNI, kita hanya butuh Visa On Arrival (VOA) yang bisa diapply online sebelum keberangkatan dengan biaya sekitar $26. Oke, satu cap mengisi pasporku yang nyaris kosong ini.

Keluar dari pintu kedatangan, kami ke money changer sebentar, menukar Dollar Amerika ke Lira. Lira susah banget didapatkan di Jakarta, maka membawa Dollar Amerika dan ditukar sesampainya di Turki adalah salah satu alternatifnya. Kami nggak nukar banyak, setidaknya cukup untuk membeli IstanbulKart dari mesinnya. Oh ya, 1 lira jika dikurs-kan ke Rupiah saat itu sekitar Rp. 2300 - 2400. Sementara untuk 1 Dollar Amerika rate-nya sekitar 5,8 - 7,2 Lira, fluktuatif sekali pergerakan Dollar versus Lira ini. 

IstanbulKart adalah semacam kartu pembayaran untuk semua moda transportasi umum (Metro, Tram, Bis) di Istanbul. Bandara Ataturk ini sudah terintegrasi dengan Metro (subway), kami akan menggunakan itu untuk menuju kawasan Sultanahmet, tempat kami menginap nanti. 

Metro terisi penuh. Meskipun kami nggak dapat tempat duduk, tapi cukup nyamanlah. Apalagi, harus kuakui bahwa Istanbul penuh dengan ciptaan Tuhan yang indah dipandang mata (halah!). Kanan kiri, depan belakang, indah semua. Mereka ini pasti bisa jadi artis jikasaja tinggal di Indonesia. Subhanallah!

Sesampai di Stasiun Zeytinburnu, kami harus berganti moda transportasi lain yaitu Tram yang kebetulan jalurnya tepat berada di sebelah Metro. Oke, kita nikmati yang indah-indah lagi (apaan sih!). 

Dari kaca jendela, kulihat Istanbul yang sibuk. Gedung-gedung tinggi, pusat-pusat keramaian, pertokoan, serta cuaca yang cukup panas siang itu.

Turun dari Tram di kawasan Sultanahmet, kami berjalan mengikuti petunjuk yang diberikan Maps menuju penginapan. Area ini bisa dibilang sebagai pusatnya tempat-tempat menarik di Istanbul. Kami melewati Blue Mosque, masjid kenamaan di Istanbul, juga Hagia Sophia (atau Aya Sofia). Ramai sekali. Turis banget. Setelah melewati jalan yang isinya deretan cafe, penginapan dan toko souvenir, maka sampailah di Big Apple Hostel, tempat kami menginap

Aku dan Mbak Andari langsung menuju meja resepsionis untuk check in. Eh, aku nggak memperhatikan dua orang yang sedang duduk di kursi lobby. Ternyata mereka adalah... Oke, nggak perlu pakai acara kaget sih karena keberadaan mereka di Istanbul sudah terdeteksi sebelumnya. Dua orang itu adalah Mas Reza dan Adit, teman sekantor bahkan satu tim yang sudah berangkat duluan ke Turki sejak 5 hari lalu. Lha kok perginya nggak barengan aja? Itulah. Mereka berdua itu kebanyakan drama. Drama yang nggak jelas. Adit bahkan baru beli tiket pesawat ke Turki sehari sebelum keberangkatan. Gila memang. Tapi lumayanlah, mereka berdua bisa survey duluan tempat-tempat yang akan aku dan Mbak Andari datangi karena itinerary mereka nyaris copy-paste dengan itinku. Walaupun sehabis itu mereka membully-ku karena itin tersebut seperti ngikutin sopir bis dari satu kota ke kota lainnya dan tampaknya kurang cucok dengan kehidupan metropolis keduanya. Wkwk!

Beberes sebentar di kamar, untuk kemudian turun kembali ke lobby. Sudah janjian dengan Mas Reza dan Adit untuk langsung jalan-jalan di Istanbul, pastinya ke tempat yang belum mereka datangi.

"Kami baru sampe Terminal Istanbul pagi tadi. Sengaja nggak nginep di Selcuk, demi bisa menyambut kalian!" kata mereka

Halah, mbeell! Bilang aja kalian sudah nggak betah berada di pelosok Turki semacam Selcuk, Pamukkale atau Goreme dan pengen segera balik ke keramaian Kota Istanbul!

Kami berempat, di depan Hagia Sophia. Di depan doang yak, masuknya besok ajah
(Photo Courtesy of Adit)

Oke, kemana kita? Makan siang dululah. Adit dan Mas Reza membawaku dan Mbak Andari ke sebuah rumah makan tak jauh dari Halte Sultanahmet. Dari kaca etalasenya, tampak berbagai makanan khas Turki yang cukup menggoda dari penampakannya. Makanan yang sungguh aku tak tahu namanya. Oke bro, kita coba. Urusan lidah bisa menerima atau enggak, itu nanti saja.

Kami memilih makanan yang berbeda, sehingga bisa saling icip-icip. Pilihanku berupa nasi yang dicampur dengan daging sapi dan rempah-rempah  lalu dimasukkan ke dalam balutan kol rebus berkuah. Rasanya, hmm....masih masuk di lidah sih, tapi hmm ya gitu deh. Clingak-clinguk nyari sambal atau saos, nggak ada pula. Serius, makanan Turki ini sejatinya enak. Kalau masak daging-dagingan empuk bener, tapi rasa keseluruhan cenderung hambar meskipun presentasinya sangat menggiurkan. Seandainya saja ada sambal atau saos, pasti semua terselamatkan bagi lidah asli Indonesia ini.

Selesai makan siang, kami naik Tram ke Grand Bazaar yang hanya berjarak dua halte saja dari Sultanahmet. Grand Bazaar adalah sebuah pasar tertutup tertua di dunia yang ditengarai telah berusia lebih dari 500 tahun sejak zaman Ottoman. Pasarnya besar sekali, kabarnya memiliki 21 pintu masuk dan 61 ruas jalan di dalamnya. Pasar ini menjual berbagai macam souvernir maupun oleh-oleh khas Turki. Pengunjung cukup padat terutama di jalan utama. Aku sempat berpikir, kalau melihat keramaian seperti ini dan transaksi yang pastinya luar biasa, aku tak melihat sebuah negara yang sedang mengalami krisis ekonomi.

Suasana dalam Grand Bazaar 

Kami nggak belanja. Aku dan Mbak Andari cuma nuker duit di sana karena ratenya lebih bagus dibanding di bandara. Untuk belanja sih ntar-ntar aja, lha wong kami baru sampe. Adit dan Mas Reza yang bakal balik ke Indonesia dua hari lagi juga tampaknya hanya survey harga dan tempat dulu. Beneran, ini pasar besar sekali. Aku bisa nyasar jika keliling-keliling tanpa mengingat-ingat jalannya. Selain besar, pasar ini juga dipenuhi makhluk Tuhan yang cakep-cakep. Bahkan penjaga toko saja sudah mirip bintang film. Aliando, Rio Dewanto, Chico Jericho, Adipati Dolken, ayo sebutin bintang sinetron, model atau bintang film terkenal Indonesia, semua lewat! Wkwk! Godaannya besar sekali ya, Mbak Andari. Kalau untuk cewek Turki mah aku nggak ngeliatin. Itu urusan Adit dan Mas Reza saja, haha! 

Hari sudah sore dan gerimis menyambut saat kami keluar dari Grand Bazaar. Oh ya, sebelumnya kami nyobain satu street food yang banyak bertebaran di mana-mana yaitu chessnut bakar. Lumayan enak sih. 

Destinasi yang kami tuju selanjutnya adalah Selat Bosphorus. Selat yang memisahkan bagian Turki di benua Asia dan Eropa, sekaligus selat yang menghubungkan Laut Marmara dan Laut Hitam. Kami naik Tram ke arah Eminonu.

Sebenarnya ada trip khusus mengarungi Selat Bosphorus. Crusingnya mengunakan kapal mirip kapal pesiar, lengkap dengan makanan dan hiburan pula di atasnya. Harganya cukup mahal dan kami memang tidak membudgetkannya (maklum, kami pejalan ngirit walau sebentar lagi dapat tab*l besar, wkwk). Putar otak sejenak, gugling dan akhirnya nemu cara untuk bisa melipir ke Bosphorus dengan cara yang murah meriah. Ada kapal ferry umum dari Pelabuhan Eminonu menuju ke kawasan Uskudar dan melintasi sepenggal Selat Bosphorus hanya dengan 2 Lira lebih sedikit saja! Oke, berangkat!

Kami segera menuju deck atas ferry. Terdapat kursi-kursi untuk penumpang dan bisa menikmati pemandangan sepanjang perjalanan dengan lebih leluasa. Ferry ini perlahan bergerak, Masjid Suleymaniye terlihat semakin jauh, saat ferry ini bergerak meninggalkan pelabuhan. Melaju dari Golden Horn, muara yang memisahkan Istanbul Lama dan Istanbul Baru, melintas sebentar  di Marmara dan Selat Bosphorus untuk kemudian menyeberang ke sisi Turki bagian Asia.


Mendung di langit Galata 
Camar berarak di Bosphorus
Di atas ferry, membelah Bosphorus
(Photo Courtesy of Adit)

Burung Camar beterbangan, serasa mengikuti perjalanan kapal ini. Tepian Bosphorus tampak padat oleh bangunan-bangunan. Pucuk Galata Tower menyembul. Kapal-kapal berlalu lalang. Indah. Eropa di kananku, Asia ada di sebelah kiriku. Sayang, mendung menggantung. Bosphorus tampak sedikit murung.

Rasanya aku masih betah berlama-lama di atas ferry dan mengagumi Bosphorus, tetapi Pelabuhan Uskudar tampaknya sudah tak jauh lagi. Kami disambut gerimis saat kapal ini hendak merapat.


Kapal merapat di Pelabuhan Uskudar

Tak banyak yang kami lakukan di Uskudar. Selain sholat di masjid depan pelabuhan (ehm, kami pejalan yang shalih dan shalihah ya ternyata, wkwk) serta mencicipi Simit. Simit adalah roti khas Turki yang teksturnya keras minta ampun, bentuknya seperti donat berkepang dan ditaburi wijen. Sekali lhep, langsung kenyang! Lalu kami balik lagi ke Eminonu. Yup, tujuan kami ke Uskudar memang hanya demi melintasi Selat Bosphorus. Bolak-balik, agak nggak jelas. 

Simit, harus dicoba saat lapar. Sangat mengenyangkan!


Hujan turun saat kami memasuki kapal. Sempat ke deck atas sebentar, tapi hujan ternyata cukup deras. Padahal panoramanya ingin sekali lagi aku nikmati seperti perjalanan berangkat tadi. Akhirnya kami memutuskan duduk di dalam kabin. Cuaca tak cukup bersahabat di hari pertamaku di Istanbul. 

Hujan masih mengguyur saat kami sampai kembali di Eminonu. Langit tampak semakin gelap. 

Adit dan Mas Reza mengajak kami melewati Jembatan Galata tak jauh dari Pelabuhan Eminonu. Sebuah jembatan yang melintasi Golden Horn yang terdiri dari dua tingkat. Lantai dasar dipenuhi oleh cafe-cafe dan rumah makan. Sementara di atasnya adalah jalan raya, jalur Tram serta trotoar pinggir jembatan yang biasanya dipenuhi oleh orang-orang yang memancing ikan jika saja hari tak hujan.

Masjid Suleyman, tampak dari kejauhan

View di kawasan Karakoy

Tapi hujan tampaknya semakin deras. Kami berlarian menuju jembatan. Berjalan di antara cafe-cafe yang ramai. Asap menu makanan grill tampak mengepul di beberapa tempat, bercampur dengan aroma Shisa. Kami berjalan hingga kawasan Karakoy yang terletak di ujung jembatan. Galata Tower, itulah tujuan kami

Rintik masih menemani saat kami melalui jalanan sesuai petunjuk arah. Sebatas rintik kecil yang lalu tiba-tiba menjadi deras sehingga memaksa kami meneduh di emperan sebuah toko. Eh, bukan toko ding ternyata. Tapi sebuah gallery yang entah sedang mengadakan pameran apa. Dari dinding dan jendela kacanya, kami bisa melihat banyak orang dengan dandanan berkelas sedang berbincang-bincang di antara karya-karya seni yang terpajang. Beberapa orang tampak keluar untuk merokok, tak jauh dari tempat kami berteduh. Satu lagi sudut Istanbul yang secara tak sengaja kami temukan. 

"Gimana kalau kita iseng masuk saja. Pura-pura jadi pengunjung atau jadi wartawan sambil bawa kamera. Lumayan bisa numpang berteduh."  Mas Reza mulai mengungkapkan ide abstraknya. 

Ide abstrak yang langsung gugur setelah menyadari penampakan kami yang jelas berbeda dengan para pengunjung gallery yang tampak glamour ala sosialita Istanbul.

Maka kami hanya bisa memandang "kehidupan" mereka dari balik jendela kaca sambil menggigil dan mengutuki hujan yang tak kunjung berhenti ini. 

Kami memutuskan untuk pergi dari emperan gallery saat hujan mulai reda. Jalanan agak menanjak serta bangunan-bangunan cukup tinggi berada di kanan kiri. Tapi belum jauh kami berjalan, hujan kembali turun. Untungnya kami menemukan tempat berteduh yang cukup representatif, sebuah pintu masuk  rumah dengan beberapa tangga di depannya dan beratap. 

Berempat, kami duduk di tangga. Menunggu hujan kembali reda. Memandang jalanan berpaving dan pencahayaan yang cukup remang. Seekor kucing tampak berteduh di seberang, di antara tumpukan barang. Kucing yang sesekali melihat keberadaan kami lalu ngumpet lagi. Santai aja, puss!

Empat WNI ngemper di Istanbul
(Photo Courtesy of Adit)

Rasanya pengen tertawa, kok bisanya kita menggelandang begini di negara orang? Ngemper di depan sebuah rumah antah berantah (dan bisa saja diusir jika si pemilik rumah mengetahuinya). Lalu muncullah sebuah keisengan. Iseng buka  aplikasi google translate di hp, lalu kami belajar bahasa Turki! Iya, bahasa Turki! 

Tesekkur ederim (terima kasih), Dekatli ol (hati-hati), Gule gule (sampai jumpa), Merhaba (halo), Evet (ya), Kedi (kucing) dan entah apalagi. Entah apa cita-cita kami, tapi begitulah. Sesekali Bahasa Turki yang baru saja dipelajari secara instan itu bahkan dicoba oleh Mas Reza dan Adit saat ada orang lewat di depan kami. Reaksi mereka? Kebanyakan reaksi bingung sih. Orang gila, mungkin itu pikiran mereka, wkwk! Sumpah, itulah hal yang paling absurd yang kami lakukan di Istanbul malam itu. 

Akhirnya hujan mulai mereda lagi. Kembali kami susuri jalanan menuju Galata Tower yang basah dan menanjak itu. 

Galata Tower (Galata Kulesi dalam Bahasa Turki) adalah sebuah menara batu dengan tinggi sekitar 66 meter, didirikan pada abad pertengahan di Distrik Galata Kota Lama Istanbul. Saat malam begini, menara itu dihiasi dengan cahaya biru dan merah. Cantik sekali.

Di depan Galata Tower

Oke, kita mau naik tower ka tidak, kakak? Adit dan Mas Reza tampaknya kurang tertarik. Aku dan Mbak Andari kemudian bertanya berapa harga tiket untuk naik ke atas menara. Ah, ternyata 35 Lira! Hmm, sampai di atas kukira pemandangannya nggak begitu bagus karena cuaca hujan dan hari sudah malam. Oke, kami skip saja! Yang penting sudah menginjakkan kaki di Galata Tower. 

Kamipun beranjak dari Galata Tower, menyusuri jalan paving basah yang berbias lampu pencahayaan menara. Hujan masih rintik. Cuaca masih tak jua bersahabat bahkan hingga malam seperti ini.

Kemana lagi kita habiskan malam ini? Jangan kasih kendorlah bro!

Oke, kami ke Taksim Square. Satu lagi tengara terkenal di kota ini. Setengah berlari kami menuju ke Stasiun Metro Sishane di ujung jalan.

Taksim Square atau Alun-Alun Taksim berada di Istanbul sisi Eropa. Ditandai dengan sebuah monumen yaitu Monumen Republik yang dibangun pada tahun 1928 untuk memperingati terbentuknya Republik Turki yang ke-5. Tingginya sekitar 11 meter. Ke-empat sisi monumen dihiasi oleh patung, salah satunya adalah patung Mustafa Kemal Attaturk, pendiri sekaligus presiden pertama Republik Turki.

Di depan Monumen Republik - Taksim Square. Sorry, gelap bro! 

Hujan masih rintik saat kami keluar dari Stasiun Metro Taksim dan berjalan ke monumen itu. Lampu-lampu penerangan tampak berada di beberapa sudut. Tampak beberapa orang duduk-duduk ataupun berfoto. Kesan pertamaku, ya cuman tempat nongkrong biasa saja. Tapi hey, tengoklah keramaian di jalan sebelah sana!

Melangkah tak jauh dari monumen, terdapatlah Istiklal Street dengan jejeran pertokoan mewah mulai dari cafe, restoran, toko pakaian, sepatu, souvenir dan segala macam. Ratusan orang berlalu-lalang memenuhi jalan. Di beberapa tempat tampak pengamen jalanan yang menyajikan lagu dan beradu dengan musik hingar yang terdengar dari beberapa bar dan klub malam di pinggiran jalan. Sebuah Tram kuno berwarna merah tampak melintas sesekali di jalurnya yang berada di tengah jalan. Tempat ini begitu "hidup". Denyut malam Istanbul berada di sini, Jalan Istiklal! Yeah!

Istiklal Street, malam itu

Setelah mencicipi satu kotak Turkish Delight alias manisan Turki di sebuah toko kue ternama (serius ini endez banget rasanya, apalagi yang pistachio lokum!), kami beranjak ke sebuah rumah makan. Suara dentuman musik dengan nyanyian lagu berbahasa Turki (yang sepintas terdengar mirip bahasa Arab) masih terus menggema di beberapa titik jalan. By the way, aku nggak bisa membayangkan jika kita "ajib-ajib" sementara lagunya pakai Bahasa Arab! Sumpah, bisa-bisa gue inget neraka! 

Jam sudah menunjukkan hampir pukul 10 malam. Istiklal masih hidup, bahkan bertambah hidup.

Kami berempat sama-sama memilih paha ayam kalkun. Paha segede gaban plus nasi (nasi pera berempah) sepiring penuh. Hadeuh, baru ngeliatnya aja rasanya sudah kenyang bego. Dan lagi-lagi, aku menyesal nggak bawa saos! Makan makanan begini tanpa saos atau sambal rasanya plain banget.

Laper apa doyan kamu, Dit? Masya Allah, paha kanan & kiri sekaligus! 

Setelah kenyang dan beranjak keluar dari restoran, ternyata di luar hujan. Kami berniat menunggu hingga sedikit reda di dekat pintu keluar. 

Adit iseng membeli minuman dalam kemasan bertuliskan Ayran yang terlihat banyak dikonsumsi orang saat makan tadi. Dia membawa 4 sedotan.

"Enak nih" kata Adit

Mendengar kata enak, maka tanganku langsung refleks bekerja dan tanpa ba-bi-bu mengambil sedotan dari tangan Adit lalu menusukkanya ke lid Ayran. Dan... Waladalalahhh!

Aku tak sanggup memasukkan Ayran ke dalam tenggorokanku. Rasanya aneh sekali, antara asin, asem dan entahlah, absurd sekali! Dengan Ayran yg masih memenuhi mulutku, aku berlari ke luar restoran dan memuntahkannya. Kurang ajaaar! Teman-temanku malah tertawa ngakak. Sokooor! Nggragasss!

The one and only, Ayran! (Photo Courtesy of Adit)

Ternyata oh ternyata Ayran adalah minuman yang terbuat dari yoghurt, air dan garam. Bayangkan, kombinasi yang aneh bukan? Minuman ini populer di Turki, Irak, Iran dan negara Timur Tengah. Aduh, kalau saya sih no! Tidak akan lagi!

Hujan masih terus mengguyur Istiklal, petugas restoran menyuruh kami kembali ke tempat duduk saja sambil disuguhi teh hangat, menunggu hujan berhenti. Restoran masih ramai, mereka bilang baru akan tutup pada jam 1 malam.

Akhirnya kami keluar saat hujan agak mendingan. Menyusuri lagi jalanan Istiklal yang tetap hingar. Bahkan hujanpun tak juga meredupkan keramaiannya. Pertokoan masih buka, orang masih hilir mudik, dan musik masih terdengar kencang. Istiklal tetap gemerlap bahkan hingga nyaris jam 12 malam begini.

Dan hujan tiba-tiba deras lagi, memaksa kami membeli payung yang dijual di pinggiran jalan, agar setidaknya tak begitu basah hingga sampai di Stasiun Metro nanti.

Hujan agak redaan saat mendekati Taksim Square. Dua orang perempuan dengan gaya kekinian, berjalan melewati kami. Salah satunya sepertinya sedang mabuk dan nyerocos sendiri dengan bahasa yang aku tidak tahu. Mas Reza tampak keki setelah perempuan mabuk itu mendorong bahunya sambil ngelantur nggak jelas. Untung mereka segera berlalu, huahaha! Istighfar ya, Mas.

Kami bergegas masuk ke Stasiun Metro Taksim yang terletak di bawah tanah. Turun melalui eskalator yang turut basah diguyur hujan. Mas Reza dan Adit berdiri di depanku dan Mbak Andari. Entah apa yang terjadi, ketika seorang bule berjalan turun dan melewati Mas Reza dan Adit, tiba-tiba Adit dan Mas Reza jatuh tersungkur di eskalator. Dan bule itu cuma melenggang kangkung tanpa dosa, wkwk!  Kenapa bro? Kena "senggol" ya, bro? Kirain karena eskalatornya licin, haha! Oke-oke, kita memang perlu membiasakan diri terhadap aturan di sini, bahwa nggak boleh berdiri berjejer saat di eskalator baik saat naik ataupun turun, harus ada satu sisi kosong untuk tempat orang yang hendak bergegas atau berjalan. Eh, sakit nggak bro? Nggak perlu bikin incident report kan? Halah!

Kereta membawa kami ke Stasiun Kabatas yang merupakan stasiun paling ujung dari metro jurusan ini. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam lebih. Saat kami turun, petugas stasiun telah menutup semua akses pintu. Tak ada kereta, tak ada lagi tram atau bis yang beroperasi setelah lewat jam 12. Tak ada pilihan lain, kami harus naik taksi untuk pulang ke penginapan di kawasan Sultanahmet.

Jalan raya masih cukup padat di sepanjang taksi yang kami tumpangi ini melaju.

Setelah beberapa jam berada di Istanbul, terus terang aku belum menemukan gambaran Turki yang "islami" yang selama ini sering dikagumi oleh banyak orang di negeriku. Turki dengan partai penguasa yang berbasiskan agama dan Presiden Erdogannya. Aku bisa bilang bahwa suasana Istanbul yang kulihat ini tak ada bedanya dengan tempat-tempat di Indonesia. Aku masih mendengar suara adzan dari masjid-masjid megah di kota ini, pun sempat kulihat masjid yang penuh saat Jum'atan siang tadi, tapi kota ini terus berdenyut dengan modernitas. Banyak kujumpai wanita berhijab, tapi tak kalah banyak dibanding perempuan bergaya trendy tanpa penutup kepala. Public display of affection yang mudah terlihat di beberapa sudut kota, hedonisme yang tersaji di kawasan Istiklal malam ini, entahlah. Mungkin ini baru secuil Istanbul dan tentu saja hanya secuil Turki, masih banyak yang harus kulihat, aku masih perlu banyak membaca dan memahami...

"Oke, kita sudah sampai" kata Adit yang duduk di samping driver taksi, menyentak diamku.

Pintu Big Apple Hostel masih terbuka. Cafe-cafe di sekitarnya telah sepi. Kawasan Sultanahmet sudah terlelap.

Selamat beristirahat, teman-teman! Sampai jumpa besok di rooftop penginapan, kita memandang Laut Marmara sambil sarapan.

Good night, sweet dreams! Iyi geceler, tatli ruyalar! Tsaaah, tetiba pinter Bahasa Turkiye!

Kisah selanjutnya di Merhaba Turkiye (Bag.2): Mengenang Ottoman dan Lezatnya Sandwich Ikan

-----------------------------------------------

Budget:
1. IstanbulKart = 10 Lira
2. Naik Metro/Tram/Ferry = Harga tergantung jarak, sebagian besar > 2 Lira sekali jalan
3. Penginapan Big Apple Hostel = 100 Lira/orang (Kamar Dormitory)