Thursday, November 01, 2018

Merhaba Turkiye (Bag. 2): Mengenang Ottoman dan Lezatnya Sandwich Ikan

"For me, it has always been a city of ruins and of end-of empire melancholy. I've spent my life either battling with this melancholy, or (like all Istanbullus) making it my own..."
(Orhan Pamuk) 

----------------------------------


14 September 2018

Gunaydin, Istanbul! Selamat pagi, Istanbul!

Dibanding Jakarta, kota ini serasa terlambat memulai harinya. Adzan subuh di Istanbul berkumandang sekitar jam 6-an, sarapan di hotel juga baru tersedia jam 08.30. Oh nikmatnya hidup, tak perlu bangun pagi (lalu mengejar TransJakarta sepagi mungkin agar tidak terjebak kemacetan ibukota).

Sekitar jam 7-an lebih, aku dan Mbak Andari sengaja keluar hotel untuk sekedar jalan-jalan di seputar Blue Mosque dan Hagia Sophia yang letaknya hanya sepelemparan batu saja dari tempat kami menginap. Merasakan paginya kawasan yang "turis banget" ini. Sementara Adit dan Mas Reza, haqqul yaqin masih molor di kamarnya.

Sepagi ini di kawasan Sultanahmet adalah sebuah pagi yang sepi. Jalanan basah sisa hujan semalam. Bangku-bangku panjang di dekat Blue Mosque yang biasanya menjadi spot foto para turis tampak kosong. Jalanan di dekat air mancur serta Hagia Sophia masih lengang. Pertokoan di sekitarnya juga masih banyak yang tutup. Geliat kehidupan di jantung Sultanahmet belum dimulai.


Satu Pagi di Sultanahmet
Lengang di Depan Blue Mosque

Setelah cukup puas berfoto ria tanpa adanya "keriuhan" yang menjadi latarnya, kami kembali ke hotel dan langsung menuju rooftop untuk sarapan. Menu sarapannya tentu saja ala Turki. Roti-rotian, telur, salad dan segambreng buah zaitun (yang aku tidak doyan sama sekali). Makanan sehat, tapi kurang nendang untuk ukuran perut Indonesia yang biasa makan nasi. Tak berapa lama kemudian, Mas Reza dan Adit bergabung dengan mata yang masih kriyep-kriyep setengah sadar.




Ini adalah hari terakhir kami berempat bisa jalan bareng di Istanbul. Nanti malam aku dan Mbak Andari akan menuju Kota Goreme, sedangkan besok Mas Reza dan Adit akan pulang ke Jakarta. Beginilah akibatnya kalau ngetrip dadakan dan penuh drama sebelum berangkat. Sebagai teman sekantor dan bahkan satu tim, seharusnya kalau pergi piknik itu waktunya bareng, selalu kompak dan bersama dalam suka dan duka, apalagi di negeri orang seperti ini. Gimana sih? Wkwk! 

Dari rooftop Big Apple Hostel, tampak Laut Marmara. Laut ini terhubung dengan Selat Bosphorus dan turut memisahkan Turki bagian Eropa dan Asia. Meskipun terhalang kaca dan bukan view 360, tapi lumayanlah. Langit tampak cerah di atas Marmara. Kuharap cerahnya bertahan setelah kemarin Istanbul diguyur hujan seharian.

Jam 10 pagi kami berempat jalan kaki ke Hagia Sophia, salah satu bangunan bersejarah di kota ini yang meskipun mainstream sekali tapi wajib dikunjungi. 

Di depan Hagia Sophia

Tapi kini langit malah mendung, mendungnya parah! Hujan sudah menetes rintik. Istanbul oh Istanbul! Tentu aku lebih menyukai pemandangan sinar matahari di atas kota ini.

Dan beneran, hujan turun deras sekali. Kami berteduh di bawah payung besar tempat para pedagang makanan dan minuman membuka lapaknya. Sedih kalau pas piknik tapi hujan begini. Hanya bisa manyun (sambil nyanyi lagunya Sheila On 7: "Waktu hujan turun, di sudut gelap mataku, begitu derasnya, kan kucoba bertahan...")

Kami mulai ikut ngantri tiket masuk ke Hagia Sophia saat hujan mulai mereda. Cukup panjang antriannya, pengunjung dari berbagai penjuru dunia.

Jika kita punya waktu cukup lama di Istanbul dan tertarik untuk mengunjungi museum-museumnya, membeli Museum Pass adalah salah satu cara menghemat budget. Dengan 85 Lira saja, kita bebas masuk ke hampir semua museum di kota ini selama 5 hari. Kami sendiri nggak ada yang beli, karena memang nggak lama di Istanbulnya dan palingan hanya 2-3 museum saja yang bakal dikunjungi.

Terlihat beberapa orang menawarkan diri menjadi guide dan menyediakan jasanya dalam berbagai bahasa. Selain itu, kita bisa juga bisa menyewa audio guide di counternya. Kami tentu saja tak perlu guide karena selepas dari museum toh bisa membuka Wikipedia. Haha! Atau tinggal nanya saja ke Mas Reza yang ibaratnya seperti ensiklopedia berjalan, wkwk!

Hagia Sophia ini kelihatan megah sekali. Terdapat sebuah kubah besar dengan lambang bulan sabit di atasnya. Kubah-kubah kecil turut menghiasi beberapa bagiannya. Ada empat menara yang menjulang tinggi  di empat sudutnya. Warna bangunannya serupa warna batu-bata.

Informasi mengenai sejarah Hagia Sophia secara lengkap sangat mudah didapatkan di internet, jadi sepertinya nggak perlu aku copy-paste dalam tulisan ini. Yang jelas sejak didirikan pada tahun 537 oleh Kekaisaran Konstantius, tempat ini awalnya adalah sebuah Gereja Katedral atau Basilika, hingga tahun 1453. Selanjutnya, setelah Konstantinopel berhasil ditaklukkan oleh Kesultanan Ottoman di bawah kepemimpinan Sultan Mehmet II, Hagia Sophia (atau Aya Sofia dalam ejaan Turki) beralih fungsi menjadi masjid tepatnya sejak tahun 1453 sampai tahun1931. Setelah Turki menjadi Republik dan menyatakan sebagai negara sekuler, bangunan ini sempat ditutup untuk umum kemudian dijadikan museum sejak tahun 1935 hingga sekarang.

Menengok perjalanan Hagia Sophia selama berabad-abad dan sempat menjadi simbol kekuasaan negara serta agama, terus terang aku penasaran akan isi dan interiornya.

Kami masuk dan memulai dari semacam terasnya. Di pojok teras tampak orang berkumpul di depan sebuah layar TV yang sedang memutar sejarah tentang Hagia Sophia. Beberapa pintu besar menghubungkan teras dengan aula utama. 

Lantai dasar, sebuah ruangan yang luas sekali dengan pilar-pilar yang megah, langit-langit yang berhias lukisan indah serta dindingnya dipenuhi ornamen dan mozaik yang cantik. Jendela-jendelanya anggun. Arsitekturnya agung. Sayangnya di sisi kiri dipenuhi oleh scaffolding yang tegak berdiri. Tampaknya tempat ini sedang direnovasi.

Sebuah mimbar tempat imam memimpin sholat tepat berada bawah kubah. Kubah yang langit-langitnya terdapat lukisan Bunda Maria yang sedang memangku Yesus. Lukisan itu "diapit" oleh dua kaligrafi besar yang terletak di puncak pilarnya yang tinggi. Kaligrafi bertuliskan lafadz Allah dan Muhammad. Ada perasaan aneh seketika. 

Selain kaligrafi dengan lafadz Allah dan Muhammad, ada enam kaligrafi lain yang terpasang, bertuliskan empat sahabat Rasulullah yaitu Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali serta dua cucu Rasulullah yaitu Hasan dan Hussein. 

Kaligrafi Allah, Muhammad dan Lukisan Bunda Maria
Di dalam Hagia Sophia
Pemandangan dari Lantai 2

Kami terus berkeliling mengagumi museum ini lalu naik ke lantai dua melalui lorong-lorong berkelok yang terbuat dari batu alam. Di lantai dua, banyak kita temukan mozaik di dindingnya. Mozaik-mozaik berupa kisah kristiani yang sebagian telah mengelupas. Setelah Hagia Sophia dijadikan museum maka mozaik itu ditampilkan kembali setelah sempat ditutup saat tempat ini difungsikan sebagai masjid.


Lorong Menuju Lantai 2
Mozaik kisah Kristiani  di Dinding Hagia Sophia

Sempat terbersit sesuatu saat aku menikmati Hagia Sophia di dalamnya. Bangunan megah, bekas "rampasan perang" yang pernah "terpaksa" beralih fungsi. Apapun yang pernah terjadi di masa lalu, kini museum Hagia Sophia bisa menjadi simbol berdampingannya dua agama Samawi yaitu Kristen dan Islam. Di dua periode waktu yang berbeda, simbol-simbol keagamaan yang berbeda tapi di bangunan yang sama. Tempat ini pernah menjadi tempat umat kristen mendekatkan diri kepada Tuhan-Nya. Begitupula dengan umat Islam yang pernah menjalankan sholat lima waktu di tempat yang sama. Agama kita berbeda tapi aku percaya bahwa Tuhan berada di dekat hamba-hamba-Nya yang selalu mengingat-Nya.

Iya, aku jadi agak melo, sedikit.

Hari sudah siang saat kami keluar dari Hagia Sophia. Cuaca cukup cerah. Kami duduk-duduk sebentar di taman yang berada di antara Hagia Sophia dan Blue Mosque. Di antara keramaian pengunjung, pedagang Simit serta Es Krim. Kucing-kucing di jalanan yang gemuk dan jinak, tampak sesekali lewat dan mengeong. Adzan Dhuhur berkumandang.

Di dekat sini ada Istana Topkapi yang rencananya akan kami kunjungi juga hari ini. Tapi perut tampaknya harus diisi dulu. Maksi dulu yes? Kemana kita?

Rafi, teman kami yang pernah ke Istanbul, sempat merekomendasikan satu street food yang harus kami cicipi yaitu Sandwich Ikan alias Balik Ekmek (dalam Bahasa Turki). Adit sudah gugling mengenai tempat paling maknyus di mana bisa menemukannya. Kuy-lah! Kami naik Tram dari Sultanahmet ke arah Karakoy di dekat Galata Bridge.

Langit Galata tak begitu mendung. Istanbul tak murung. Dari dalam Tram, bisa kulihat keramaian orang yang sedang memancing di bagian atas jembatan serta kapal-kapal di muara Golden Horn saat Tram ini melintas Galata Bridge.

Turun di halte Karakoy, kami berjalan ke sebuah gang. Gang yang tidak begitu lebar namun sangat padat dan hanya bisa dilewati oleh satu mobil saja. Gang yang dipenuhi oleh pertokoan yang menjual berbagai perlengkapan perkapalan. Bau ikan tercium di beberapa tempat.

Satu Sudut Karakoy

Kami mengikuti Adit yang terus memperhatikan toko-toko di sebelah kanan, mencari sebuah kedai makan yang menjual Sandwich Ikan. Tapi hingga ke ujung gang, kami tak juga menemukan kedai yang dimaksud.

"Harusnya di situ, tapi sepertinya sudah tutup" kata Adit, sebagai satu-satuya orang yang sudah gugling mengenai tempat bahkan penjualnya yang terkenal dari generasi ke generasi.

Sebenarnya di sepanjang gang ini juga banyak penjual Balik Ekmek. Tapi Adit tetep keukeuh mencari yang konon katanya yang paling enak yang dijual oleh Bapak Emin dan penerusnya.

Bapak Emin, dikau di mana? Laper naa...

Seorang pria dengan topi dan apron merah tiba-tiba menghampiri. Sambil menanyakan apakah kami sedang mencari Balik Ekmek.

Ternyata kami dibawa ke lapaknya yang berada di pinggir jalan. Tampak dagangannya belum siap, dia masih menata meja, memajang salad dan lain sebagainya. Adit tampak ragu. Sekali lagi Adit mengingat-ingat kisah tentang Bapak Emin, penjual Balik Ekmek yang terkenal dengan asesoris khasnya berupa apron dan topi merah, asesoris yang kemudian banyak ditiru oleh penjual lainnya.

Setelah melihat dan menimbang segala aspek (warna sayuran yang tampak sudah tidak segar serta ikan yang tidak dibersihin durinya) kami memutuskan meng-cancel orderan dan berpindah ke lain hati, maksudnya ke lapak sebelah yang letaknya hanya beberapa meter dari pria ber-apron dan bertopi merah itu. Di lapak ini, sayurannya masih segar serta si bapak penjual yang dengan rajinnya membuang duri-duri ikan mackarel pada saat proses pembakarannya. Meskipun si bapak ini mungkin bukan generasi Bapak Emin, tapi ya sudahlah, kami pilih ini saja. Sudah keburu lapar.

Dan...Ya Tuhan! Satu gigitan saja serasa surga! Yummy sekali, lezatnya sampe ubun-ubun. Serius! Jika saja ada saos atau sambal, pasti lebih parah enaknya. Tapi tanpa saos dan sambalpun, ini sudah sangat lezat. Maka kami berempat, di siang hari yang cerah ini, berdiri di emperan jalan sebuah gang sempit di kawasan Karakoy, sambil menikmati makanan terenak se-Turki! 

Hmm, sudah nggak sabar
This is it, Balik Ekmek ala Chef Turkiye

Selesai menuntaskan Balik Ekmek, kami makan lagi. Iya, makan lagi. Ada pasar ikan di dekat sini dan sebuah rumah makan yang menu makanannya berupa olahan ikan semua. Sepiring ikan goreng (entah ikan apa, kecil-kecil mirip ikan wader tapi besaran dikit) dipesan Adit. Dan mereka menyajikannya dengan sekeranjang roti! Roti keras tapinya, eh tapi gratis rotinya! Haha!

Kami beranjak, tentu saja setelah kenyang dan kembali ke kawasan Sultanahmet. Saatnya mengunjungi Istana Topkapi. Sebuah istana megah di tepi Laut Marmara. Tempat kediaman Sultan sekaligus pusat pemerintahan. Saksi sejarah kejayaan islam di masa Dinasti Ustmaniyah atau Ottoman selama hampir 4 abad lamanya di mana kekuasannya meliputi Eropa Tenggara, Asia Barat hingga ke Afrika Utara.

Kompleks Istana Topkapi ini luas sekali dan terdiri dari banyak bangunan. Luasnya mencapai 70 hektar. Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengelilinginya. Sejak tahun 1924, tempat ini resmi menjadi museum.

Di loket, kita bisa memilih akan mengunjungi kompleks mana. Harga tiketnya pun berbeda. Kami memilih masuk ke Istana saja, dengan alasan bahwa di sana kita bisa melihat peninggalan-peninggalan para Nabi. Sebenarnya Adit dan Mas Reza lebih tertarik mengunjungi Hareem, alias tempat tinggal istri dan para selir sultan. Wkwk! Apa ekspektasi kalian di Hareem, hah?

"Gimana kalau kita sewa audio guide Hareem saja, nggak usah masuk. Kira-kira isi suaranya apa ya? Evet...evet...gitu ya? (Evet adalah Bahasa Turki yang artinya ya atau yes)" canda Adit, disambut ketawanya Mas Reza dan Mbak Andari. Dasar ya kamu, Dit! 

Saking banyaknya bangunan dan luasnya tempat ini yang bikin bingung dan kaki gempor, maka kami langsung menuju ruangan tempat menyimpan peninggalan-peninggalan (relikui) Nabi. Antriannya panjang. Dilarang mengambil gambar di area ini. Maka kudokumentasikan saja segenap kenangan itu dalam ingatan. Halah!

Seluruh relikui terpajang dalam kaca sehingga kita tak dapat menyentuhnya. Akhirnya aku bisa melihat dengan mata kepala Tongkat Nabi Musa yang digunakan untuk membelah Laut Merah, Pedang Rasulullah beserta para sahabatnya, cetakan kaki kanan Nabi Muhammad saat Mi'raj dari Masjidil Aqsa serta peninggalan-peninggalan penting lainnya. Terus terang aku hanyalah muslim yang biasa saja, tapi melihat relikui yang selama ini hanya kuketahui lewat cerita atau buku-buku saja ternyata bisa menghadirkan rasa haru juga.

Hari semakin sore. Kami tinggalkan satu lagi bangunan bersejarah yang pada zamannya mungkin tak bisa sembarang orang masuk ke dalamnya. Istana para raja, penguasa Turki, sebagian Eropa, Asia dan Afrika. Kami kembali melewati taman di depan Hagia Sophia dan Blue Mosque yang ramai oleh pengunjung. Sebuah bis wisata berwarna merah tampak parkir menunggu penumpangnya. 

Inilah Istanbul di masa sekarang. Orang-orang datang ke Turki (termasuk kami) untuk salah satunya berwisata sejarah. Sejarah masa lalu negeri ini. Mungkin benar apa yang dikatakan Orhan Pamuk, penulis asal Turki yang pernah menuliskan memoarnya tentang Istanbul. Bahwa sisa-sisa masa lalu itu menjadi pengingat bahwa keadaan kota ini sekarang mungkin tak seperti dulu dan membingungkan, bahwa kita tak pernah lagi bermimpi untuk mencapai tingkat yang sama dalam hal kesejahteraan, kekuasaan serta kebudayaan seperti dulu. Entahlah...

Oke, ngapain lagi kita? Ayo nongkrong saja di dekat Blue Mosque sambil main kartu. Hah, main kartu kok di depan masjid? Astaghfirullahaladzim. Untung nggak tercyduk, haha! Ingatlah bahwa judi hanya menjanjikan kemenangan dan menjanjikan kekayaan, begitu kata Bang Haji Rhoma Irama. Tapi tenang, kami bukan judi, kami hanya makan kuaci. 

Kami hanya makan kuaci ;p

Sekitar pukul 5 sore lebih, kami kembali ke Big Apple Hostel. Aku dan Mbak Andari segera re-packing tas bawaan. Malam ini kami berdua harus berangkat ke Goreme dengan bus malam, meninggalkan Adit dan Mas Reza yang besok akan kembali ke tanah air.

Jujur, tiba-tiba aku sedih. Turki ini seperti trip "perpisahan" kami. Adit akan mutasi ke kantor di Riau dalam waktu dekat. Bulan depan, aku juga pindah kerja ke Balikpapan dan nggak bakal satu perusahaan lagi dengan mereka bertiga. 

Sore ini agak melo, semelo langit Turki yang mendadak  mendung lagi. Tapi perjalananku di Turki bersama Mbak Andari masih panjang. Masih akan ada banyak cerita di depan.

"Kalian yang akan ke Goreme ya?" seorang pria Turki menghampiri kami dan bertanya, dia petugas dari transport yang menjemput kami menuju terminal. 

Kuangkat ransel. Menyalami Adit dan Mas Reza lalu melangkah keluar hostel. 

"Sampai jumpa lagi ya! Safe flight besok ke Jakartanya." kataku pada mereka berdua

Istanbul, aku dan Mbak Andari pamit duluan. Kami main sebentar ke Goreme, Pamukkale dan Selcuk.

Kami berempat di depan Big Apple Hostel

------------------------------



Budget:
1. Tiket masuk ke Hagia Sophia: 40 Lira
2. Tiket Masuk ke Istana Topkapi : 30Lira
3. Metro/Tram : Tergantung jarak, tapi sebagian besar > 2 Lira sekali jalan