Dalam suasana kabut sabana yang terbilang masih pekat
Semalam adalah malam yang panjang
Sedang rujuk dengan ketenangan nan girang
Puncak itu kupandang nanar
Tak jauh juga sebenarnya tak tenar
Dari tempat tendaku hanya selemparan lontar
Kumulai langkah melewati ilalang yang menyebar
Kuawali jalan dengan mengambil minum
Dari sumber air yang diseduh kagum
Oleh para penghuni sabana
Dalam aliran yang besar, sampai membasahi celana
Tak kusangka, aku sampai di batas sabana
Disini sangat mengesankan, ada barisan puncak Kawi di kejauhan sana
Jajaran cantigi menyapa
Menunjukkan keindahan dan cerianya
Cantigi cantigi kecil tampak riang bermain diantara ilalang
Dalam pengawasan cantigi senior berbaris estetik yang tak kalah indahnya
Jalanan mulai semakin menanjak
Goresan berat bekas sepatupun meninggalkan jejak
Di tanjakan tanah yang semakin miring dalam dekapan bebatuan yang bersajak
Kami tetap melangkan mengalir demi menunaikan serangkai kemauan yang tak bisa dianulir
Aku selalu mengawasimu
Tapi tak bisa mendekatimu
Kamu cukup bahagia dengan dunia sekitarmu
Akupun pasrah tersenyum kaku
Kujejak
Tanah pertama jajaran puncak
Tak elak, inilah ujung atas gunung Buthak
Ah ..
Indah sekali diatas sini
Gugusan awan melayang berlari kesana kesini
Maka aku ijin kepada sang putri
Menginjakkan kaki di mahkotamu dalam duniaku yang menyendiri
(21 Oktober 2022)
No comments:
Post a Comment